แชร์

BAB 149

ผู้เขียน: Langit Parama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-12 00:02:09

Dua orang pembantu tengah sibuk membereskan barang-barang peninggalan Mina yang selama bertahun-tahun memenuhi kamar Tristan.

Bingkai foto. Buku. Kotak kenangan. Hingga beberapa pakaian yang masih tersimpan rapi di dalam lemari.

Semua itu atas perintah Tristan sendiri.

Namun pekerjaan mereka belum sepenuhnya selesai ketika pintu kamar mendadak terbuka.

Tristan masuk dengan langkah panjang. Tatapannya langsung tertuju pada beberapa kardus yang sudah terisi penuh.

Rahangnya perlahan mengeras
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 150

    Sasqia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia bahkan tak berani menatap wajah Tristan terlalu lama. Perubahan ekspresi pria itu cukup membuat jantungnya berdebar tidak karuan. “Maaf, Mas ....” Suaranya terdengar lirih. Nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan dan dentingan sendok dari meja lain. “Maaf karena saya baru bilang sekarang.” Tak ada jawaban. Tristan hanya menatapnya diam. Dan itu justru membuat Sasqia semakin gugup. Rahang pria itu terlihat mengeras. Tatapannya sulit dibaca. “Kalau Mas mau membatalkan pernikahan ini ... saya tidak masalah.” Kalimat itu terasa berat keluar dari mulutnya. Namun tetap ia paksa. “Sekali lagi, saya minta maaf.” Jemarinya saling meremas di bawah meja. “Lagipula ... Ibu Mas Tristan memang tidak setuju dengan saya, kan?” Sasqia tersenyum tipis. Senyum yang terasa pahit. “Jadi daripada Mas harus melawan restu orang tua karena saya, mungkin lebih baik—” “Tunggu.” Tristan memotong ucapannya. Sasqia langsung terdiam. Tatapan pria itu

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 149

    Dua orang pembantu tengah sibuk membereskan barang-barang peninggalan Mina yang selama bertahun-tahun memenuhi kamar Tristan. Bingkai foto. Buku. Kotak kenangan. Hingga beberapa pakaian yang masih tersimpan rapi di dalam lemari. Semua itu atas perintah Tristan sendiri. Namun pekerjaan mereka belum sepenuhnya selesai ketika pintu kamar mendadak terbuka. Tristan masuk dengan langkah panjang. Tatapannya langsung tertuju pada beberapa kardus yang sudah terisi penuh. Rahangnya perlahan mengeras. “Berhenti.” Suaranya rendah, namun cukup membuat kedua pembantu itu langsung menghentikan pekerjaan mereka. “Tuan?” tanya salah satunya ragu. “Jangan diteruskan.” Keduanya saling berpandangan sejenak. “Baik, Tuan.” Mereka segera meletakkan barang yang sedang dipegang. “Kami permisi.” Tristan hanya mengangguk singkat. Tak lama kemudian, kamar itu kembali sunyi. Pria itu berdiri seorang diri di tengah ruangan. Tatapannya perlahan menyapu setiap sudut kamar. Berhenti pada sebuah foto besa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 148

    Setetes darah segar mengalir dari sudut bibir Kaelix. Namun alih-alih marah atau membalas, pria itu hanya memiringkan wajahnya sedikit. Tatapannya perlahan kembali terangkat pada Tristan, tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dipukul. “Kamu memukul saya, Tris?” tanyanya pelan. Nada suaranya rendah, nyaris tak menunjukkan emosi apa pun. Tristan berdiri tegak dengan dada naik turun. “Itu belum seberapa untuk mulutmu yang kurang ajar, Kael.” Kaelix menyipitkan mata. “Kurang ajar?” “Iya.” Tristan melangkah maju satu langkah. “Kamu terus membawa-bawa wanita yang sudah meninggal. Menghina wanita yang sudah hamil dan melahirkan anakmu. Dan sekarang kamu tidak mau mengakui darah dagingmu sendiri.” Rahangnya mengeras. “Jadi, ya. Itu pantas kamu dapatkan.” Kaelix perlahan mengangkat tangannya, menyeka darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Saat melihat noda merah di kulitnya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang membuat suasana semaki

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 147

    “Akhir-akhir ini kamu lebih sering berada di rumah ini,” ucap Tristan sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menyorot ke arah Kaelix. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Apa ada sesuatu yang sedang kamu pastikan, Kael?” Suasana meja makan mendadak terasa lebih dingin. Miriam menghela napas pelan. “Rumah ini juga rumah Kael, Tris,” tegurnya. “Dia anak Ayah dan Ibu. Tidak ada yang salah jika dia pulang.” Tatapannya beralih pada suami dan ketiga putranya secara bergantian. “Justru Ibu senang melihat kalian berkumpul seperti ini. Orang tua, anak-anaknya, kakak dan adik dalam satu meja makan.” “Tapi bukan itu alasan Kaelix pulang, kan?” balas Tristan tenang. Kaelix yang sejak tadi menikmati kopinya akhirnya mengangkat pandangan. “Saya datang karena Ibu yang meminta.” Tristan terkekeh pelan. “Dari dulu Ibu juga sering meminta kamu pulang. Tapi apa pernah dituruti?” Ia menggeleng. “Tidak, kan?” Rahang Kaelix mengeras sesaat. “Itu karena saya baru menyadari satu hal.” Tatapa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 146

    “Tante Sasqia cantik dan baik,” celetuk Sana riang dari kursi samping kemudi sambil memeluk boneka kesayangannya. Tristan yang sedang menyetir melirik sekilas ke arah bocah itu. Senyum tipis terulas di bibirnya. “Kamu suka Tante Sasqia?” Sana langsung mengangguk cepat. “Suka. Pokoknya Sana suka semua yang Papa suka.” Ia tersenyum lebar. “Kalau Papa suka, berarti orangnya baik.” Tristan terkekeh pelan. “Kalau Papa gak suka?” godanya. “Nah, kalau Papa gak suka ...,” Sana berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Sana juga gak suka.” Tristan mengangkat satu alis. “Oh ya?” “Iya.” Sana mengangguk mantap. “Sama kayak Mama Yo—” Kalimatnya terputus. Bocah itu buru-buru menggeleng. “Eh, salah. Tante Yola maksudnya.” Senyum Tristan perlahan memudar. “Kenapa dengan Tante Yola?” tanyanya tenang, meski nada suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Sana memainkan jari-jarinya yang mungil. “Papa gak suka Tante Yola, kan? Jadi Sana juga gak suka.” Tristan menghembuskan napas panjang. “Sa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 145

    Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih hening dibandingkan saat mereka berangkat. Sasqia yang duduk di kursi belakang sesekali melirik ke arah sang ayah. Sejak mereka meninggalkan restoran, Mahendra lebih banyak diam sambil menatap jalan raya di luar jendela. Tidak ada senyum. Tidak ada candaan. Pria itu hanya tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Pa ....” Sasqia akhirnya memanggil pelan. Mahendra yang sejak tadi menatap keluar jendela langsung menoleh. “Iya?” Sasqia meraih tangan sang ayah yang berada di atas pangkuannya. “Papa dari tadi diem terus.” Mahendra tersenyum tipis. “Memangnya tidak boleh diam?” “Boleh.” Sasqia mengerucutkan bibirnya. “Tapi bukan diem yang kayak gini.” “Kayak gimana?” “Kayak lagi mikirin sesuatu.” Mahendra terkekeh pelan. “Perasaan kamu terlalu peka.” “Papa ngomong apa aja sama Mas Tristan waktu aku sama Sana ke toilet?” Pertanyaan itu membuat Mahendra terdiam sejenak. Ia menatap wajah putrinya beberapa saat sebelum menghela napas perlahan.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 93

    “Terima kasih banyak, Dok,” ucap Mahendra dengan tulus. “Sama-sama, Pak.” Jevier tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya kepada Sasqia yang sejak tadi terlihat diam. “Ada masalah, Sas?” tanyanya, membuyarkan lamunan wanita itu. Sasqia tersentak pelan, kemudian tersenyum kecil. “Nggak ada,

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-03
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 90

    “Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 12

    “Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 13

    “Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status