LOGIN“Pa, kapan Papa pindah ke rumah?” tanya Sasqia malam itu. Ia duduk di tepi ranjang setelah mereka tiba di rumah dari mansion Valerio. Panggilan telepon dengan Mahendra masih tersambung, sementara di hadapannya Kaelix baru saja melepaskan jas yang sejak tadi dikenakannya. Di seberang sana, suara berat Mahendra terdengar setelah beberapa detik. “Kamu tidak diberi tahu suamimu, Sas?” Kening Sasqia berkerut. “Diberi tahu soal apa?” Tanpa sadar, pandangannya beralih kepada Kaelix. Pria itu hanya melirik sekilas sebelum menggantung jasnya, lalu melonggarkan dasi. “Papa tetap tinggal di sini, di rumah ini,” ujar Mahendra akhirnya. Sasqia berkedip beberapa kali. “Oh ....” Rasa lega samar-samar menyelinap ke dalam dadanya. Setidaknya, ayahnya tidak perlu meninggalkan rumah yang selama ini sudah menjadi tempatnya bertahun-tahun. “Terus Mama gimana, Pa?” “Kaelix sudah membelikan rumah lain untuk Mama kamu.” “Oh ....” Sasqia mengangguk pelan. Ia kembali menatap suaminya. Namun Kaelix
“Sekali lagi, saya minta maaf kepada Ayah dan Ibu karena kalian harus mengetahui kabar bahagia ini bukan langsung dari kami,” ucap Kaelix di sela makan malam. Pria itu meletakkan sendoknya sejenak, lalu menatap kedua orang tuanya dengan sungguh-sungguh. Remmer justru tersenyum tenang. “Tidak masalah. Yang terpenting sekarang kami tahu kabarnya benar.” Sasqia terkekeh kecil. “Tentu benar, Ayah. Kami sudah memeriksakannya langsung ke rumah sakit. Bahkan sudah melakukan USG.” “Kalau begitu, Ayah percaya.” Remmer mengangguk mantap, kemudian melanjutkan makan dengan wajah yang masih dihiasi senyum. Kaelix menghembuskan napas lega. Namun beberapa detik kemudian, alisnya berkerut ketika teringat sesuatu. “Saya dengar Ayah dan Ibu mengetahui kehamilan Sasqia dari Jevier.” Tatapannya perlahan bergeser ke ujung meja. “Kamu sendiri tahu dari mana, Jev?” Jevier yang sedang menyuapkan makanan ke mulut sontak berhenti. Matanya membulat. “Hah?” Belum sempat menjawab, ia justru tersedak. Tan
“Tadi Arlan, Mas?” tanya Sasqia begitu Kaelix menurunkan ponselnya. “Iya.” Kaelix memasukkan ponsel itu ke saku celananya, lalu menatap istrinya yang sejak tadi memperhatikannya. “Ada urusan kantor?” Sasqia melirik jam dinding. “Kalau ada, Mas balik ke kantor aja. Ini juga udah jam masuk.” Kaelix justru menggeleng. “Tidak perlu.” Ia melangkah mendekat, kemudian berhenti tepat di hadapan Sasqia. “Urusannya sudah saya serahkan pada Arlan. Sisanya bisa saya kerjakan dari rumah.” Tatapan Kaelix melunak. “Hari ini saya akan menemani kamu.” Senyum Sasqia seketika mengembang. “Serius?” Kaelix mengangguk. “Benar.” “Pas banget.” Tanpa ragu, Sasqia langsung merengkuh pinggang suaminya dan menyandarkan wajah di dadanya. “Aku memang lagi gak mau jauh-jauh dari Mas.” Kaelix terkekeh pelan, satu tangannya otomatis mengusap punggung istrinya. “Kenapa?” “Gak tahu.” Sasqia mengeratkan pelukannya. “Bawaannya pengen deket terus. Pengen dipeluk, pengen ditemenin.” Kaelix menundukkan wajah, lalu
“Apa ini?” Soraya berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang baru saja diserahkan kepadanya. Matanya menyapu bangunan itu dari depan hingga ke sisi halaman yang sempit. Senyum miring perlahan terbit di bibirnya. “Jadi ini?” Ia tertawa pendek, getir. “Rumah yang Kaelix berikan untukku?” Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Soraya menatap bangunan tersebut dengan sorot mata penuh ketidakpuasan. “Serius? Anakku menikah dengan pria sekaya Kaelix, tapi aku justru berakhir tinggal di rumah seperti ini?” Ia berjalan beberapa langkah, lalu kembali menatap rumah itu seolah berharap bangunannya berubah menjadi sesuatu yang lebih mewah. “Di mana kamar luas? Di mana halaman besar? Di mana kolam renangnya?” Semakin lama, emosinya semakin sulit dikendalikan. Soraya buru-buru mengambil ponselnya dari dalam tas. Nama Kaelix muncul di layar. Ia menekan tombol panggil. Tut... tut... tut... Tidak diangkat. Soraya mencoba lagi. Tetap tidak ada jawaban. “Angkat, Kaelix!” Panggilan k
Kaelix berjalan mendekat, tatapannya langsung tertuju kepada sang ibu. “Apa yang Ibu lakukan pada istri saya?” Nada suaranya tenang, tetapi cukup berat untuk membuat Miriam mengurungkan langkahnya. Miriam yang semula hendak membalas ucapan Sasqia segera mengubah ekspresinya. “Kamu juga, akhirnya datang.” Satu kata itu membuat Kaelix mengernyit. “Ibu justru harus marah kepada kamu.” Kaelix terdiam. “Bukan hanya kepada istrimu.” “Apa maksud Ibu?” Miriam menatap putranya dengan sorot mata kecewa. “Istrimu hamil, Kaelix.” Ia menarik napas, seolah berusaha menahan rasa tersinggung yang sejak tadi dipendam. “Tapi ibu dan ayahmu justru menjadi orang terakhir yang mengetahuinya.” Kaelix terdiam, Sasqia menundukkan pandangan. “Kalau bukan karena adik kamu Jevier yang memberitahu kami, mungkin sampai sekarang kami tidak tahu kalau anak kami akan segera jadi seorang ayah.” Suara Miriam mulai bergetar. “Kenapa? Kenapa keluarga dari pihak istrimu bisa mengetahui lebih dulu, sementara i
“Ini, Nyonya. Buah-buahan yang Anda minta.” Mbok datang dari arah dapur sambil membawa sepiring buah yang sudah dipotong rapi. Potongan melon, apel, pir, pepaya, dan stroberi tersusun memenuhi piring. Sasqia yang duduk santai di sofa langsung tersenyum. “Terima kasih, Mbok. Taruh di sini saja.” Mbok meletakkan piring tersebut di atas meja. “Untuk minumnya, Nyonya mau saya buatkan apa? Jus atau air putih?” “Susu ibu hamil rasa vanila aja, Mbok. Yang dibelikan Mas Kael.” Sasqia menunjuk botol air mineral di sampingnya. “Sama air putih juga, ya.” “Baik, Nyonya. Saya siapkan dulu.” “Iya.” Setelah Mbok kembali ke dapur, Sasqia mengambil sepotong stroberi dan memasukkannya ke dalam mulut. Namun baru beberapa detik ia menikmati buah tersebut, suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Tak. Tak. Tak. Sasqia menghentikan gerakannya. Ia menoleh. Sosok seorang wanita berdiri di ambang ruang tengah. Seketika wajah Sasqia berubah. “I-Ibu?” Miriam tidak menjawab. Tatapannya justru m
Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?
Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk







