مشاركة

BAB 292

مؤلف: Langit Parama
last update تاريخ النشر: 2026-08-06 00:03:03

Dahi Sasqia berkerut. “Maksud, Mas?”

“Saya tidak ingin membuka hati. Saya juga tidak berniat mencari pendamping hidup,” nada bicara Tristan tetap tenang. Tidak tinggi, tidak pula dipenuhi emosi.

Justru ketenangan itulah yang membuat setiap ucapannya terdengar begitu mantap.

“Saya sudah menentukan pilihan.”

Tatapan Sasqia mulai berubah. “Mas ....”

“Saya akan menunggu,” kalimat itu keluar begitu saja tanpa ragu. Tanpa sedikit pun keraguan di wajah Tristan. “Saya akan menunggu kamu, Sasqia.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
surinda yanti
deg-deg an banget sama apa yang di bicarakan dokter ke kaelix🫠
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 292

    Dahi Sasqia berkerut. “Maksud, Mas?” “Saya tidak ingin membuka hati. Saya juga tidak berniat mencari pendamping hidup,” nada bicara Tristan tetap tenang. Tidak tinggi, tidak pula dipenuhi emosi. Justru ketenangan itulah yang membuat setiap ucapannya terdengar begitu mantap. “Saya sudah menentukan pilihan.” Tatapan Sasqia mulai berubah. “Mas ....” “Saya akan menunggu,” kalimat itu keluar begitu saja tanpa ragu. Tanpa sedikit pun keraguan di wajah Tristan. “Saya akan menunggu kamu, Sasqia.” Bibir Sasqia perlahan terbuka. “Mas, jangan ....” “Sampai kapan pun.” Tristan memotong dengan tenang. “Selama saya masih hidup.” Sasqia menggeleng pelan. “Itu gak benar. Itu juga gak adil buat diri Mas sendiri.” Tristan tersenyum tipis. “Saya tidak merasa dirugikan. Justru saya sudah berdamai dengan pilihan itu.” Sasqia menatapnya tak percaya. “Mas masih punya kesempatan untuk bahagia.” “Kebahagiaan saya bukan harus menikah.” Tristan membalas tanpa ragu. “Saya bahagia selama tahu kamu baik

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 291

    Restoran hotel yang menghadap Danau Zurich pagi itu terasa tenang. Cahaya matahari menembus dinding kaca, memantulkan kilau keemasan di permukaan air. Sarapan mereka hampir selesai. Tak banyak percakapan yang terjadi. Sesekali hanya terdengar denting sendok yang beradu pelan dengan piring. Tristan mengangkat cangkir kopinya, menyesap sedikit sebelum menatap wanita di hadapannya. “Kamu bilang ada yang ingin dibicarakan.” Tatapannya lurus menatap Sasqia. “Sekarang saya sudah siap mendengarnya.” Sasqia yang sejak tadi memainkan ujung sendoknya perlahan menghentikan gerakan itu. Ia meletakkannya di atas piring, lalu mengembuskan napas pelan. Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangkat wajah. “Saya memang sengaja ngajak Mas sarapan.” Tatapannya lembut, tetapi penuh kesungguhan. “Karena ada sesuatu yang udah lama pengen saya sampaikan.” Tristan tak menyela. Ia hanya menunggu. Sasqia tersenyum tipis. “Ini bukan tentang saya, bukan juga tentang masa lalu kita.” “Terus?” tan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 290

    Ding. Dong. Suara bel kamar memecah keheningan pagi itu. Sasqia yang tengah menyusun barang belanjaannya ke dalam koper sontak mengangkat kepala. “Hah?” ia melirik jam dinding. “Aku gak pesen makanan.” Keningnya berkerut pelan. Jantungnya justru berdegup lebih cepat. “Jangan-jangan …,” senyum kecil mulai mengembang di bibirnya. “Mas Kael?” Ia buru-buru meletakkan pakaian yang sedang dilipat. “Tapi semalam Mas bilang baru berangkat besok.” Langkahnya semakin cepat menuju pintu. “Jangan-jangan,” Sasqia tertawa kecil sendiri. “Mas sengaja bohong biar kasih kejutan.” Tanpa berpikir panjang, ia langsung memutar gagang pintu. Klik. Pintu terbuka. Senyum di wajahnya perlahan memudar. “Mas ... Tristan?” Di hadapannya berdiri Tristan dengan setelan kasual berwarna gelap. Sebuah koper berada di sisi kakinya, sementara satu tangannya masih menggenggam gagang koper itu. Tatapan pria itu tetap tenang seperti biasa. “Saya sempat berpikir akan salah kamar.” Sasqia masih memandangnya be

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 289

    Sasqia berdiri di balkon suite hotelnya, memandangi hamparan Pegunungan Alpen yang diselimuti cahaya senja. Di tangannya, ponsel masih menempel di telinga. Angin dingin Swiss mengibaskan pelan rambut panjangnya, tetapi tak sedikit pun mengurangi kerinduannya pada sang suami. “Mas ...,” rengeknya pelan. “Kapan nyusul aku?” Di seberang sana, Kaelix yang masih berada di ruang kerjanya menghentikan gerakan pena di tangannya. Sudut bibirnya terangkat tipis mendengar nada manja sang istri. “Sebentar lagi, sayang,” jawabnya tenang. “Di sini masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Sasqia menghembuskan napas panjang. “Aku udah seminggu di sini, loh.” “Hm.” Kaelix bergumam pelan. “Mas juga nggak bolehin aku pulang.” “Bukannya tidak boleh.” “Terus?” “Saya minta kamu menikmati liburan.” Sasqia langsung mencebik. “Liburan tanpa suami gak seru.” Kaelix terkekeh pelan. “Tadi katanya suka Swiss.” “Ya emang suka.” “Ya sudah, nikmati dulu.” “Gak mau,” jawab Sasqia cepa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 288

    Yola tersenyum hambar. “Maaf. Aku jadi banyak ngomong.” Sasqia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Keheningan kembali menyelimuti meja mereka beberapa saat. Suara denting sendok dari meja lain dan alunan musik pelan memenuhi sudut kafe. Sasqia menatap lembut wanita di hadapannya. “Yola ....” “Hm?" Yola mengangkat kedua alisnya. “Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Sasqia lembut. Yola mengangguk pelan. “Tentu.” “Kamu ... suka sama Mas Tristan, ya?” Pertanyaan itu membuat Yola tersenyum tipis. Namun senyum itu menyimpan begitu banyak kelelahan. “Iya.” Jawabnya singkat, tanpa berusaha disembunyikan. “Aku suka sama dia udah lama. Jauh sebelum dia berhubungan sama Mina. Jauh sebelum dia mengenal kamu.” Tatapan Yola perlahan menerawang ke luar jendela. “Dulu aku pikir ... kalau aku cukup sabar, suatu hari dia bakal melihat aku. Ternyata dia memilih Mina. Aku mundur.” “Setelah Mina meninggal, aku pikir kesempatan itu datang.” Yola tertawa lirih. “Dia gak bisa move on dari Mina selama b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 287

    | Mas, aku lagi di kafe. Aku pesen pure matcha. Kata pelayannya, minuman ini bagus buat kesehatan dan bikin kulit lebih glowing. Sasqia tersenyum kecil setelah mengirim pesan itu kepada sang suami. Beberapa detik berlalu. Tak ada balasan. Di layar ponselnya hanya terlihat satu tanda centang abu-abu, pertanda pesan itu belum sampai ke tangan Kaelix. Mungkin pria itu sedang berada di tengah rapat atau penerbangan bisnis. Sasqia tidak kecewa. Ia justru meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memandangi hamparan pegunungan Alpen yang berdiri megah di kejauhan. Udara musim semi yang sejuk berembus lembut, membawa aroma kopi dan bunga dari taman kecil di depan kafe. Perlahan senyum tipis terukir di bibirnya. “Jauh lebih tenang di sini,” gumamnya pelan. Tatapannya masih lurus ke luar jendela. “Tapi ... pasti lebih menyenangkan kalau Mas Kael ada di sebelah aku.” Ia membayangkan bagaimana suaminya akan duduk di kursi seberang, sesekali mencicipi m

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 30

    “Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 28

    “Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 29

    Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu

    last updateآخر تحديث : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 17

    Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi

    last updateآخر تحديث : 2026-03-19
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status