Compartilhar

BAB 291

last update Data de publicação: 2026-08-06 00:02:53

Restoran hotel yang menghadap Danau Zurich pagi itu terasa tenang. Cahaya matahari menembus dinding kaca, memantulkan kilau keemasan di permukaan air.

Sarapan mereka hampir selesai. Tak banyak percakapan yang terjadi. Sesekali hanya terdengar denting sendok yang beradu pelan dengan piring.

Tristan mengangkat cangkir kopinya, menyesap sedikit sebelum menatap wanita di hadapannya.

“Kamu bilang ada yang ingin dibicarakan.” Tatapannya lurus menatap Sasqia. “Sekarang saya sudah siap mendengarnya.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 292

    Dahi Sasqia berkerut. “Maksud, Mas?” “Saya tidak ingin membuka hati. Saya juga tidak berniat mencari pendamping hidup,” nada bicara Tristan tetap tenang. Tidak tinggi, tidak pula dipenuhi emosi. Justru ketenangan itulah yang membuat setiap ucapannya terdengar begitu mantap. “Saya sudah menentukan pilihan.” Tatapan Sasqia mulai berubah. “Mas ....” “Saya akan menunggu,” kalimat itu keluar begitu saja tanpa ragu. Tanpa sedikit pun keraguan di wajah Tristan. “Saya akan menunggu kamu, Sasqia.” Bibir Sasqia perlahan terbuka. “Mas, jangan ....” “Sampai kapan pun.” Tristan memotong dengan tenang. “Selama saya masih hidup.” Sasqia menggeleng pelan. “Itu gak benar. Itu juga gak adil buat diri Mas sendiri.” Tristan tersenyum tipis. “Saya tidak merasa dirugikan. Justru saya sudah berdamai dengan pilihan itu.” Sasqia menatapnya tak percaya. “Mas masih punya kesempatan untuk bahagia.” “Kebahagiaan saya bukan harus menikah.” Tristan membalas tanpa ragu. “Saya bahagia selama tahu kamu baik

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 291

    Restoran hotel yang menghadap Danau Zurich pagi itu terasa tenang. Cahaya matahari menembus dinding kaca, memantulkan kilau keemasan di permukaan air. Sarapan mereka hampir selesai. Tak banyak percakapan yang terjadi. Sesekali hanya terdengar denting sendok yang beradu pelan dengan piring. Tristan mengangkat cangkir kopinya, menyesap sedikit sebelum menatap wanita di hadapannya. “Kamu bilang ada yang ingin dibicarakan.” Tatapannya lurus menatap Sasqia. “Sekarang saya sudah siap mendengarnya.” Sasqia yang sejak tadi memainkan ujung sendoknya perlahan menghentikan gerakan itu. Ia meletakkannya di atas piring, lalu mengembuskan napas pelan. Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangkat wajah. “Saya memang sengaja ngajak Mas sarapan.” Tatapannya lembut, tetapi penuh kesungguhan. “Karena ada sesuatu yang udah lama pengen saya sampaikan.” Tristan tak menyela. Ia hanya menunggu. Sasqia tersenyum tipis. “Ini bukan tentang saya, bukan juga tentang masa lalu kita.” “Terus?” tan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 290

    Ding. Dong. Suara bel kamar memecah keheningan pagi itu. Sasqia yang tengah menyusun barang belanjaannya ke dalam koper sontak mengangkat kepala. “Hah?” ia melirik jam dinding. “Aku gak pesen makanan.” Keningnya berkerut pelan. Jantungnya justru berdegup lebih cepat. “Jangan-jangan …,” senyum kecil mulai mengembang di bibirnya. “Mas Kael?” Ia buru-buru meletakkan pakaian yang sedang dilipat. “Tapi semalam Mas bilang baru berangkat besok.” Langkahnya semakin cepat menuju pintu. “Jangan-jangan,” Sasqia tertawa kecil sendiri. “Mas sengaja bohong biar kasih kejutan.” Tanpa berpikir panjang, ia langsung memutar gagang pintu. Klik. Pintu terbuka. Senyum di wajahnya perlahan memudar. “Mas ... Tristan?” Di hadapannya berdiri Tristan dengan setelan kasual berwarna gelap. Sebuah koper berada di sisi kakinya, sementara satu tangannya masih menggenggam gagang koper itu. Tatapan pria itu tetap tenang seperti biasa. “Saya sempat berpikir akan salah kamar.” Sasqia masih memandangnya be

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 289

    Sasqia berdiri di balkon suite hotelnya, memandangi hamparan Pegunungan Alpen yang diselimuti cahaya senja. Di tangannya, ponsel masih menempel di telinga. Angin dingin Swiss mengibaskan pelan rambut panjangnya, tetapi tak sedikit pun mengurangi kerinduannya pada sang suami. “Mas ...,” rengeknya pelan. “Kapan nyusul aku?” Di seberang sana, Kaelix yang masih berada di ruang kerjanya menghentikan gerakan pena di tangannya. Sudut bibirnya terangkat tipis mendengar nada manja sang istri. “Sebentar lagi, sayang,” jawabnya tenang. “Di sini masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Sasqia menghembuskan napas panjang. “Aku udah seminggu di sini, loh.” “Hm.” Kaelix bergumam pelan. “Mas juga nggak bolehin aku pulang.” “Bukannya tidak boleh.” “Terus?” “Saya minta kamu menikmati liburan.” Sasqia langsung mencebik. “Liburan tanpa suami gak seru.” Kaelix terkekeh pelan. “Tadi katanya suka Swiss.” “Ya emang suka.” “Ya sudah, nikmati dulu.” “Gak mau,” jawab Sasqia cepa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 288

    Yola tersenyum hambar. “Maaf. Aku jadi banyak ngomong.” Sasqia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Keheningan kembali menyelimuti meja mereka beberapa saat. Suara denting sendok dari meja lain dan alunan musik pelan memenuhi sudut kafe. Sasqia menatap lembut wanita di hadapannya. “Yola ....” “Hm?" Yola mengangkat kedua alisnya. “Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Sasqia lembut. Yola mengangguk pelan. “Tentu.” “Kamu ... suka sama Mas Tristan, ya?” Pertanyaan itu membuat Yola tersenyum tipis. Namun senyum itu menyimpan begitu banyak kelelahan. “Iya.” Jawabnya singkat, tanpa berusaha disembunyikan. “Aku suka sama dia udah lama. Jauh sebelum dia berhubungan sama Mina. Jauh sebelum dia mengenal kamu.” Tatapan Yola perlahan menerawang ke luar jendela. “Dulu aku pikir ... kalau aku cukup sabar, suatu hari dia bakal melihat aku. Ternyata dia memilih Mina. Aku mundur.” “Setelah Mina meninggal, aku pikir kesempatan itu datang.” Yola tertawa lirih. “Dia gak bisa move on dari Mina selama b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 287

    | Mas, aku lagi di kafe. Aku pesen pure matcha. Kata pelayannya, minuman ini bagus buat kesehatan dan bikin kulit lebih glowing. Sasqia tersenyum kecil setelah mengirim pesan itu kepada sang suami. Beberapa detik berlalu. Tak ada balasan. Di layar ponselnya hanya terlihat satu tanda centang abu-abu, pertanda pesan itu belum sampai ke tangan Kaelix. Mungkin pria itu sedang berada di tengah rapat atau penerbangan bisnis. Sasqia tidak kecewa. Ia justru meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memandangi hamparan pegunungan Alpen yang berdiri megah di kejauhan. Udara musim semi yang sejuk berembus lembut, membawa aroma kopi dan bunga dari taman kecil di depan kafe. Perlahan senyum tipis terukir di bibirnya. “Jauh lebih tenang di sini,” gumamnya pelan. Tatapannya masih lurus ke luar jendela. “Tapi ... pasti lebih menyenangkan kalau Mas Kael ada di sebelah aku.” Ia membayangkan bagaimana suaminya akan duduk di kursi seberang, sesekali mencicipi m

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 13

    “Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat

    last updateÚltima atualização : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 90

    “Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael

    last updateÚltima atualização : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 89

    “Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h

    last updateÚltima atualização : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateÚltima atualização : 2026-03-25
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status