แชร์

BAB 38

ผู้เขียน: Langit Parama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-01 07:00:28

“Sudah tiga tahun berlalu sejak kamu meninggalkan saya, Mina ….”

Suara Tristan rendah, hampir tenggelam oleh angin sore yang berhembus pelan di area pemakaman.

Ia menaburkan bunga mawar putih di atas pusara perempuan yang fotonya selama ini hanya bisa ia tatap dalam diam.

“Satu tahun pertama, saya bahkan tidak tahu bagaimana caranya bernapas tanpa kamu,” lanjutnya lirih. “Setiap sudut kota ini terasa menyimpan kamu. Setiap lagu, s
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Yenti Yuliani
alur yg membuat ingin trs membaca
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 307

    Malam itu, meja makan yang biasanya ramai terasa jauh lebih lengang. Hanya ada Mahendra dan Sherly yang duduk berhadapan. Bocah kecil itu mengayun-ayunkan kedua kakinya di kursi sambil sesekali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Namun, sejak tadi matanya terus melirik ke arah kursi yang biasanya ditempati sang ibu dan neneknya. “Kakek ….” panggil Sherly pelan. Mahendra mengangkat pandangannya. “Iya, Sayang?” Sherly memiringkan kepalanya. “Mama sama Nenek ke mana?” Pertanyaan polos itu membuat tangan Mahendra yang sedang memegang sendok terhenti sejenak. Ia tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahan di wajahnya. “Mama dan Nenek lagi ada urusan, Sayang.” “Urusan apa?” Sherly kembali bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Kok belum pulang?” Mahendra terdiam beberapa detik, memilih kata-kata yang paling mudah dipahami cucunya. “Mama sama Nenek lagi menyelesaikan urusan penting. Kalau urusannya sudah selesai, mereka pasti pulang.” Sherly mengangguk pelan. “Oh ...

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 306

    Ruangan penyidik dipenuhi suasana hening. Di sisi kanan duduk Soraya dengan wajah tegang. Sementara di sisi kiri, Shiren duduk sambil terus menggenggam kedua tangannya sendiri. Seorang penyidik meletakkan sebuah map di atas meja. “Kami hanya ingin meminta klarifikasi, tidak lebih.” Tatapannya bergantian mengarah kepada keduanya. “Siapa yang membuat jamu yang diberikan kepada Nyonya Sasqia?” Soraya langsung menjawab. “Bukan saya.” Shiren buru-buru menyela. “Mama saya yang membuat jamunya, Pak.” Soraya spontan menoleh, tatapannya tajam. “Ren! Apa lagi ini?” Penyidik mengangkat tangan, meminta keduanya tenang. “Ibu Soraya. Kami ingin mendengar jawaban Ibu terlebih dahulu.” Soraya menarik napas panjang. “Saya memang pernah membuat jamu, tapi itu bertahun-tahun lalu saat Shiren baru menikah dan ingin segera hamil. Setelah itu tidak pernah lagi, apalagi untuk Sasqia.” Penyidik mencatat setiap jawaban. “Lalu mengapa anak Ibu mengatakan semua bahan berasal dari Ibu?” Soraya menggele

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 305

    Kaelix memungut beberapa lembar foto yang berserakan di atas ranjang. Sorot matanya berubah tajam begitu melihat satu per satu gambar yang ada di tangannya. Lalu selembar surat dengan tulisan yang begitu provokatif. Rahang Kaelix perlahan mengeras, tatapannya kemudian beralih kepada sang istri yang masih membelakanginya. “Apa maksud semua ini?” gumamnya pelan. “Siapa yang mengirimkan ini kepadamu, Sayang?” Sasqia tidak menjawab. Ia justru menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan tangis yang kembali menyeruak. Kedua bahunya bergetar pelan. Kaelix menghembuskan napas panjang. Ia meletakkan foto-foto itu di atas ranjang, lalu berpindah duduk lebih dekat. Dengan hati-hati, tangannya menyentuh bahu sang istri. “Sayang ....” Pelan-pelan ia memutar tubuh Sasqia hingga kembali menghadapnya. Mata wanita itu sudah sembap, hidungnya memerah. Bekas air mata masih membasahi kedua pipinya. Dada Kaelix seketika terasa sesak. “Kamu menangis karena foto-foto ini?” Sasqia tetap bun

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 304

    Ruang tamu mendadak terasa begitu sunyi setelah mobil polisi meninggalkan halaman rumah. Kaelix dan Mahendra kini duduk saling berhadapan. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun yang membuka suara. Kaelix akhirnya memecah keheningan. “Sekali lagi saya minta maaf, Pa.” Mahendra mengangkat pandangannya. “Saya sudah membuat keributan di rumah ini. Saya juga sadar, apa yang saya lakukan mungkin terlihat berlebihan.” Kaelix menghembuskan napas pelan. “Saya melaporkan istri dan anak Papa sendiri kepada pihak kepolisian. Saya tahu keputusan ini berat. Apalagi Shiren masih memiliki Sherly. Anak itu sudah kehilangan ayahnya, dan sekarang harus melihat ibunya dibawa ke kantor polisi.” Tatapan Kaelix perlahan menunduk. “Percayalah, Pa. Ini bukan keputusan yang saya ambil karena emosi. Saya hanya ingin memberikan keadilan untuk istri saya. Saya juga ingin mencari tahu siapa yang harus bertanggung jawab.” Rahangnya mengeras. “Suami mana yang bisa diam ketika melihat istrinya menderita sela

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 303

    Sore mulai berganti malam. Lampu-lampu taman di halaman rumah telah menyala sejak beberapa menit lalu. Namun, sosok yang ditunggu Sasqia tak kunjung muncul. Wanita itu berdiri di teras rumah sambil sesekali melongok ke arah gerbang. “Mas Kael kok belum pulang, ya?” gumamnya pelan. Ia melirik layar ponselnya. Jarum jam sudah melewati waktu kepulangan sang suami. “Biasanya kalau ada rapat atau lembur, Mas pasti ngabarin.” Keningnya berkerut tipis “Atau ... jangan-jangan masih ada urusan di kantor?” Sasqia menghembuskan napas pelan, lalu tersenyum sendiri. “Aneh. Baru beberapa jam gak ketemu aja aku udah sekangen ini.” Padahal mereka baru saja pulang dari Swiss. Baru semalam mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Namun entah mengapa, ia tetap ingin segera melihat wajah sang suami. Tanpa berpikir panjang, Sasqia menekan nama Mas Kael di layar ponselnya. Beberapa detik berlalu, panggilan itu tidak tersambung. ‘Nomor yang Anda tuju sedang berada dalam panggilan lain.’ Sasqia me

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 302

    Shiren menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat. Baru setelah itu ia menghembuskan napas panjang, seolah beban besar baru saja terlepas dari pundaknya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi, lalu menyandarkan kepala sambil memejamkan mata. “Untung aja,” gumamnya lirih. “Tadi hampir ketahuan.” Beberapa detik kemudian, ia kembali membuka mata. Keningnya perlahan berkerut. “Tapi kenapa Kaelix sampe bawa jamu itu ke laboratorium?” Jemarinya tanpa sadar mengetuk permukaan meja. “Dia bener-bener selidikin itu.” Shiren menggigit bibir bawahnya pelan. “Padahal itu cuma jamu. Gak mungkin dia sampe sejauh itu kalau bukan karena bener-bener curiga dari awal.” Ia mengepalkan tangan di atas meja. “Untungnya tadi aku cepet alihin semuanya ke Mama.” Setidaknya untuk sementara, perhatian Kaelix sudah beralih. _____ Tak terasa, jam kerja pun berakhir pada pukul lima sore. Satu per satu karyawan mulai meninggalkan gedung perusahaan. Shiren ikut melangkah keluar sambil menyampirkan tas di bahunya.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 28

    “Sssh ….” Sasqia meringis pelan ketika Tristan mengoleskan salep pada lututnya yang mulai membiru. “Tahan sedikit. Sebentar lagi selesai,” ujar Tristan lembut. Ia berjongkok di hadapan Sasqia yang duduk di tepi ranjang. Gerakannya hati-hati, nyaris terlalu hati-hati untuk sekadar mengobati luka

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 15

    Sasqia tiba di bandara dengan perasaan yang benar-benar kacau. Bayangan kalung pemberian Tristan yang kini berpindah tangan, dirampas oleh ibunya terus menghantui pikirannya. Bagaimana kalau nanti dirinya bertemu dengan Tristan? Bagaimana kalau pria itu menanyakan kalung tersebut?

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 29

    Suara sendok beradu pelan dengan piring. Sasqia membeku. Kakek mengangkat alisnya tinggi. Kaelix tersenyum tipis—bukan karena terhibur, melainkan karena tertantang. Sementara Sasqia merasakan jantungnya berdetak tidak wajar. Tristan tetap tenang, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sepenu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 17

    Lebih bagus? Untuk dia? “Kapten.” Sasqia menggeleng tegas, berusaha mengusir debar aneh di dadanya. “Tidak perlu. Saya hanya perlu mengambil kembali kalung yang Mama saya ambil.” Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Tatapannya tenang, namun sulit ditebak. “Jadi

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status