Masuk“Kak Shiren dan Mas Raka akan bercerai,” ucap Sasqia pelan setelah mereka selesai makan malam. Suasana di ruangan akhirnya sedikit lebih tenang, memberinya keberanian untuk membuka percakapan yang selama ini tertahan. Mahendra menutup mata sejenak, punggungnya bersandar lelah di brankar rumah sakit. Napasnya terdengar berat. “Papa tidak setuju.” Mata Sasqia menyipit tajam. “Kenapa Papa gak setuju? Mas Raka udah hancurin semuanya, Pa.” Tatapan Mahendra perlahan beralih ke putrinya. Ada kesedihan yang dalam di sana. “Lalu bagaimana dengan nasib Sherly? Dia masih kecil, Sasqia. Bagaimana kalau Papa dan Mamanya berpisah?” Mendengar nama keponakannya, napas Sasqia langsung tercekat. Dada terasa sesak. Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata. “Tapi … kesalahan Mas Raka gak bisa dibenarkan,” gumamnya akhirnya, suaranya bergetar. “Dia selingkuh, Pa. Dan selingkuhnya dengan … dengan Mama.” Sasqia tak sanggup melanjutkan. Kata-kata itu terasa seperti duri di lidahnya. Satu tangan Mahendra
“Kael,” suara Miriam bergetar menahan amarah, “Kamu tahu benar ibu tidak pernah menyukai perempuan itu. Lalu kenapa kamu malah melamarnya? Setelah adikmu gagal menikah dengan cara yang memalukan, kamu justru mengulangi kesalahan yang sama?” Kaelix tetap duduk dengan tenang, ekspresinya tak tergoyahkan. Hanya sudut bibirnya yang terangkat membentuk senyum tipis, seolah seluruh kemarahan ibunya hanyalah angin lalu. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab dengan suara rendah dan terkendali, “Saya akan memikirkan tanggal yang tepat untuk melamar ke rumahnya. Setelah itu, kita bahas soal pernikahan.” Tanpa menunggu balasan, Kaelix bangkit dari kursi dengan gerakan tenang. Ia berbalik dan meninggalkan meja makan begitu saja, seolah percakapan itu sudah selesai. Prang! Miriam melempar sendoknya dengan keras ke atas meja. Suara logam itu menggema nyaring di ruang makan yang tiba-tiba hening. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah karena menahan emosi yang membara. “Mir ….” tegur Remme
Sasqia baru saja kembali ke rumah sakit dan melangkah masuk ke ruang rawat VIP tempat ayahnya dirawat. Begitu melihat putrinya, Mahendra yang semula terdiam langsung mengangkat pandangannya. “Kamu dari mana saja, Sas?” tanyanya serius. Mendengar suara sang ayah kembali terdengar setelah sekian lama membuat Sasqia tersenyum kecil. “Papa udah mau ngobrol.” Mahendra tak langsung menjawab. Beberapa saat lalu dia memang memilih diam. Bukan karena tidak mampu berbicara, melainkan karena setiap kali membuka mulutnya, rasa sakit yang menyesakkan itu kembali menyeruak dan membuat dadanya sesak. Bayangan kejadian yang menghancurkan keluarganya terus berputar di kepala. Namun ada hal lain yang harus dia pastikan. “Apa benar kamu membatalkan pernikahan dengan Tristan?” Pertanyaan itu keluar tanpa basa-basi. Sasqia langsung menunduk. “Jawab Papa.” Mahendra sedikit mendesak. Keheningan menggantung beberapa detik. “Apa alasan kamu melakukan itu?” lanjut Mahendra, kali ini dengan nada yan
“Jangan bilang … Kak Kaelix dan Kak Tristan jatuh cinta sama perempuan yang sama,” gumam Viona sambil menggenggam setir mobilnya lebih erat. Jalan raya siang itu macet total, tapi pikiran Viona justru semakin kacau. Ia tak bisa melupakan momen tadi—Tristan yang nyaris memukul kakaknya sendiri. Wajah keduanya penuh amarah dan kebencian yang sudah lama tersimpan. “Kak Tristan kan dulu udah punya pacar. Apa masih perempuan yang sama? Apa dia yang mereka perebutkan?” Viona menggeleng cepat, berusaha menepis pikirannya sendiri. “Gak mungkin. Kak Kaelix bukan tipe cowok yang mau ambil barang bekas … apalagi dari adiknya sendiri.” Tapi senyum pahit langsung tersungging di bibirnya. “Bekas? Apa Kak Tristan bener-bener udah ngelakuin itu sama pacarnya? Kalau iya, berarti mereka udah lama berhubungan. Mulai dari teman, sahabat, lalu pacar. Jevier pernah bilang Kak Tristan cinta mati sama perempuan itu.” _____ “Tristan, kamu membuat ibu malu di depan Viona,” tegur Miriam dengan suara taja
Miriam berdehem pelan sebelum membuka suara. “Vio, kalau nanti Tante aturkan waktu supaya kamu bisa bertemu dan berkenalan lagi dengan Kaelix, kamu bersedia?” Viona tersenyum dan mengangguk tanpa ragu. “Tentu saja, Tante.” “Kamu tidak sibuk, kan?” tanya Miriam memastikan. “Tidak.” Viona menggeleng pelan. “Kalau untuk Tante, saya pasti punya waktu.” Senyum Miriam semakin lebar. “Bagus.” Wanita paruh baya itu kemudian bangkit dari duduknya. “Kalau begitu, Tante antar sampai teras.” “Iya, Tante.” Keduanya berjalan berdampingan meninggalkan ruang tamu. Namun baru saja mereka melewati pilar besar di dekat pintu masuk, pintu utama terbuka dari luar. Sosok tinggi dengan setelan jas gelap masuk dengan langkah tenang. Kaelix. “Kael,” sapa Miriam seketika. Pria itu menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangan. “Kebetulan sekali kamu datang.” Tatapan Miriam berpindah dari putra sulungnya kepada Viona. Senyum puas terukir di wajahnya. “Apa ini yang namanya berjodoh?” Mata Kael
Miriam duduk anggun di ruang keluarga utama sambil menikmati secangkir teh hangat. Di hadapannya, seorang wanita berambut panjang dengan penampilan elegan tersenyum ramah. Viona. Wanita itu baru beberapa hari kembali ke Indonesia setelah hampir delapan tahun menetap di luar negeri. “Jadi kamu benar-benar memutuskan pulang?” tanya Miriam. Viona mengangguk pelan. “Untuk sementara, iya, Tante. Bisnis saya di sana sudah berjalan sendiri. Saya juga sudah menunjuk orang untuk mengurus operasionalnya.” “Bagus.” Miriam tersenyum tipis. “Perempuan memang seharusnya tetap dekat dengan keluarganya.” Viona hanya tersenyum. “Tante dengar usaha kamu berkembang sangat pesat.” “Masih belajar, Tante.” Viona kembali menampilkan senyum terbaiknya. “Jangan merendah.” Miriam mengaduk tehnya perlahan. “Di usia kamu, bisa membangun perusahaan sendiri di negara lain bukan hal yang mudah.” Viona tertawa kecil. “Kalau dibandingkan keluarga Tante, pencapaian saya biasa saja.” “Tidak.” Miria
“Terima kasih banyak, Dok,” ucap Mahendra dengan tulus. “Sama-sama, Pak.” Jevier tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya kepada Sasqia yang sejak tadi terlihat diam. “Ada masalah, Sas?” tanyanya, membuyarkan lamunan wanita itu. Sasqia tersentak pelan, kemudian tersenyum kecil. “Nggak ada,
“Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael
“Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s







