Share

BAB 84

Author: Langit Parama
last update publish date: 2026-03-13 00:02:48

“Sejak kapan demamnya?” tanya Tristan pada babysitter Sana, bocah berusia tiga tahun yang terbaring di ranjang rumah sakit. Tatapannya dingin, menuntut jawaban tanpa basa-basi.

“Sejak siang tadi, Tuan,” jawab wanita itu pelan.

“Siang?” desis Tristan, rahangnya menegang. “Kenapa baru dibawa ke rumah sakit sekarang?”

Babysitter itu buru-buru menggeleng. “Saya langsung membawanya ke sini sejak siang, Tuan.”

“Lalu kenapa saya baru diberi kabar sekarang?” Sorot mata Tristan menajam, membuat wani
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
aiaiai
duh duh duh plottwist bgt nih thor. anak siapa thorrr
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 244

    “Sherly mau berenang, Tante!” Bocah kecil itu berlari menghampiri Sasqia, lalu menarik-narik tangan bibinya dengan penuh semangat. “Ayo ... ayo berenang!” Sasqia tersenyum kecil. Ia mengusap lembut kepala keponakannya sebelum melirik ke arah langit di balik dinding kaca ruang tamu. Langit sudah mulai menggelap. “Sekarang udah sore, Sayang,” ucapnya lembut. “Kalau nanti Sherly berenang terus keburu malam, gimana kalau Mama sama Kakek ternyata mau pulang?” “Nggak.” Soraya menjawab lebih cepat daripada siapa pun. “Kami memang berencana menginap.” Mahendra spontan menoleh. “Soy ....” Nada suaranya mengandung teguran halus. Sebab sebelum berangkat, mereka sudah sepakat hanya akan bertamu sebentar, lalu pulang malam itu juga. Soraya justru tersenyum santai. “Sekali-sekali menginap di rumah anak sendiri memangnya kenapa?” “Iya, Sas,” sahut Shiren. “Sherly dari tadi semangat banget lihat kolam renang kamu.” Ia menatap putrinya yang sudah melompat-lompat kegirangan. “Aku belum sempat

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 243

    “Punya suami yang tampan, kaya, baik, ditambah tinggal di rumah semewah ini, masih sempat-sempatnya nangis juga, Sas?” celetuk Shiren sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Nada bicaranya terdengar ringan, namun sindiran tipis di balik kalimat itu tetap terasa. Mahendra melirik putri sulungnya sekilas. Tatapan itu dingin. Cukup untuk membuat Shiren mendengus pelan dan memilih mengalihkan pandangan. Mahendra kembali menatap Sasqia. “Nak ... ada masalah?” Sasqia buru-buru menggeleng. “Enggak ada, Pa.” “Lalu kenapa matamu merah?” Sasqia menarik napas pelan sebelum memaksakan senyum. “Aku cuma ... kepikiran.” “Kepikiran apa?” Ia menundukkan kepala. “Aku ngerasa belum bisa ngasih apa-apa buat Mas Kael.” Mahendra mengernyit. “Memangnya suami kamu pernah meminta balasan?” “Enggak!” Sasqia langsung menggeleng cepat. “Mas Kael gak pernah minta apa pun.” Ia menggenggam kedua tangannya sendiri. “Cuma ... Mas Kaelix pengen punya anak.” Suaranya semakin lirih. “Sedangkan sampai sekarang

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 242

    “M-Mas ... aku bisa jelasin.” Suara Sasqia bergetar. Tangannya perlahan terangkat, seolah ingin meraih lengan Kaelix. Namun pria itu sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap dingin. tajam, hingga sulit ditebak apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. “Jelaskan apa?” tanyanya pelan. Sasqia membuka mulut. Tetapi belum sempat satu kata pun keluar, Kaelix kembali berbicara. “Selama tiga bulan ini ...,” ucapnya lirih. “Saya benar-benar tertipu.” Kalimat itu membuat napas Sasqia tercekat. “Saya pikir ... kamu sudah menerima saya.” “Mas ....” “Saya pikir sikapmu selama ini tulus.” Tatapan Kaelix tidak pernah lepas dari wajah istrinya. “Kamu menurut. Kamu lembut. Kamu mulai memperhatikan saya. Sampai akhirnya saya percaya ... bahwa kejadian di hari pernikahan itu hanya masa lalu.” Ia menghembuskan napas panjang. “Seharusnya saya tidak lengah.” “M-Mas, dengerin aku dulu ....” “Ternyata saya salah.” Nada suaranya tetap tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat dada Sas

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 241

    Pagi itu, suasana ruang keluarga terasa hangat. Mahendra duduk di atas karpet ruang tengah, menemani Sherly yang sedang sibuk menyusun balok-balok warna-warni. “Yang ini buat istana, Kek!” seru Sherly antusias. Mahendra terkekeh pelan. “Iya, Putri Sherly maunya istana, ya?” Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah dapur. Shiren menghampiri mereka sambil membawa secangkir kopi hangat. “Pa,” panggilnya, “kapan kita main ke rumahnya Sasqia?” Mahendra mengangkat pandangan. “Kenapa memang?” “Aku penasaran sama rumah barunya. Soalnya ada di kawasan menteng.” Belum sempat Mahendra menjawab, Sherly langsung berdiri sambil mengangkat kedua tangannya. “Iyaaa! Ayo ke rumah Tante Qia!” Mahendra tersenyum melihat tingkah cucunya. “Pengen ketemu Tante?” Sherly mengangguk cepat. “Sama Om Kaelix!” “Tuh, Pa.” Shiren ikut tersenyum. “Sherly juga pengen.” Mahendra mengusap kepala cucunya pelan. “Nanti ya, Kakek ajak.” “Kapan?” tanya Sherly tak sabar. “Hari ini aja,” usul Shiren.

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 240

    Usai menyelesaikan makan malam, Sasqia kembali ke kamar hotel tempat seluruh kru menginap sebelum penerbangan esok hari. Suasana kamar begitu tenang. Ia meletakkan tas tangannya di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengembuskan napas panjang. Hari pertamanya kembali bekerja berjalan lebih baik daripada yang ia bayangkan. Meski sempat dikejutkan oleh kehadiran Tristan, pikirannya justru lebih banyak dipenuhi sosok lain. Kaelix. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya saat mengingat bagaimana suaminya mengantarnya ke bandara pagi tadi. “Mas ...,” gumamnya lirih. “Kenapa perhatian banget, sih?” Dadanya kembali terasa hangat. Sasqia membuka laci kecil di samping ranjang. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah botol obat berukuran mungil. Botol itu sudah begitu akrab di tangannya. Ia memandanginya cukup lama. Tatapannya perlahan menerawang. Sebelumnya, ia selalu merasa belum siap. Belum siap membangun keluarga dengan laki-laki yang saat itu bahkan belum benar-benar

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 239

    “M-Mas Tristan?” Langkah Sasqia terhenti tepat di depan pintu kokpit. Matanya membulat, jelas tak menyangka akan bertemu sosok yang pernah begitu dekat dengannya, dan yang harus dia hindari. “Kok ... Mas ada di sini?” Tristan yang baru keluar dari kokpit menatapnya tenang. “Kenapa memangnya?” tanyanya datar. “Ini memang pekerjaan saya sejak dulu.” Sasqia buru-buru menggeleng. “Bukan, bukan itu maksud saya.” “Lalu?” “Bukannya Mas di EBA 127?” tanyanya hati-hati. “Kenapa sekarang di sini?” Tristan menghembuskan napas pelan. “Kebetulan mulai hari ini saya dipindahkan ke EBA 128.” “Mulai ... hari ini?” “Iya.” Napas Sasqia seakan tertahan. Hari pertama ia kembali bekerja. Hari pertama pula Tristan dipindahkan ke kru yang sama. Terlalu bertepatan. Tristan memperhatikan perubahan ekspresi wanita di hadapannya sebelum bertanya pelan, “Jadi ... suamimu mengizinkan kamu kembali bekerja?” Sasqia mengangguk. “Iya.” “Syukurlah. Karena kamu menikah dengan Kaelix.” Sasqia menatapnya b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 90

    “Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 89

    “Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 43

    “Jangan bilang kamu belum punya jawabannya,” ujar Tristan pelan, matanya menyipit tipis. “Sudah hampir satu minggu, kan? Besok tepat hari ketujuh sejak saya menyatakan perasaan.” Jantung Sasqia berdegup keras. Tujuh hari. Ternyata Tristan menghitungnya

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status