Share

BAB 239

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 00:06:30

“M-Mas Tristan?”

Langkah Sasqia terhenti tepat di depan pintu kokpit. Matanya membulat, jelas tak menyangka akan bertemu sosok yang pernah begitu dekat dengannya, dan yang harus dia hindari.

“Kok ... Mas ada di sini?”

Tristan yang baru keluar dari kokpit menatapnya tenang. “Kenapa memangnya?” tanyanya datar. “Ini memang pekerjaan saya sejak dulu.”

Sasqia buru-buru menggeleng. “Bukan, bukan itu maksud saya.”

“Lalu?”

“Bukannya Mas di EBA 127?” tanyanya hati-hati. “Kenapa sekarang di sini?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 270

    Jevier berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Kedua tangannya masuk ke saku jas dokter, sementara tatapannya lurus ke arah gedung lain di seberang rumah sakit. Sudah beberapa hari ini ia tak lagi menerima jadwal kontrol Mahendra. Padahal sebelumnya, pria itu selalu menjadi pasien tetapnya. “Kak Kael ...,” gumamnya pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi tanpa senyum. “Jadi benar, kamu sengaja memindahkan Pak Mahendra ke dokter lain.” Ia menghembuskan napas panjang. Alasannya memang masuk akal. Mahendra berhak memilih dokter mana pun. Namun entah mengapa, Jevier merasa keputusan itu bukan datang dari sang pasien. “Padahal selama ini lewat Pak Mahendra aku masih bisa sesekali bertemu Sasqia.” Kini kesempatan itu benar-benar hilang. Jevier menyandarkan bahunya pada kaca jendela, tatapannya menerawang jauh. “Kamu benar-benar sedang menutup semua jalan untukku, ya, Kak?” Ia terkekeh pelan, tetapi tawa itu terdengar hambar. “Takut aku mengganggu rumah tangga kalian?” _____

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 269

    “Ada keperluan apa Ibu datang ke sini?” tanya Kaelix seraya berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan tenang. Miriam menghembuskan napas pelan sebelum ikut menghampiri. Ia mengambil tempat di samping putra sulungnya. “Ibu datang karena merindukan kamu.” Nada suaranya terdengar lembut. Tangannya perlahan menggenggam tangan Kaelix, seolah takut putranya akan menjauh. “Ibu kadang masih sulit percaya kalau anak pertama Ibu sudah sebesar ini.” Senyumnya mengembang tipis. “Rasanya baru kemarin Ibu mengandung kamu, melahirkan kamu, menggendong kamu ke mana-mana.” Kaelix hanya memandang ibunya tanpa banyak bicara. Miriam kemudian mengangkat sebelah tangannya, mengusap pelan rahang tegas putranya dengan penuh kasih. “Kamu tetap anak kecil Ibu ... meski sekarang sudah menjadi suami orang.” Kaelix menghembuskan napas pelan. Perlahan ia menurunkan tangan sang ibu dari pipinya. Namun alih-alih melepaskannya, pria itu justru menggenggam tangan tersebut dengan kedua tangannya. Tanpa ragu, Kae

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 268

    Sasqia baru saja menuangkan jamu ke dalam gelas. Aroma rempah memenuhi dapur. Ia mengernyit pelan sebelum akhirnya meneguk sedikit demi sedikit meski rasa pahit langsung memenuhi lidahnya. “Uh ...,” raut wajahnya berubah menjadi menahan pahit dari jamu tersebut. “Demi Mas Kael,” gumamnya sambil tersenyum kecil. Baru saja ia meletakkan gelas kosong itu di atas meja, suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah. “Sasqia.” Wanita itu spontan menoleh. “Ibu ....” Miriam berjalan mendekat. Tatapannya jatuh pada botol jamu yang masih berada di atas meja. Keningnya langsung berkerut. “Itu apa?” Sasqia mengikuti arah pandang sang ibu mertua. “J-jamu, Bu.” “Jamu?” Miriam mengambil botol itu tanpa meminta izin. Dibacanya sekilas tulisan kecil yang menempel pada botol kaca tersebut. “Untuk apa?” Sasqia terdiam. Tatapannya perlahan menunduk, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Miriam mengangkat wajahnya. “Jangan bilang ...,” sorot matanya berubah tajam. “kamu sedang berniat un

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 267

    Taksi yang membawa Shiren kembali ke perusahaan usai jam makan siang akhirnya berhenti tepat di depan gedung EBA. Shiren membayar ongkos, lalu turun sambil merapikan blazer dan name tag barunya. Belum sempat melangkah menuju pintu lobi, langkahnya terhenti. Seorang pria berdiri beberapa meter di depannya. “Kamu?” desis Shiren, wajahnya seketika mengeras. Raka tersenyum tipis. Sudah hampir setahun mereka bercerai, tetapi wanita itu masih terlihat sama cantiknya. Bahkan kini tampak jauh lebih percaya diri. “Apa kabar, Ren?” sapanya pelan. “Cantik banget sekarang.” Shiren terkekeh sinis. “Gak usah sok akrab.” Raka mengembuskan napas panjang, lalu melangkah mendekat. “Aku cuma mau ketemu.” “Ngapain?” “Aku ... kangen.” “Kangen?” Shiren mengangkat sebelah alisnya. “Dulu waktu masih jadi suami, ke mana rasa kangen itu?” Raka terdiam. “Aku minta maaf, Ren.” “Gak perlu.” Shiren menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Langsung aja. Ada perlu apa?” Pandangan Raka turun pada ser

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 266

    “Sshh ...,” desis Sasqia pelan begitu mendudukkan dirinya di depan meja rias. Jemarinya tanpa sadar menyentuh pangkal pahanya yang masih terasa pegal. Ia menghembuskan napas panjang sambil menatap bayangannya di cermin. “Mas Kael akhir-akhir ini makin agresif,” gumamnya pelan, pipinya memerah. “Kalau begini terus, aku bisa-bisa susah kerja.” Usai mengeringkan rambut, Sasqia mulai merapikan skincare yang berserakan di atas meja. Sejak pemeriksaan di rumah sakit beberapa hari lalu, kehidupan rumah tangga mereka memang berubah. Kaelix benar-benar serius menjalani program hamil. Setiap saran dokter dijalankan tanpa pernah terlewat. Vitamin, pola makan, waktu istirahat, hingga waktu yang dianggap paling baik untuk meningkatkan peluang kehamilan, semuanya diperhatikan oleh pria itu. Meski begitu, Sasqia justru diam-diam merasa bahagia. Setidaknya, Kaelix masih menginginkan dirinya. “Hari ini Kak Shiren juga mau dateng,” gumamnya pelan sambil tersenyum. “Katanya mau bawain jamu yang b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 265

    Malam itu Sasqia berdiri di depan cermin besar di dalam kamar. Jemarinya merapikan helaian rambut yang jatuh di sisi wajah, lalu mengulas tipis lipstik pada bibirnya. Untuk pertama kalinya, ia merias diri sedikit lebih berani. Bukan karena hendak menghadiri pesta atau bertemu teman, melainkan karena ingin menyambut kepulangan suaminya. Gaun rumah yang dikenakannya pun berbeda dari biasanya. Bahannya lembut, potongannya sederhana, tetapi cukup menonjolkan keanggunan tubuhnya. Tatapannya bertemu dengan bayangan dirinya sendiri di cermin. “Mas Kael ... suka aku karena fisik, kan?” gumamnya lirih. Kalimat itu kembali mengingatkannya pada ucapan Soraya. Bahwasanya laki-laki yang mendekatinya tidak jauh karena fisik semata. Dan sang ibu begitu membanggakan hal tersebut karena Sasqia mewarisinya darinya, serta Soraya meminta Sasqia untuk berterima kasih padanya atas hal itu. Sasqia perlahan menggeleng. “Tapi ... aku juga pengen dicintai karena hatiku. Karena ketulusanku.” Senyumnya me

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 89

    “Om Tristan ke mana, Sus?” tanya Sana siang itu dengan suara kecil. Usai makan dan menelan obatnya, tubuh mungilnya diminta beristirahat. Ia sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit, selimut menutupi hingga dada. Babysitter yang menemaninya duduk di kursi dekat ranjang, mengusap pelan rambut h

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status