Home / Romansa / Dekapan Panas Kakak Ipar / Bab 126. Rekan model baru

Share

Bab 126. Rekan model baru

Author: Dayatsa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-27 19:53:38

Pukul delapan lebih sepuluh menit, mobil Alena baru saja tiba di Hotel Wijaya, tempatnya nanti melakukan pemotretan. Di sana, depan lobi, seorang wanita cantik memakai masker sambil membawa dua tas make-up besar tengah melambai tinggi ke arah Alena.

Setelah melihat, Alena bergegas mendekat. Wanita tadi adalah asisten make-upnya. "Duh, maaf ya nunggu lama, Sinta. Saya tadi terjebak macet."

"Nggak apa-apa, Mbak Alena. Ya sudah, ayo kita masuk sekarang. Pak Danu datang telat ka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 127. Sahabat Bu Syanas

    Leon hanya mampu tersenyum tipis, tak menyangka ia akan menjadi lawan model Alena."Leon?" lirih Alena seraya membalikan badan.Danu menarik tubuhnya ke samping, menunjuk Alena dan Leon bergantian. "Kalian berdua sudah saling kenal?""Alena sahabat kembaran saya, Pak Danu. Ya... Sekedar kenal saja sih," jawab santai Leon.'Gawat nih. Bagaimana kalau Kak Aston tahu kalau Leon yang menjadi rekan modelku. Bisa ngambek lagi nanti dia. Duh... Pak Danu gimana sih?!' gumam batin Alena.Setelah itu ia berjalan pelan, menarik lengan Bosnya untuk di ajaknya berbicara sebentar."Ada apa, Alena?""Pak Danu kok nggak kasih tahu saya sih, kalau Leon yang jadi modelnya. Lagian... Dia kan pemimpin di Perusahaan, masak masih mau loncat jadi model juga. Apa dia sudah mulai bangkrut?" tanya polos Alena. Ia melirik ke arah tempat Leon sekilas, wajahnya menahan kesal, tapi justru dia sendiri yang harus terjebak."Kamu ini bisa saja.

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 126. Rekan model baru

    Pukul delapan lebih sepuluh menit, mobil Alena baru saja tiba di Hotel Wijaya, tempatnya nanti melakukan pemotretan. Di sana, depan lobi, seorang wanita cantik memakai masker sambil membawa dua tas make-up besar tengah melambai tinggi ke arah Alena.Setelah melihat, Alena bergegas mendekat. Wanita tadi adalah asisten make-upnya. "Duh, maaf ya nunggu lama, Sinta. Saya tadi terjebak macet.""Nggak apa-apa, Mbak Alena. Ya sudah, ayo kita masuk sekarang. Pak Danu datang telat karena harus memimpin rapat terlebih dulu," ucap wanita bernama Sinta sambil mengimbangi langkah Modelnya.Alena menoleh sekilas, tangannya menekan tombol lift yang akan membawanya menuju lantai 8. Begitu terbuka, kedua wanita tadi masuk dengan beberapa barang bawaannya."Oh ya, Sinta... Katanya nanti Hansel di ganti ya. Emangnya dia kemana sih? Kayak nggak bisa ekspresif gitu kalau nggak sama dia," gumam Alena sambil menghela napas dalam."Mas Hansel sedang mewakilkan p

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 125. Ratih, dimana kamu?

    Setelah beberapa detik mencerna, menelisik dari bentuk wajah serta tatapan itu, tiba-tiba ponsel Alena bergetar kencang di tas buku jurnal yang ia letakan di bawah lantai tadi. Alena dengan cepat menutup album tadi, menumpuknya cepat, lalu segera menerima panggilan dari rekan kantornya sambil memunguti kembali barang-barangnya. "Iya, baik. Terimakasih." Beberapa menit setelah Alena keluar, Mama Lusy berjalan ke depan sekedar mengecek, apalah putrinya itu sudah berangkat atau belum. Ia berdiri di ambang pintu, sekedar memastikan, dan rupanya mobil Alena sudah tidak ada di halaman. "Ma...." Suara Mike dari belakang membuat Mama Lusy menoleh. "Mike berangkat sekarang. Dan nanti ada kunjungan kerja di lapangan untuk mengecek proyek di sana." "Iya, hati-hati, jangan ngebut bawa mobilnya," titah Mama Lusy sambil mengusap bahu kekar putranya.

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 124. Foto album Mama Lusy

    Di dalam, Tama langsung memutuskan panggilan Dinda. Ia melempar gawainya di atas ranjang, lalu segera merebahkan tubuh lelahnya di sana. Tama menghembuskan napas pelan, terasa sesak, berat, seperti ada beban berat yang menghantam dadanya. Ceklek! Pintu kamar itu terbuka dari luar. Aston berjalan pelan masuk ke dalam dengan wajah tenangnya. Tama yang tersadar akhirnya bangkit. "Mas Aston?" Aston berdiri tegap menatap adiknya tanpa ekspresi. Lalu menghela napas pelan. "Sore tadi orang tuanya Dinda datang. Mereka meminta kamu agar segera menikahi putrinya secara resmi." "Sudahlah, Mas... Nggak usah di bahas lagi. Kepalaku rasanya hampir meledak," kata Tama seraya bangkit terduduk lemas. "Lalu, apa maumu? Kehamilan Dinda semakin besar. Orang tuanya akan mengancam kamu jika dalam waktu dekat ini kamu tidak meresmikan pernikahan kalian," balas Aston bersedekap dada. Tama meraup kasar w

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 123. Bu Syanas?

    Aston tak mampu mengekspresikan lebih. Baginya, nama Bu Syanas memang sudah pas, sesuai paras cantik dengan tatapn teduhnya. Entah mengapa, setiap kali menatap mata wanita di depannya itu, Aston seolah melihat rumah sederhana yang menyisakan retak serta kepedihan. Tapi perasaannya menghangat tiba-tiba. Dalam hatinya menjerit: benar seperti inikah rasanya menggenggam tangan sang Mama dengan erat. Berkontak fisik langsung dengan kulit wanita tua saja ia sudah sehangat ini. Rasanya damai, apalagi jika usapannya mendapat tepukan pelan di punggung tangannya, membuat Aston hampir lupa jika wanita di depannya itu memang bukanlah Mamanya. Lebih dalam Aston menatap, hatinya seperti di tusuk ribuan jarum. Kenangan masa kecilnya menguar, bukan karena rasa hangat akan dekapan sang bunda, melainkan kehilangan yang tak pernah menemukan titik terang yang pasti. Banyak keluarga besar pihak Mamanya yang sudah mengikhlaskan kepergi

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 122. Hampir menabrak!!!

    Alena membuka mata dengan jantung berpacu hebat. Aston juga tak kalah syok. Ia menoleh ke arah Alena, wajahnya membias, jantungnya juga berdetak sangat keras. Ia langsung memeluk tubuh Alena yang saat ini mematung dengan wajah pucatnya. "Sayang, sayang maafkan saya. Maaf susah membuat kamu ketakutan seperti in." Aston dapat merasakan tubuh Alena yang tengah terguncang hebat. "Ke-keluarlah! Tolong bantu Ibu-Ibu yang hampir Kak Aston tabrak tadi." suara Alena begetar, matanya masih menatap lurus ke depan, sementara ingatanya mengarah pada sosok wanita tadi yang hendak menyebrang. Aston menoleh ke arah jalan, seorang wanita setengah baya itu masih bersimpuh di tengah jalan, di temani tetesan air hujan yang menghujam kulitnya. Tanpa menunggu lama, jiwa Dokter Aston merasa terpanggil. Ia segera menghampiri Ibu tadi, dan memayunginya. "Bu... Saya minta maaf. Ayo bangun, dan masuk ke mobil karena disini

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 1. Mas, sentuhlah aku!

    "Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 5. Kak, tapi Alena Ipar Kakak!

    Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 4. Bagaimana aku bisa hamil?

    Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 3. USG Transvaginal

    Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status