INICIAR SESIÓNPukul delapan lebih sepuluh menit, mobil Alena baru saja tiba di Hotel Wijaya, tempatnya nanti melakukan pemotretan. Di sana, depan lobi, seorang wanita cantik memakai masker sambil membawa dua tas make-up besar tengah melambai tinggi ke arah Alena.
Setelah melihat, Alena bergegas mendekat. Wanita tadi adalah asisten make-upnya. "Duh, maaf ya nunggu lama, Sinta. Saya tadi terjebak macet.""Nggak apa-apa, Mbak Alena. Ya sudah, ayo kita masuk sekarang. Pak Danu datang telat kaApa yang sebenarnya terjadi? batin Tama sejak tadi sibuk menerka, mengingat semua hal yang terjadi di antara dirinya dengan Kakak ada sebuah kejanggalan. Tama bangkit, ia mencoba membuang semua ledakan asumsi itu, agar tak menimbulkan keresahan dan keretakan dalam keluarganya. Tapi entah mengapa, Tama merasa ada sesuatu yang Kakaknya sembunyikan..Sore itu juga Tama berjalan menuju lantai dasar untuk menemui salah satu staff medis yang pernah menangani masalah tes DNA nya waktu lalu. Dan kebetulan, ruang laboratorium masih ada yang menjaga.Tama langsung masuk ke ruangan Dokter Reza.Kedatangan Dokter bedah itu membuat Dokter Reza yang biasa menangani masalah tes DNA sontak terkejut. Pasalnya, waktu itu Aston sudah mewanti-wanti tentang kebenaran tes DNA milik keluarganya."Dokter Tama? Ada yang bisa saya bantu?" Dokter Reza mempersilahkan duduk. "Silahkan duduk, Dok."Tama menarik kursi untuknya duduki. Ia sudah duduk dengan tenang, mena
Alena sudah kehabisan akal. Ia tiba-tiba berpura kesakitan sambil memegangi kakinya. "Tama... Tolong! Ini kakiku tiba-tiba kram!"Tama pun reflek meninggalkan rasa penasarannya pada tombol dibalik rak tadi. Ia bergegas mendekat ke arah Alena yang masih terpaku di ambang pintu. Tama merunduk, ia mencoba memegang kaki Alena dengan wajah cemas."Alena... Yang mana yang kram?""Aku mau duduk dulu, Tam." Alena berjalan tertatih menuju sofa ruangan kerja suaminya. Begitu ia sudah duduk, Tama menekuk satu kakinya untuk mencoba memijat kaki Alena. Namun baru menyentuh, Alena sudah tak enak hati sendiri."Mana yang sakit, Al? Apa perlu kita ke rumah sakit, biar Kak Aston yang tangani langsung. Kamu lagi hamil muda soalnya," gelisah Tama.Alena mencegah tangan Iparnya. "Tam, aku baik-baik saja kok. Ini juga udah enakan. Kamu lebih baik buruan ke rumah sakit, soalnya udah di tungguin Kak Aston.""Kamu yakin?" Tama mendongak.Alena
Alena terkekeh dibalik selimut tebalnya. Tapi rasanya malam ini ia tak dapat berlari, sebab sudah beberapa malam karena badannya yang lemas terpaksa ia menunda hubungan bercintanya terlebih dulu. Di tambah, ia juga tak tega melihat wajah Aston yang memelas, tatapannya sudah tertutup kabut gairah."Sayang, ayolah, please! Udah nggak bisa nahan lagi ini," ucap Aston."Kak, tapi janji pelan-pelan ya. Ingat, di dalam ada anak kamu," ucap Alena memperingati.Aston mengangguk cepat. Sebelum ia melakukan ritual malamnya, Aston mengusap perut Alena dan menciuminya terlebih dahulu. "Sayang, anak Papa... Jangan kaget ya. Papa mau intin kamu bentar saja. Papa juga kangen sama Mama kamu. Beberapa hari Papa di asingkan gara-gara kamu. Masih di dalam perut saja udah ngerebut perhatian Papa. Gimana kalau kamu udah lahir, pasti Papa di taruh panti asuhan."Alena terkekeh bukan main. Ia tak menyangka sang suami bertambah lucu semenjak dirinya di nyatakan akan menj
Tama akhirnya memutuskan kembali ke ruang tengah sambil membawakan dua gelas jahe hangat dan cemilan untuk sang Mama. Setelah semuanya di letakan, Tama duduk di sebelah Bu Syanas untuk menanyakan kebenaran yang terjadi."Bu, di dapur ada susu ibu hamil, apa Alena hamil?" tanya Tama dengan wajah serius."Iya, Tam... Mama sebentar lagi akan punya cucu, dan kamu akan di panggil Om," kata Bu Syanas. Selama ini, yang Bu Syanas tahu: Tama hanya menikahi Dinda secara siri lalu berakhir begitu saja. Aston dan Tama sudah menyepakati, untuk tidak menceritakan masalalu pernikahan Tama dengan Alena. Aston hanya tidak ingi sang Ibu kembali kepikiran.Tama hanya tersenyum tipis, menegakan duduknya menatap kosong ke depan sambil menggapai gelas jahe tadi. Semakin ia mengingat bagaimana caranya memperlakukan Alena dulu, sama seperti Tama menggenggam pisau tajam yang hanya akan menyakitinya saja. Penyesalan memang hanya tinggal penyesalan. Namun setidaknya, Tama sudah berh
Setelah Aston selesai menandatangani data kepulangan pasien, ia dan Alena langsung menuju Apoteker bawah untuk mengambil vitamin yang sudah Aston resepkan tadi. Satu kantung paperbag itu sudah lengkah dengan beberapa vitamin pilihan, dan susu ibu hamil yang Aston recomended kan untuk sang Istri.Selanjutnya, Alena dan Aston langsung mampir ke rumah Mama Lusy, berniat untuk memberikan kejutan kepada keluarganya. Namun apa yang terjadi, setibanya di halaman rumah, Alena di buat mengernyit melihat mobil hitam mengkilap yang terparkir di halaman rumah Mamanya."Mobil itu?" bisik Aston. "Itu bukannya mobil milik Leon?" Aston menatap istrinya. "Sayang... Kamu yakin? Ada Leon di dalam?""Ada apa ya, Kak? Apa ada Leana juga di dalam?" gumam Alena penuh tanya. Ia hanya mengkhawatirkan sahabatnya, takut terjadi sesuatu."Sayang...." Aston menatap Istrinya penuh keyakinan. "Ayo kita masuk, dan kamu tidak perlu cemas lagi karena ada saya di samping kamu."
Langkah Aston semakin teratur begitu lift terbuka. Ia rengkuh pinggang istrinya, berjalan sedikit tergesa karena memang Alena sangat pucat. Semua orang banyak di buat bertanya-tanya, mengapa Dokter Aston kembali lagi bersama Istrinya? Namun tam sedikit pula yang fokus dengan masalah hidup masing-masing.Seorang Asisten perawat mengerutkan dahi, menegur Aston dengan wajah penuh tanya baru saja keluar dari meja konter. "Dok... Apa ada sesuatu?""Ini, Istri saya nggak enak badan. Saya mau periksa dulu," kata Aston."Oh, baik, Dok. Jika membutuhkan sesuatu hubungi saya," ucap sang Asisten.Pintu ruangan terbuka. Alena tersenyum pucat sebagai tanda terimakasih kepada Asisten suaminya. Di dalam, Aston meminta Istrinya untuk melakukan tes kehamilan, karena yang Alena rasakan sangat mirip dengan wanita hamil. Aston mengeluarkan tespack yang masih terbungkus rapi kepada Alena."Sayang, kamu coba tes dulu ya. Dan apapun hasilnya, jangan berkecil h
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se







