Home / Romansa / Dekapan Panas Kakak Ipar / Bab 151. Dok, stop!

Share

Bab 151. Dok, stop!

Author: Dayatsa
last update publish date: 2026-09-07 20:14:30

Secepat mungkin, Aston langsung membantu Liana menegakan badannya. Ia tak ingin terjadi drama tatapan-tatapan seperi di film. Aston berdehem kecil, lalu segera masuk ke dalam mobilnya begitu saja.

Liana panik, mobil Aston sudah akan melaju. Ia cepat-cepat menghadang mobil itu sambil merentangkan ke dua tangannya.

"Dok, stop! Saya belum selesai bicara."

Dinttttt!!!

Aston sudah merasa muak. Ia terpaksa menghentikan mobilnya sejenak. Ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 194. Bayi Dinda gugur

    Tama segera mendekat, membantu dua suster tadi mengangkat tubuh Dinda agar pas di area ranjangnya. Ia yang tidak mengetahui banyak tentang ilmu kandungan hanya menatap ke-dua suster tadi dengan seksama. "Nanti saya coba hubungi Dokter kandungan, Bu. Mohon di tunggu sebentar. Karena Dokter Nayla baru saja pulang sore tadi. Saya sudah memberikan obat penghenti darah. Untuk selebihnya, biar Dokter kandungan yang memutuskan." "Duh, giaman sih? Itu putri saya sampai pingsan begitu, kalian santai-santai nggak jelas. Gimana kalau terjadi apa-apa sama cucu saya, ha? Kalian berdua mau tanggung jawab?!" Kecam Leni. "Kalian cek pembukaan saja deh, sudah nambah atau belum itu?" Ke dua suster tadi segera melakukan pengecekan pembukaan serta mengecek detak jantung bayi Dinda. Ke dua suster tadi saling tetap. Gurat wajahnya menjelaskan jika ada masalah serius yang menimpa sang buah hati. Salah satu suster tadi

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 193. Pendarahan

    Tak lama itu, gawai yang sejak tadi di timang Bu Syanas bergetar beruntun. Dengan gerakan reflek, wanita parubaya itu segera melihat, dan tertera nama 'Tama' di layarnya. Penuh gurat cemas dan bahagia, Bu Syanas dengan antusias menggeser ikon hijau di layarnya. "Hallo, Tama... Bagaimana, sayang? Istrimu sudah melahirkan?" "Masih pembukaan 5, Ma. Ini Tama juga bingung harus gimana. Dinda terus saja menangis, bilang kalau sudah nggak betah." Suara lemah Tama membuat dada Bu Syanas teriris perih. Ia dapat membayangkan bagaimana cemasnya Tama mendampingi Dinda yang tengah berjuang antara hidup dan matinya. Jika saja dirinya ada di sana, pasti Tama memiliki tempat bersandar. Bu Syanas kini bangkit. Wajahnya sudah di kalang kabut. Ia berjalan mondar mandir di ruangan tengah sendirian. "Tama, lalu bagaimana keputusan Dokter?" "Jika sampai

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 192. Enak banget

    Alena tanpa dosa mengeluarkan kotak makanan tadi. Dua potong sandwich yang aromanya memang harum, dan sejak tadi menggelitik perut lapar Alena. "Nggak, kan Kak Aston nggak mau sentuh makanan ini. Kalau Kak Aston antusias dapat makanan dari Dokter itu, baru Alena marah. Lagian... Ini kayaknya enak sandwichnya. Kak Aston nggak mau coba?" Alena menyodorkan sepotong roti isi tadi. Aston menarik tubuhnya ke samping, bergeleng cepat, karena memang ia tidak suka ada wanita yang mendekatinya dengan alasan apapun. Termasuk memberinya perhatian dan makanan. Alena hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia menggigit kecil ujung sandwich tadi, mengunyahnya pelan, lalu manggut-manggut dan menggigit lebih banyak. "Padahal kalau kamu mau, tadi biar saya turun carikan makanan lainnya, sayang. Kalau nggak enak nggak usah di paksain makan. Soalnya kalau perut sudah lapar, yang nggak enak bisa jadi enak hanya karena terpaksa," cerocos Aston.

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 191. Masalalu di Kalimantan

    Pintu tertutup rapat. Memisahkan semua rasa kekaguman yang selama ini mengalir lembut. Liana masih terpaku, belum ada pergerakan sama sekali. Ia hampir lupa jika rekannya itu sudah memiliki calon Istri. Sudah ada wanita yang selalu menunggu kabarnya setiap hari. Bahkan, dibalik ruangan itu pun ada wanita yang berdiam selalu mengajaknya bertukar cerita. Kenyataan itu setiap kalinya meruntuhkan keteguhan niat Liana untuk terus tetap mempercayai akan sebuah Takdir. Tapi dirinya lupa, bahwa Takdir yang dirinya minta - salah. 'Aku berharap kamu membuka pintu lagi, Aston. Padahal kamu dulu orangnya ceria. Kamu salah satu Dokter yanh paling peduli sama aku di antara banyaknya Dokter pria di sana. Bagaiaman bisa kita sejauh ini, padahal dulu kita pernah sedekat nadi.' Jika mengingat semua kegelisahan waktu dulu, membuat dada Liana terasa sesak. Wanita cantik itu kemudian membalikan badan lalu segera melenggang masuk ke dalam ruangannya. Liana d

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 190. Kedatangan Liana

    Alena menatap ayam kecap yang berubah kecoklatan saat di panggang di atas teflon. Lalu ia kembali menatap Aston sedikit mengernyit. "Kak... Kak Aston yakin bisa masak?" Hehe... Aston terkekeh pelan. "Kamu tenang saja sayang. Meskipun pagi saya berkutat dengan banyaknya pasien, tapi malam akan saya usahakan buat melayani neng cantik saya ini. Mau jadi apa saya bisa. Tidak hanya Dokter, tapi tukang service pun bisa. Apalagi hanya masak... Kecil," kata Aston sambil menghentikan jari kelingkingnya. Alena tertawa melihat wajah tengil kekasihnya. "Udah, sekarang kamu duduk manis di sini, biar chef Aston yang melayani kamu," ujar kembali Aston sambil mendorong Alena pelan ke meja makan. "Baik, Chef! Itu baunya kosong, buruan di balik," kekeh Alena kembali. Aston memajukan majahnya sambil menunduk. Kedua tangannya memegang sisi meja. Bibir Aston tiba

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 189. Terpesona

    "Kamu baik-baik saja 'kan, Lea?" tanya Mike yang merasa bingung menanggapi sikap gen Z. Leana baru tersadar setelah Mike kembali bertanya. "Oh... Em, I-iya, Kak... Tadi hanya terpesona saja, eh... Maksud saya kagum lihat kerja kerasnya Kak Mike, gitu." Mike kembali tersenyum simpul. "Ya sudah, kalau begitu saya mau bersih-bersih dulu. Kamu juga istirahat dulu. Pasti capek 'kan ngurusin cafe sendirian?!" "Iya, Kak... Bye." Leana mengangkat tangannya rendah. Panggilan berakhir dengan semestinya. Leana langsung membekap gawianya di depan dada sambil menghembuskan napas berkali-kali. Sejenak itu dirinya seperti orang linglung, masih belum yakin sepenuhnya jika seorang Mike, pria idamannya sejak kecil, yang dulu selalu menggendongnya keliling taman, yang dulu dirinya sangka akan se-mustahil itu untuknya raih, tapi siang tadi sekaan Tuhan berkehendak lain. Mike datang secara tiba-tiba, memesan

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 1. Mas, sentuhlah aku!

    "Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 5. Kak, tapi Alena Ipar Kakak!

    Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 3. USG Transvaginal

    Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 2. Periksa sekarang, Kak?

    Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status