LOGINTak lama itu, gawai yang sejak tadi di timang Bu Syanas bergetar beruntun. Dengan gerakan reflek, wanita parubaya itu segera melihat, dan tertera nama 'Tama' di layarnya.
Penuh gurat cemas dan bahagia, Bu Syanas dengan antusias menggeser ikon hijau di layarnya. "Hallo, Tama... Bagaimana, sayang? Istrimu sudah melahirkan?" "Masih pembukaan 5, Ma. Ini Tama juga bingung harus gimana. Dinda terus saja menangis, bilang kalau sudah nMalam itu keadaan mulai tenang dan membaik. Dan malam ini Alena masih bermanja mengusap kepala suaminya yang tengah merebahkan kepalanya di atas pangkuannya sambil menyapa calon buah hati mereka. Waktu sudah menunjukan hampir pukul 7 malam, dan Aston masih malas untuk bangkit. Ia tak bisa meninggalkan Alena sendirian. Meskipun di rumah ada adik dan Ibunya, tapi entah mengapa kejadian waktu itu terus menghantui ingatan Aston. "Kak...." suara lembut Alena menyapu rongga telinga Aston. Tangannya masih sibuk memainkan rambut sang suami. "Udah mau jam tujuh. Kak Aston kan jaga malam nanti?! Ayo dong buruan bersiap."Aston berusaha bangkit. Wajahnya menekuk rasa malas, membuat kerutan di sekitar bibirnya yang mengerucut. "Sayang... Saya ingin sekali mengajak kamu, tapi kamu lagi hamil. Nanti kalau ada apa-apa langsung telfon suamimu ini."Alena mengangguk sedikit tersenyum melihat sikap protektif suaminya saat ini. Padahal sore tadi suaminya sudah berhasil menj
"Selamat Sore, sayang... Kita bertemu lagi," ucap Leon menatap Alena.Keadaan semakin memanas. Aston menarik lengan Alena, membuat langkah kaki istrinya reflek mundur gemetar. Dua petugas tadi sudah bangkit, menatap Leon dengan wajah tersentak. Pelaku biasanya takut mendekati persimpangan jalan Kapolsek, Polresta, atau ranah hukum lainnya. Tapi itu semua tidak berlaku untuk Leon. Pria itu datang di temani dua Asistennya, berjalan santai mendekat seperti layaknya seseorang yang berjalan di karpet merah, tengah menjadi model fashion show. Leon berdiri cukup berjarak di tengah-tengah, tapi sejak tadi sorot matanya menghujam pada paras cantik Alena yang berdiri dalam rengkuhan tangan suaminya. Tama berjalan selangkah menghadang, begitu Aston yang sudah tak sabar ingin melayangkan beberapa pukulan ke arah wajah pria singa itu. "Mas, jangan ke gabah dulu. Kita di kantor polisi. Bisa saja pria gila itu membalik tuntutan kita," bisik Tama menahan bahu kakaknya.
Papa Gino, Mama Lusy dan Mike terpaku. Mama Lusy memang geram. Ia sudah salah menilai Leon selama ini. Namun karena menghargai Leana yang sebentar lagi akan menjadi menantunya, dan kebaikan keluarga Wildson kepada keluarganya yang sudah terjalin erat, maka dirinya berdamai dengan emosionalnya setiap kali sang putri mengeluhkan setiap masalah yang menyangkut nama Leon.Mama Lusy maju, berhenti di samping Nyonya Renata. Pandangannya lurus menghujam wajah kaku Leon yang masih tertunduk sambil menyeka sekilas sudut bibirnya yang robek."Tante pikir kebaikanmu pada Alena hanya kamu anggap sekedar saudara saja, Leon! Namun Tante salah menilai kamu selama ini. Hampir saja kamu mencelakai putri Tante dan calon cucu Tante. Mungkin saja jika bukan karena baikan kedua orang tuamu kepada keluarga Tante, bisa saja Tante menyuruh Mike untuk membatalkan pertunangannya dengan Leana. Tante tidak suka berhubungan dengan seseorang yang pada akhirnya akan memanfaatkan kepentingan prib
Ting!Lift baru saja terbuka, Alena keluar sambil mengedarkan mata. Teknisi tadi bilang, Aston akan menunggunya. Tapi dimana? Alena mencari jalan keluar, namun baru dua langkah kakinya menapak, ada tangan kekar yang mencengkram tangannya dari belakang. Alena pun reflek menoleh. Di depannya sudah ada seorang pria yang mengenakan setelan kasual dilapisi jaket hoodie memakai masker dan topi. Alena mengenal betul jaket milik siapa itu.Alena menarik maskernya ke bawah. "Kak....""Sayang...." Aston pun langsung memeluk tubuh Istrinya begitu erat dengan tangisan prihatin. "Sayang, akhirnya kita bersama lagi. Saya berjanji sama kamu dan diri saya sendiri, mulai detik ini, saya akan menjaga kamu."Alena merasakan lega, napasnya teratur lembut, membuat rasa nyaman dan tenang melingkupi dinding hatinya. Ia pun memeluk tubuh sang Istri dengan erat, tangan kekarnya mengusap lembut kepala Alena, di ciumi berkali-kali sebagai bentuk ungkapan rasa rindunya.
Segelas air tadi tertenggak sampai tatas, karena memang selain enak, asinan buah kuah buatan Alena juga sedikit pedas. Keringat sampai memupuk di sudut dahi Renaldi. Bibirnya pun sampai ikut merah karena kulit wajah Renaldi sangat bersih."Wah, enak sekali, Nona. Ya sudah, kalau begitu saya kembalikan ke dapur dulu," ucap Renaldi yang sudah bersiap membawa mangkuk dan gelas tadi."Eh, jangan!" Alena menahan lengan Renaldi. "Biar saya sekalian mau ke belakang."Renaldi tertunduk merasa segan. "Jangan, Nona! Nanti Tuan Leon marah. Anda sedang hamil, dan tidak boleh melakukan aktivitas lebih.""Ini hanya mangkuk dan gelas saja, Renaldi. Bukan batu lima kilo," kata Alena seraya bangkit. Ia lalu meraih gelas dan mangkuk tadi untuk di bawa menuju dapur.Alena duduk lagi di kursi kecil mini bar dapur. Ia menatap ke arah Renaldi yang sejak tadi sudah menguap beberapa kali. Alena tersenyum miring, sorot matanya menatap penuh licik, berharap pria g
TingTongSuara bel menggema di seluruh ruangan megah Penthouse Leon. Seorang pria berpenampilan formal pagi itu bergegas membukakan pintu. Wajahnya kaku tatapannya sangat dingin. Ia menatap seorang pria berseragam - mengalungi identitas yang tertulis "Teknisi Ac". "Siapa kamu?""Saya teknisi Ac, Tuan. Saya sebulan sekali memang di tugaskan kantor untuk mengecek Ac setiap hunian Penthouse," ucap pria berseragam biru tua tadi. Ia masih mengenakan masker, topi, dan membawa satu kotak perkakas di tangannya. Pria berpakaian formal tadi masih menyipitkan mata. Mungkinkah pria di depannya ini adalah komplotan salah satu pria yang ingin masuk lift tadi malam? Batin anak buah Leon masih terus mengusik. Jika salah sedikit pun, hidupnya tak akan selamat. "Buka masker dan topimu!" ucap Anak buah Leon. Sorot matanya tajam, menunggu Teknisi Ac tadi bergerak. Meskipun berat, namun petugas Teknisi Ac itu akhinya menuruti. Ia segera
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se







