ログインMalam itu hujan deras tiba-tiba mengguyur. Alena masih tetap menangis di tengah fokusnya berkendara. Tubuhnya terguncang, air matanya sejak tadi mengalir terus tanpa dapat ia tahan. Kehilangan Aston dari hidupnya adalah suatu hal berat yang ke depannya mulai ia jalani. Di tengah ratapan itu, mobil yang Alena kendarai tetiba melaju tersendat-sendat, membuat gurat kesedihan pada wajahnya berubah ke lebih cemas. Alena yang memutuskan malam ini melewati jalan sepi yang cukup jarang diewati orang, begitu kerlap kerlip toko dan lampu jalanan, kini semakin panik disaat tiba-tiba mobilnya berhenti tanpa ia inginkan. Deg! "Astaga, kenapa mobil ini? Nggak biasanya mogok kayak gini. Mana hujan lagi di luar," ocehnya disela isakan tangis. Alena hanya mampu menghela napas panjang. Ia merogoh gawainya, tapi ternyata gawainya mati, daya batrenya habis lupa dirinya isi tadi. Alena semakin fru
Perasaan Aston sudah mulai di lingkupi rasa sesak mendengar kalimat dingin dari Aelena. Ia mulai duduk, menatap sang pujaan hati dengan gurat serius juga tatapan permohonan. Sementara Alena sendiri, ia tetep berusaha tenang, menarik napas dalam, ingin segera keluar dari situasi menghimpit seperti saat ini. "Alena... Kenapa kamu tidak mau saya peluk?" Tanya Aston begitu lembut. Alena tersenyum getir sangat tipis. Wajahnya masih sama datar namun tegas. Tidak ada sikap manja yang biasanya di berikan pada Aston. Tapi kali ini Alena menganggap pertemuan malam ini seperti meeting yang harus di selesaikan secara serius. "Alena cuma menjaga diri saja, Kak!" Jawabnya tenang. Ada sebuah dinding tinggi yang membatasi hubungan mereka saat ini. Dan Alena rasa sikapnya tadi memang sudah tepat ia lakukan. "Alena tidak ingin... Tubuh Alena ini menjadi pelabuhan yang kedua." Aston terdiam sejenak. Dahinya berkerut tipis mencoba mencerna
Aston terdiam. Wajahnya sudah mulai menerka yang tidak-tidak. Ia mencoba mengetik kata 'Sayang' tapi kali ini pesannya hanya menunjukan centang satu. Jantung Aston semakin berpacu hebat. Tidak ingin menyerah begitu saja, Aston mencoba menghubungi. Tapi lagi-lagi panggilan itu tidak aktif. "Nggak mungkin aku di block Alena begitu saja. Aku pasti salah," bisik Aston masih mencoba berpikir positif. "Mungkin Alena masih ingin menenangkan dirinya lebih dulu. Aku nggak boleh egois, aku harus tetap sabar dan berusaha." Aston sudah bersiap ingin menjalankan mobilnya, tapi tiba-tiba gawainya bergetar kembali. Poli Kandungan?! "Iya, ada apa, Sus?" "Dok, cepat ke rumah sakit! Pasien anda sudah pembukaan 7, padahal rencana mau cesar," ucap Suster di sebrang. "Baik, saya segera
Pria bernama Leo tadi reflek menoleh. Kaca mobilnya ia turunkan. Ia melihat Lea, kembarannya itu sudah berdiri berkacak pinggang menatap tajam kearahnya. "Nih, kunci mobil kamu!" Geram Leana mengangkat kunci mobil kembarannya yang tergeletak di atas meja tadi. Leo tersadar, rupanya yang dirinya bawa tadi adalah mobil Leana. Mobil mereka memang sengaja kembar juga, hadiah dari Eyangnya. Dan Keduanya cukup menghargai dan memakainya terus. Alena yang berdiri di samping Lea, mampu menyembunyikan senyum meskipun dirinya tahan. Leo sudah keluar. Wajahnya berusaha tetap tenang dan gentle. Ia melirik Alena sekilas, merasa kikuk dengan hal absurd yang dirinya lakukan. "Mikir apa sih, sampai lupa sama mobilnya sendiri," gerutu Lea menyerahkan kuncinya. "Siapa yang nyuruh kamu
Awwww.... Ckitttt!!! Di lain tempat, sebuah mobil mewah yang Aston Kendarai hampir banting setir, dan terpaksa menginjak rem secara mendadak, menghindari seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang begitu saja. Wajah Aston pucat menahan syok berat itu. Jantungnya juga berdetak hebat, hingga napasnya ikut naik turun. Tapi, wanita di depannya tidak asing lagi. Aston masih terpaku. Pandanganya seolah terikat oleh wanita di depannya. Dari pundak kecil itu, rambut selalu tergeadi sepundak, dan tas yang wanita itu kenakan. Mata Aston terbuka lebih lebar. Ingatannya langsung tertuju... Rania! Tas lengan berbahan sintesis import bewarna merah hati, terdapat sebuah gantungan chery tiga biji di sisinya, dan inisial huruf "A dan R" di sisi depan, membuat pikiran Aston terlempar, dimana ia bersama sang pujaan dulunya pernah berlibur di Singapore. Di
Alena masih tak percaya dengan kalimat sang Mama barusan. Tanganya meremat pinggiran kursi. Wajahnya nyaris pucat bak menghadapi situasi menyulitkan. Apalagi kenyataan itu merujuk pada seorang pria yang bahkan latar belakangnya saja tidak ia kenal. Tapi kenapa harus Danu Rasa tak sejalan itu membuat Alena mentap penuh kecewa. Ia bangkit, lalu melenggang masuk ke dalam kembali. Huh... Anak itu. Mama Lusy menggeleng pelan. Ikut larut dalam masalah perasaan putrinya. Tapi sebagai orang tua, rasa pedulinya masih melambung tinggi demi kelangsungan hidup sang putri. Menikahkan Alena dengan Aston sama sama saja mendorong putrinya untuk terjun dalam kubangan lumpur yang sama. Di dalam kamar itu, Alena terdiam di bawah ranjang, duduk termenung sambil memeluk lututnya. Tatapan mata Aston
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,







