Home / Romansa / Dekapan Panas Kakak Ipar / Bab 57. Di pergoki Bi Ida

Share

Bab 57. Di pergoki Bi Ida

Author: Dayatsa
last update publish date: 2026-07-21 19:11:47

Di tengah malam yang semakin sunyi, dibawah lampu taman redup, Aston semakin mengeratkan rengkuhannnya pada tubuh Alena. Ia menundukan, sementara Alena mengangkat wajahnya pelan. Satu tangan Aston menyingkirkan anak rambut Alena. Bibirnya bergetar penuh bisikan.

"Kamu tidak akan ada yang menggantikan, sayang...."

"Alena sayang sama Kak Aston. Alena nggak ingin kehilangan Kakak." Alena mengerjab pelan.

Aston langs
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 165. Birthday Aston

    Aston reflek membalikan badan, ia mengembangkan senyum simpul tertunduk sekilas. Ia tak menyangka, para rekan serta jajan staff tertinggi rumah sakit memberikan sambutan ulang tahunnya. "Happy birthday to you...." "Happy birthday to you...." Ada tiga Suster memegang kue ulang tahun, dan beberapa perawat pria meniup trompet kecil sebagai bentuk cara mereka memeriahkan acara sederhana tersebut. "Silahkan tiup lilinnya dulu, Dok," celetuk salah satu perawat yang mengenakan topi ulang tahun. Aston sejak tadi tersenyum bahagia, berjalan mendekat sambil meniup satu persatu lilin - tiga kue tart tadi. Namun sebelum itu dirinya sudah melambungkan doa serta harapan besar, memejamkan mata sambil menggenggam tangan erat-erat, semoga bertambahnya usia, Tuhan senantiasa melimpahkan karunia, di beri kesehatan, hubungannya dengan Alena semakin harmonis, keluarga di be

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 164. Kejutan

    Kebahagiaan itu sampai juga di telinga Aston. Setelah Bi Arum menceritakan semuanya, Tama juga menelfon sang Kaka untuk meminta maaf dengan ucapan waktu lalu. Dan Aston merasa, satu masalah terselesaikan dengan semestinya. Malam itu Aston dapat tertidur dengan tenang setelah beberapa hari mencemaskan Bu Syanas di rumah. Aston berdiri menatap dinding kaca yang memperlihatkan luasnya kota Seoul dengan lampu kerlap kerlip sebagai hiasaanya. Aston menghela napas lega. Sejak tadi Aston menggenggam ponsel di telinganya, tengah menunggu panggilannya dengan staff rumah sakit terjawab. "Hallo, Dok?" "Dika, saya ucapkan banyak terimakasih atas kerja kerasmu. Tolong jaga rahasia ini dari siapapun. Saya sudah me-transfer bayaran kamu." "Baik, Dok... Seneng bekerja sama dengan anda! Selamat malam." Panggilan terputus dengan semestinya. Aston memilih kembali menuju r

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 163. Hasil tes DNA

    Beberapa hari berlalu, Tama sekarang lebih sering menginap di rumah sakit jika mendapat praktik malam, ataupun selesai operasi malam. Alasannya cuma satu, ia tak ingin melihat perdebatan di rumah. Sikap Dinda semakin hari membuatnya tak betah berlama di rumah. Terkadang Tama juga lebih sering menginap di rumah peninggalan Papanya yang lawas. Tapi karena di rumah masih ada Bu Syanas, jadi Tama setiap harinya pasti pulang, meskipun hanya beberapa jam saja. Mobil Tama baru saja tiba di rumah. Bu Syanas yang mendengar pun bergegas keluar. Senyumnya mengembang lebar, berdiri di ambang pintu tak sabar menunggu putranya keluar dari mobil. Tama menghentikan langkahnya sejenak. Ucapan sang Kaka terus saja berputar: Dia Mama kandung kita, Tama. Kamu tega buang Mama ke rumah sakit jiwa lagi? Di mana hati nuranimu sebagai seorang anak. Seharusnya kita membahagiakan Mama. Kita tebus waktu kita yang terbuang. Tama menghela napas lirih. Selembar kert

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 162. Tes DNA

    Dan di dua paperbag terakhir, berisikan dress mewah dan skincare dari brand ternama yang di pakai Alena. Di paperbag terakhir itu ia menyipitkan mata agak ragu. "Ini gerai favorit aku. Tapi Kak Aston tahu cepet banget ya. Perasaan aku belum pernah ajak dia kesana deh? Make-up juga. Paling lipstik sama bedak yang dia tahu. Tapi ini..." Alena kembali menatap satu paket skincare lengkap dari dalam paperbag tadi. "Apa Kak Aston tanya orang rumah ya? Mungkin iya deh" Perasaan Alena berubah bahagia. Ia lantas segera menggapai gawainya lagi, dan kini langsung menghubungi Aston. * Drttt "Hallo, sayang... Udah marahannya?" "Hallo, Kak... Ih, Kak Aston suka banget deh bikin mood Alena balik lagi. Btw, makasih ya buat semua kejutan yang Kakak kasih hari ini," ungkap Alena dengan senyum mengembang. Aston yang baru saja akan menjalankan mobilnya terpaksa berhenti sejenak, ia mengalihkan p

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 161. Buket mawar

    Alena spontan menoleh. Ia agak mengernyitkan dahi melihat barang-barang yang di bawa tukang Ojol tadi. Lalu tak lama itu Alena mengangguk. "Benar, Mas. Saya Alena. Ada apa ya?" "Oh, ini ada kiriman hadiah buat Mbak Alena. Mohon di terima," kata Ojol tadi. Ia meletakan buket tadi kepada Alena, lalu meletakan empat paperbag tadi di atas kursi. Alena dengan wajah bingungnya tidak mampu berkat apa-apa melihat semua itu. Wajah syoknya masih melekat jelas, bingung melihat hadiah sebanyak ini. Pasal dirinya tidak sedang ulang tahun. "Mas, sebentar-sebentar... Ini semua buat saya? Masnya nggak salah orang 'kan?" tanya Alena kembali. Ia hanya sekedar meyakinkan, siapa tahu Ojol tadi salah orang. "Bukan, anda Mbak Alena model terkenal itu 'kan? Saya termor lihat Mbaknya dari dekat. Panas dingin," ucap Ojol tadi. Alena masih menyipitkan matanya. Ia menatap buket t

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 160. Kejutan dari?

    "Bi, tolong tenangkan Mama. Kabari saya jika Mama sudah bangun. Tama memang keterlaluan. Tapi meskipun begitu, saya minta sama Bibi untuk menjaga rahasi-" Brug!!! Belum selesai Aston berbicara, tiba-tiba ada seseorang jatuh di balik pintu ruangannya. Aston yang cukup tersentak, langsung saja memberi pengertian Bi Arum dan memutuskan panggilan sepihak. "Nanti saya telfon lagi, Bi." Begitu melihat, Aston di buat geleng-geleng kepala sembari menghela napas berat melihat sosok wanita yang jatuh ternyata Liana, rekannya. Awh... Dokter anak itu meringis kesakitan mencoba bangkit sambil mengusap siku dan lututnya yang terasa linu. Kecerobohannya mengundang dua perawat poli kandungan yang berjaga di depan sampai menengok ke dalam. "Dokter, apa yang terjadi? Anda tidak apa-apa?" tegur salah satu Perawat dengan bahasa asingnya. Liana mencoba tersenyum, mengalihkan pe

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 4. Bagaimana aku bisa hamil?

    Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 3. USG Transvaginal

    Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 2. Periksa sekarang, Kak?

    Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 1. Mas, sentuhlah aku!

    "Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status