LOGINAlena spontan menoleh. Ia agak mengernyitkan dahi melihat barang-barang yang di bawa tukang Ojol tadi. Lalu tak lama itu Alena mengangguk.
"Benar, Mas. Saya Alena. Ada apa ya?" "Oh, ini ada kiriman hadiah buat Mbak Alena. Mohon di terima," kata Ojol tadi. Ia meletakan buket tadi kepada Alena, lalu meletakan empat paperbag tadi di atas kursi. Alena dengan wajah bingungnya tidak mampu berkat apa-apa melihat semua itu. Wajah syoknAlena tak mempedulikan. Ia sejujurnya kasian, padahal kamar ini milik Aston, tapi dengan masa bodoh ia menganggap kamar itu adalah wilayahnya. Waktu sudah menunjukan hampir pukul 12 malam. Beberapa kali memejamkan mata, nyatanya Alena sudah ketagihan tidur dalam dekapan Aston. "Ish... nyebelin banget sih! Masak tinggal tidur, merem, harus nunggu Dokter itu pok-pok badan aku. Nggak. Lagian aku masih kesel sama Dokter tampan itu," gerutu Alena setelah bangkit. Tapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Alena menggapainya di atas nakas. Nama sang Kakak tertera, membuat Alena bertanya-tanya ada apa malam larut seperti ini kakaknya telfon. "Hallo, apa ha? Kangen Alena ya, Kak Mike?" "Ih, kepedean banget. Siapa coba yang kangen kamu. Malah enak, makan ayam gorengnya nggak ke bagi-bagi, wle..." balas tengil Mike. "Ih, Mama... Awas saja, Alena aduin sama Mama dan Papa!" kesalnya. Bibir Alena semakin panjang, maju bebera
"Papa yakin?" Mama Lusy menyipitkan mata. Wajahnya dingin, antara yakin tidak yakin, karena selama suaminya menjabat sebagai pemimpin perusahaan, tak pernah sekalipun Papa Gino berbaur sampai ke keluarga inti rekannya. "Iya, Ma... Mama nggak percaya sama Papa?" Papa Gino berusaha tenang. Meskipun dadanya sejak tadi begemuruh hebat. "Bukannya Mama nggak percaya, cuma... Dimana robekan foto satunya? Dan... Dan kenapa Papa merobek dan membuang foto itu?" kali ini Mama Lusy lebih telisik. Ia masih berdiri di tempatnya, melipat kedua tangan di dada, masih menatap suaminya kuat. Mama Lusy bukan tipe wanita yang gampang men-drama setiap suasana. Ia wanita independen, tidak mudah di kelabuhi. Tapi kali ini, sebagai seseorang yang cukup lama menemani hidup maupun karier suaminya sampai berpuluh tahun, Mama Lusy tahu jika ada sesuatu yang tengah suaminya sembunyikan. Papa Gino menelan ludah kasar. Badann
Malam itu, Mama Lusy di kejutkan dengan kepulangan putranya -Mike, yang mana pria itu pulang sendiri bukan dengan Papanya. Padahal Papa Gino sudah bilang jika malam ini dirinya dan sang putra akan melakukan lembur lanjutan. "Loh, Mike... Papa mana kok kamu pulang sendiri?" Mama Lusy baru keluar dari kamarnya, tangannya saja masih menggantung di gagang pintu. Mike berhenti sejenak. Dahinya berkerut tipis. Batinnya juga ikut bertanya. Papa? "Loh, Papa bukannya sudah pulang sejak tadi, Ma? Papa nggak ada meeting tambahan. Kalau Mike tadi habis kunjungan ke Perusahaan properti." Tidak ada meeting ataupun lembur? Lalu, beberapa jam itu kemana pergi suaminya? Tidak biasanya Papa Gino berbohong. "Ma...." Mike menepuk bahu Mamanya. Mama Lusy baru menoleh dengan sorot mata gelisah. "Memangnya Papa belum pulang ya?" Mama Lusy menggeleng pela
Aston buru-buru masuk ke dalam. Ia mencoba menghempaskan pikirannya pada pria asing tadi. Ia melihat Alena yang cemberut sambil menata beberapa barang belanjaannya di kulkas. "Sayang...." Aston mengikuti Alena yang mondar mandir seperti anakan ayam. Pria itu sesekali menggaruk kepalanya, antara ingin menyelamatkan hidup seseorang, atau membujuk kekasihnya terlebih dulu. Mulut Alena terus menggerutu, rasanya kesal sekali melihat melihat Aston yang begitu mengkhawatirkan rekannya Dokternya tadi. Brak! Aston sampai melonjak kaget kala Alena membanting pintu kulkas cukup keras. Setelah selesai memasukan semua bahan makannya ke dalam kulkas, ia mencuci tangan sejenak. Wajahnya masih menekuk, cemberut, lalu beranjak kembali ke ruang tengah untuk menarik kopernya. Aston menghentikan. "Sayang, biar aku saja ya. Ini kopernya berat," ucapnya sambil mengambil alih handle koper Alena.
"Leon, cukup ya!" potong Alena. Ia kembali menatap Aston dengan tatapan merasa bersalah. "Kak, aku memang ada alergi perisa Vanilla. Jadi aku tidak bisa makan ice cream ini." Tatapan Alena kembali menjuling kepada Leon. Entah sebuah kebetulan atau apa, padahal ia berkolaborasi dengan kembaran sahabatnya itu tidak begitu lama, tapi darimana Leon tahu tentang alerginya. "Leon, kamu tahu darimana? Karena selama ini aku tidak pernah mengatakan dengan siapapun masalah alergiku." "Aku menemukan sebuah resep obat yang mengatakan: jika kamu mengalami alergi pada perisa ataupun ektrak makanan vanilla," jawab Leon santai. Danu juga baru tahu tentang alergi itu. Pantas saja selama ini modelnya itu selalu menghindari makan penutup. Karena kebanyakan makanan dessert pasti mengandung perisa vanilla. "Alena, saya juga minta maaf tentang pernyataan ini. Lain kali saya akan memilihkan makanan penutup lang
Begitu Aston dan Alena berjalan ke depan lebih dulu, Danu menarik bahu Leon sejenak. Ia merasa kesal dengan sikap arogan rekan bisnisnya tadi. "Leon, kamu jangan kegabah! Jika Alena sampai keluar, perusahaan kamu juga bangkrut! Perusahaan asing merekrut kerja sama itu karena nama Alena. Jadi kamu jangan bodoh!" Danu menarik jasnya pelan, mengehela napas dalam, lalu kembali melangkah maju. "Ah, sial!" Leon memukul udara. "Aku nggak akan biarkan Alena keluar. Aku harus bermain secara halus." Puas dengan gerutunya, Leon juga segera melangkah setelah sang Asisten mengadahkan tangannya ke depan. Makan malam kali ini penuh ketegangan. Danu sengaja menyewa out door tepatnya di teras balkon, di sana Aston dan Alena sudah duduk bersampingan, sementara di depan mereka ada Danu dan Leon. Beberapa tim juga ikut bergabung, namun dengan mejanya masing-masing. Semilir
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol







