Share

DPK 012

last update publish date: 2026-04-10 06:37:21

Hanson melihat sepasang mata indah itu mulai berkaca-kaca. Wajah polos itu menatapnya bagai seorang monster yang siap memangsanya kapanpun.

“Maaf … maafin kakak, ya.” Hanson menarik Kiara dalam pelukannya. Ia hanya ingin menjaga jarak dengan Kiara. Bukan dengan sengaja ingin membuatnya takut dan membencinya.

Kiara mendorong tubuh lelaki itu. “Aku bener-bener nggak ngerti sama Kakak. Kakak mau aku nggak nikah sama Arga. Kakak bilang mau membiayaiku seumur hidup. Tapi … Kakak terus mendorongku m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 059

    “Aku tahu siapa kamu.”Kiara membeku di tempatnya. Ia berpikir jika Prana mendengar dia menggumam tadi.“Dari tadi.” Prana menoleh ke arah kebun lagi. “Dari waktu kamu tunjukkan alamat itu.”“Kamu tahu,” ulang Kiara pelan.“Dan aku semakin yakin waktu kamu memanggil Papa tanpa sadar tadi.” Prana meletakkan tangannya di atas meja plastik. Jari-jarinya mengetuk permukaan yang sudah pudar itu sekali, dua kali, lalu berhenti.“Namamu Kiara Dewi bukan?” Prana menyebutkan nama Kiara.Kiara susah payah bernapas. Tubuhnya terasa kaku. “Bagaimana kamu tahu? Aku tidak menyebutkan namaku tadi. Kita di perjalanan juga hanya diam.”“Kiara Dewi. Nama itu. Papa pernah menyebut nama itu. Satu kali, waktu aku masih kecil dan tidak terlalu mengerti artinya.”Kiara menelan ludah. Rupanya papanya pernah mengingatnya suatu kali tanpa sadar.“Lalu kamu menunjukkan alamat itu.” Prana menggerakkan dagunya ke arah amplop coklat yang masih ada di atas meja di antara mereka. “Dan waktu kamu memanggil papa tadi

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 058

    Kiara mengamati laki-laki itu. Dia menunggu dengan tidak sabar.“Kenapa diam saja? Kamu kenal alamat itu?” tanya Kiara.Laki-laki itu belum menjawab juga. Sedikit membuat Kiara kesal.“Kamu tahu alamat ini di mana? Apa … kamu bisa memberitahuku?” Kiara mengulangi, kali ini ia langsung meminta.“Tahu.” Lelaki itu mengamati Kiara. “Kamu mencari siapa di sana?”Kiara mengerutkan dahinya. “Ada seseorang yang ingin aku temui.”“Siapa?” balasnya.“Itu .…” Kiara sedikit ragu. “Itu urusan pribadi.”Laki-laki itu mengerutkan kening sejenak. Lalu, “Kamu mencari Pak Gunadi?”Kiara mematung. Nama itu ada di kertas yang Theo berikan.“Kamu kenal orang itu?” tanya Kiara pelan.Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan Kiara. Sebaliknya, dia menatap kertas di tangan Kiara sekali lagi. Lalu mengangkat wajahnya dan menatap Kiara. “Untuk apa kamu mencarinya?” tanyanya heran.“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.” Kiara menyimpan kertas itu kembali ke tasnya. “Sesuatu yang penting.”Keheningan mengisi te

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 057

    Hembusan napas hangat yang membelai pipinya, membuat Kiara merasa tak nyaman. Cotton bud itu pun berhenti bergerak. Kiara menyadari jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa senti saja. Ia sedikit menjauhkan wajahnya dan menatap Theo dengan penuh kecurigaan.“Kamu mau ngapain?” tanya Kiara.Theo tidak bergerak. Dia mengerjapkan mata karena kepergok. “Emm. Menyelidiki … seseorang yang kemarin malam seperti habis menangis.”Jantung Theo berdegup kencang. Kiara menangkap gerakan kecilnya. Dia menunggu dengan gelisah balasan dari Kiara. Seharusnya dia memang tidak mengucapkan kata-kata itu.Kiara menghela napas dengan berat sebelum kembali menegakkan punggungnya. Sampai jarak di antara mereka kembali ke jarak yang sebelumnya. Kiara menutup wadah salep itu.“Sudah.” Kiara meletakkan cotton bud bekas ke tepi meja. “Memarnya jangan ditekan.”Theo masih diam sebentar. Lalu dia menarik napas panjang dan menyandarkan kepalanya ke belakang sofa. “Oke.”“Kamu istirahat dulu.” Kiara memberesk

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 056

    Kiara berdiri menatap keluar dari jendela besar apartemen. Ia bisa melihat langit yang mulai terang, sementara di bawah sana kendaraan melintas dengan leluasa, tanpa kemacetan seperti di kotanya.Ia menghela napas. Jam menunjukkan pukul empat. Entah berapa lama Theo menyelesaikan tindakannya. Kiara merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sofa Theo memang lebih nyaman dari kelihatannya.Kiara memejamkan mata, tapi pikirannya masih tak bisa lepas dari ingatannya pada kejadian malam itu. Ia duduk perlahan. Rambutnya berantakan. Lehernya sedikit pegal. Ia melirik ke atas meja, benda pipih dengan layar gelap itu seakan memanggilnya. “Kayaknya nyalain sebentar deh.” Kiara memutuskan untuk menyalakan ponselnya sebentar.Banyak sekali pesan, notifikasi dan juga panggilan telepon, terutama dari Hanson. Kiara menatap deretan pesan itu tanpa membukanya. Tapi ada satu nama yang membuatnya tertarik untuk membuka pesannya.Beckie.‘Nona artis, cek internet deh. Ada gosip tentang kamu.’“Hmm? Apa maksu

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 055

    Theo melangkah keluar dari mobilnya. Suasana pagi masih begitu sejuk. Dia melangkah menuju RS Kasih dengan ponsel di tangan. Hanson sudah ada di sana. Dia sudah menunggu sejak pagi buta setelah sampai di kota ini.Bugh!Kepalan tangan Hanson menghantam sisi rahang Theo sebelum lelaki itu sempat mengangkat wajahnya dari layar ponsel. Theo mundur dua langkah dengan memegangi rahangnya yang terasa sedikit nyeri. Ponselnya jatuh ke tanah.“Di mana kamu sembunyikan Kiara?” Hanson melangkah maju. Suaranya penuh tekanan menunjukkan amarahnya sedang bergejolak.Theo memegang sisi rahangnya. Mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mencerna keadaan. “Apa maksudmu—”Bugh!Kali ini di tulang pipi kiri. Theo menangkis sebagian dengan lengannya tapi tidak cukup. Kepalanya terlempar ke sisi kanan karena pukulan. Theo menggelengkan kepalanya pelan. Sedikit pusing tapi ia masih bisa berdiri tegak.“Kamu memukul orang sembarangan,” desis Theo.“Aku melakukannya karena kamu pantas mendapatkannya. Kataka

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 054

    “Aduh!” Wanita itu berbalik, tubuhnya tersentak karena tarikan kuat Hanson.Tapi itu bukan Kiara.Hanson mengusap wajahnya dengan kasar. “Maaf. Maafkan saya. Salah orang.”“Lain kali hati-hati dong! Kalau aku jatuh gimana? Nggak sopan banget!” Wanita itu pergi dengan marah.Hanson menghela napas panjang. Ia sangat gelisah. “Bagaimana ini?”Matanya menatap sekelilingnya, mencoba menemukan sesuatu entah bayangan gadis itu, atau petunjuk apapun. Dan tatapannya berhenti pada papan informasi keberangkatan di ujung ruangan. Hanson berdiri di depannya. Matanya menelusuri baris demi baris sampai menemukan yang dia cari.“Kereta Malam — Kota Bunga — Berangkat 22.00.”Jam di papan itu menunjukkan pukul 22.15. Lima belas menit yang lalu kereta sudah berangkat.Hanson menutup matanya sekejap lalu membukanya lagi. Papan itu masih menunjukkan hal yang sama. Ia sudah terlambat lima belas menit.Hanson meraih ponselnya. “Andhika!”Andhika mengangkat di nada pertama seperti biasanya. “Boss?”“Kita ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status