LOGINSesuatu melesat di udara, panas, padat memburu ke satu titik tujuan. Dor!Peluru itu langsung menancap di kaki lelaki bercodet, membuat lelaki bertubuh gempal tadi meringis menahan rasa sakitnya. Batangnya yang masih menegang sempurna, wurung bersarang di tempat yang jelas menjanjikan kenikmatan baginya.Matanya membulat, napasnya terengah saat melihat beberapa pria berseragam mengarahkan pistol ke arahnya. “Jangan bergerak!” Perintah bernada peringatan keras itu justru terdengar menantangnya untuk menghindar. Matanya menatap Rizal yang sedang mengangkat kedua tangan dengan gugup. “Zal! Lari Zal!” perintahnya sembari mendorong Vanessa ke arah para pria berseragam itu. Vanessa terhuyung dan jatuh. Sementara pria bercodet itu berlari secepat mungkin dengan menyeret kaki kanannya. Vanessa meringis kesakitan. Dan saat seorang pria berseragam menghampirinya, ia tak dapat lagi membendung tangisnya. Ia bukan saja merasa lega, tapi juga panik, gelisah. Ia bahkan tak tahu harus bersyuku
“Bangun! Kamu … jangan buat aku takut! Kamu udah janji bakal temani aku sampe akhir,” teriak Kiara sambil menepuk pipi sahabatnya, “kamu nggak boleh—”“Berisik sekali.” Suara lirih itu membuat Kiara terkejut. Matanya menatap wajah Beckie, sengaja menunggu sebuah gerakan yang luput dari pandangannya tadi. “Beck!” Beckie mengerjap pelan. Ia mengerang sebelum bangkit dari lahan berpasir di bawahnya. “Kamu—” Kiara menatapnya dengan perasaan campur aduk. “Syukurlah … aku pikir … kamu tadi—” Beckie meninju lengan Kiara pelan. “Nggak semudah itu juga, kali. Kamu pikir aku kerupuk yang langsung tamat begitu kena pukul.” Gadis tomboi itu mengusap cairan bening yang keluar dari sudut mata Kiara. “Dasar, cengeng!” gumamnya, tapi ada senyum hangat di sudut bibirnya. …..Sementara itu Vanessa masih berlari. Setiap ia menoleh, matanya melihat para preman itu semakin dekat. Gadis itu melepaskan sepatu tingginya.Napasnya terengah. Dan saat melihat sebuah celah di antara dua kios kecil, ia pun
“Kiara sudah punya pacar?” tanya Carlos mengulang kalimat Hanson, “siapa? Apa … aku kenal dia?”Hanson mengedikkan pundaknya. “Kamu nggak perlu tahu. Lagi pula, aku nggak bakal ijinkan kamu … buat deketin Kiara,” tegasnya lagi. “Hans.” Carlos menghela napas sembari mengangkat kedua tangannya. “Kamu mesti tau, aku nggak deketin gadis manapun. Mereka yang kejar aku. Yang aku mau, cuma Kiara. Jadi plisss … jangan persulit sahabat kamu ini.”Hanson menundukkan kepalanya, ia membaca deretan pesan yang diterimanya sepanjang meeting berjalan tadi. Telunjuknya berhenti pada nama Alex. “Ada yang salah?” tanya Carlos saat melihat perubahan mimik muka sahabatnya. “Semalam Alex memberitahu kalau … Vanessa tidak pernah berangkat ke Paris.” Sesaat Hanson terdiam, membuat suasana ruangan itu hening seketika.“Oke. Jadi posisinya mungkin masih di Singapura?” tebak Carlos. Kali ini Hanson menggelengkan kepalanya. “Alex mengabarkan kalau … Vanessa juga … tidak pernah mendarat di sana.” Hanson men
Mata Kiara membulat saat menyadari siapa yang berdiri tepat di depan pintu. Ia segera sadar, lalu dengan panik menutup bagian tubuhnya yang polos dengan kedua tangannya.“Kakak!” seru Kiara panik. Kiara segera memutar tubuhnya menghadap dinding.Meski begitu Hanson sendiri semakin terlihat seperti kehilangan kemampuan berpikir. Selama beberapa waktu, ia tercengang. Wajahnya memerah.Tatapannya buru-buru beralih ke arah lain, tetapi kepanikan tadi membuatnya terlambat menyadari apa yang baru saja dilihatnya.“Apa … apa yang terjadi?” Hanson bertanya sambil sesekali melirik Kiara. Napasnya memburu perlahan.“K-kecoa …” Terdengar suara kecil Kiara sambil menunjuk pojok lantai.Gadis itu segera meraih handuk yang ada di dekatnya. Ia membungkus tubuh polosnya dengan lembar handuk putih itu dan melangkah keluar. Hanson menelan ludahnya pelan. Baru beberapa saat kemudian dia melihat seekor kecoa kecil di dekat saluran air.
“Ara, kamu akhir pekan nanti kamu ada waktu, kan?” Arga melemparkan pertanyaannya sekali lagi.“Dia—”“Kakak!” Kiara membentak sampai Hanson terkejut.Hening sepersekian detik.Kiara menunjuk Hanson dengan kesal. “Kalau Kakak yang menjawab lagi, aku lempar ini sendok!”Seketika Arga tertawa keras. Hanson justru terlihat tidak bersalah sama sekali.“Oke. Silakan jawab sendiri.” Hanson tampak kesal.Kiara mendengus kesal lalu menoleh ke Arga. “Kenapa?”“Aku mau ngajak kamu jalan,” ujar Arga.“Ara nggak suka keluar kalau cuaca panas.” Hanson menyela lagi sambil mengambil udang goreng dan memindahkannya ke piring Kiara.Kiara menatap udang itu. Lalu pandangannya tertuju pada Hanson. Ia menatap piringnya sendiri yang sekarang hampir penuh.Arga rupanya tidak mau kalah.“Oh iya?” Lelaki itu mengambil salad buah dan meletakkannya di sisi piring Kiara. “Kalau begitu kita bisa cari tempat dingin.”Hanson ikut menambahkan potongan ayam ke piring Kiara. “Dia masih sakit. Jadi harus makan banyak.
Pagi itu Kiara bergegas keluar dari kamarnya. Ia segera menuruni tangga menuju ruang makan.Namun langkahnya berhenti tepat di anak tangga terakhir saat matanya melihat sesuatu yang tak biasanya. Ia melihat seorang lelaki duduk berhadapan dengan Nenek Melati. Lelaki itu tersenyum santai. Kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku membuat penampilannya terlihat rapi dan maskulin. Rambut hitamnya tertata rapi dan wajahnya terlalu familiar untuk dilupakan.Arga Hutama. Kiara membeku di tempatnya. “Arga sekarang makin ganteng ya.” Nenek Melati terlihat tersenyum bangga sambil menuangkan teh.Arga terkekeh. “Nenek masih aja suka lebay.”Kiara pelan-pelan mundur satu langkah. Bahkan Kiara menahan napas agar tidak ketahuan. Kakinya baru saja menapak di anak tangga yang lebih tinggi ketika seseorang memanggilnya. “Ara!”Kiara memejamkan mata sesaat. Sudah ketahuan. Ia menegakkan tubuhnya dan menoleh. Nenek Melati melambaikan tangan dengan senyuman lebar di bibirnya. “Ara! Ngapain be







