Home / Romansa / Dekapan Tuan Penguasa / Ambisi seorang Paman

Share

Ambisi seorang Paman

Author: Aini Sabrina
last update Last Updated: 2025-12-23 11:56:07

Di kediaman Adrian, kemarahan pria paruh baya itu pecah tanpa peringatan. Napasnya memburu, sorot matanya tajam memandangi Monica yang berdiri menunduk di hadapannya dengan tubuh gemetar menahan takut.

Adrian Arbein.

Tak ada yang tak mengenal pria ini serta ambisinya untuk menguasai seluruh aset kekayaan adik kandungnya sendiri, William Arbein. Apa pun akan Adrian lakukan, bahkan jika itu berarti menyingkirkan adiknya untuk selamanya. Baginya, darah bukanlah penghalang.

"Ayah benar-benar kecewa dengan kegagalanmu ini, Monica!" hardiknya tajam. "Kau tak bisa Ayah andalkan sama sekali."

Mendengar itu, Monica menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca.

"A-aku tidak tahu kalau ternyata dia masih hidup," sahut Monica, suaranya bergetar. "Aku sudah memastikan jika Caroline benar-benar jatuh. Wanita itu pasti sudah tewas, Ayah."

Adrian menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan kasar. Keheningan mencekam terasa menyelimuti ruangan, seolah aura gelap menguasai seluruh mansion. Bahkan, para pelayan memilih menunduk dan menjauh. Tak sedikit pun dari mereka berani terlibat dalam amarah tuannya.

"Kau bilang pasti, Monica?" ulang Adrian dingin. "Bagaimana bisa aku memiliki putri yang tak becus sepertimu ini?"

Kesal dengan perkataan ayahnya, Monica mengepalkan kedua tangannya erat. Rahangnya mengeras, tatapannya dipenuhi kebencian, seolah ingin melenyapkan pria di hadapannya saat ini.

"Kalau aku tidak becus," balas Monica tajam, "kenapa Ayah tidak melakukannya sendiri saja?! Tidak perlu sampai merendahkan putrimu sendiri."

Adrian balas menatap putrinya. Hanya dengan sekali tatapan saja, dan itu sudah membuat nyali Monica kembali goyah.

"Melakukannya sendiri?" suara Adrian rendah, namun berbahaya. "Lalu menurutmu siapa yang mengatur kematian Ayah dan Ibu Caroline, hm?"

Pertanyaan itu membuat Monica membeku.

"B-bukankan itu kecelakaan?"

Adrian spontan menyeringai.

"Kecelakaan?" ulangnya pelan. "Itu karena Ayahlah yang mengatur tragedi kecelakaan tersebut."

Adrian bangkit dari sofa, langkahnya pasti mendekat sang putri.

"Hanya dalam satu hari, Ayahmu ini berhasil menghapus dua nyawa tanpa meninggalkan celah."

Tatapan Adrian kembali mengeras. "Sedangkan, kau? Melenyapkan satu orang cacat saja kau bahkan tak becus, Monica!"

Monica terkekeh kecil, pahit. "Kau terlalu meremehkanku, Ayah," katanya. "Kecelakaan yang kuatur dulunya pun seharusnya sudah cukup untuk membuatnya tewas. Tetapi Caroline memang selalu merepotkan."

Adrian meletakkan kedua tangannya di belakang punggung, seolah tengah menimbang setiap kata yang keluar dari mulut putrinya.

"Cari dia," perintahnya tegas. "Ayah tidak bisa lagi mengandalkanmu untuk menghabisinya jika kau selalu saja gagal dan gagal lagi."

Monica menegang. "Jadi, maksud Ayah?"

Adrian menoleh, sorot matanya gelap.

"Kau cari wanita itu dan seret ke hadapan Ayah, biarkan aku yang bekerja selanjutnya. Ayah tidak akan pernah bisa mendapatkan seluruh aset kekayaan William selama hak waris itu masih hidup bebas."

Nada suaranya merendah, penuh tekanan.

"Dan pewaris itu adalah putri semata wayang William, Caroline Arbein."

Setelah mengatakan hal itu, Adrian berbalik membelakangi Monica. Dua jarinya terangkat singkat, gerakan sederhana yang jelas mengusir putrinya.

Monica mengepalkan tinjunya.

"Sial!

"Inilah alasan kenapa aku sangat membencimu, Caroline," batinnya. "Kau selalu memiliki apa yang tidak pernah kumiliki."

Sudut bibirnya terangkat pelan, membentuk senyuman licik.

"Tapi lihat saja. Ayahku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja kali ini."

Matanya menyipit penuh dendam.

"Bersiaplah untuk menyusul kedua orang tuamu di alam keabadian."

~~~

Salah seorang pelayan memasuki kamar Caroline, lalu membungkuk hormat di hadapannya.

"Nona, Tuan Nicholas memerintahkan Anda untuk bergabung di ruang makan."

Caroline hanya melirik sekilas. "Aku sedang tidak minat untuk makan. Tolong sampaikan pada tuanmu."

Pelayan itu terdiam sejenak, kemudian mengangguk patuh. Ia tak bisa memaksa Caroline, dan akhirnya berpamitan sebelum menutup pintu kamar dengan pelan.

Begitu sendirian, Caroline menghela napas panjang.

"Aku tak menyangka," lirih Caroline. "Mansion pria ini justru terasa seperti sangkar yang menjerat."

Ia menatap hampa ke arah jendela besar yang terkunci rapat.

"Bahkan untuk mengakhiri hidupku sendiri ... aku tak diberikan celah sedikit pun."

Tak lama berselang. Ketukan di pintu terdengar pelan, namun cukup tegas memecah keheningan di dalam kamar.

[Tok ... Tok ...]

Tahu siapa yang datang, Caroline segera berbaring, tak lupa menutup tubuhnya dengan selimut untuk mengelabui Nicholas.

Pintu perlahan terbuka. Nicholas melangkah masuk dengan ekspresi datarnya, seolah penolakan Caroline sebelumnya sama sekali tak berarti baginya. Jas gelap yang ia kenakan membuat posturnya terlihat semakin dingin.

Nicholas semakin mendekat dan berhenti tepat di samping ranjang. Ia memandang sejenak, sebelum akhirnya memilih untuk duduk di sofa yang menghadap langsung pada Caroline.

"Berhenti berpura-pura, Nona Caroline," ucap Nicholas, dingin. "Kau bukan aktor, dan aktingmu itu terlihat sangat kaku."

Caroline menarik napas pelan, berusaha menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya akibat ejekan tersebut.

"Aku tidak berpura-pura," sahutnya akhirnya. "Aku memang sedang tidak ingin makan."

Nicholas menyandarkan punggungnya dengan santai pada sofa, satu kakinya disilangkan. Tatapannya tetap tak bergeming dari Caroline, seolah mengamati objek yang menarik.

"Aku tahu kau berbohong," katanya tenang. "Kau ingin mati karena tidak bisa lagi menjatuhkan diri. Itu saja."

Caroline membeku.

"Kau selalu menolak makanan yang disediakan karena memang tak ingin," lanjut Nicholas tanpa ragu. "Kau beranggapan dengan berhenti makan, maka tubuhmu akan melemah. Dalam pikiranmu hanya itu satu-satunya cara untuk mengakhiri hidup."

Mendengar semua perkataan itu, Caroline mencengkeram erat selimut yang ia kenakan.

"Berhenti berbicara seolah-olah kau mengenalku lebih banyak daripada diriku sendiri, Nicholas!"

"Aku tak perlu mengenalmu," balas Nicholas dingin. "Kenyataannya, kau bahkan tidak bisa mengenali dirimu sendiri."

Nicholas berdiri, langkahnya mendekat, nyaris membuat udara di sekitar membeku.

"Dan satu hal yang harus kau pahami, Nona Caroline," ujarnya rendah. "Aku tidak menyelamatkanmu untuk membiarkan kau mati tragis di kediamanku ini."

Caroline mengangkat wajahnya, menatap Nicholas dengan mata berkilat marah.

"Kalau begitu, untuk apa kau membawaku ke sini?" tanyanya tajam. "Apa tujuanmu?"

Nicholas tak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya ia terdiam untuk beberapa saat.

"Ada hal-hal," ucapnya akhirnya, suaranya tetap datar, "yang akan kau ketahui dengan sendirinya nanti."

Ia meraih kursi roda Caroline, membawanya ke hadapan wanita itu. Tanpa menunggu persetujuan, Nicholas mengangkat tubuh Caroline, mendudukkannya ke kursi.

"Lepaskan," ucapnya pelan namun tegas. "Sudah kubilang tidak ingin makan, kenapa kau keras kepala sekali, Nicholas?"

Nicholas tidak menghiraukan. Ia terus mendorong kursi roda tersebut keluar dari dalam kamar, menyusuri lorong panjang yang terasa asing dan sunyi.

"Kau yang sangat keras kepala, Nona Caroline," sahut Nicholas. "Sadar diri itu penting dan jauh lebih baik."

Caroline mendengus kasar. "Itu karena aku tidak suka di perintah. Kau tidak bisa terus seenaknya mengatur hidupku," kata Caroline di sela langkah mereka.

Nicholas berhenti sejenak. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga suaranya terdengar rendah di telinga Caroline.

"Justru sejak kau memasuki mansion ini," ujarnya pelan, "hidupmu sudah berada di bawah kendaliku."

Nicholas kembali mendorong kursi roda Caroline, seolah pernyataannya barusan adalah fakta mutlak yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun, bahkan bagi Caroline sendiri.

Ruang makan terbuka lebar di hadapan. Semua hidangan tersaji rapi, namun terasa dingin tanpa kehangatan.

Nicholas menghentikan kursi roda Caroline di ujung meja sebelum ia sendiri yang bergerak untuk menyediakan hidangan tersebut ke hadapan wanita itu.

"Makan," perintahnya singkat.

Caroline menatap hidangan itu tanpa minat. "Bagaimana jika aku menolaknya lagi?"

Nicholas menarik kursi di seberangnya, lalu duduk dengan sikap tenang yang terasa mengintimidasi.

"Maka aku akan memastikan," katanya dingin, "kau tetap hidup. Dengan atau tanpa keinginanmu."

"Cih! Kau pikir aku takut padamu? Itu tidak sama sekali." Caroline meraih sendok dan mulai menyantap hidangan di hadapannya, seolah sikap Nicholas sama sekali tak berpengaruh padanya.

"Aku tidak memintamu untuk takut padaku, Nona Caroline," sahutnya dingin. "Sebab, aku tak pernah menganggap diriku sosok yang pantas untuk ditakuti."

Mendengar itu, pelayan yang lewat tak sengaja menjatuhkan gelas di tangannya. Bunyi pecahan kaca menggema cukup nyaring, membuat tubuh pelayan itu gemetar ketakutan.

"T-tuan, tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja," ucapnya terbata, suaranya nyaris tenggelam dalam tangisan.

Nicholas tersenyum tipis. Ia bangkit, lalu mendekat dan mengusap lembut puncak kepala pelayan itu. Sebuah gerakan yang justru membuat Caroline mengerutkan dahi.

“Tidak apa-apa,” ujar Nicholas tenang. “Kau tidak perlu meminta maaf sampai setakut itu.”

Ia kemudian memalingkan wajahnya ke arah Caroline.

“Benar begitu, kan, Nona Caroline?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Tuan Penguasa   Kedatangan Kakek Nicholas

    Telepon di meja kerja Nicholas bergetar pelan, memecah kesunyian ruangan.Ia melirik layar sekilas sebelum mengangkatnya, ekspresi wajahnya tetap datar.“Ada apa menghubungiku?” tanyanya singkat.Suara di seberang sana terdengar tua, berat, dan sarat wibawa. Suara yang tidak membutuhkan teriakan untuk memerintah.“Kau sudah menemukannya, Nicholas?"Mendengar itu, Nicholas bersandar pada kursinya. “Menemukan siapa?”Keheningan menyapa sejenak, lalu suara berwibawa itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin.“Wanita yang dulu sudah dijodohkan denganmu.”Jari Nicholas mengepal di atas meja. “Aku tidak lupa,” sahutnya pelan.“Baguslah,” kata pria tua itu. “Karena kau juga tidak boleh lupa satu hal lain.”Nada suaranya mengeras, tanpa emosi. “Kau akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu … hanya jika kau menikah dengan wanita itu.”Nicholas terdiam. Ia hanya menyimak tanpa ingin membantah. “Jika kau gagal,” lanjut sang kakek, “atau lebih buruk lagi salah memilih wanita lain,

  • Dekapan Tuan Penguasa   Sepenggal masa lalu.

    Ruang kerja Adrian Arbein dipenuhi aroma tembakau yang belum sepenuhnya menghilang. Pria tua itu duduk tenang di balik meja kayu gelapnya, mendengarkan tanpa menyela, sementara Chris mondar-mandir dengan wajah memerah menahan kesal.“Pria itu benar-benar tidak tahu diri, Tuan,” geram Chris akhirnya. “Berani-beraninya dia bersikap seolah lebih tinggi dariku. Padahal dia hanya pria miskin yang bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.” Monica yang sejak tadi berdiri di samping jendela berbalik perlahan. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.“Dia bukan hanya sok,” ucapnya tenang, sarat kebencian. “Dia juga terlihat berbahaya.”Adrian mengangkat alis. “Berbahaya?”“Ya.” Monica melangkah mendekat. “Dia berani menyembunyikan Caroline, Ayah. Bahkan lebih dari itu, dia berani meremehkan kita. Seolah keberadaan keluarga Arbein tidak berarti apa-apa.”Chris mendengus. “Namanya hanya Nicholas. Itu saja yang dia berik

  • Dekapan Tuan Penguasa   Menjadi target

    Hari itu, keberuntungan seolah tengah berpihak pada Chris dan Monica. Dari balik kaca mobil yang terparkir di seberang jalan raya, Monica menangkap sosok pria yang sedari lama mereka incar. "Itu dia, Chris," ucapnya cepat, menepuk bahu Chris. "Pria yang waktu itu."Chris mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap sosok tinggi yang baru saja keluar dari gedung. Pria itu tidak dikawal, tidak ada iring-iringan. Hanya satu mobil hitam biasa yang menunggu di pinggir jalan. Sudut bibir Chris terangkat. "Jadi dia benar-benar hanya pria biasa."Di sisi lain, di dalam mobil Nicholas, suasana tampak tenang. Ia merasa tak terganggu, meski seseorang tengah mengawasi. Demon melirik kaca spion sebelum bersuara. "Seperti ada yang mengikuti kita, Tuan. Jarak dua puluh meter, mobil abu-abu. "Nicholas menyenderkan punggungnya, seolah tak terganggu sama sekali. "Biarkan saja," sahutnya pelan. Demon mengangguk. "Jadi, ke mana tujuan kita?" Nicholas terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Belok ke bar

  • Dekapan Tuan Penguasa   Pijatan singkat

    Udara pagi di taman mansion terasa jauh lebih sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Caroline mendorong kursi rodanya perlahan di jalur bebatuan yang rapi, ditemani dedaunan hijau dan aroma tanah yang masih basah oleh embun. Ini pertama kalinya ia diperbolehkan jalan-jalan tanpa ditemani pengawalan ketat seperti sebelum-sebelumnya, seolah Nicholas memang membiarkan Caroline untuk menenangkan diri. Ditengah asiknya, Caroline seketika menghentikan kursi rodanya. Di ujung taman, ia melihat Nicholas berdiri di sana.Pria itu tidak sendiri. Beberapa pengawal berpakaian serba hitam mengelilinginya dengan jarak teratur. Tubuh-tubuh tegap, sikap waspada, tatapan mereka yang menyapu sekeliling tanpa henti. "Siapa pria ini sebenarnya?" gumam Caroline. "Dia terlihat sangat berkuasa." Caroline beralih pandang sejenak, lalu melirik ke arah pelayan yang tengah mendorong sebuah keranjang bunga di dekatnya. Pria paruh baya itu adalah kepala pelayan, orang yang jelas sudah lama bekerja di mansio

  • Dekapan Tuan Penguasa   Caroline tidak pernah melihat Nicholas.

    Jantung Caroline berdetak keras saat akhirnya ia ketahuan menguping. Nasi sudah menjadi bubur, ingin melarikan diri pun Caroline tak bisa. Pintu terbuka pelan, sosok Demok muncul di ambang pintu, tubuhnya tegap, tatapannya jatuh pada Caroline yang tengah menunduk sambil memainkan jemarinya. "Nona Caroline," sapanya tenang. "Apakah Anda tersesat?" Caroline mengangkat wajahnya perlahan. "Aku hanya ... ingin lewat," jawabnya, suara yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. "Lewat?" ulang Nicholas, "bukankah kamarmu berada sebelum ruang kerjaku, Nona Caroline. Kau ingin ke mana di malam seperti ini?"Tatapan Nicholas datar, yang membuat Caroline menelan ludahnya kelu. Tatapan pria itu terlalu mengintimidasi, membuatnya gugup bukan main. "Aku ... tidak bisa tidur," jawab Caroline akhirnya.Dari kursi rodanya, Caroline dapat merasakan tatapan Nicholas meski pria itu tidak menanggapi perkataannya. Diamnya Nicholas jauh lebih menakutkan. "Sudah terlalu larut, Nona," sahut Demon

  • Dekapan Tuan Penguasa   Ketahuan menguping

    Caroline masih belum bisa terlelap tidur saat kata aset itu terus menggema di kepalanya. Ia menunduk, menatap kakinya yang tak bergerak sedikit pun. Dulu, ia adalah Caroline Arbein yang hidupnya selalu diliputi kebahagiaan dan pilihan. Namun sekarang?Hidupnya diburu. Keberadaannya dinilai dan dijaga, seolah ia bukan lagi manusia, melainkan sesuatu yang memiliki harga. "Aset," gumamnya pelan. "Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dariku?" Malam semakin larut. Lampu-lampu mansion telah redup, tetapi Caroline tetap terjaga."Beginikah hidup yang kau maksud, Ayah?" bisiknya lirih. "Jika suatu saat nanti kau meninggalkanku sendirian."Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Caroline. Ia menoleh, meskipun tahu pintu tak akan terbuka. "Nona," suara Demon terdengar. "Tuan Nicholas meminta Anda untuk segera beristirahat. Besok pagi akan ada dokter datang ke mansion untuk memeriksa kondisi Anda." Caroline tersenyum pahit. Bahkan jadwal tidurnya pun diatur oleh pria itu. "Aku tidak sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status