Home / Romansa / Dekapan Tuan Penguasa / Menjadi incaran.

Share

Menjadi incaran.

Author: Aini Sabrina
last update Huling Na-update: 2025-12-23 11:57:04

Suara langkah kaki terdengar di lorong mansion ketika Nicholas baru keluar dari dalam ruang kerjanya. Wajahnya datar, seolah keputusan telah diambil bahkan ketika ia belum membuka pintu kamar Caroline.

"Siapkan mobil," perintahnya singkat pada pria yang mengekor di belakangnya. "Serta hubungi rumah sakit."

Demon Castel. Salah satu ajudan setianya mengangguk tanpa banyak tanya. "Untuk pemeriksaan lanjutan, Tuan?"

"Pengawasan," balas Nicholas, dingin. "Kau akan mengawal wanita itu untuk memastikan tidak ada yang berani mengganggunya."

"Baik, Tuan."

Beberapa menit kemudian, pintu kamar Caroline diketuk pelan. Caroline menoleh dengan raut waspada saat melihat pria asing memasuki kamarnya.

"Siapa, kau?" tanyanya, "bagaimana kau bisa masuk ke sini?"

"Saya salah satu ajudan kepercayaan, Tuan Nicholas," ucap pria itu sopan. "Anda akan dibawa ke rumah sakit langsung dengan saya yang akan menjaga."

"Apa?" Caroline mengernyit. "Aku tidak ...,"

"Kau tidak sedang diberi pilihan, Nona Caroline," potong Nicholas yang sudah berdiri di ambang pintu. Tatapannya tenang, namun tak sedikit pun memberi ruang untuk penolakan. "Dan kau tidak akan pergi sendirian. Aku sedang dalam kesibukan, jadi tidak bisa ikut menemani."

Caroline mengepalkan tangannya erat di atas selimut. "Kau tidak bisa terus mengontrol hidupku, Nicholas!"

"Aku selalu bisa, Nona Caroline. Kau bahkan tidak akan bisa menghindari kontrol yang kulakukan atas dirimu."

Nicholas berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Demon mengikutinya keluar dan tidak lupa menutup pintu kamar itu kembali, meninggalkan keheningan yang menyesakkan.

Begitu sendirian, Caroline menjatuhkan air matanya.

Ia tidak ingin kembali ke rumah sakit. Tempat itu bukan sekedar bangunan baginya, melainkan awal dari kehancuran beruntun dalam hidupnya.

Di sana terakhir kalinya ia mendengar kabar kematian kedua orang yang paling dicintainya. Tempat yang seharusnya di datangi ayah dan ibunya untuk menjenguknya ... namun justru berakhir menjadi tempat keduanya dinyatakan tewas.

Caroline memejamkan mata. Traumanya itu masih hidup. Namun kini, Nicholas seolah memaksanya untuk kembali menghadapinya, meskipun niat pria itu baik.

[ Tok ... Tok ...]

Ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini, Caroline tidak lagi berusaha melawan. Tatapannya kosong ketika pintu terbuka dan seorang pelayan melangkah masuk, membawa serta pakaian ganti yang telah disiapkan rapi di kedua lengannya.

"Mari, Nona. Saya akan membantu Anda untuk bersiap," ucap pelayan itu dengan tenang, seolah situasi ini adalah rutinitas biasa untuknya.

Caroline tidak bergeming. Jemarinya hanya mengepal erat di atas selimut sebelum akhirnya mengendur. Ia akhirnya membiarkan pelayan itu bekerja sebagaimana mestinya. Dimulai dari membantunya berpakaian, merapikan rambutnya, dan Caroline tetap tidak berbicara sepatah kata pun.

Bukan karena ia setuju, tetapi ia terlalu lelah untuk melawan yang berakhir sia-sia.

Rumah sakit.

Satu kata itu terus berdengung di kepalanya, membuat dadanya sesak.

Setelah semuanya selesai, kursi rodanya perlahan di dorong mendekat. Caroline menatapnya lama sebelum akhirnya duduk dengan dibantu pelayan. Roda itu bergerak perlahan menyusuri lorong mansion yang terasa dingin dan sunyi. Tak ada Nicholas. Tidak ada satu pun yang mengajaknya berbicara. Hanya bunyi roda yang berdecit pelan, seolah menertawakan ketidakberdayaannya.

Demon telah siap di halaman. Ia segera membuka pintu mobil dan disusul oleh Caroline yang dibantu duduk di kursi penumpang. Caroline menoleh ke luar jendela. Pagar besi yang menjulang tinggi itu menutup pandangannya, seperti penjara yang tak akan pernah benar-benar bisa ia tinggalkan.

~~~

Di sisi lain, Chris Galeon berdiri di depan meja informasi rumah sakit, jemarinya menggenggam ponsel dengan kuat. Monica, wanita itu pun berada di sampingnya, kedua tangannya terlipat di dada, tatapannya berkeliling seolah sedang menilai setiap wajah yang ada.

"Permisi," Chris membuka suara, datar namun tegang. "Kami sedang mencari seseorang di sini."

Petugas rumah sakit itu mendongak, menatap keduanya bergantian. "Ya, Tuan. Kalian mencari atas nama siapa?"

Chris sigap membuka galeri ponselnya. Sebuah gambar Caroline terpampang jelas di layar, wajah cantik dengan pemilik senyuman manis yang terasa sangat familiar.

"Perempuan ini. Namanya Caroline Arbein. Kau pasti mengenalnya, kan?"

Petugas itu meraih ponsel Chris, memperhatikan foto itu beberapa detik lebih lama dari yang Chris harapkan. Keningnya mengernyit.

"Apakah kalian keluarga pasien?" tanyanya hati-hati.

Monica segera maju selangkah. "Kami adalah keluarganya," jawabnya cepat, senyumnya tipis namun meyakinkan. "Kami mendapat kabar jika dia akan datang ke rumah sakit ini."

Petugas itu kembali menatap layar, lalu mengembalikan ponsel Chris. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard.

"Kenapa tidak kau beritahukan saja langsung jika aku adalah tunangannya, Monica?" bisik Chris, raut wajahnya berubah kusut.

Monica mendengus. "Itu dulu, Chris. Sebelum Caroline tahu perselingkuhanmu. Aku yakin, dia bahkan tak akan sudi melihat wajahmu."

"Saat ini memang ada pasien dengan nama tersebut," ujar petugas itu akhirnya.

Jantung Chris berdebar keras dari sebelumnya. "Lalu, di mana dia sekarang?"

Petugas itu terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Pasien tersebut berada di lantai atas. Namun ..."

"Namun apa?" potong Monica, suaranya terdengar penuh penekanan dari sebelumnya.

"Pasien tersebut datang bersama pengawalan khusus," lanjut petugas itu. "Kami tidak bisa memberikan informasi lebih detailnya tanpa izin dari pihak yang bertanggung jawab."

Chris mengepalkan tangannya. Sorot matanya tajam. "Pengawalan khusus?"

Monica menoleh pada Chris, sorot matanya tak kalah tajam. "Kau dengar itu, Chris?" bisiknya pelan. "Bagaimana cara kita bisa membawanya pergi kalau begitu."

Chris menoleh ke arah lift. Ia melangkah tegas menuju lift tersebut untuk naik ke lantai atas. Biar bagaimanapun, ia harus bisa bertemu Caroline dan membawanya pergi. Jika bukan demi imbalan uang besar dari ayah Monica, Chris tak akan mau ikut campur dalam urusan seperti ini.

"Kita akan mencarinya sampai dapat, Monica. Aku tidak ingin menjadi sasaran amukan ayahmu jika gagal menjalankan tugas yang dia berikan."

Monica mengangguk paham.

~~~

"Aku akan menunggu di luar," ucap Caroline pelan. "Dengarkan apa pun yang dokter katakan dan beritahukan padaku nanti."

Caroline mendorong kursi rodanya menuju pintu. Ia sudah tahu bagaimana akhirnya, sebab setiap dokter selalu mengatakan hal yang sama. Peluangnya untuk bisa berjalan kembali hanya beberapa persen. Hampir mustahil.

"Lebih baik Anda tetap di sini, Nona Caroline," ucap Demon, menahan kursi roda itu. "Akan sangat berbahaya jika Anda berada di luar tanpa pengawasan saya."

Caroline menghela napas panjang. "Aku hanya ingin menghirup udara segar, Demon. Wanita cacat sepertiku tak akan bisa kemana-mana."

Demon terdiam sesaat, ragu. Kesempatan itu Caroline gunakan untuk membuka pintu. Ia keluar dan menutup kembali pintu ruangan tersebut sebelum Demon sempat menghentikannya lagi.

Lorong rumah sakit itu sunyi.

Di luar, Caroline menghentikan kursi rodanya di dekat jendela besar, membiarkan pikirannya kosong. Namun, ketenangan itu hanya berlangsung beberapa detik.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Tubuh Caroline menegang. Belum sempat ia menoleh, tiba-tiba saja sebuah tangan menutup mulutnya dari belakang.

"Caroline ... akhirnya kami menemukanmu."

Tubuh Caroline tersentak. Tangannya berusaha mendorong roda kursi, tetapi cengkeraman Chris terlalu kuat. Napasnya memburu, jantungnya berdegup keras ketika suara pria itu kembali terdengar. Begitu terlalu familiar.

“Tenanglah, Sayang,” bisik Chris rendah di telinganya. “Aku hanya ingin membawamu pergi. Kau tidak seharusnya berada di tempat ini.”

Air mata Caroline menggenang. Ia berusaha berteriak, tetapi suaranya teredam oleh telapak tangan pria itu.

“Chris … tolong lepaskan aku,” pinta Caroline lirih, nyaris tak terdengar. "Aku tidak ingin ikut dengan kalian."

Monica tanpa peringatan mencengkeram rambut Caroline. "Aku tidak menyangka kau masih bisa hidup setelah terjatuh dari ketinggian itu, Caroline."

"Lepaskan aku, Monica! Apa mau kalian lagi sebenarnya?" tanya Caroline, berusaha melepaskan diri.

"Aku hanya ingin kematianmu, Caroline," sahut Monica. "Dengan begitu, aku bisa menikmati udara segar tanpa ada kau lagi di dunia ini."

Setelah mengatakan itu, Monica melepaskan cengkeramannya. "Cepat bawa dia pergi, Chris. Sebelum nanti ada yang melihat."

Caroline menggeleng, tatapannya memohon pada Chris, tapi pria itu justru semakin mendekat. Tangannya hendak menarik kursi roda itu menjauh dari lorong. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, sebuah suara dingin menghentikan aksi penculikan tersebut.

“Jauhkan tangan kotor kalian berdua darinya, kalau kalian masih menyayangi nyawa masing-masing."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dekapan Tuan Penguasa   Kedatangan Kakek Nicholas

    Telepon di meja kerja Nicholas bergetar pelan, memecah kesunyian ruangan.Ia melirik layar sekilas sebelum mengangkatnya, ekspresi wajahnya tetap datar.“Ada apa menghubungiku?” tanyanya singkat.Suara di seberang sana terdengar tua, berat, dan sarat wibawa. Suara yang tidak membutuhkan teriakan untuk memerintah.“Kau sudah menemukannya, Nicholas?"Mendengar itu, Nicholas bersandar pada kursinya. “Menemukan siapa?”Keheningan menyapa sejenak, lalu suara berwibawa itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin.“Wanita yang dulu sudah dijodohkan denganmu.”Jari Nicholas mengepal di atas meja. “Aku tidak lupa,” sahutnya pelan.“Baguslah,” kata pria tua itu. “Karena kau juga tidak boleh lupa satu hal lain.”Nada suaranya mengeras, tanpa emosi. “Kau akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu … hanya jika kau menikah dengan wanita itu.”Nicholas terdiam. Ia hanya menyimak tanpa ingin membantah. “Jika kau gagal,” lanjut sang kakek, “atau lebih buruk lagi salah memilih wanita lain,

  • Dekapan Tuan Penguasa   Sepenggal masa lalu.

    Ruang kerja Adrian Arbein dipenuhi aroma tembakau yang belum sepenuhnya menghilang. Pria tua itu duduk tenang di balik meja kayu gelapnya, mendengarkan tanpa menyela, sementara Chris mondar-mandir dengan wajah memerah menahan kesal.“Pria itu benar-benar tidak tahu diri, Tuan,” geram Chris akhirnya. “Berani-beraninya dia bersikap seolah lebih tinggi dariku. Padahal dia hanya pria miskin yang bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.” Monica yang sejak tadi berdiri di samping jendela berbalik perlahan. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.“Dia bukan hanya sok,” ucapnya tenang, sarat kebencian. “Dia juga terlihat berbahaya.”Adrian mengangkat alis. “Berbahaya?”“Ya.” Monica melangkah mendekat. “Dia berani menyembunyikan Caroline, Ayah. Bahkan lebih dari itu, dia berani meremehkan kita. Seolah keberadaan keluarga Arbein tidak berarti apa-apa.”Chris mendengus. “Namanya hanya Nicholas. Itu saja yang dia berik

  • Dekapan Tuan Penguasa   Menjadi target

    Hari itu, keberuntungan seolah tengah berpihak pada Chris dan Monica. Dari balik kaca mobil yang terparkir di seberang jalan raya, Monica menangkap sosok pria yang sedari lama mereka incar. "Itu dia, Chris," ucapnya cepat, menepuk bahu Chris. "Pria yang waktu itu."Chris mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap sosok tinggi yang baru saja keluar dari gedung. Pria itu tidak dikawal, tidak ada iring-iringan. Hanya satu mobil hitam biasa yang menunggu di pinggir jalan. Sudut bibir Chris terangkat. "Jadi dia benar-benar hanya pria biasa."Di sisi lain, di dalam mobil Nicholas, suasana tampak tenang. Ia merasa tak terganggu, meski seseorang tengah mengawasi. Demon melirik kaca spion sebelum bersuara. "Seperti ada yang mengikuti kita, Tuan. Jarak dua puluh meter, mobil abu-abu. "Nicholas menyenderkan punggungnya, seolah tak terganggu sama sekali. "Biarkan saja," sahutnya pelan. Demon mengangguk. "Jadi, ke mana tujuan kita?" Nicholas terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Belok ke bar

  • Dekapan Tuan Penguasa   Pijatan singkat

    Udara pagi di taman mansion terasa jauh lebih sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Caroline mendorong kursi rodanya perlahan di jalur bebatuan yang rapi, ditemani dedaunan hijau dan aroma tanah yang masih basah oleh embun. Ini pertama kalinya ia diperbolehkan jalan-jalan tanpa ditemani pengawalan ketat seperti sebelum-sebelumnya, seolah Nicholas memang membiarkan Caroline untuk menenangkan diri. Ditengah asiknya, Caroline seketika menghentikan kursi rodanya. Di ujung taman, ia melihat Nicholas berdiri di sana.Pria itu tidak sendiri. Beberapa pengawal berpakaian serba hitam mengelilinginya dengan jarak teratur. Tubuh-tubuh tegap, sikap waspada, tatapan mereka yang menyapu sekeliling tanpa henti. "Siapa pria ini sebenarnya?" gumam Caroline. "Dia terlihat sangat berkuasa." Caroline beralih pandang sejenak, lalu melirik ke arah pelayan yang tengah mendorong sebuah keranjang bunga di dekatnya. Pria paruh baya itu adalah kepala pelayan, orang yang jelas sudah lama bekerja di mansio

  • Dekapan Tuan Penguasa   Caroline tidak pernah melihat Nicholas.

    Jantung Caroline berdetak keras saat akhirnya ia ketahuan menguping. Nasi sudah menjadi bubur, ingin melarikan diri pun Caroline tak bisa. Pintu terbuka pelan, sosok Demok muncul di ambang pintu, tubuhnya tegap, tatapannya jatuh pada Caroline yang tengah menunduk sambil memainkan jemarinya. "Nona Caroline," sapanya tenang. "Apakah Anda tersesat?" Caroline mengangkat wajahnya perlahan. "Aku hanya ... ingin lewat," jawabnya, suara yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. "Lewat?" ulang Nicholas, "bukankah kamarmu berada sebelum ruang kerjaku, Nona Caroline. Kau ingin ke mana di malam seperti ini?"Tatapan Nicholas datar, yang membuat Caroline menelan ludahnya kelu. Tatapan pria itu terlalu mengintimidasi, membuatnya gugup bukan main. "Aku ... tidak bisa tidur," jawab Caroline akhirnya.Dari kursi rodanya, Caroline dapat merasakan tatapan Nicholas meski pria itu tidak menanggapi perkataannya. Diamnya Nicholas jauh lebih menakutkan. "Sudah terlalu larut, Nona," sahut Demon

  • Dekapan Tuan Penguasa   Ketahuan menguping

    Caroline masih belum bisa terlelap tidur saat kata aset itu terus menggema di kepalanya. Ia menunduk, menatap kakinya yang tak bergerak sedikit pun. Dulu, ia adalah Caroline Arbein yang hidupnya selalu diliputi kebahagiaan dan pilihan. Namun sekarang?Hidupnya diburu. Keberadaannya dinilai dan dijaga, seolah ia bukan lagi manusia, melainkan sesuatu yang memiliki harga. "Aset," gumamnya pelan. "Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dariku?" Malam semakin larut. Lampu-lampu mansion telah redup, tetapi Caroline tetap terjaga."Beginikah hidup yang kau maksud, Ayah?" bisiknya lirih. "Jika suatu saat nanti kau meninggalkanku sendirian."Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Caroline. Ia menoleh, meskipun tahu pintu tak akan terbuka. "Nona," suara Demon terdengar. "Tuan Nicholas meminta Anda untuk segera beristirahat. Besok pagi akan ada dokter datang ke mansion untuk memeriksa kondisi Anda." Caroline tersenyum pahit. Bahkan jadwal tidurnya pun diatur oleh pria itu. "Aku tidak sa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status