INICIAR SESIÓN"Nona, sudah tiba wakktunya makan malam."
Salah seorang perawat memasuki ruang rawat Caroline. Begitu mendapati pasien yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, perawat itu menggeleng pelan sambil tersenyum. "Apakah Anda kedinginan, Nona? Saya bisa membantu mengecilkan volume AC jika perlu." Perawat itu meraih remote dan mulai mengatur suhu ruangan, tanpa menyadari bahwa tidak ada siapa pun di ranjang tersebut. Setelah selesai mengatur suhu ruangan, perawat itu melangkah mendekati ranjang Caroline, berniat untuk membangunkannya. Namun, begitu tangannya menurunkan selimut, ia terperanjat. Ranjang itu kosong tanpa adanya Caroline. "Pasiend kamar 03 hilang!" suara perawat itu bergetar. "Tolong ... tolong bantu aku mencari pasien!" Mendengar teriakan tersebut, beberapa perawat lain sigap mendekat. "Apa maksudmu hilang?" Wajah perawat itu memucat, tubuhnya bergetar. "Pasien tidak berada di ruangannya," suaranya tercekat. "Dan beliau berada di bawah perlindungan langsung Tuan Nicholas." Mendengar itu, alarm panggilan darurat segera ditekan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, rumah sakit jatuh dalam kekacauan atas menghilangnya Caroline. ~~~ Di sisi lain, angin malam menerpa wajah Caroline di rooftop rumah sakit itu. Ia duduk di atas kursi rodanya, memandangi bintang-bintang yang bertebaran di langit. Dari tempat itu, pemandangan kota tampak berkilau di bawah sana. Biasanya, momen seperti ini adalah yang paling ia sukai. Namun malam ini, tidak ada lagi keindahan, hanya kehampaan. "Ayah ... Ibu," lirih Caroline, air mata kembali membasahi wajah pucatnya. "Tidakkah kalian merindukanku? Mengapa tidak membawaku ikut bersama kalian?" Raut putus asa terpampang jelas di wajah Caroline. Baginya, tak ada semangat untuk melanjutkan hidup tanpa kedua orang tuanya. "Biarkan aku menyusul kalian," ucapnya lirih, sebelum perlahan mendorong kursi rodanya mendekati pagar pembatas yang terbuka. Caroline memejamkan mata sambil tersenyum tipis, seolah membayangkan kedua orang tuanya berdiri di hadapannya, siap untuk menyambut kedatangannya. Namun, Caroline tiba-tiba merasa tubuhnya terangkat, memaksanya untuk membuka mata. "Kau ... turunkan aku!" serunya panik. Nicholas tak bergeming. Sorot matanya tajam, dingin, seolah meruntuhkan pertahanan terakhir Caroline. "Berapa kali lagi kau berniat mengakhiri hidupmu, Nona?" tanyanya datar. "Aku sungguh heran bagaimana pilihanmu selalu berakhir pada pilihan yang sama." Caroline balas menatap Nicholas tajam. "Kau tidak mengerti penderitaan yang kualami." Sudut bibir Nicholas terangkat tipis, bukan senyum, melainkan ejekan. "Penderitaan?" ulangnya, "kau kira hanya kau yang memilikinya?" Ia kemudian menurunkan Caroline kasar ke atas kursi rodanya, membuat wanita itu terhuyung. Tangannya mencengkeram pegangan kursi roda kuat-kuat, seolah sedikit saja dilepas, maka Caroline akan kembali mendorong dirinya sendiri. "Sudah kukatakan," lanjutnya, "kau hanya perlu kehidupan untuk membalas." Caroline tertawa getir. "Hidup?" matanya berkaca-kaca. "Aku lumpuh. Orang tuaku pergi untuk selamanya. Tunanganku mengkhianatiku. Kau sebut ini kehidupan?" Nicholas menunduk, menatap Caroline lebih dekat. Tatapannya tajam, dingin, seolah membekukan udara sekitar. "Kalau begitu," katanya pelan, "kau mati hari ini juga, maka semua yang sudah menghancurkan keluargamu akan berpesta ria." Caroline terdiam. "Nona Caroline, "lanjut Nicholas, suaranya penuh penekanan. "Kau bunuh diri tidak akan menyelesaikan apa pun. Itu justru hadiah untuk orang-orang yang menginginkan kehancuranmu." Caroline mengepalkan kedua tangannya, buku-buku jarinya memutih. "Apa pedulimu?" bentaknya. "Ini tidak ada urusannya denganmu." Nicholas menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. "Kau benar," katanya singkat, "ini memang bukan urusanku." Nicholas berbalik, lalu berhenti. "Tetapi kau masih memiliki sesuatu yang sangat ingin dirampas oleh orang-orang itu." Kening Caroline mengernyit. "Apa?" Nicholas menoleh, menatap Caroline sekali lagi. "Nama keluargamu." Keheningan tiba-tiba menguasai keduanya, hanya dipecah oleh suara angin malam yang menerpa rooftop rumah sakit tersebut. "Mulai sekarang, kau akan ikut denganku," lanjut Nicholas tanpa memandang Caroline. "Atau, kau memang ingin aku memastikan mereka yang mendorongmu ke tepi kematian benar-benar menuntaskan pekerjaannya." Mendengar itu, wajah Caroline memucat. "Kau mengancamku?" "Aku memberimu pilihan," sahutnya datar. Hening kembali merayap. Angin malam berdesir pelan, seolah ikut menunggu keputusan dari Caroline. Akhirnya, Caroline bersuara, lirih namun tegas. "Aku menyerah." Kening Nicholas mengernyit. "Pada siapa?" tanyanya dingin. "Padaku, atau pada mereka?" Caroline menelan ludahnya kelu. Tangannya mencengkeram kursi rodanya erat. "Padamu." Tatapan Nicholas mengeras. Tak ada raut kemenangan, tak ada raut kepuasan. Hanya sorot tajam seseorang yang baru saja memastikan bidak penting telah jatuh ke tangannya. "Keputusan yang cerdas," katanya singkat. "Meski keputusan itu datang dari keterpaksaan." Nicholas meraih kursi roda Caroline. "Mulai sekarang," lanjutnya sambil mendorong kursi roda itu menjauh dari rooftop. "Kau akan tinggal bersamaku." Caroline menengadahkan kepalanya, menatap Nicholas dengan sorot tak percaya. "Kenapa harus tinggal denganmu? Aku bukan anak kecil!" Langkah Nicholas tak melambat. "Untuk memastikan kau tidak lagi mengulang percobaan bunuh diri," jawabnya datar. Caroline terkekeh pelan. "Bagaimana jika aku lakukan percobaan bunuh diri itu di kediamanmu?" "Pertanyaan konyol," sahut Nicholas. "Aku akan menilainya nanti, itupun kalau kau menemukan celah untuk melakukannya." Caroline menyeringai tipis. Ini seperti tantangan untuknya. "Kau tidak mengenalku, Nicholas." "Bagiku, itu tidak penting," balas Nicholas dingin. "Yang terpenting, kau masih hidup. Sebab, aku tidak membutuhkan pewaris mati." Caroline bungkam. Kalimat itu membuat dadanya sesak, seolah terhimpit batu besar. "Jangan salah paham," lanjut Nicholas, fokus memandang ke depan. "Aku hanya memastikan sesuatu yang sudah menjadi tanggung jawabku ... tak rusak sebelum waktunya."Telepon di meja kerja Nicholas bergetar pelan, memecah kesunyian ruangan.Ia melirik layar sekilas sebelum mengangkatnya, ekspresi wajahnya tetap datar.“Ada apa menghubungiku?” tanyanya singkat.Suara di seberang sana terdengar tua, berat, dan sarat wibawa. Suara yang tidak membutuhkan teriakan untuk memerintah.“Kau sudah menemukannya, Nicholas?"Mendengar itu, Nicholas bersandar pada kursinya. “Menemukan siapa?”Keheningan menyapa sejenak, lalu suara berwibawa itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin.“Wanita yang dulu sudah dijodohkan denganmu.”Jari Nicholas mengepal di atas meja. “Aku tidak lupa,” sahutnya pelan.“Baguslah,” kata pria tua itu. “Karena kau juga tidak boleh lupa satu hal lain.”Nada suaranya mengeras, tanpa emosi. “Kau akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu … hanya jika kau menikah dengan wanita itu.”Nicholas terdiam. Ia hanya menyimak tanpa ingin membantah. “Jika kau gagal,” lanjut sang kakek, “atau lebih buruk lagi salah memilih wanita lain,
Ruang kerja Adrian Arbein dipenuhi aroma tembakau yang belum sepenuhnya menghilang. Pria tua itu duduk tenang di balik meja kayu gelapnya, mendengarkan tanpa menyela, sementara Chris mondar-mandir dengan wajah memerah menahan kesal.“Pria itu benar-benar tidak tahu diri, Tuan,” geram Chris akhirnya. “Berani-beraninya dia bersikap seolah lebih tinggi dariku. Padahal dia hanya pria miskin yang bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.” Monica yang sejak tadi berdiri di samping jendela berbalik perlahan. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.“Dia bukan hanya sok,” ucapnya tenang, sarat kebencian. “Dia juga terlihat berbahaya.”Adrian mengangkat alis. “Berbahaya?”“Ya.” Monica melangkah mendekat. “Dia berani menyembunyikan Caroline, Ayah. Bahkan lebih dari itu, dia berani meremehkan kita. Seolah keberadaan keluarga Arbein tidak berarti apa-apa.”Chris mendengus. “Namanya hanya Nicholas. Itu saja yang dia berik
Hari itu, keberuntungan seolah tengah berpihak pada Chris dan Monica. Dari balik kaca mobil yang terparkir di seberang jalan raya, Monica menangkap sosok pria yang sedari lama mereka incar. "Itu dia, Chris," ucapnya cepat, menepuk bahu Chris. "Pria yang waktu itu."Chris mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap sosok tinggi yang baru saja keluar dari gedung. Pria itu tidak dikawal, tidak ada iring-iringan. Hanya satu mobil hitam biasa yang menunggu di pinggir jalan. Sudut bibir Chris terangkat. "Jadi dia benar-benar hanya pria biasa."Di sisi lain, di dalam mobil Nicholas, suasana tampak tenang. Ia merasa tak terganggu, meski seseorang tengah mengawasi. Demon melirik kaca spion sebelum bersuara. "Seperti ada yang mengikuti kita, Tuan. Jarak dua puluh meter, mobil abu-abu. "Nicholas menyenderkan punggungnya, seolah tak terganggu sama sekali. "Biarkan saja," sahutnya pelan. Demon mengangguk. "Jadi, ke mana tujuan kita?" Nicholas terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Belok ke bar
Udara pagi di taman mansion terasa jauh lebih sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Caroline mendorong kursi rodanya perlahan di jalur bebatuan yang rapi, ditemani dedaunan hijau dan aroma tanah yang masih basah oleh embun. Ini pertama kalinya ia diperbolehkan jalan-jalan tanpa ditemani pengawalan ketat seperti sebelum-sebelumnya, seolah Nicholas memang membiarkan Caroline untuk menenangkan diri. Ditengah asiknya, Caroline seketika menghentikan kursi rodanya. Di ujung taman, ia melihat Nicholas berdiri di sana.Pria itu tidak sendiri. Beberapa pengawal berpakaian serba hitam mengelilinginya dengan jarak teratur. Tubuh-tubuh tegap, sikap waspada, tatapan mereka yang menyapu sekeliling tanpa henti. "Siapa pria ini sebenarnya?" gumam Caroline. "Dia terlihat sangat berkuasa." Caroline beralih pandang sejenak, lalu melirik ke arah pelayan yang tengah mendorong sebuah keranjang bunga di dekatnya. Pria paruh baya itu adalah kepala pelayan, orang yang jelas sudah lama bekerja di mansio
Jantung Caroline berdetak keras saat akhirnya ia ketahuan menguping. Nasi sudah menjadi bubur, ingin melarikan diri pun Caroline tak bisa. Pintu terbuka pelan, sosok Demok muncul di ambang pintu, tubuhnya tegap, tatapannya jatuh pada Caroline yang tengah menunduk sambil memainkan jemarinya. "Nona Caroline," sapanya tenang. "Apakah Anda tersesat?" Caroline mengangkat wajahnya perlahan. "Aku hanya ... ingin lewat," jawabnya, suara yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. "Lewat?" ulang Nicholas, "bukankah kamarmu berada sebelum ruang kerjaku, Nona Caroline. Kau ingin ke mana di malam seperti ini?"Tatapan Nicholas datar, yang membuat Caroline menelan ludahnya kelu. Tatapan pria itu terlalu mengintimidasi, membuatnya gugup bukan main. "Aku ... tidak bisa tidur," jawab Caroline akhirnya.Dari kursi rodanya, Caroline dapat merasakan tatapan Nicholas meski pria itu tidak menanggapi perkataannya. Diamnya Nicholas jauh lebih menakutkan. "Sudah terlalu larut, Nona," sahut Demon
Caroline masih belum bisa terlelap tidur saat kata aset itu terus menggema di kepalanya. Ia menunduk, menatap kakinya yang tak bergerak sedikit pun. Dulu, ia adalah Caroline Arbein yang hidupnya selalu diliputi kebahagiaan dan pilihan. Namun sekarang?Hidupnya diburu. Keberadaannya dinilai dan dijaga, seolah ia bukan lagi manusia, melainkan sesuatu yang memiliki harga. "Aset," gumamnya pelan. "Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dariku?" Malam semakin larut. Lampu-lampu mansion telah redup, tetapi Caroline tetap terjaga."Beginikah hidup yang kau maksud, Ayah?" bisiknya lirih. "Jika suatu saat nanti kau meninggalkanku sendirian."Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Caroline. Ia menoleh, meskipun tahu pintu tak akan terbuka. "Nona," suara Demon terdengar. "Tuan Nicholas meminta Anda untuk segera beristirahat. Besok pagi akan ada dokter datang ke mansion untuk memeriksa kondisi Anda." Caroline tersenyum pahit. Bahkan jadwal tidurnya pun diatur oleh pria itu. "Aku tidak sa







