Masuk
Ini kali pertamanya Caroline memperbolehkan untuk tirai kamarnya dibuka. Sebelum itu, ia bahkan selalu melarang siapa pun untuk membukanya.
Sejak kecelakaan beberapa tahun silam itu terjadi, ditambah vonis dokter yang mengatakan besar kemungkinan ia akan lumpuh untuk selamanya, Caroline merasa sangat putus asa. “Nona muda begitu terpuruk, kasihan sekali, ya,” bisik salah satu pelayan yang tengah membereskan kamar Caroline. “Kudengar juga, Tuan Chris, selaku tunangan nona justru berselingkuh. Itulah yang membuat nona kita bisa jadi seperti sekarang ini.” “Aku sangat prihatin sekali.” Caroline tersenyum pahit mendengar bisikan kedua pelayan dari kursi rodanya. Namun, meski begitu, ia memilih untuk mengabaikannya, karena apa yang kedua orang itu bahas memang benar. Chris Galeon, semua orang tahu jika pria itu adalah tunangan Caroline Arbein. Pertunangan mereka sempat disiarkan oleh media, tapi untuk kasus perselingkuhan Chris sendiri, Caroline memilih untuk menutup aib tersebut. Bukan untuk melindungi nama baik Chris, tapi Caroline hanya tak ingin kehidupannya ikut terganggu. Membahas tentang Chris, sekelebat memori masa lalu tiba-tiba berputar di otak Caroline. "Ayah, aku sangat mencintai Chris, kami berdua saling mencintai. Tolong, Ayah restui hubungan kami." Kalimat itu terlontar dari Caroline tiga tahun lalu, sambil berlutut di hadapan ayahnya, William Arbein. Ia menangis sambil memeluk kedua kaki ayahnya, menolak untuk dipisahkan. "Ayah tidak akan pernah merestui hubungan kalian berdua, tidak akan! Caroline, Ayah sudah memilih pria yang lebih pantas untukmu, dan Ayah yakin dia bisa menjagamu lebih baik daripada Ayah sendiri." Mendengar itu, Caroline tak tinggal diam. Ia bangkit kemudian meraih pisau buah di atas meja, mengarahkan pada lengannya sendiri. "Jika itu pilihan Ayah, maka aku juga memiliki pilihanku sendiri," ancam Caroline. Melihat itu, William tidak memiliki pilihan selain menenangkan sang putri. Dirasa Caroline sedikit tenang, barulah William sigap merampas pisau itu. "Baiklah, Ayah menyerah dan akan merestui hubunganmu dengan pria pilihanmu ini, Caroline." Keputusan itu benar-benar membuat Caroline sangat bahagia dan sigap memeluk ayahnya. Dua hari setelahnya, acara pertunangan antara Caroline dan Chris digelar serta disaksikan tak hanya para tamu, tapi disiarkan secara langsung oleh awak media.Sekarang, memori itu terasa seperti sebuah kisah lama.
Setelah kepergian kedua pelayannya, ketukan di pintu kamarnya yang telah tertutup, membuat Caroline tersadar. Ia pun mengizinkan orang tersebut masuk dan seketika berpaling muka saat melihat siapa wanita tak diundang itu. Monica Arbein, wanita yang tak lain adalah sepupu Caroline. Wanita yang selalu memberikan kehangatan ranjang untuk Chris. "Apa maumu?" tanya Caroline, kedua tangannya mengepal, sorot matanya tajam. Monica terkekeh. "Mengunjungi sepupuku yang malang ini tentunya. Oh, Caroline, aku tahu ini pasti sangat sulit bagimu, kan?" "Aku ingin sendiri, akan jauh lebih baik kalau kau keluar dari kamarku. Kemalanganku tidak usah kau perdulikan," sahut Caroline, rasanya tak ada tenaga lagi untuk meladeni ocehan sepupunya itu. Monica tak menggubris. Ia justru mendorong kursi roda Caroline menuju balkon. "Jangan berkata seperti itu, Caroline, sebab aku sangat tahu kenapa kemalangan ini bisa kau alami. Biarkan aku menceritakan sebuah rahasia padamu." "Apa maksudmu? Menyingkir dariku sekarang, Monica! Aku tidak ingin dengar apa pun darimu. Jangan mengusikku lagi!" "Hust! Tenangkan dirimu, Caroline, aku hanya ingin berbicara lebih leluasa padamu." Menghela napas, Caroline akhirnya pasrah. "Cepatlah berbicara!" Monica memajukan wajahnya tepat ke samping telinga Caroline. "Sebenarnya, akulah orang yang membuatmu jadi seperti sekarang," ujar Monica, duduk sambil menyilangkan tangan dengan angkuh. "Jadi kau? Kenapa kau lakukan itu? Apa salahku padamu, Monica?" tanya Caroline, matanya berkaca-kaca. "Kau tidak bersalah," sahut Monica, "tapi aku iri pada apa pun yang bersangkutan denganmu. Aku ingin merenggut semua kebahagiaanmu sekaligus menghancurkanmu, Caroline." Mendengar itu, ketenangan Caroline seketika runtuh. "Kau sudah berhasil, kan? Aku sudah lumpuh sekarang, dan Chris juga bersamamu. Kau sudah tidak bisa iri lagi, bukan? Kau sudah tidak bisa iri lagi pada kehidupan wanita cacat sepertiku. Jadi, berhenti menggangguku lagi." "Belum." Kening Caroline mengernyit, tak mengerti maksud dari Monica. "Apalagi yang kau inginkan? Kau masih belum puas dengan semua yang telah kau lakukan padaku? Kenapa, Monica?!" suara Caroline meninggi sedikit. "Sejak dulu, aku selalu baik padamu. Aku selalu memberikan apa pun yang kau inginkan, menganggapmu layaknya saudari kandungku sendiri karena aku anak tunggal." "Itulah yang salah, Caroline. Kau terlalu baik, hidupmu terlalu beruntung sedangkan aku tidak. Kau dikelilingi orang-orang yang tulus, semua orang membicarakanmu, dan aku muak mendengarnya. Kalau kau mati, maka tidak akan ada lagi yang memujamu seperti seorang dewi." Suara Monica berubah dingin. Sorot matanya tajam, senyum menyeringai tersungging di bibirnya. Wanita itu perlahan bangkit, tangannya terulur melepaskan kunci pada pagar pembatas balkon kamar Caroline, lalu ia meraih kursi roda Caroline. "Apa yang kau lakukan, Monica? Lepaskan aku!" berontak Caroline, tapi tenaganya seakan sia-sia di situasi seperti itu. "Inilah yang kuinginkan, Caroline. Aku datang untuk membunuhmu, menghapusmu dari dunia ini." "Tidak! Siapapun di luar, tolong aku," teriak Caroline di sisa-sisa tenaganya. "Teriakanmu tidak akan berguna, Caroline, karena semua pelayanmu saat ini sudah diurus oleh para anak buahku. Jadi, kau tahu apa yang akan terjadi padamu sekarang, kan? Selamat tinggal, Sayangku." Tanpa belas kasihan, Monica mendorong kursi roda Caroline. Kursi rodanya meluncur tanpa hambatan. Rasa tak berdaya menyesakkan dada Caroline, bayangan masa lalu berkelebat cepat. Sebuah tawa yang pernah ia miliki, harapan yang sempat ia genggam, semuanya runtuh dalam satu tarikan napas. Saat roda depan kursi melewati batas balkon, tubuh Caroline terangkat ringan, seolah dunia membuangnya begitu saja. Jeritan lirih keluar dari bibirnya, bercampur antara ketakutan dan keputusasaan. Lalu, segalanya jatuh. Dalam keheningan yang mengerikan itu, Caroline hanya bisa menutup mata, membiarkan tubuhnya terhempas keras ke tanah. ~~~ "Nona, Anda sudah sadar? Apakah Anda bisa mendengar suara saya?" Suara bisik itu terdengar berisik di telinga Caroline, memaksanya untuk membuka mata secara perlahan. Begitu sadar, ia melihat salah satu perawat tersenyum padanya. "Syukurlah, Anda sudah sadar. Saya akan segera memberitahukan hal ini pada dokter." Perawat itu pun pergi meninggalkan Caroline yang perlahan tersenyum tipis. Ia merasa sangat bahagia, sebab masih diberi kesempatan untuk hidup. "Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu setelah bangkit dari kematian, Nona Caroline Arbein?" Suara asing itu menyapa indra pendengaran Caroline, memaksanya untuk menatap sosok pria tinggi yang bahkan tak pernah ia lihat sebelumnya.Telepon di meja kerja Nicholas bergetar pelan, memecah kesunyian ruangan.Ia melirik layar sekilas sebelum mengangkatnya, ekspresi wajahnya tetap datar.“Ada apa menghubungiku?” tanyanya singkat.Suara di seberang sana terdengar tua, berat, dan sarat wibawa. Suara yang tidak membutuhkan teriakan untuk memerintah.“Kau sudah menemukannya, Nicholas?"Mendengar itu, Nicholas bersandar pada kursinya. “Menemukan siapa?”Keheningan menyapa sejenak, lalu suara berwibawa itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin.“Wanita yang dulu sudah dijodohkan denganmu.”Jari Nicholas mengepal di atas meja. “Aku tidak lupa,” sahutnya pelan.“Baguslah,” kata pria tua itu. “Karena kau juga tidak boleh lupa satu hal lain.”Nada suaranya mengeras, tanpa emosi. “Kau akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu … hanya jika kau menikah dengan wanita itu.”Nicholas terdiam. Ia hanya menyimak tanpa ingin membantah. “Jika kau gagal,” lanjut sang kakek, “atau lebih buruk lagi salah memilih wanita lain,
Ruang kerja Adrian Arbein dipenuhi aroma tembakau yang belum sepenuhnya menghilang. Pria tua itu duduk tenang di balik meja kayu gelapnya, mendengarkan tanpa menyela, sementara Chris mondar-mandir dengan wajah memerah menahan kesal.“Pria itu benar-benar tidak tahu diri, Tuan,” geram Chris akhirnya. “Berani-beraninya dia bersikap seolah lebih tinggi dariku. Padahal dia hanya pria miskin yang bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.” Monica yang sejak tadi berdiri di samping jendela berbalik perlahan. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.“Dia bukan hanya sok,” ucapnya tenang, sarat kebencian. “Dia juga terlihat berbahaya.”Adrian mengangkat alis. “Berbahaya?”“Ya.” Monica melangkah mendekat. “Dia berani menyembunyikan Caroline, Ayah. Bahkan lebih dari itu, dia berani meremehkan kita. Seolah keberadaan keluarga Arbein tidak berarti apa-apa.”Chris mendengus. “Namanya hanya Nicholas. Itu saja yang dia berik
Hari itu, keberuntungan seolah tengah berpihak pada Chris dan Monica. Dari balik kaca mobil yang terparkir di seberang jalan raya, Monica menangkap sosok pria yang sedari lama mereka incar. "Itu dia, Chris," ucapnya cepat, menepuk bahu Chris. "Pria yang waktu itu."Chris mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap sosok tinggi yang baru saja keluar dari gedung. Pria itu tidak dikawal, tidak ada iring-iringan. Hanya satu mobil hitam biasa yang menunggu di pinggir jalan. Sudut bibir Chris terangkat. "Jadi dia benar-benar hanya pria biasa."Di sisi lain, di dalam mobil Nicholas, suasana tampak tenang. Ia merasa tak terganggu, meski seseorang tengah mengawasi. Demon melirik kaca spion sebelum bersuara. "Seperti ada yang mengikuti kita, Tuan. Jarak dua puluh meter, mobil abu-abu. "Nicholas menyenderkan punggungnya, seolah tak terganggu sama sekali. "Biarkan saja," sahutnya pelan. Demon mengangguk. "Jadi, ke mana tujuan kita?" Nicholas terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Belok ke bar
Udara pagi di taman mansion terasa jauh lebih sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Caroline mendorong kursi rodanya perlahan di jalur bebatuan yang rapi, ditemani dedaunan hijau dan aroma tanah yang masih basah oleh embun. Ini pertama kalinya ia diperbolehkan jalan-jalan tanpa ditemani pengawalan ketat seperti sebelum-sebelumnya, seolah Nicholas memang membiarkan Caroline untuk menenangkan diri. Ditengah asiknya, Caroline seketika menghentikan kursi rodanya. Di ujung taman, ia melihat Nicholas berdiri di sana.Pria itu tidak sendiri. Beberapa pengawal berpakaian serba hitam mengelilinginya dengan jarak teratur. Tubuh-tubuh tegap, sikap waspada, tatapan mereka yang menyapu sekeliling tanpa henti. "Siapa pria ini sebenarnya?" gumam Caroline. "Dia terlihat sangat berkuasa." Caroline beralih pandang sejenak, lalu melirik ke arah pelayan yang tengah mendorong sebuah keranjang bunga di dekatnya. Pria paruh baya itu adalah kepala pelayan, orang yang jelas sudah lama bekerja di mansio
Jantung Caroline berdetak keras saat akhirnya ia ketahuan menguping. Nasi sudah menjadi bubur, ingin melarikan diri pun Caroline tak bisa. Pintu terbuka pelan, sosok Demok muncul di ambang pintu, tubuhnya tegap, tatapannya jatuh pada Caroline yang tengah menunduk sambil memainkan jemarinya. "Nona Caroline," sapanya tenang. "Apakah Anda tersesat?" Caroline mengangkat wajahnya perlahan. "Aku hanya ... ingin lewat," jawabnya, suara yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. "Lewat?" ulang Nicholas, "bukankah kamarmu berada sebelum ruang kerjaku, Nona Caroline. Kau ingin ke mana di malam seperti ini?"Tatapan Nicholas datar, yang membuat Caroline menelan ludahnya kelu. Tatapan pria itu terlalu mengintimidasi, membuatnya gugup bukan main. "Aku ... tidak bisa tidur," jawab Caroline akhirnya.Dari kursi rodanya, Caroline dapat merasakan tatapan Nicholas meski pria itu tidak menanggapi perkataannya. Diamnya Nicholas jauh lebih menakutkan. "Sudah terlalu larut, Nona," sahut Demon
Caroline masih belum bisa terlelap tidur saat kata aset itu terus menggema di kepalanya. Ia menunduk, menatap kakinya yang tak bergerak sedikit pun. Dulu, ia adalah Caroline Arbein yang hidupnya selalu diliputi kebahagiaan dan pilihan. Namun sekarang?Hidupnya diburu. Keberadaannya dinilai dan dijaga, seolah ia bukan lagi manusia, melainkan sesuatu yang memiliki harga. "Aset," gumamnya pelan. "Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dariku?" Malam semakin larut. Lampu-lampu mansion telah redup, tetapi Caroline tetap terjaga."Beginikah hidup yang kau maksud, Ayah?" bisiknya lirih. "Jika suatu saat nanti kau meninggalkanku sendirian."Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Caroline. Ia menoleh, meskipun tahu pintu tak akan terbuka. "Nona," suara Demon terdengar. "Tuan Nicholas meminta Anda untuk segera beristirahat. Besok pagi akan ada dokter datang ke mansion untuk memeriksa kondisi Anda." Caroline tersenyum pahit. Bahkan jadwal tidurnya pun diatur oleh pria itu. "Aku tidak sa







