Se connecterMobil melaju keluar dari kompleks itu tanpa suara selain deru mesin yang terlalu halus untuk menenggelamkan apa pun. Jalanan tampak biasa saja—lampu-lampu rumah, pepohonan yang berbaris rapi, portal satpam yang perlahan menjauh—tapi bagi Nayla, semuanya terasa seperti lorong sempit yang menekan dada. Ia baru sadar napasnya pendek-pendek. Kotak cake masih di pangkuannya. Tidak bergeser sejak tadi, seolah benda itu menolak dilupakan. Tangan Nayla sempat meraih setir, lalu kembali menahan kotak itu, refleks seperti sedang memeluk sesuatu yang rapuh. Di kursi belakang, Revania bersandar malas, lalu mulai menggerak-gerakkan kakinya. “Bu,” katanya tiba-tiba, suaranya dibuat ringan. “Angel itu baik, ya.” Nayla menatap lurus ke depan. “Iya.” “Dia enggak sok pamer. Padahal rumahnya gede.” “Iya.” “Terus dia ngajak aku sama Kak Ravin lihat kolam renangnya. Airnya biru banget.” “Iya.” Revania berhenti. Menyipitkan mata, mencondongkan badan sedikit ke depan. “Ibu kenapa jawabnya satu ka
Tangan Larissa mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya naik turun, tapi suaranya tetap terjaga saat akhirnya berkata, “Sepertinya… dunia memang lucu, ya.” Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Sunyi mengisi ruang di antara mereka. Ia menatap Nayla lurus. “Setelah sejauh ini kita menghindar, ternyata kita berdiri di rumah yang sama.” Nayla tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang kotak cake itu, jari-jarinya mengeras seolah benda kecil itu satu-satunya penyangga agar ia tetap berdiri. “Lucu bukan kata yang akan saya pakai,” jawab Nayla akhirnya, pelan tapi tegas. “Tapi saya setuju… ini ironi.” Larissa tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Masuklah,” katanya, memberi jalan. “Anak-anakmu masih di dalam.” Nayla melangkah masuk. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai rumah itu menyimpan sesuatu yang tak kasatmata. Matanya langsung tertuju ke dua sosok yang dikenalnya. “Van.” “Ravin.” “Ibu
“Larissa.” Suara Rafael terdengar dari seberang, rendah dan tenang seperti biasa. Terlalu tenang untuk kepala Larissa yang sedang penuh gema. “Iya,” jawabnya pelan. “Teman-teman Angel masih di rumah?” Larissa menutup mata sejenak. “Masih,” jawab Larissa. “Kenapa?” “Aku mau beliin pizza. Sekalian makan bareng sebelum mereka dijemput.” Larissa menahan napas. Ujung jarinya mencengkeram ponsel. “Rafael,” katanya akhirnya, suaranya turun satu nada, “kamu cepat pulang.” Hening sepersekian detik. “Kenapa?” tanya Rafael. “Ada yang ingin aku bicarakan.” Nada itu. Rafael mengenalnya terlalu lama untuk tidak menangkap isyaratnya. “Baik,” jawabnya. “Aku langsung ke rumah.” Telepon terputus. Larissa menurunkan ponsel perlahan. Dadanya terasa sempit. Ia menoleh ke ruang keluarga—ke arah sofa tempat Ravindra duduk, ke arah lantai tempat Angel dan Revania tertawa kecil karena pion permainan saling bertabrakan. Anak-anak itu masih tertawa. Belum tahu apa-apa. 🌷?
Bel pulang berbunyi nyaring, memotong sisa konsentrasi yang sejak pagi tidak pernah benar-benar utuh. Angel menutup bukunya lebih cepat dari biasanya. Ia menoleh ke samping—ke arah bangku yang sejak awal semester selalu diisi dua orang. Revania masih merapikan alat tulisnya, rambutnya terikat rapi, gerakannya tenang. “Kamu langsung pulang?” tanya Angel sambil menyampirkan tas. Revania mengangkat wajah. “Iya. Kenapa?” Angel mengetuk meja pelan. Kebiasaan kecil setiap kali ia gugup. “Mau main ke rumahku?” Revania berhenti. “Ke rumah kamu?” “Iya,” Angel mengangguk cepat. “Cuma sebentar.” Revania menimbang sejenak. “Aku harus izin ibu dulu.” “Ya,” Angel tersenyum. “Aku juga.” Mereka berjalan keluar kelas berdampingan. Di lorong, seorang siswa laki-laki berhenti tak jauh dari mereka, tas disampirkan satu bahu. “Van.” Revania menoleh. “Ravin.” Ravindra berdiri santai. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya awas. “Angel ngajak main ke rumahnya,” kata Revania. Ravindra menatap An
Angel baru menyadarinya saat bel berbunyi. Bukan karena suara bel itu sendiri, tapi karena Revania berdiri terlalu dekat dengannya di lorong kelas. Terlalu dekat untuk tidak diperhatikan. Angel tidak sengaja. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ia hanya melirik sekilas, seperti biasa. Tapi kali ini, matanya tertahan lebih lama. Hidung itu. Lengkung alisnya. Cara Revania mengerutkan dahi saat membaca pengumuman di papan mading. Angel menelan ludah. Kenapa mirip? “Ngapain bengong?” suara Revania menyentaknya. Angel tersenyum cepat. “Enggak. Liat jadwal aja.” Revania ikut menoleh ke papan. “Oh. Kupikir kamu ngelamun.” “Emang kelihatan?” Angel mencoba tertawa. “Iya dikit,” jawab Revania santai. “Kamu kenapa sih akhir-akhir ini?” Angel mengangkat bahu. “Biasa.” Revania tidak memaksa. Ia memang seperti itu—tidak suka menekan. Tapi justru sikap itulah yang membuat Angel semakin memperhatikan. Saat mereka berjalan menuju kelas, Ravindra muncul
Rafael menutup pintu apartemen Nayla dengan pelan. Terlalu pelan, seperti takut suara itu akan mengingatkannya bahwa barusan hidupnya bergeser ke arah yang tidak pernah ia rencanakan. Dua anak. Darah dagingnya. Ia berdiri di lorong apartemen cukup lama, punggungnya menempel ke pintu, dada naik turun tidak beraturan. “Gila…” gumamnya pelan. Tangannya meraba saku jas, menemukan ponsel. Ia menatap layar kosong beberapa detik, lalu menekan satu nama tanpa pikir panjang. Arman. Nada sambung terdengar lama. “Lo nelpon malam-malam gini pasti ada masalah,” suara Arman terdengar setengah mengantuk. “Apa?” “Kita ketemu,” kata Rafael singkat. “Sekarang.” Arman terdiam sejenak. “Raf—” “Sekarang, Man.” Nada suara Rafael membuat Arman langsung siaga. “Oke. Tempat biasa.” Telepon ditutup. Rafael memasukkan ponsel ke saku, mengusap wajahnya kasar. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Kafe itu hampir kosong. Lampu kuni







