共有

Bab 5. Mencari Bukti

作者: Sulistiani
last update 公開日: 2026-01-06 17:48:08

"Arnie!"

Suara bariton Daren membuat Arnie tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu berjalan gagah mendekat kearah sang istri, lalu dengan kasar menarik tangan istrinya hingga Arnie yang sedang duduk di sofa berdiri.

"Punya keberanian dari mana kamu sampai berani membantahku?!" ucap Daren dengan nada tinggi.

"Aku manusia biasa, Mas. Aku punya rasa jenuh, muak, dan aku sudah tidak bisa diam ditindas terus oleh kamu dan mamamu!" jawab Arnie dengan suara bergetar.

"Diam! Kamu tak berhak melawan, kamu pantas menerima semua ini," ucap Daren.

"Bahkan hewan pun punya hak untuk melawan. Memangnya apa salahku sampai kamu bisa mengatakan aku pantas menerima semua ini?!" tanya Arnie dengan tatapan tajam pada Daren, tangannya terkepal menahan gejolak amarah di dadanya.

Daren melepaskan cengkraman tangannya pada Arnie, kini beralih mencengkram pipi Arnie, hingga membuat kepala Arnie semakin mendongak menatap Daren yang lebih tinggi darinya.

"Kesalahanmu sangat besar, hingga nyawamu pun tak bisa menembusnya," ucap Daren dengan mata memerah.

Lelaki tampan itu teringat saat kepergian adik kesayangannya, saat itu ia sedang bekerja, tiba-tiba menerima kabar jika Dena meninggal. Saat tiba di rumah sakit, ia melihat Dena sudah terbujur kaku, di bajunya begitu banyak noda merah. Saat bertanya apa yang terjadi, Maya langsung menunjuk Arnie yang saat itu duduk tertunduk di kursi tunggu, bajunya pun penuh dengan noda dar4h Dena.

"Dena pergi bersamanya, tapi dia selamat sementara Dena kehilangan nyawa. Kami pun tidak tahu apa yang dia lakukan pada Dena," ucap Maya.

Daren menatap Arnie yang masih menunduk di kursi tunggu, gadis itu tak mendengar apa yang di katakan Maya pada keluarga Dena. Ia masih syok dengan keadaan sahabatnya, hari itu mereka memang janjian untuk bertemu.  Namun, saat Arnie tiba di tempat yang dijanjikan ia melihat Dena sudah tergeletak di jalan dengan bersimbah dar4h, Dena hendak mengatakan kejadian yang ia alami pada Arnie. Namun, kesadarannya hilang sebelum sempat ia mengatakan apa-apa.

Daren dan Dimas memeriksa rekaman cctv yang ada di tempat kejadian, tetapi petugas bilang cctv di tempat itu rusak dan dalam perbaikan. Lalu ada saksi palsu yang mengatakan, jika Arnie dan Dena sedang berjalan, tiba-tiba Arnie mendorong Dena hingga tertabrak mobil dan mobil yang menabraknya kabur.

Sejak saat itu kebencian Daren dan keluarganya terhadap Arnie begitu dalam, selama ini mereka tahu jika Dena sangat baik, selalu memperlakukan Arnie seperti keluarga sendiri. Arnie hanya siswi miskin yang pintar, Dena selalu berbagi makanan dan uang jajan dengan Arnie karena Arnie selalu membantunya dalam pelajaran yang tidak ia mengerti. Namun, keluarga Dena begitu kecewa saat tahu Dena meninggal karena di dorong oleh Arnie.

"Ayo kita cerai, Mas!" ucap Arnie membuyarkan lamunan Daren.

Daren terkejut hingga melepaskan cengkraman tangannya, ia menatap Arnie dengan kerutan di keningnya.

"Apa kau bilang?"

"Ayo kita cerai, aku sudah tidak sanggup hidup denganmu lagi," ucap Arnie seraya meneteskan air mata.

"Cerai? Jangan harap! Kau akan tetap jadi istriku, tetap berada di rumah ini, dan tak akan kubiarkan meninggalkan rumah ini selangkah pun!" ucap Daren.

Ia berjalan cepat meninggalkan Arnie, entah mengapa dadanya terasa berdenyut sakit saat mendengar permintaan cerai dari Arnie. Daren tak mengerti mengapa ada perasaan seperti itu, padahal jelas-jelas ia tidak mencintai Arnie.

"Bukankah dia sangat mencintaiku, rela melakukan apapun demi berada di samping ku? Mengapa sekarang berani meminta cerai denganku?!" ucap Daren kesal.

Ia mengendarai mobilnya meninggalkan rumah, tetapi pikirannya terus terbayang wajah Arnie yang basah dengan air mata, tatapan matanya yang menyiratkan kesedihan dan kepedihan.

Hati Daren bergetar, saat terjebak di lampu merah ia pun memukul stir mobil.

"Jangan lemah, Daren. Dia sudah membuat Dena kehilangan nyawa, apa yang ia rasakan saat ini adalah hukuman atas perbuatannya! Dia minta cerai pasti tidak sungguh-sungguh, dia pasti hanya ingin menggertak saja! Dia pikir dia siapa?!" ucap Daren dengan senyum sinis.

Bibirnya berkata seperti itu, tetapi jauh di lubuk hatinya yang dalam ada perasaan lain. Perasaan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.

Malam harinya, Daren tak pulang. Arnie tidur di sofa seperti biasa, tetapi pikirannya tak tenang. Ia ingin segera mencari bukti jika ia tak bersalah, tak ada hubungannya dengan kematian Dena.

Wanita yang sedang hamil muda itu pelan-pelan keluar dari kamar, lalu menatap pintu kamar Dena yang bersebrangan dengan pintu kamar Daren.

"Kamar itu selalu terkunci, dimana mama simpan kunci nya ya? Jika aku bisa menemukan kuncinya, lalu masuk ke kamar itu. Mungkin aku bisa menemukan bukti jika aku tidak terlibat dalam kepergian Dena," gumam Arnie dalam hati.

Matanya bergerak memperhatikan area sekitar kamar, lalu pandanganya tertuju pada meja tempat menyimpan beberapa Vas bunga dari keramik. Ada laci-laci kecil di sisi meja itu, Arnie melangkah perlahan-lahan hingga tiba di depan meja itu.

Pelan-pelan ia membuka satu persatu laci kecil di meja itu, berharap ada kunci kamar Dena di dalamnya. Setelah beberapa laci berhasil di buka, akhirnya Arnie menemukan sebuah kunci dengan gantungan foto idol Korea.

"Ini ... Kado dari aku saat Dena ulang tahun dulu, pasti ini kunci kamar Dena," gumam Arnie dengan suara sangat pelan.

Tangannya bergetar saat mencoba memasukan anak kunci, pelan-pelan ia putar kunci itu agar tak menimbulkan suara yang membuat curiga isi rumah. Hingga akhirnya ia berhasil 2 kali memutar anak kunci itu, lalu ia membuka pintu kamar itu secara perlahan. Arnie masuk ke kamar itu, lalu menutup pintunya kembali.

"Dena, kamarmu masih sama seperti dulu. Aku kangen kamu," ucap Arnie dengan nada lirih dan air mata yang menetes di pipi.

Ia langsung teringat kenangan-kenangan manis bersama sahabatnya itu, dulu hampir setiap hari Arnie mengajari Dena pelajaran yang tak ia mengerti, Dena selalu membawa Arnie ke kamarnya karena Dena merasa lebih enak belajar di kamar sendiri dengan sahabatnya itu.

Arnie menatap ranjang yang dulu di tempati Dena, ranjang yang sering digunakan mereka berbaring bersama, curhat, tertawa bahkan menangis bersama.

"Hahaha ... Ketahuan, kamu suka sama kak Daren ya! Ngaku sejak kapan?" tanya Dena saat tak sengaja membaca buku harian Arnie.

"Dena ih ... Kamu ya, ngapain sih baca-baca diary aku!" ucap Arnie malu.

"Ya ampun, ternyata pangeran impian kamu itu kakakku. Aku kasih tahu ya, kak Daren itu orangnya ngebosenin, kaku kaya kanebo kering. Lebih baik kamu cari cowok lain deh!" ucap Dena.

Brak ...

Suara benda jatuh terdengar cukup keras dari lantai bawah, membuat lamunan Arnie buyar. Ia takut Daren tiba-tiba pulang dan menyadari ia tak ada di kamar.

Arnie pun segera menghapus air mata, lalu keluar dari kamar Dena, menyimpan kembali kunci kedalam laci.

"Aku sudah tahu kuncinya di sini, besok saat semua orang gak ada di rumah, aku akan cari bukti di kamar Dena, semoga aku bisa menemukan bukti-bukti dikamar Dena," ucap Arnie.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 106. Selesai

    "Mah beneran Arnie nungguin aku di rumah sakit?" tanyanya lirih tanpa menoleh.Murni menahan air mata. "Iya, Arnie sudah menunggu."Daren tertawa kecil, lalu berbisik, "Aku sudah rapih, sudah wangi. Arnie pasti senang ketemu sama aku!"Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Murni turun lebih dulu, lalu membantu Daren turun.Di ruang tunggu, Daren terlihat gelisah. Kakinya tak berhenti bergerak, tangannya gemetar."Mah, kok Arnie gak ada? Dia bohong sama aku, ya?" tanyanya tiba-tiba.Murni menatap wajah kakaknya itu. "Sabar ya, nanti juga dia kesini."Tak lama, seorang psikolog wanita paruh baya memanggil nama Daren."Mas Daren, silakan masuk."Di ruang konsultasi yang tenang dan beraroma lavender, Daren duduk berhadapan dengan psikolog itu. Murni duduk di sampingnya."Saya Dokter Ratna," ucap wanita itu lembut. "Mas Daren, bisa cerita apa yang Mas rasakan?"Daren terdiam dia menatap dokter tersebut, lalu wajah dokter itu beruba

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 105. Gila

    "Sudahlah, Daren. Lupakan dan ikhlaskan saja, mungkin kamu dan Arnie memang tidak berjodoh," ucap Murni mencoba untuk menenangkan anaknya.Daren menggelengkan kepalanya, tatapannya kosong, air mata menetes di pipinya. Ia masih tak mau menerima kenyataan jika Arnie sudah menjadi istri dari lelaki lain, ia tak mau menerima ucapan sang mama jika ia dan Arnie memang tidak berjodoh."Mama tahu kan, Arnie sudah lama cinta sama aku, dia pasti akan kembali sama aku. Sekarang dia cuma lagi marah, nanti kalau dia gak marah lagi dia akan tinggalin lelaki itu dan kembali padaku," ucap Daren sambil tersenyum dan mengusap air matanya.Senyum dan tatapan mata Daren membuat Murni khawatir, ia menggenggam tangan Daren dan berusaha menguatkan serta menyadarkan nya."Daren, jangan buat mama takut. Masa depan masih panjang, jika Arnie tidak bisa jadi istrimu, dia pasti masih mau jadi temanmu," ucap Murni."Mama, Arnie adalah istri ku bukan temanku," ucap Daren sambil tertawa.Ia merebahkan tubuhnya diata

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 104. Sah

    "Saya terima nikah dan kawinnya Arnie Ghasani binti Supriyadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Frans dengan sekali tarikan nafas."Bagaimana para saksi?" tanya penghulu."Sah.""Sah.""Sah.""Sah."Arnie meneteskan air matanya lalu mencium tangan Frans, ia tak pernah menyangka jika hari yang pertunangan yang sudah disiapkan, akan menjadi hari pernikahannya dengan pengacara tampan yang lebih dulu mencintainya. Sementara Frans mencium kening Arnie dan menghela nafas lega, ia merasa senang karena tidak harus menunggu selama setahun untuk menjadikan Arnie istrinya.Beberapa hari yang lalu. "Pertunangannya dibatalkan kita langsung menikah saja, mau ya!" ucap Frans."Kalau begitu aku setuju, lebih baik Arnie dan Frans langsung menikah saja. Daren memang sudah diamankan, tapi aku takut ada lelaki lain yang menginginkan Arnie dan melakukan hal yang seperti Daren lakukan," ucap Arga."Dengar Arnie, kakakmu sudah setuju. Jadi kita tidak perlu tunangan lagi langsung menikah saja

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 103. Hampir Saja

    "Dobrak pintunya!" ucap Arga setelah yakin jika di dalam ada adiknya, suara teriakan Arnie membuat Arga dan Frans khawatir.Anak buah Arga mendobrak pintu apartemen yang terkunci itu, setelah berhasil terbuka Frans, Arga, dan Wira berlari memasuki unit tersebut.Darah Frans mendidih saat melihat Arnie diatas sofa dengan tangan dan kaki terikat, Daren sedang memaksa untuk melecehkan nya. Frans menarik Daren dengan kasar lalu memukulnya membabi buta, sementara Arga melepas ikatan di tangan dan kaki Arnie. Janda cantik itu langsung memeluk sang kakak dengan gemetar."Kurang ajar kau! Berani-beraninya melakukan ini pada Arnie, kau pantas mati ...!" teriak Frans sambil terus memukuli Daren.Daren tak bisa membalas, tubuhnya lemah sudah babak belur oleh pukulan Frans, ia tak siap untuk melawan.Melihat Frans yang hampir kehilangan kendali, Wira menahannya."Cukup, Frans. Kau bisa membunuhnya!" ucap Wira seraya menahan tubuh pengacara tampan itu."Lepas! Jangan halangi aku, dia memang panta

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 102. Pencarian

    Entah mengapa sejak pagi perasaan Frans gelisah dan tidak tenang, setelah selesai persidangan ia langsung membereskan berkas-berkas kasus lain. Niatnya malam ini akan lembur, tetapi karena ia selalu kepikiran Arnie pengacara tampan itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang."Kenapa aku ini? Apa karena siang tadi gak makan bareng dia jadi gak bisa tenang sama sekali," gumam Frans.Ia berjalan keluar kantor firma hukum, menatap gedung bertingkat di seberangnya. Perusahaan milik keluarga Natasya tempat Arnie bekerja nampak sudah sepi karena jam kerja pun sudah lewat."Sepertinya Arnie sudah pulang," gumam Frans.Ia akhirnya memutuskan untuk pulang, di jalan ia membeli kue kesukaan Arnie, ia berniat memberikannya nanti di rumah Arnie.Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Frans sampai di gerbang rumah Arnie. Security langsung membuka gerbang karena sudah mengenali Frans."Lho, pak Frans gak sama Bu Arnie," ucap security."Iya saya lembur dulu tadi, Arnie udah pulang duluan kan?" tanya Fr

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 101. Jebakan

    "Tidak ...!" teriak Daren.Lelaki itu emosi dan hendak menyerang Frans, tetapi Frans sudah lebih dulu masuk kedalam mobil dan tancap gas. Sehingga Daren tak memiliki kesempatan untuk memukul Frans.Keesokan harinya, Arnie dan Frans bekerja seperti biasa. Pagi-pagi biasanya kurir bunga yang mengirim buket ke perusahaan Arnie, tetapi pagi ini tidak ada. Arnie dan Frans mengira jika Daren sudah menyerah karena ketegasan Arnie tadi malam."Syukurlah jika memang dia sudah menyerah, aku jadi tidak khawatir lagi," ucap Frans."Aku berharap dia benar-benar pergi dan gak muncul lagi di hadapanku," ucap Arnie."Semoga saja, tapi kalau dia muncul lagi kamu gak usah takut. Aku pasti siap melindungi kamu," ucap Frans."Udah sana kerja! Nanti kesiangan, hari ini ada sidang kan!" ucap Arnie."Iya, hari ini aku ada sidang. Setelah itu sepertinya lembur membereskan berkas lain agar hari pertunangan kita nanti aku bisa sedikit santai," ucap Frans.Arnie menganggukan kepalanya, ia tahu pekerjaan Frans s

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 4. Tak Lagi Patuh

    "Kurang ajar kamu!" teriak Murni.Ia tak menyangka Arnie yang biasanya hanya diam saat dihina dan di perlakukan buruk, sekarang berani menangkis tangan Murni yang hendak menamparnya, bukan hanya itu. Bahkan Arnie menghempaskan tangan Murni dengan kuat hingga Murni terhuyung dan jatuh ke lantai."Ma

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 3. Orang Tua Tahu

    "Tidak, Ayah. Aku tidak bisa pulang ke rumah ayah dan ibu, aku harus pulang ke rumah mas Daren," ucap Arnie."Selama 2 tahun ayah selalu memperhatikan mu dari kejauhan, ayah tahu bagaimana keluarga mereka memperlakukan mu. Walaupun keluarga kita orang miskin, tidak seharusnya mereka memperlakukan k

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 2. Sendiri

    "Kenapa lama sekali sadarnya perempuan ini, aku harus pergi karena ada meeting!" ucap Daren."Sudah kamu pergi meeting saja, mama juga mau ketemu teman mama. Biarin aja dia sendiri di sini, gak usah di urus, nyusahin aja!" ucap Murni.Tanpa rasa iba, Murni dan Daren pun pergi meninggalkan ruangan t

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 1. Kenyataan Menyakitkan

    "Kenapa harus di bawa ke rumah sakit, tadinya biarkan saja dia sampai sekarat!" Arnie yang baru mendapatkan kesadarannya setelah pingsan, sayup-sayup mendengar ucapan wanita paruh baya, suaranya begitu familiar dan ternyata benar itu adalah suara Murni-ibu mertuanya.Wanita cantik itu, mengurungka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status