INICIAR SESIÓN"Kurang ajar kamu!" teriak Murni.
Ia tak menyangka Arnie yang biasanya hanya diam saat dihina dan di perlakukan buruk, sekarang berani menangkis tangan Murni yang hendak menamparnya, bukan hanya itu. Bahkan Arnie menghempaskan tangan Murni dengan kuat hingga Murni terhuyung dan jatuh ke lantai. "Mama gak apa-apa?" tanya Maya berusaha membantu Murni untuk bangun. Arnie memutar bola matanya, melihat Murni bangkit dibantu oleh Maya, ia tahu sebentar lagi wanita paruh baya itu akan kembali memaki nya. "Berani kamu lawan aku ya! Dasar perempuan sialan!" teriak Murni. "Selama ini aku diam, bersabar, dan menerima semua kelakuan buruk kalian. Namun sekarang aku tidak akan tinggal diam!" ucap Arnie. "Arnie, kamu kenapa jadi seperti ini? Mama itu mertuamu, harusnya kamu menghormatinya dan jangan membantahnya!" ucap Maya. Arnie tersenyum getir mendengar ucapan Maya. "Mertua? Hah ... Apakah selama ini dia menganggap ku sebagai menantu, hingga aku harus menghormatinya sebagai mertua?!" tanya Arnie dengan nada sinis. Murni mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan perubahan sikap Arnie yang begitu drastis. Biasanya wanita cantik itu akan sangat lembut dan berhati-hati saat bicara dengan mertuanya, tapi kali ini ia membantah dan berani menjawab ucapan Maya dengan sinis. "Arnie, kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu istrinya Daren, artinya mama ini mertuamu!" ucap Maya. "Dia hanya menganggap kamu sebagai menantunya, sedangkan aku hanya dianggap pembantu di rumah ini. Jadi jangan salahkan aku jika aku pun tak ingin menganggapnya sebagai mertua dan jangan pernah memintaku menghormati orang yang tak punya hati," ucap Arnie. Murni meradang, ia kembali melayangkan tangannya di udara, siap menampar pipi Arnie. Namun, Arnie kembali menangkap tangan Murni sebelum sampai ke pipinya, lalu kembali menghempaskan tangan itu dengan lebih kasar sehingga Murni pun kembali terhuyung dan jatuh ke lantai. "Aaah ... Dasar perempuan sialan, kurang ajar!" teriak Murni. Arnie tersenyum tipis, ia merasa lega karena kini leluasa melindungi diri sendiri. Dulu ia diam dan menerima perlakuan buruk sang mertua karena ia sangat mencintai Daren dan ingin mepertahankan rumah tangannya. Namun, kini rasa cinta itu hancur berkeping-keping saat tahu fakta tentang niat Daren menikahinya. "Ada apa ini?" tanya Daren tiba-tiba datang. Melihat Daren datang, Maya langsung menggunakan kesempatan untuk memfitnah Arnie. "Daren, untung kamu datang. Kalau tidak, entah apa lagi yang akan Arnie lakukan ke mama," ucap Maya seraya membantu Murni bangkit. Daren menatap sang mama yang terlihat kesal, berusaha bangkit dengan bantuan Maya. "Apa yang sebenarnya terjadi, Mah?" tanya Daren. "Itu Arnie. Dia mendorong mama sampai jatuh ke lantai, dia bilang mama tidak punya hati, tidak pantas di hormati," ucap Maya. Mendengar ucapan Maya, Daren pun langsung menatap Arnie dengan sinis. Plak ... Tanpa basa-basi Daren menampar pipi Arnie dengan kencang hingga meninggalkan bekas kemerahan, Arnie memegangi pipinya yang terasa panas, ia menunduk sambil tersenyum pahit. "Berani kamu berkata seperti itu pada mama ku?! Berlutut dan minta maaf!" ucap Daren dengan nada memerintah. Arnie mengangkat wajahnya, menatap Daren dalam-dalam, matanya memerah, air mata pun jatuh membasahi pipinya. "Mengapa aku sangat bodoh, sampai aku bisa begitu mencintai lelaki kejam ini? Bukankah sikapnya sudah sangat jelas, mengapa aku tak pernah menyadari ini sebelumnya?" gumam Arnie dalam hati. Melihat Arnie hanya diam dan menatapnya, Daren pun bertambah kesal. Ia menarik tubuh Arnie, lalu di tekan hingga wanita itu jatuh berlutut di hadapan Murni dan Maya. "Cepat minta maaf pada mama ku!" ucap Daren. "Kenapa aku harus meminta maaf dan berlutut seperti ini, aku hanya membela diri, aku hanya melindungi diri. Kamu hanya mendengar penjelasan sebelah pihak, harusnya kamu mendengar penjelasan ku juga, Mas!" ucap Arnie dengan suara bergetar. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir aku Sudi mendengar penjelasan dari mu?!" ucap Daren dengan nada tajam. Air mata Arnie tak lagi bisa di bendung, hatinya semakin sakit dengan ucapan dan perlakuan Daren padanya. "Aku siapa? Ya, harusnya aku sadar sejak dulu, aku tak pernah berarti apa-apa dalam hati Daren. Tidak seharusnya aku mengharap cinta dan belas kasih dari lelaki sepertinya!" gumam Arnie dalam hati. Kini hati dan pikirannya sudah sepenuhnya terbuka, ia melihat seperti apa perlakuan Daren padanya, ia sudah benar-benar putus asa dan tak ingin lagi berharap akan cintanya. Dengan sekuat tenaga Arnie menghempaskan tangan Daren yang ada di pundaknya, setelah itu dia bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan itu. "Arnie, mau kemana kamu! Cepat kembali dan minta maaf pada mama!" teriak Daren. "Aku tidak salah, aku hanya membela diri. Jadi aku tidak akan meminta maaf!" jawab Arnie dengan suara mantap. Daren terkejut, begitupun dengan Murni dan Maya. Mereka tidak percaya jika Arnie yang selama ini selalu menuruti ucapan Daren, kini berani membantahnya. "Kenapa sikapnya seperti ini? Biasanya dia menuruti apapun yang aku katakan?!" gumam Daren dalam hati. Sementara di dalam kamar. Arnie berdiri mematung, menatap kasur berukuran king size yang biasa di tempati Daren tidur. Lalu beralih menatap sofa yang ia gunakan untuk tidur, selama 2 tahun pernikahan Arnie tak pernah tidur satu ranjang dengan Daren. Lelaki itu hanya akan memperlakukannya dengan lembut dan membawa Arnie keatas ranjang, ketika ia ingin memuaskan nafsu nya. "Aku bodoh, memang aku sangat bodoh. Bisa-bisanya aku bertahan dengan pernikahan toxic seperti ini selama dua tahun. Bisa-bisanya aku mengharapkan cinta dari lelaki kejam seperti Daren," ucap Arnie dengan suara lirih. Ia duduk di sofa, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Tak ada foto pernikahan, tak ada kenangan indah tentang pernikahan mereka di kamar itu. "Aku harus mengakhiri semua ini? Tapi dari mana aku harus mulai mencari bukti kematian Dena, aku harus buktikan jika aku tidak bersalah sebelum aku pergi meninggalkan mas Daren dan rumah ini," ucap Arnie. Wanita cantik itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia teringat dengan senyuman sahabatnya. Dena begitu ceria dan periang, ia mendapat kasih sayang yang banyak dari mama dan kedua kakak laki-lakinya. Namun, tiba-tiba kejadian naas itu terjadi, Dena kehilangan nyawa, mama dan kedua kakaknya berubah menjadi orang yang sangat kejam. "Aku pikir mama Murni berubah karena tak bisa menerima kematian Dena, dia yang dulu penyayang dan menganggap ku sebagai anaknya sendiri menjadi kejam dan tidak berperasaan. Ternyata dia mengira aku penyebab kematian Dena," gumam Arnie dalam hati. Ia menarik nafas panjang, bayangan wajah Dena masih terus terngiang di ingatannya. Saat Dena meregang nyawa diatas pangkuannya, gadis cantik itu seolah ingin mengatakan sesuatu pada Arnie, tetapi ia sudah tak sanggup berkata-kata hingga akhirnya menutup mata. "Dena, apa yang sebenarnya terjadi?mengapa keluargamu menyalahkan aku atas kepergian mu? Apa yang dulu ingin kamu katakan sebelum kamu menghembuskan nafas terakhir?" gumam Arnie.Arnie berjalan ke dapur, setelah sampai dapur ia langsung mencari bahan makanan yang akan ia masak untuk sarapan suami, mertua, kakak ipar, serta keponakan suaminya itu."Makanan apa yang mereka gak sukai ya?" gumam Arnie.Selama ini Arnie selalu melayani keluarga suaminya dengan tulus, meski diperlakukan tidak baik, ia tetap sabar. Namun, kini setelah tahu suami dan mertua nya menyimpan kebencian yang tak berdasar padanya, Arnie ingin memberi sedikit balasan pada perlakuan buruk mereka."Nasi goreng pedas, biar aja mereka kepedesan atau mulas pagi-pagi karena makan masakanku!" gumam Arnie.Arnie mulai memotong bawang, cabai, dan menyiapkan bumbu serta toping untuk nasi goreng. Setelah itu ia mulai memasak, aroma lezat dari masakan Arnie mulai menyebar hingga menusuk indera penciuman orang-orang yang sudah lapar di rumah itu. Arnie selesai memasak, tetapi sebelum nasi goreng itu dihidangkan di meja makan, ia memisahkan 2 piring untuk ia dan mbok Inah sarapan. Sebab setiap hari Arnie
Arnie segera bergegas ke kamar, lalu merebahkan tubuh di sofa dan menutup dengan selimut. Ia berpura-pura tidur agar Daren tak tahu jika ia baru saja masuk ke kamar Dena.Krieek ....Suara pintu kamar terbuka dengan kencang, Daren masuk dalam keadaan mabuk, lalu ia langsung berjongkok di hadapan Arnie yang tidur di sofa."Hei Arnie, kau sungguh-sungguh mau cerai denganku? Hahaha ... Tidak mungkin, kau sudah mencintaiku sejak duduk di bangku SMA."Arnie menghela nafas, berpura-pura tak mendengar apa yang di katakan Daren. Walau sesungguhnya ia sangat ingin menjawab ucapan lelaki itu, rasa cinta yang besar pun bisa hilang jika terus di sakiti dan di permainkan.Saat Arnie mengira Daren akan berhenti mengoceh dan tidur, ia terkejut karena lelaki itu tiba-tiba mengangkat tubuh Arnie."Kau tidak akan kubiarkan lepas begitu saja! Dirimu, tubuhmu, bahkan nyawamu adalah milikku!" ucap Daren seraya melempar Arnie keatas ranjang.Arnie terkejut dan membuka mata, ia takut Daren mabuk hingga tak
"Arnie!" Suara bariton Daren membuat Arnie tersadar dari lamunannya. Lelaki tampan itu berjalan gagah mendekat kearah sang istri, lalu dengan kasar menarik tangan istrinya hingga Arnie yang sedang duduk di sofa berdiri."Punya keberanian dari mana kamu sampai berani membantahku?!" ucap Daren dengan nada tinggi."Aku manusia biasa, Mas. Aku punya rasa jenuh, muak, dan aku sudah tidak bisa diam ditindas terus oleh kamu dan mamamu!" jawab Arnie dengan suara bergetar."Diam! Kamu tak berhak melawan, kamu pantas menerima semua ini," ucap Daren."Bahkan hewan pun punya hak untuk melawan. Memangnya apa salahku sampai kamu bisa mengatakan aku pantas menerima semua ini?!" tanya Arnie dengan tatapan tajam pada Daren, tangannya terkepal menahan gejolak amarah di dadanya.Daren melepaskan cengkraman tangannya pada Arnie, kini beralih mencengkram pipi Arnie, hingga membuat kepala Arnie semakin mendongak menatap Daren yang lebih tinggi darinya."Kesalahanmu sangat besar, hingga nyawamu pun tak bis
"Kurang ajar kamu!" teriak Murni.Ia tak menyangka Arnie yang biasanya hanya diam saat dihina dan di perlakukan buruk, sekarang berani menangkis tangan Murni yang hendak menamparnya, bukan hanya itu. Bahkan Arnie menghempaskan tangan Murni dengan kuat hingga Murni terhuyung dan jatuh ke lantai."Mama gak apa-apa?" tanya Maya berusaha membantu Murni untuk bangun.Arnie memutar bola matanya, melihat Murni bangkit dibantu oleh Maya, ia tahu sebentar lagi wanita paruh baya itu akan kembali memaki nya."Berani kamu lawan aku ya! Dasar perempuan sialan!" teriak Murni."Selama ini aku diam, bersabar, dan menerima semua kelakuan buruk kalian. Namun sekarang aku tidak akan tinggal diam!" ucap Arnie."Arnie, kamu kenapa jadi seperti ini? Mama itu mertuamu, harusnya kamu menghormatinya dan jangan membantahnya!" ucap Maya.Arnie tersenyum getir mendengar ucapan Maya. "Mertua? Hah ... Apakah selama ini dia menganggap ku sebagai menantu, hingga aku harus menghormatinya sebagai mertua?!" tanya Arnie
"Tidak, Ayah. Aku tidak bisa pulang ke rumah ayah dan ibu, aku harus pulang ke rumah mas Daren," ucap Arnie."Selama 2 tahun ayah selalu memperhatikan mu dari kejauhan, ayah tahu bagaimana keluarga mereka memperlakukan mu. Walaupun keluarga kita orang miskin, tidak seharusnya mereka memperlakukan kamu seperti itu, ayah sudah tidak tahan!" ucap Supriadi.Mata Arnie berkaca-kaca, selama ini ia selalu menyembunyikan kesedihan di depan orang tuanya. Selalu menutupi kejahatan suami, mertua, dan kakak iparnya. Namun, ternyata kedua orang tuanya sudah tahu apa yang selama ini Arnie alami dalam rumah mewah itu."Apa yang di katakan ayah benar, kami sudah tidak tahan melihat kamu diperlakukan seperti itu. Bahkan saat kamu sakit pun mereka tidak peduli, lebih baik kamu pulang ke rumah ayah dan ibu!" ucap Aminah seraya menggenggam tangan Arnie.Arnie menggelengkan kepala pelan, "Jadi ayah dan ibu sudah tahu kondisi rumah tanggaku yang sesungguhnya?" "Iya, Nak. Kami sudah kehilangan satu anak, h
"Kenapa lama sekali sadarnya perempuan ini, aku harus pergi karena ada meeting!" ucap Daren."Sudah kamu pergi meeting saja, mama juga mau ketemu teman mama. Biarin aja dia sendiri di sini, gak usah di urus, nyusahin aja!" ucap Murni.Tanpa rasa iba, Murni dan Daren pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Begitu suara pintu tertutup, Arnie membuka matanya. Air mata dan rasa sesak di dada yang sejak tadi ia tahan, kini tak terbendung lagi. Arnie menangis di ruang rawat itu sendiri, seraya memegangi perutnya yang masih terasa sedikit sakit.Dua tahun berumah tangga dengan Daren, ia tak kunjung hamil karena beban pikiran dan tekanan yang ia dapatkan dari mertua. Kini setelah ia hamil, ia malah mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan baginya."Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mama dan mas Daren begitu membenci aku bahkan dendam padaku? Mengapa mereka menyebutku sebagai pembunuh Dena? Bukankah saat itu Dena meninggal karena kecelakaan?" gumam Arnie.Kepala wanita itu terasa sakit m







