Share

Bab 4. Tak Lagi Patuh

Author: Sulistiani
last update publish date: 2026-01-06 17:46:52

"Kurang ajar kamu!" teriak Murni.

Ia tak menyangka Arnie yang biasanya hanya diam saat dihina dan di perlakukan buruk, sekarang berani menangkis tangan Murni yang hendak menamparnya, bukan hanya itu. Bahkan Arnie menghempaskan tangan Murni dengan kuat hingga Murni terhuyung dan jatuh ke lantai.

"Mama gak apa-apa?" tanya Maya berusaha membantu Murni untuk bangun.

Arnie memutar bola matanya, melihat Murni bangkit dibantu oleh Maya, ia tahu sebentar lagi wanita paruh baya itu akan kembali memaki nya.

"Berani kamu lawan aku ya! Dasar perempuan sialan!" teriak Murni.

"Selama ini aku diam, bersabar, dan menerima semua kelakuan buruk kalian. Namun sekarang aku tidak akan tinggal diam!" ucap Arnie.

"Arnie, kamu kenapa jadi seperti ini? Mama itu mertuamu, harusnya kamu menghormatinya dan jangan membantahnya!" ucap Maya.

Arnie tersenyum getir mendengar ucapan Maya. "Mertua? Hah ... Apakah selama ini dia menganggap ku sebagai menantu, hingga aku harus menghormatinya sebagai mertua?!" tanya Arnie dengan nada sinis.

Murni mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan perubahan sikap Arnie yang begitu drastis. Biasanya wanita cantik itu akan sangat lembut dan berhati-hati saat bicara dengan mertuanya, tapi kali ini ia membantah dan berani menjawab ucapan Maya dengan sinis.

"Arnie, kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu istrinya Daren, artinya mama ini mertuamu!" ucap Maya.

"Dia hanya menganggap kamu sebagai menantunya, sedangkan aku hanya dianggap pembantu di rumah ini. Jadi jangan salahkan aku jika aku pun tak ingin menganggapnya sebagai mertua dan jangan pernah memintaku menghormati orang yang tak punya hati," ucap Arnie.

Murni meradang, ia kembali melayangkan tangannya di udara, siap menampar pipi Arnie. Namun, Arnie kembali menangkap tangan Murni sebelum sampai ke pipinya, lalu kembali menghempaskan tangan itu dengan lebih kasar sehingga Murni pun kembali terhuyung dan jatuh ke lantai.

"Aaah ... Dasar perempuan sialan, kurang ajar!" teriak Murni.

Arnie tersenyum tipis, ia merasa lega karena kini leluasa melindungi diri sendiri. Dulu ia diam dan menerima perlakuan buruk sang mertua karena ia sangat mencintai Daren dan ingin mepertahankan rumah tangannya. Namun, kini rasa cinta itu hancur berkeping-keping saat tahu fakta tentang niat Daren menikahinya.

"Ada apa ini?" tanya Daren tiba-tiba datang.

Melihat Daren datang, Maya langsung menggunakan kesempatan untuk memfitnah Arnie.

"Daren, untung kamu datang. Kalau tidak, entah apa lagi yang akan Arnie lakukan ke mama," ucap Maya seraya membantu Murni bangkit.

Daren menatap sang mama yang terlihat kesal, berusaha bangkit dengan bantuan Maya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Mah?" tanya Daren.

"Itu Arnie. Dia mendorong mama sampai jatuh ke lantai, dia bilang mama tidak punya hati, tidak pantas di hormati," ucap Maya.

Mendengar ucapan Maya, Daren pun langsung menatap Arnie dengan sinis.

Plak ...

Tanpa basa-basi Daren menampar pipi Arnie dengan kencang hingga meninggalkan bekas kemerahan, Arnie memegangi pipinya yang terasa panas, ia menunduk sambil tersenyum pahit.

"Berani kamu berkata seperti itu pada mama ku?! Berlutut dan minta maaf!" ucap Daren dengan nada memerintah.

Arnie mengangkat wajahnya, menatap Daren dalam-dalam, matanya memerah, air mata pun jatuh membasahi pipinya.

"Mengapa aku sangat bodoh, sampai aku bisa begitu mencintai lelaki kejam ini? Bukankah sikapnya sudah sangat jelas, mengapa aku tak pernah menyadari ini sebelumnya?" gumam Arnie dalam hati.

Melihat Arnie hanya diam dan menatapnya, Daren pun bertambah kesal. Ia menarik tubuh Arnie, lalu di tekan hingga wanita itu jatuh berlutut di hadapan Murni dan Maya.

"Cepat minta maaf pada mama ku!" ucap Daren.

"Kenapa aku harus meminta maaf dan  berlutut seperti ini, aku hanya membela diri, aku hanya melindungi diri. Kamu hanya mendengar penjelasan sebelah pihak, harusnya kamu mendengar penjelasan ku juga, Mas!" ucap Arnie dengan suara bergetar.

"Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir aku Sudi mendengar penjelasan dari mu?!" ucap Daren dengan nada tajam.

Air mata Arnie tak lagi bisa di bendung, hatinya semakin sakit dengan ucapan dan perlakuan Daren padanya.

"Aku siapa? Ya, harusnya aku sadar sejak dulu, aku tak pernah berarti apa-apa dalam hati Daren. Tidak seharusnya aku mengharap cinta dan belas kasih dari lelaki sepertinya!" gumam Arnie dalam hati.

Kini hati dan pikirannya sudah sepenuhnya terbuka, ia melihat seperti apa perlakuan Daren padanya, ia sudah benar-benar putus asa dan tak ingin lagi berharap akan cintanya.

Dengan sekuat tenaga Arnie menghempaskan tangan Daren yang ada di pundaknya, setelah itu dia bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

"Arnie, mau kemana kamu! Cepat kembali dan minta maaf pada mama!" teriak Daren.

"Aku tidak salah, aku hanya membela diri. Jadi aku tidak akan meminta maaf!" jawab Arnie dengan suara mantap.

Daren terkejut, begitupun dengan Murni dan Maya. Mereka tidak percaya jika Arnie yang selama ini selalu menuruti ucapan Daren, kini berani membantahnya.

"Kenapa sikapnya seperti ini? Biasanya dia menuruti apapun yang aku katakan?!" gumam Daren dalam hati.

Sementara di dalam kamar.

Arnie berdiri mematung, menatap kasur berukuran king size yang biasa di tempati Daren tidur. Lalu beralih menatap sofa yang ia gunakan untuk tidur, selama 2 tahun pernikahan Arnie tak pernah tidur satu ranjang dengan Daren. Lelaki itu hanya akan memperlakukannya dengan lembut dan membawa Arnie keatas ranjang, ketika ia ingin memuaskan nafsu nya.

"Aku bodoh, memang aku sangat bodoh. Bisa-bisanya aku bertahan dengan pernikahan toxic seperti ini selama dua tahun. Bisa-bisanya aku mengharapkan cinta dari lelaki kejam seperti Daren," ucap Arnie dengan suara lirih.

Ia duduk di sofa, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Tak ada foto pernikahan, tak ada kenangan indah tentang pernikahan mereka di kamar itu.

"Aku harus mengakhiri semua ini? Tapi dari mana aku harus mulai mencari bukti kematian Dena, aku harus buktikan jika aku tidak bersalah sebelum aku pergi meninggalkan mas Daren dan rumah ini," ucap Arnie.

Wanita cantik itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia teringat dengan senyuman sahabatnya. Dena begitu ceria dan periang, ia mendapat kasih sayang yang banyak dari mama dan kedua kakak laki-lakinya. Namun, tiba-tiba kejadian naas itu terjadi, Dena kehilangan nyawa, mama dan kedua kakaknya berubah menjadi orang yang sangat kejam.

"Aku pikir mama Murni berubah karena tak bisa menerima kematian Dena, dia yang dulu penyayang dan menganggap ku sebagai anaknya sendiri menjadi kejam dan tidak berperasaan. Ternyata dia mengira aku penyebab kematian Dena," gumam Arnie dalam hati.

Ia menarik nafas panjang, bayangan wajah Dena masih terus terngiang di ingatannya. Saat Dena meregang nyawa diatas pangkuannya, gadis cantik itu seolah ingin mengatakan sesuatu pada Arnie, tetapi ia sudah tak sanggup berkata-kata hingga akhirnya menutup mata.

"Dena, apa yang sebenarnya terjadi?mengapa keluargamu menyalahkan aku atas kepergian mu? Apa yang dulu ingin kamu katakan sebelum kamu menghembuskan nafas terakhir?" gumam Arnie.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 106. Selesai

    "Mah beneran Arnie nungguin aku di rumah sakit?" tanyanya lirih tanpa menoleh.Murni menahan air mata. "Iya, Arnie sudah menunggu."Daren tertawa kecil, lalu berbisik, "Aku sudah rapih, sudah wangi. Arnie pasti senang ketemu sama aku!"Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Murni turun lebih dulu, lalu membantu Daren turun.Di ruang tunggu, Daren terlihat gelisah. Kakinya tak berhenti bergerak, tangannya gemetar."Mah, kok Arnie gak ada? Dia bohong sama aku, ya?" tanyanya tiba-tiba.Murni menatap wajah kakaknya itu. "Sabar ya, nanti juga dia kesini."Tak lama, seorang psikolog wanita paruh baya memanggil nama Daren."Mas Daren, silakan masuk."Di ruang konsultasi yang tenang dan beraroma lavender, Daren duduk berhadapan dengan psikolog itu. Murni duduk di sampingnya."Saya Dokter Ratna," ucap wanita itu lembut. "Mas Daren, bisa cerita apa yang Mas rasakan?"Daren terdiam dia menatap dokter tersebut, lalu wajah dokter itu beruba

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 105. Gila

    "Sudahlah, Daren. Lupakan dan ikhlaskan saja, mungkin kamu dan Arnie memang tidak berjodoh," ucap Murni mencoba untuk menenangkan anaknya.Daren menggelengkan kepalanya, tatapannya kosong, air mata menetes di pipinya. Ia masih tak mau menerima kenyataan jika Arnie sudah menjadi istri dari lelaki lain, ia tak mau menerima ucapan sang mama jika ia dan Arnie memang tidak berjodoh."Mama tahu kan, Arnie sudah lama cinta sama aku, dia pasti akan kembali sama aku. Sekarang dia cuma lagi marah, nanti kalau dia gak marah lagi dia akan tinggalin lelaki itu dan kembali padaku," ucap Daren sambil tersenyum dan mengusap air matanya.Senyum dan tatapan mata Daren membuat Murni khawatir, ia menggenggam tangan Daren dan berusaha menguatkan serta menyadarkan nya."Daren, jangan buat mama takut. Masa depan masih panjang, jika Arnie tidak bisa jadi istrimu, dia pasti masih mau jadi temanmu," ucap Murni."Mama, Arnie adalah istri ku bukan temanku," ucap Daren sambil tertawa.Ia merebahkan tubuhnya diata

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 104. Sah

    "Saya terima nikah dan kawinnya Arnie Ghasani binti Supriyadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Frans dengan sekali tarikan nafas."Bagaimana para saksi?" tanya penghulu."Sah.""Sah.""Sah.""Sah."Arnie meneteskan air matanya lalu mencium tangan Frans, ia tak pernah menyangka jika hari yang pertunangan yang sudah disiapkan, akan menjadi hari pernikahannya dengan pengacara tampan yang lebih dulu mencintainya. Sementara Frans mencium kening Arnie dan menghela nafas lega, ia merasa senang karena tidak harus menunggu selama setahun untuk menjadikan Arnie istrinya.Beberapa hari yang lalu. "Pertunangannya dibatalkan kita langsung menikah saja, mau ya!" ucap Frans."Kalau begitu aku setuju, lebih baik Arnie dan Frans langsung menikah saja. Daren memang sudah diamankan, tapi aku takut ada lelaki lain yang menginginkan Arnie dan melakukan hal yang seperti Daren lakukan," ucap Arga."Dengar Arnie, kakakmu sudah setuju. Jadi kita tidak perlu tunangan lagi langsung menikah saja

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 103. Hampir Saja

    "Dobrak pintunya!" ucap Arga setelah yakin jika di dalam ada adiknya, suara teriakan Arnie membuat Arga dan Frans khawatir.Anak buah Arga mendobrak pintu apartemen yang terkunci itu, setelah berhasil terbuka Frans, Arga, dan Wira berlari memasuki unit tersebut.Darah Frans mendidih saat melihat Arnie diatas sofa dengan tangan dan kaki terikat, Daren sedang memaksa untuk melecehkan nya. Frans menarik Daren dengan kasar lalu memukulnya membabi buta, sementara Arga melepas ikatan di tangan dan kaki Arnie. Janda cantik itu langsung memeluk sang kakak dengan gemetar."Kurang ajar kau! Berani-beraninya melakukan ini pada Arnie, kau pantas mati ...!" teriak Frans sambil terus memukuli Daren.Daren tak bisa membalas, tubuhnya lemah sudah babak belur oleh pukulan Frans, ia tak siap untuk melawan.Melihat Frans yang hampir kehilangan kendali, Wira menahannya."Cukup, Frans. Kau bisa membunuhnya!" ucap Wira seraya menahan tubuh pengacara tampan itu."Lepas! Jangan halangi aku, dia memang panta

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 102. Pencarian

    Entah mengapa sejak pagi perasaan Frans gelisah dan tidak tenang, setelah selesai persidangan ia langsung membereskan berkas-berkas kasus lain. Niatnya malam ini akan lembur, tetapi karena ia selalu kepikiran Arnie pengacara tampan itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang."Kenapa aku ini? Apa karena siang tadi gak makan bareng dia jadi gak bisa tenang sama sekali," gumam Frans.Ia berjalan keluar kantor firma hukum, menatap gedung bertingkat di seberangnya. Perusahaan milik keluarga Natasya tempat Arnie bekerja nampak sudah sepi karena jam kerja pun sudah lewat."Sepertinya Arnie sudah pulang," gumam Frans.Ia akhirnya memutuskan untuk pulang, di jalan ia membeli kue kesukaan Arnie, ia berniat memberikannya nanti di rumah Arnie.Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Frans sampai di gerbang rumah Arnie. Security langsung membuka gerbang karena sudah mengenali Frans."Lho, pak Frans gak sama Bu Arnie," ucap security."Iya saya lembur dulu tadi, Arnie udah pulang duluan kan?" tanya Fr

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 101. Jebakan

    "Tidak ...!" teriak Daren.Lelaki itu emosi dan hendak menyerang Frans, tetapi Frans sudah lebih dulu masuk kedalam mobil dan tancap gas. Sehingga Daren tak memiliki kesempatan untuk memukul Frans.Keesokan harinya, Arnie dan Frans bekerja seperti biasa. Pagi-pagi biasanya kurir bunga yang mengirim buket ke perusahaan Arnie, tetapi pagi ini tidak ada. Arnie dan Frans mengira jika Daren sudah menyerah karena ketegasan Arnie tadi malam."Syukurlah jika memang dia sudah menyerah, aku jadi tidak khawatir lagi," ucap Frans."Aku berharap dia benar-benar pergi dan gak muncul lagi di hadapanku," ucap Arnie."Semoga saja, tapi kalau dia muncul lagi kamu gak usah takut. Aku pasti siap melindungi kamu," ucap Frans."Udah sana kerja! Nanti kesiangan, hari ini ada sidang kan!" ucap Arnie."Iya, hari ini aku ada sidang. Setelah itu sepertinya lembur membereskan berkas lain agar hari pertunangan kita nanti aku bisa sedikit santai," ucap Frans.Arnie menganggukan kepalanya, ia tahu pekerjaan Frans s

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 2. Sendiri

    "Kenapa lama sekali sadarnya perempuan ini, aku harus pergi karena ada meeting!" ucap Daren."Sudah kamu pergi meeting saja, mama juga mau ketemu teman mama. Biarin aja dia sendiri di sini, gak usah di urus, nyusahin aja!" ucap Murni.Tanpa rasa iba, Murni dan Daren pun pergi meninggalkan ruangan t

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 1. Kenyataan Menyakitkan

    "Kenapa harus di bawa ke rumah sakit, tadinya biarkan saja dia sampai sekarat!" Arnie yang baru mendapatkan kesadarannya setelah pingsan, sayup-sayup mendengar ucapan wanita paruh baya, suaranya begitu familiar dan ternyata benar itu adalah suara Murni-ibu mertuanya.Wanita cantik itu, mengurungka

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 75. Tak ingin Pergi

    Daren berdiri menatap punggung Arnie dan Wira yang semakin jauh meninggalkan nya. Ia meremas dadanya merasakan sesak yang tak bisa di jelaskan, sahabat dan wanita yang dulu mencintainya kini membenci bahkan tak ingin melihatnya lagi. Ponsel di tangannya bergetar, satu nama muncul di layar membuat d

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 67. Bertemu

    "Pak Daren, langsung ke hotel?" tanya sopir membuyarkan lamunan Daren.Daren mengangguk pelan. "Iya."Di kamar hotel mewah itu, Daren berdiri di depan jendela, menatap laut yang berkilau diterpa cahaya senja. Ponselnya ada di genggaman, layar gelap, tanpa satu pun notifikasi dari nama yang ingin ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status