แชร์

Bab 6. Dipeluk Erat

ผู้เขียน: Sulistiani
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-20 20:26:56

Arnie segera bergegas ke kamar, lalu merebahkan tubuh di sofa dan menutup dengan selimut. Ia berpura-pura tidur agar Daren tak tahu jika ia baru saja masuk ke kamar Dena.

Krieek ....

Suara pintu kamar terbuka dengan kencang, Daren masuk dalam keadaan mabuk, lalu ia langsung berjongkok di hadapan Arnie yang tidur di sofa.

"Hei Arnie, kau sungguh-sungguh mau cerai denganku? Hahaha ... Tidak mungkin, kau sudah mencintaiku sejak duduk di bangku SMA."

Arnie menghela nafas, berpura-pura tak mendengar apa yang di katakan Daren. Walau sesungguhnya ia sangat ingin menjawab ucapan lelaki itu, rasa cinta yang besar pun bisa hilang jika terus di sakiti dan di permainkan.

Saat Arnie mengira Daren akan berhenti mengoceh dan tidur, ia terkejut karena lelaki itu tiba-tiba mengangkat tubuh Arnie.

"Kau tidak akan kubiarkan lepas begitu saja! Dirimu, tubuhmu, bahkan nyawamu adalah milikku!" ucap Daren seraya melempar Arnie keatas ranjang.

Arnie terkejut dan membuka mata, ia takut Daren mabuk hingga tak sadar melukai nya. Namun, belum sempat bereaksi, Daren membungkus tubuh Arnie dengan selimut hingga Arnie tidak bisa bergerak.

"Apa yang kamu lakukan, Mas? Lepaskan aku!" teriak Arnie ketakutan.

"Hehehe ... Kau bangun? Tenang saja aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya memastikan kau tidak bisa kemana-mana," ucap Daren.

Lelaki itu membuka baju dan celananya, hingga menyisakan boxer yang ia gunakan. Lalu tidur diatas ranjang dan memeluk Arnie yang sudah terbungkus selimut, seakan-akan ia sedang memeluk guling besar.

"Ya ampun, Mas. Lepasin aku, ini gak nyaman aku gak bisa gerak!" ucap Arnie.

"Diam, malam ini kamu jadi guling. Kamu gak bisa kemana-mana," ucap Daren sambil tersenyum.

Keesokan paginya.

"Mama aku laper, mana sarapan aku?" rengek Clarisa.

"Mama juga laper, Sayang. Biasanya Arnie udah buat sarapan untuk kita, kenapa hari ini masih belum ada?" ucap Maya.

"Astaga, kemana Arnie? Kenapa sampai jam segini belum ada makanan di meja makan?!" gerutu Murni.

Murni berjalan cepat ke dapur, ia pikir menantunya itu sedang masak atau membereskan dapur seperti biasa. Namun, di dapur ia hanya melihat mbok Inah yang sedang mencuci piring.

"Kemana Arnie, Mbok? Kenapa sampai jam segini dia belum bikin sarapan?" tanya Murni dengan nada kesal.

"Saya tidak tahu, Nyonya. Dari pagi saya belum lihat non Arnie," jawab Mbok Inah jujur.

"Jangan-jangan masih tidur! Keterlaluan perempuan itu, gak tahu apa aku dan cucuku sudah lapar!"

Murni berjalan cepat, menaiki tangga menuju kamar Daren. Setelah sampai pintu kamar ia mengetuknya dengan keras dan memanggil-manggil nama Arnie.

"Arnie, bangun kamu! Jangan males, lihat sudah jam berapa ini?! Cepat bangun dan masak sarapan, aku dan cucuku sudah lapar!" teriak Murni.

Di dalam kamar Arnie tertawa kecil mendengar teriakan sang mertua, ia sudah bangun sejak tadi, tetapi tubuhnya masih di kuasai Daren sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa. Arnie memanfaatkan hal itu untuk istirahat lebih lama, biasanya setelah subuh ia sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk Daren dan keluarganya, menyiapkan baju kerja Daren, mencuci, dan merapihkan semuanya. Namun, setelah ini ia tidak mau melakukan itu semua lagi.

"Arnie, kamu tidur atau mati sih! Cepat bangun, aku tidak bisa menunggu lebih lama. Jika kamu masih pura-pura tidur, jangan salahkan aku akan kasar padamu!" teriak Murni sambil menggedor-gedor pintu kamar.

Arnie tetap tenang dan tersenyum, sementara Daren terusik dengan keributan itu ia membuka mata dan terkejut melihat Arnie ada di hadapannya, terbungkus selimut, bahkan sedang ia peluk erat.

"Sudah bangun, sudah sadar?! Cepetan lepasin aku!" ucap Arnie.

"Kenapa kamu bisa tidur di ranjangku?" tanya Daren ketus, ia bangkit dan menjauh dari Arnie.

Arnie memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Daren, ia tahu lelaki itu pasti ingin menuduhnya macam-macam.

"Kamu lihat baik-baik, tubuhku terbungkus selimut sampai gak bisa gerak. Kamu pikir pakai logika, apa aku bisa jalan dan naik sendiri ke ranjangmu dalam keadaan seperti ini?!" ucap Arnie ketus.

"Kamu–"

Belum sempat Daren bicara, Arnie sudah berani memotong ucapannya. "Aku apa? Kamu pulang dalam keadaan mabuk tadi malam, terus tiba-tiba membungkus aku, melempar aku dengan kasar keatas tempat tidur, lalu menganggap aku sebagai guling, sampai aku gak bisa gerak sepanjang malam. Masih mau salahin aku juga?!" ucap Arnie dengan nada kesal.

Daren ternganga hingga membuka mulutnya seperti hurup o, selama pernikahan mereka baru kali ini ia mendengar Arnie berbicara dengan nada ketus padanya. Biasanya Arnie selalu lemah lembut, sedikit saja Daren marah, ia akan minta maaf meski tak ada kesalahan yang ia lakukan.

"Arnie ... Kamu pura-pura budek ya! Cepetan bangun!" teriak Murni dari luar kamar membuat Daren mengguyar rambutnya dengan kasar.

"Mama akan semakin berisik kalau kamu gak lepasin aku," urap Arnie.

Daren menghela nafas, lalu membantu Arnie terbebas dari selimut yang membungkus nya. Setelah itu Arnie turun dari ranjang, melewati Daren begitu saja.

Saat membuka pintu kamar, ia langsung di sambut oleh wajah Murni yang sudah memendam amarahnya.

"Dasar perempuan malas! Lihat jam berapa ini? Kenapa baru bangun?!" ucap Murni.

"Jangan salahkan aku atas insiden hari ini. Aku sudah bangun sejak pagi seperti biasa, tapi dari tadi malam mas Daren tidur sambil meluk aku begitu kuat. Jadi aku gak bisa bergerak, apalagi bangun untuk menyiapkan sarapan," jawab Arnie dengan santai.

"Daren peluk kamu? Mana mungkin, jangan ngarang kamu!" ucap Maya yang juga ada di samping Murni.

"Kenapa gak mungkin, dia kan suami aku, kita tidur satu kamar. Apa saja bisa kami lakukan dan bisa terjadi di dalam kamar," ucap Arnie.

"Kalian memang suami istri, tapi Daren gak pernah cinta sama kamu," ucap Maya dengan wajah memerah menahan kesal.

Arnie tersenyum tipis, melihat ekspresi Maya seperti itu ia yakin jika kakak iparnya itu menyimpan rasa pada Daren, selama ini ia selalu mencari perhatian Daren, berpura-pura lemah di hadapan Daren, sehingga Daren selalu membela Maya jika ada keributan antara Maya dan Arnie.

"Kamu dukun? Kok sok tahu isi hati mas  Daren. Biarpun dia bilang ke semua orang kalau dia gak cinta sama aku, tapi siapa yang tahu isi hati dia yang sebenarnya! Yang jelas tadi malam dia memang peluk aku sampai aku gak bisa gerak sama sekali," ucap Arnie.

Maya mengepalkan tangannya, sementara Arnie hanya tersenyum tipis, merasa puas mengatakan itu dan melihat ekspresi Maya. Sementara Murni menatap Daren dengan tajam, hal itu membuat Daren melangkah pelan kearah sang mama.

"Mah, aku bisa jelasin!" ucap Daren.

"Mama gak mau dengar apa-apa, terserah kalian tadi malam mau ngapain. Sekarang yang penting Arnie masak untuk sarapan, Mama dan Clarisa sudah lapar!" ucap Murni.

"Arnie, cepat buatkan sarapan untuk mama!" ucap Daren.

Tanpa banyak bicara Arnie berjalan meninggalkan mereka, ia tersenyum karena tiba-tiba memiliki ide untuk mengerjai mereka.

"Aku akan buatkan sarapan spesial untuk kalian hari ini," gumam Arnie dalam hati.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 106. Selesai

    "Mah beneran Arnie nungguin aku di rumah sakit?" tanyanya lirih tanpa menoleh.Murni menahan air mata. "Iya, Arnie sudah menunggu."Daren tertawa kecil, lalu berbisik, "Aku sudah rapih, sudah wangi. Arnie pasti senang ketemu sama aku!"Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Murni turun lebih dulu, lalu membantu Daren turun.Di ruang tunggu, Daren terlihat gelisah. Kakinya tak berhenti bergerak, tangannya gemetar."Mah, kok Arnie gak ada? Dia bohong sama aku, ya?" tanyanya tiba-tiba.Murni menatap wajah kakaknya itu. "Sabar ya, nanti juga dia kesini."Tak lama, seorang psikolog wanita paruh baya memanggil nama Daren."Mas Daren, silakan masuk."Di ruang konsultasi yang tenang dan beraroma lavender, Daren duduk berhadapan dengan psikolog itu. Murni duduk di sampingnya."Saya Dokter Ratna," ucap wanita itu lembut. "Mas Daren, bisa cerita apa yang Mas rasakan?"Daren terdiam dia menatap dokter tersebut, lalu wajah dokter itu beruba

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 105. Gila

    "Sudahlah, Daren. Lupakan dan ikhlaskan saja, mungkin kamu dan Arnie memang tidak berjodoh," ucap Murni mencoba untuk menenangkan anaknya.Daren menggelengkan kepalanya, tatapannya kosong, air mata menetes di pipinya. Ia masih tak mau menerima kenyataan jika Arnie sudah menjadi istri dari lelaki lain, ia tak mau menerima ucapan sang mama jika ia dan Arnie memang tidak berjodoh."Mama tahu kan, Arnie sudah lama cinta sama aku, dia pasti akan kembali sama aku. Sekarang dia cuma lagi marah, nanti kalau dia gak marah lagi dia akan tinggalin lelaki itu dan kembali padaku," ucap Daren sambil tersenyum dan mengusap air matanya.Senyum dan tatapan mata Daren membuat Murni khawatir, ia menggenggam tangan Daren dan berusaha menguatkan serta menyadarkan nya."Daren, jangan buat mama takut. Masa depan masih panjang, jika Arnie tidak bisa jadi istrimu, dia pasti masih mau jadi temanmu," ucap Murni."Mama, Arnie adalah istri ku bukan temanku," ucap Daren sambil tertawa.Ia merebahkan tubuhnya diata

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 104. Sah

    "Saya terima nikah dan kawinnya Arnie Ghasani binti Supriyadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Frans dengan sekali tarikan nafas."Bagaimana para saksi?" tanya penghulu."Sah.""Sah.""Sah.""Sah."Arnie meneteskan air matanya lalu mencium tangan Frans, ia tak pernah menyangka jika hari yang pertunangan yang sudah disiapkan, akan menjadi hari pernikahannya dengan pengacara tampan yang lebih dulu mencintainya. Sementara Frans mencium kening Arnie dan menghela nafas lega, ia merasa senang karena tidak harus menunggu selama setahun untuk menjadikan Arnie istrinya.Beberapa hari yang lalu. "Pertunangannya dibatalkan kita langsung menikah saja, mau ya!" ucap Frans."Kalau begitu aku setuju, lebih baik Arnie dan Frans langsung menikah saja. Daren memang sudah diamankan, tapi aku takut ada lelaki lain yang menginginkan Arnie dan melakukan hal yang seperti Daren lakukan," ucap Arga."Dengar Arnie, kakakmu sudah setuju. Jadi kita tidak perlu tunangan lagi langsung menikah saja

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 103. Hampir Saja

    "Dobrak pintunya!" ucap Arga setelah yakin jika di dalam ada adiknya, suara teriakan Arnie membuat Arga dan Frans khawatir.Anak buah Arga mendobrak pintu apartemen yang terkunci itu, setelah berhasil terbuka Frans, Arga, dan Wira berlari memasuki unit tersebut.Darah Frans mendidih saat melihat Arnie diatas sofa dengan tangan dan kaki terikat, Daren sedang memaksa untuk melecehkan nya. Frans menarik Daren dengan kasar lalu memukulnya membabi buta, sementara Arga melepas ikatan di tangan dan kaki Arnie. Janda cantik itu langsung memeluk sang kakak dengan gemetar."Kurang ajar kau! Berani-beraninya melakukan ini pada Arnie, kau pantas mati ...!" teriak Frans sambil terus memukuli Daren.Daren tak bisa membalas, tubuhnya lemah sudah babak belur oleh pukulan Frans, ia tak siap untuk melawan.Melihat Frans yang hampir kehilangan kendali, Wira menahannya."Cukup, Frans. Kau bisa membunuhnya!" ucap Wira seraya menahan tubuh pengacara tampan itu."Lepas! Jangan halangi aku, dia memang panta

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 102. Pencarian

    Entah mengapa sejak pagi perasaan Frans gelisah dan tidak tenang, setelah selesai persidangan ia langsung membereskan berkas-berkas kasus lain. Niatnya malam ini akan lembur, tetapi karena ia selalu kepikiran Arnie pengacara tampan itu pun akhirnya memutuskan untuk pulang."Kenapa aku ini? Apa karena siang tadi gak makan bareng dia jadi gak bisa tenang sama sekali," gumam Frans.Ia berjalan keluar kantor firma hukum, menatap gedung bertingkat di seberangnya. Perusahaan milik keluarga Natasya tempat Arnie bekerja nampak sudah sepi karena jam kerja pun sudah lewat."Sepertinya Arnie sudah pulang," gumam Frans.Ia akhirnya memutuskan untuk pulang, di jalan ia membeli kue kesukaan Arnie, ia berniat memberikannya nanti di rumah Arnie.Setelah berkendara cukup lama, akhirnya Frans sampai di gerbang rumah Arnie. Security langsung membuka gerbang karena sudah mengenali Frans."Lho, pak Frans gak sama Bu Arnie," ucap security."Iya saya lembur dulu tadi, Arnie udah pulang duluan kan?" tanya Fr

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 101. Jebakan

    "Tidak ...!" teriak Daren.Lelaki itu emosi dan hendak menyerang Frans, tetapi Frans sudah lebih dulu masuk kedalam mobil dan tancap gas. Sehingga Daren tak memiliki kesempatan untuk memukul Frans.Keesokan harinya, Arnie dan Frans bekerja seperti biasa. Pagi-pagi biasanya kurir bunga yang mengirim buket ke perusahaan Arnie, tetapi pagi ini tidak ada. Arnie dan Frans mengira jika Daren sudah menyerah karena ketegasan Arnie tadi malam."Syukurlah jika memang dia sudah menyerah, aku jadi tidak khawatir lagi," ucap Frans."Aku berharap dia benar-benar pergi dan gak muncul lagi di hadapanku," ucap Arnie."Semoga saja, tapi kalau dia muncul lagi kamu gak usah takut. Aku pasti siap melindungi kamu," ucap Frans."Udah sana kerja! Nanti kesiangan, hari ini ada sidang kan!" ucap Arnie."Iya, hari ini aku ada sidang. Setelah itu sepertinya lembur membereskan berkas lain agar hari pertunangan kita nanti aku bisa sedikit santai," ucap Frans.Arnie menganggukan kepalanya, ia tahu pekerjaan Frans s

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 75. Tak ingin Pergi

    Daren berdiri menatap punggung Arnie dan Wira yang semakin jauh meninggalkan nya. Ia meremas dadanya merasakan sesak yang tak bisa di jelaskan, sahabat dan wanita yang dulu mencintainya kini membenci bahkan tak ingin melihatnya lagi. Ponsel di tangannya bergetar, satu nama muncul di layar membuat d

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 63. Penyelamatan

    Tubuh Wira terlipat paksa di dalam sebuah karung goni. Napasnya tersengal, dadanya terasa seperti diremas dari dalam. Setiap inci tubuhnya nyeri. Tulang rusuknya berdenyut, kepalanya pusing, dan darah masih hangat mengalir dari sudut bibirnya.Pukulan itu terlalu banyak."Ugh… ngh…" Wira meronta, b

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 61. Masa Lalu

    Daren dibawa tergesa ke IGD. Tubuh lelaki itu lemas, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis. Dokter dan perawat bergerak cepat, memasang infus, memeriksa tekanan darah, lalu saling bertukar pandang dengan raut serius."Pasien mengalami iritasi lambung berat. Konsumsi alkoholnya berlebiha

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 7. Langkah Awal

    Arnie berjalan ke dapur, setelah sampai dapur ia langsung mencari bahan makanan yang akan ia masak untuk sarapan suami, mertua, kakak ipar, serta keponakan suaminya itu."Makanan apa yang mereka gak sukai ya?" gumam Arnie.Selama ini Arnie selalu melayani keluarga suaminya dengan tulus, meski diper

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status