Share

Dendam Kaisar Surgawi
Dendam Kaisar Surgawi
Penulis: M. Sevian F

Regresi

Penulis: M. Sevian F
last update Tanggal publikasi: 2024-11-14 16:27:13

Suara gemerisik dedaunan dan hembusan angin yang dingin menusuk terasa aneh di kulitku. Rasanya… entah, asing. Seperti perasaan kedinginan yang sudah lama hilang. Perlahan, aku membuka mata, mencoba memahami situasi aneh ini. Di atas sana, awan-awan kelabu menggantung rendah, menyelubungi langit.

Aku butuh beberapa detik untuk sadar kalau aku tidak lagi berada di Istana Surgawi yang penuh cahaya dan kemegahan. Tidak ada kemilau emas, tidak ada aroma dupa yang semerbak, dan… tunggu, ini… tubuhku?

Seketika aku tersadar, mataku terbelalak melihat kedua tanganku. Ini… tangan siapa? Tubuhku… terasa begitu lemah, kurus, dan—oh, astaga. Aku ini apa? Anak remaja? Aku mendesah, mencoba menenangkan pikiranku yang berantakan. Tapi sulit untuk percaya bahwa aku, Kaisar Tian Yun, penguasa langit yang ditakuti, kini terperangkap dalam tubuh seorang remaja kurus yang bahkan tidak bisa berdiri tegak tanpa gemetaran.

Kilatan ingatan itu mendadak datang, menghantamku seperti ombak besar. Pengkhianatan Lian Xue, istri yang dulu kupikir akan mendampingiku selamanya. Senyum lembutnya, matanya yang selalu tampak jernih—semua itu, ternyata cuma topeng. Saat itu, dia berdiri di samping Kaisar Iblis, Mo Tian, dengan tatapan sinis yang menghancurkan hatiku. Merekalah yang membunuhku, mereka yang membuatku jatuh dari tahta dan kehormatanku. Sakit hati itu terasa nyata kembali, meski kini tubuhku berbeda.

“Ah, sial…” gumamku pelan, mencengkeram tanah becek di bawahku. Kukuku yang kotor menggali tanah seakan itu bisa menghilangkan sedikit rasa dendam yang menyesak. Rasanya seperti menusuk tulang. Kebencian itu, bercampur dengan rasa tak percaya, dan… entahlah, sulit dijelaskan. Bahkan, aku sendiri masih bingung kenapa aku di sini. Bukannya seharusnya aku sudah mati?

“Apa aku… reinkarnasi?” gumamku lagi, setengah tidak percaya.

Sebelum aku sempat merenung lebih jauh, terdengar suara langkah kaki mendekat. Dengan refleks yang terlatih—meskipun tubuh ini lemah—aku mencoba bangkit. Hanya saja, tubuh ini terlalu lemah, dan aku terhuyung, hampir jatuh. Tapi dari arah langkah kaki itu, muncul seorang pria tua berambut putih, membawa keranjang kayu di punggungnya.

“Hei, Lin Feng! Kamu sudah bangun?” tanya pria tua itu, wajahnya menyiratkan kelegaan. Dari caranya bicara, jelas dia mengenalku—eh, maksudnya, mengenal bocah bernama Lin Feng yang tubuhnya sedang aku tempati ini.

Aku cuma mengangguk pelan, berusaha tidak terlihat bingung. Ah, jadi nama bocah ini Lin Feng, ya? Nama itu seperti samar-samar terukir dalam ingatanku yang baru. Perlahan, informasi-informasi mulai muncul di pikiranku, seolah tubuh ini masih menyimpan potongan-potongan kenangan dari Lin Feng yang asli. Tapi tidak semuanya jelas, hanya bayangan yang mengabur.

“Hei, kamu tidak usah memaksakan diri kalau masih lemah. Kau tahu kan, tubuhmu baru saja nyaris mati? Kalau bukan aku yang menemukanmu, kau mungkin sudah jadi bangkai sekarang,” lanjut pria tua itu sambil tertawa kecil. Tapi matanya—ada sesuatu yang terlacak di sana. Entah itu rasa iba atau mungkin prihatin.

Aku mencoba tersenyum tipis, meski sedikit canggung. “Aku… terima kasih, Paman,” ucapku, mencoba terdengar alami. Padahal, kata-kata itu terasa asing di lidahku. Kapan terakhir kali aku berterima kasih pada seseorang? Ah, sudah lama sekali.

Pria tua itu—sepertinya dia dipanggil Guru Bai oleh ingatan samar Lin Feng—memandangiku dengan sorot khawatir. "Lin Feng, kau sudah ingat siapa yang menyerangmu? Kau pasti masih syok, ya? Itu… saudaramu sendiri, Lin Jian. Sungguh mengerikan, tidak tahu malu!"

Saat mendengar nama itu, kepalaku terasa sedikit berdenyut, dan ingatan-ingatan Lin Feng kembali membanjiri. Lin Jian… ya, saudara kandungnya. Oh, maksudku, saudara kandung bocah ini. Sial, rumit sekali rasanya mengingat bahwa aku kini bukan lagi aku yang dulu. Tapi sepertinya, hidup Lin Feng sebelum aku mengambil alih tubuhnya juga tidak mudah.

Lin Jian. Ah, bocah itu rupanya dibunuh oleh darah dagingnya sendiri. Memang dunia ini benar-benar penuh pengkhianatan, ya? Ada sedikit rasa simpati pada Lin Feng yang asli. Aku memahami perasaan dikhianati oleh orang yang paling dipercayai.

“Lin Jian… aku… aku ingat sedikit.” Aku menggumam, mengangguk pelan. Seolah ikut merasakan sakit hati Lin Feng.

Guru Bai mendesah, wajahnya tampak sedih. “Keluarga Lin semakin rusak. Anak-anak berseteru hanya demi kekuasaan dan harta. Kau beruntung masih hidup, Lin Feng. Tapi lihat dirimu sekarang, seperti ini... Kamu masih punya tekad untuk melanjutkan hidup?”

Aku memandang wajah pria tua itu. Jujur saja, aku ingin menjawab dengan ketegasan seorang Kaisar, “Ya, tentu aku akan bangkit. Dan aku akan menuntut balas pada semua pengkhianat itu!” Tapi, apa gunanya bicara begitu di depan pria sederhana yang tidak tahu siapa aku sebenarnya?

“Aku… akan mencoba, Guru Bai,” jawabku lirih. Kelemahan dalam suara Lin Feng yang asli terasa nyata, membuatku ikut terbawa. Aku bisa merasakan ketidakberdayaan bocah ini, meski kini aku yang mengendalikannya.

Guru Bai menepuk pundakku, dan aku bisa merasakan sorot iba dari matanya. “Bagus. Kau masih muda, masih banyak waktu untuk memperbaiki semuanya. Pelan-pelan saja, tidak perlu buru-buru. Meski kau mungkin belum tahu arah hidupmu saat ini, tapi yakinlah, Tuhan tidak akan membiarkan yang bersalah lolos begitu saja.”

Ah, kata-kata itu. Terlalu naif. Kalau saja dia tahu betapa kejamnya dunia ini… tapi aku tidak menanggapi, hanya mengangguk pelan.

Di dalam hati, aku mengumpulkan tekad. Tubuh ini mungkin lemah sekarang, tapi aku pernah berada di puncak kekuatan. Aku tahu cara menjadi kuat. Yang aku butuhkan hanya waktu, dan ya, mungkin sedikit keberuntungan juga. Dendamku pada Permaisuri Lian Xue dan Kaisar Iblis belum padam. Sebaliknya, kini justru semakin membara.

Saat Guru Bai meninggalkan tempat itu, aku duduk bersandar di pohon, mencoba menenangkan pikiran. Aku tahu, ini hanya langkah pertama. Langkah kecil menuju rencana besar yang akan kubangun. Aku harus merangkak dari bawah lagi, tapi—hei, bukan berarti itu tidak mungkin.

Aku menutup mataku, mencoba memusatkan energi dalam tubuh ini. Walaupun energi Qi-nya sangat lemah, aku bisa merasakan ada potensi yang tersembunyi. Ya, meski tubuh ini jauh berbeda dari tubuh surgawiku, aku akan menempa ulang semuanya. Mulai dari dasar, pembentukan fondasi.

“Aku akan kembali,” bisikku pada angin yang bertiup. Sederhana, tapi ada keteguhan dalam hatiku. Tak peduli seberapa rendah aku harus memulai, aku akan menjadi kuat lagi.

Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengkhianatiku. Tidak lagi.

M. Sevian F

maaf habis hiatus

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
M. Sevian F
siap kak terima kasih sarannya oke kak kak kak kak
goodnovel comment avatar
Mas Lhiem
sekedar saran atau koreksi, didalam cerita ini diawal saya menjumpai penyebutan sosok utama '' kaisar Tian Yun / Lin Feng " dg menggunakan kata " aku" rasanya kurang pas, masak yg diceritakan menyebut dirinya sendiri.. gunakanlh kata, ia/ dia itu Lbih enak didengar dan pas
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 20

    Uap dingin merayap perlahan dari sela-sela bebatuan di puncaknya Gunung Langit Putih, tempat rombongan terdepan aliansi kami berhenti untuk mendirikan kemah darurat. Di bawah sana, hamparan awan putih membentang bagaikan lautan kapas yang membeku, menyembunyikan pemandangan Dataran Tengah yang telah hancur oleh perang. Jauh di atas kepala kami, puncak Istana Surgawi sudah mulai terlihat samar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang kini terasa makin asing dan menindas.Di dalam tenda utama, aku bersila di atas tikar kain tebal dengan tubuh Su Chen yang terbaring lemah di hadapanku. Napasnya masih sangat tipis, dan lingkaran hitam di bawah matanya makin memperjelas betapa kejamnya racun Pemakan Jiwa Kuno yang terus menggerogoti daya hidupnya. Kakek Lu dan Kaelan berdiri berjaga di dekat pintu tenda, tak berani mengeluarkan suara agar tidak mengganggu pemusatan energiku."Lin Feng..." bisik Kakek Lu ragu, matanya menatap cemas ke arah wajah Su Chen. "Energi Api Teratai Putih milikmu su

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 19

    Lantai pualam aula utama Benteng Langit Hitam hancur menjadi debu halus di bawah tekan aura yang meruap dari tubuhku. Gelombang panas berwarna merah darah bergulung kencang, menyapu habis racun dan asap hitam di udara hingga tak bersisa. Di belakangku, Kakek Lu dengan sigap mendekap tubuh Su Chen yang tak berdaya, melindunginya dari gejolak energi yang membakar sekeliling.Aku melangkah maju pelan, tapi setiap pijakan kakiku meninggalkan retakan mendalam yang memancarkan pendar lahar keemasan. Pandanganku terkunci rapat pada Guixu.Jenderal Guixu, yang tadinya bertingkah jumawa di atas pilar batu, kini merasakan bulu kuduknya berdiri tegak. Sensasi dingin yang merayap dari tulang belakangnya membuat napasnya tertahan. Ini bukan cuma aura seorang kultivator kuat, ini adalah niat membunuh murni dari sosok yang pernah bertakhta di puncak tertinggi alam semesta."Jangan cuma diam! Bantai dia! Meledakkan diri kalian sekarang juga!" teriak Guixu histeris, suaranya melengking tinggi penuh ke

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 18

    Aroma daging panggang dan gurihnya kuah rempah memenuhi aula utama Benteng Langit Hitam. Gelak tawa para prajurit Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno membumbung tinggi, mengalahkan hembusan angin dingin yang menerpa dinding-dinding batu. Setelah pertempuran brutal yang meruntuhkan gerbang utama, pertahanan musuh di Dataran Tengah akhirnya lumpuh total. Bagi ribuan prajurit yang telah bertahun-tahun hidup dalam pelarian dan ketakutan, malam ini adalah kali pertama mereka bisa bernapas lega tanpa perlu khawatir tersergap oleh panah beracun.Aku duduk di ujung meja kayu panjang bersama Su Chen, Kaelan, dan Kakek Lu. Di sekeliling kami, deretan cawan perak berisi anggur buah merah berbaris rapi. Su Chen tampak sedikit lebih tenang, warna kemerahan mulai kembali ke pipinya yang sempat pucat setelah menyalurkan energi pemulihan sepanjang hari."Yang Mulia," Kakek Lu berdiri sambil mengangkat cawan peraknya tinggi-tinggi, matanya yang tua berbinar haru. "Malam ini kita tidak hanya merebut

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 17

    Aroma asap belerang dan bau darah pekat menyergap indra penciumanku saat kami memandang benteng raksasa di hadapan kami. Benteng Langit Hitam berdiri kokoh mencakar angkasa, dipagari oleh dinding batu hitam berukir mantra iblis purba yang memancarkan pendar keperakan dingin. Tempat ini adalah gerbang terakhir dan benteng pertahanan paling ganas yang memisahkan wilayah perbatasan dengan Dataran Tengah tempat Istana Surgawi berada.Di atas dinding benteng, ribuan prajurit iblis berbaju zirah besi tebal berdiri rapat, menggenggam busur panah raksasa yang sudah dilapisi racun pemakan jiwa. Di tengah-tengah mereka, berkibar panji raksasa bergambar tengkorak berduri, lambang dari Komandan Zhurong, salah satu jenderal kepercayaan Mo Tian yang terkenal sadis dan tak kenal ampun.Aku berdiri di puncak bukit batu, membiarkan jubah kasarku berkibar diterpa angin kencang yang membawa hawa membeku. Di sebelah kiriku, Kaelan berdiri bagaikan gunung batu yang tak tergoyahkan, memegang belati raksasa

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 16

    Suara getaran lonceng besi dari menara pusat Kota Dinding Merah berdentang tiga kali, menandakan masuknya pergantian jaga malam. Di dalam ruang strategi balai kota, peta kulit binatang yang membentang di atas meja kayu pualam dipenuhi oleh penanda-penanda merah. Kaelan berdiri tegap di sudut ruangan, sibuk mengasah belati raksasanya dengan batu asah, sementara Su Chen duduk di sisiku, dengan cermat memeriksa daftar pasokan obat-obatan dan batu sihir yang baru saja diserahterimakan oleh tiga keluarga bangsawan.Keberadaan Naga Xuanwu yang menampakkan diri di Lembah Bintang semalam benar-benar melumpuhkan niat perlawanan dari para simpatisan Mo Tian di sekitar kota. Tak ada satu pun faksi yang berani melakukan gerakan mencurigakan. Namun, di tengah ketenangan yang tampak sempurna ini, dadaku justru merasa tidak tenang. Ada firasat aneh yang terus mengusik jalan pikiranku sejak pertempuran di tebing berakhir."Yang Mulia," Kakek Lu melangkah masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru, wa

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 15

    Malam turun menyelimuti Lembah Bintang dengan hening yang teramat pekat. Jauh di bawah sana, lampu-lampu Kota Dinding Merah tampak bagaikan sekumpulan kunang-kunang yang tersebar di atas kain beludru hitam. Setelah berhasil mengamankan jalur logistik dan merekrut Kaelan ke dalam barisan kami, pasukan aliansi Sembilan Sekte akhirnya mendapat kesempatan untuk beristirahat sejenak sebelum pertempuran besar di Dataran Tengah dimulai.Aku berdiri sendirian di tepi tebing batu, membiarkan angin malam yang dingin mengibarkan ujung jubahku. Suasana malam yang sepi ini selalu membawaku kembali pada bayang-bayang masa lalu. Di tempat sehening inilah, ratusan tahun lalu, aku sering menghabiskan waktu sendirian saat masih bertahta di Istana Surgawi. Dulu, aku mengira kejayaan dan puncak kekuatan adalah segalanya. Tapi kehancuran yang kualami mengajariku betapa rapuhnya puncak kekuasaan jika dibangun di atas dinginnya kepalsuan."Kamu selalu punya kebiasaan berdiri sendirian di tempat yang paling

  • Dendam Kaisar Surgawi   Konflik

    Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela

  • Dendam Kaisar Surgawi   Pertemuan dengan Guru Bai

    Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela

  • Dendam Kaisar Surgawi   Pembentukan Fondasi

    Pagi itu, sinar matahari yang menyelinap masuk dari jendela kecil menerpa wajahku. Cahaya itu hangat, tapi entah kenapa malah membuatku mengerang pelan. Sakit kepala ini... ya ampun, seperti ditampar bolak-balik semalaman. Aku memegang kepalaku, mencoba meredakan denyutan di pelipis. Ini gara-gara

  • Dendam Kaisar Surgawi   Kenangan Masa Lalu

    Langit masih mendung, dengan sisa-sisa hujan menetes pelan dari daun-daun di atas kepalaku. Tanah di bawah kakiku sudah berubah jadi lumpur, licin dan basah. Aku berjalan pelan, berusaha agar tidak terpeleset, sambil sesekali melihat ke langit yang kelabu. Suara gemericik air dari pepohonan terdeng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status