MasukKedua tinjunya yang berapi menyerang Evan dari dua arah berbeda. Kekuatan kultivator tingkat ketiga atas memang tak main-main.
Tapi Evan sudah bukan lagi Evan yang sama. Energi Naga tingkat ketiga membuat tubuhnya sekeras berlian. Pukulan api Red mengenai dadanya tanpa memberikan efek berarti.
"Apa?" Red membelalak tak percaya. "Tinju Api Penghancur Sukma adalah teknik legendaris Gunung Vandar! Tak ada satu makhluk pun dapat menahan pukulanku!"
"Pukulan yang lembek," Evan menangkap pergelangan tangan kanan Red. "Terlalu lemah untuk kultivator yang mengaku tingkat ketiga atas."
Evan mematahkan lengan kanan Red dengan gerakan brutal. Bunyi tulang patah bergema di ruangan yang mulai sunyi.
"AAARRGGHHH!" Red menjerit dengan suara memilukan.
"Bagaimana rasanya?" Evan mencengkeram kepala Red. "Aku ingin kau menderita lebih lama sebelum mati."
Red menatap mata Naga Evan dengan ketakutan yang tidak pernah dirasakannya seumur hidup. "Makhluk apa kau ini?"
"Manusia Titisan Naga," Evan menjawab dengan suara yang sangat tenang. "Dan aku adalah mimpi terburuk orang-orang jahat seperti kalian."
Sebelum Evan sempat menghabisi Red, Pimpinan Harimau Gunung Vandar itu mengeluarkan pil merah dari sakunya dan menelannya dengan cepat.
"Pil Ledakan Darah!" Red berteriak putus asa.
Tubuh Red mulai bersinar merah, energi kultivasi dalam tubuhnya bergejolak tak terkendali. Ini adalah teknik bunuh diri yang akan meledakkan seluruh tubuh dan menghancurkan area dalam radius sepuluh meter.
"Jika aku mati, kau harus ikut mati bersamaku!" Red tertawa histeris.
Evan mundur beberapa langkah, menghitung waktu ledakan. Tiga detik... dua detik...
Dengan gerakan kilat, Evan menendang tubuh Red keluar jendela. Kultivator itu terbang keluar gedung tepat ketika ledakan terjadi di udara, jauh dari bangunan.
BOOOM!
Ledakan dahsyat menerangi langit malam. Pecahan kaca jendela berserakan, tapi kerusakan struktur bangunan minimal.
Evan berdiri di tengah mayat tiga Harimau Gunung Vandar. Pakaiannya robek dan penuh percikan darah, tapi matanya tetap tajam dan waspada. Sayang sekali Ston sudah menghilang di saat ia menghadapi Red.
"Empat mati, satu kabur," Evan bergumam sambil melihat asap ledakan di luar jendela. "Stone akan mengingat malam ini seumur hidupnya."
Dari sudut mata robotiknya, Evan menangkap gerakan mencurigakan. Lorenzo sambil memegangi pergelangan tangannya yang diperban ala kadarnya dengan jas ungu, mengendap-endap menuju pintu.
Pria gemuk itu berjingkat-jingkat, menghindari genangan darah dan mayat-mayat. Tangannya yang terluka masih menetes darah, meninggalkan jejak merah di lantai marmer yang pecah.
"Sebentar lagi... sebentar lagi aku bebas," Lorenzo bergumam dalam hati sambil terus bergerak mendekati pintu. "Bocah sialan itu pasti kelelahan setelah bertarung. Ini kesempatanku!"
Evan tidak bergegas mengejarnya. Dengan tenang, ia berjalan menuju dinding sebelah kiri tempat berbagai koleksi senjata antik dipajang sebagai hiasan. Mata Naganya memindai pilihan yang tersedia.
Katana samurai dengan sarung hitam berukir naga emas tergantung di posisi tengah. Bilahnya berkilau meski sudah berusia ratusan tahun, terawat dengan sempurna oleh kolektor.
"Sempurna," Evan mengambil katana itu dari gantungannya.
Suara logam bergesekan terdengar lembut ketika Evan menghunus pedang dari sarungnya. Bilah baja yang tajam memantulkan cahaya lampu kristal, menciptakan kilatan berbahaya.
Lorenzo sudah hampir sampai di pintu keluar. Jantungnya berdegup kencang karena tegang, keringat dingin membasahi dahinya yang botak. Tangannya yang gemetar meraih gagang pintu mahoni besar.
"Akhirnya," Lorenzo tersenyum lega sambil memutar gagang pintu. "Setelah ini aku akan menghubungi Oscar dan membawa pasukan yang lebih besar. Bocah itu akan menyesal telah mengacaukan bisnisku!"
Pintu terbuka dengan bunyi engsel yang berderit. Udara segar dari koridor luar menyapa wajah Lorenzo, memberinya harapan untuk hidup.
Baru saja Lorenzo melangkah keluar dari ruangan, tiba-tiba saja Evan sudah berada tepat di belakangnya. Kecepatan kultivator tingkat ketiga memungkinkan perpindahan yang hampir tidak terlihat mata biasa.
"Mau kemana, Lorenzo?" suara Evan terdengar dingin tepat di telinga pria gemuk itu.
"Apaa?" Lorenzo tersentak, tubuhnya membeku di ambang pintu.
Sebelum Lorenzo sempat berbalik atau berteriak, katana samurai di tangan Evan bergerak dalam satu sabetan.
SRING!
Kepala Lorenzo terlepas dari tubuhnya, menggelinding beberapa meter di lantai koridor. Mata yang melotot masih menunjukkan ekspresi terkejut, mulut terbuka seolah hendak berteriak.
Tubuh tanpa kepala itu masih berdiri tegak selama beberapa detik sebelum akhirnya roboh dengan darah menyembur dari leher yang terpotong.
Evan mengayunkan katana untuk membersihkan darah, lalu memasukkannya kembali ke sarungnya. "Sempurna."
Setelah Evan menyelesaikan tugasnya dengan memenggal kepala Lorenzo, ia melihat Elara sudah berada di depan safe deposit box yang tertanam di dinding. Dengan alat khusus, ia membuka kunci elektronik dalam hitungan detik. Tangannya meraih sebuah berkas tebal bersampul kulit cokelat, membuka resleting jumpsuit lalu menyelipkan berkas ke dalamnya, kemudian menarik resleting kembali sampai ke dada.
"Siapa sebenarnya dirimu, Elara?" Evan bertanya dengan mata menyipit, "... dan bekerja untuk siapa?"
Patrick sempat mundur, terkejut dengan ledakan emosi atasannya."Pak Eric," Patrick berkata hati-hati, "saya tahu Bapak menyukai Bu Anna. Tapi situasi ini...""Diam!" Eric memotong dengan nada berbisa. "Aku tidak butuh simpatimu."Keheningan mencekam selama beberapa detik. Eric berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu seperti singa yang terkurung. Otaknya bekerja keras mencari jalan keluar dari situasi yang semakin rumit.Evan Wijaya. Nama itu sudah menjadi duri dalam dagingnya sejak pria itu menginjakkan kaki di Penjara Inferium. Pertama, ia mengalahkan Boris dengan satu serangan. Kedua, dia berani mengancam Eric secara langsung. Dan sekarang, berani merebut wanita yang selama ini Eric inginkan."Aku harus menyingkirkannya," Eric bergumam dengan mata menerawang. "Harus. Bagaimanapun caranya."Patrick berdehem pelan. "Pak Eric, kalau boleh saya memberi usul..."Eric menoleh dengan pandangan tajam. "Apa?""Selama ada Bu Anna dan Ivan di penjara Inferium ini, kita tidak akan pernah
Anna menghela napas. Ia bangkit, mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Blus yang robek tidak bisa dipakai lagi. Ia terpaksa mengenakan jaket yang tadi ia sampirkan di bahunya."Aku akan mengirimkan baju ganti untukmu," Anna berkata sambil merapikan rambutnya. "Dan... terima kasih.""Untuk apa?""Untuk tidak memanfaatkan situasi tadi," Anna menatap Evan dengan pandangan baru. "Kau bisa saja menyakitiku. Tapi kau tidak melakukannya."Evan berdiri, tubuh atletisnya menjulang di atas Anna. "Aku bukan monster, Anna. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup."Anna mengangguk pelan. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti."Evan," ia berkata tanpa menoleh. "Berhati-hatilah. Ada banyak orang di penjara ini yang menginginkan kematianmu.""Aku tahu.""Dan aku tidak akan selalu bisa melindungimu."Evan tersenyum di balik punggung Anna. "Siapa bilang aku butuh perlindungan?"Anna membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Pintu besi tertutup dengan bu
Evan terdiam sesaat. Alisnya terangkat sedikit."Hukuman macam apa itu?" Evan bertanya dengan nada geli.Wajah Anna memerah. Rasa malu bercampur nafsu membuat matanya memanas."Kau bilang akan melakukan apa yang kumau," Anna berbisik, suaranya lebih mirip desahan. "Ini yang kumau."Tangannya yang masih bisa bergerak sedikit, meraih tangan Evan. Ia meletakkan telapak tangan pria itu di dadanya yang membusung, tepat di atas jantungnya yang berdegup liar."Kau bisa merasakannya?" Anna menatap mata Evan tanpa berkedip. "Sejak pertama kali kau berani melawanku di ruang kerjaku, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kau membuatku gila."Evan merasakan detak jantung Anna yang cepat di bawah telapak tangannya. Kehangatan tubuh wanita itu menjalar melalui kain blus tipis yang memisahkan mereka."Kau yakin tidak akan menyesal?" Evan bertanya dengan suara rendah, "bercinta dengan seorang napi?""Tidak," Anna tersenyum menantang. "bagaimana denganmu?"Tangan Evan bergerak, jari-jarinya mencengker
Evan duduk bersila di tengah lantai dingin ruang isolasi. Matanya terpejam. Napasnya teratur, dalam dan lambat. Energi naga mengalir di setiap pembuluh darahnya, berputar seperti arus sungai emas yang menenangkan.Dalam kegelapan meditasinya, ia merasakan denyut jantung naganya semakin kuat. Inti energi di pusat dantiannya bersinar terang, memancarkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Setiap tarikan napas membawa energi murni masuk. Setiap hembusan membuang racun emosional yang mengendap.Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki di koridor. Langkah yang tegas tapi ringan. Hak sepatu wanita berdetak di lantai beton. Evan tidak membuka mata, tapi bibirnya membentuk senyum tipis.Pintu besi berderit terbuka.Aroma parfum mawar bercampur kayu cendana menyeruak masuk. Aroma yang sudah ia kenali sejak hari pertama di penjara ini.Anna Tanzil berdiri di ambang pintu dengan cambuk kulit di tangan kanannya. Cahaya koridor menerangi siluet tubuhnya dari belakang."Evan Wijaya,
Ivan menarik kotak itu dengan tangan gemetar. Debu beterbangan ketika dia meletakkannya di meja baca di tengah ruangan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Dengan gerakan perlahan, ia membuka tutup kotak.Mata Ivan langsung berkaca-kaca.Di atas tumpukan dokumen tergeletak sebuah foto. Foto seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dengan mata yang jernih dan senyum polos. Evan Pendragon, kakaknya."Kakak..." Ivan mengambil foto itu dengan tangan bergetar. "Apakah benar kau sudah mati? Atau masih hidup dan berada di penjara ini?"Air mata mulai mengalir di pipinya. Iaa mengusap permukaan foto dengan jempol, seolah bisa merasakan kehangatan kakaknya yang sudah lama hilang.Di bawah foto, Ivan menemukan novel Harry Potter edisi lama dengan sampul yang sudah lusuh. Dia ingat betul novel ini. Ini adalah buku favorit kakaknya yang selalu dibaca ulang berkali-kali.Di halaman dalam sampul, tertulis dengan tulisan tangan kakaknya: Untuk Evan Pendragon, hadiah ulang tahun ke-16. Dari Papa dan M
Ruang isolasi berukuran 2x3 meter tanpa jendela. Hanya ada kasur tipis di sudut, toilet kotor, dan bola lampu 25 watt yang menyala redup. Dindingnya kedap suara sehingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi di dalam."Masuk!" Eric mendorong Evan ke dalam.Sesampainya di dalam, Eric menutup pintu tapi tidak mengunci. Dia mendekat ke Evan dengan mata menyala jahat."Akhirnya kita bisa berbicara empat mata," Eric mengeluarkan pisau lipat yang tadi dijadikan bukti. "Sudah lama aku ingin menghabisimu."Evan duduk di kasur tipis dengan tenang. "Silakan coba!""Pak Eric," Patrick yang berdiri di pintu berbisik. "Kalau Tuan Ivan mencari...""Dia tidak akan tahu apa-apa," Eric menjawab sambil menggenggam pisau erat-erat. "Kita akan bilang Evan bunuh diri karena depresi.""Tapi CCTV basement tidak berfungsi," Sam menambahkan. "Kalau ada investigasi..."Eric terdiam, menimbang risiko. Membunuh Evan sekarang memang menggoda, tapi terlalu berisiko dengan kehadiran Ivan yang bisa menyelid







