Share

Bab 165. Melahirkan

Author: Els Arrow
last update Huling Na-update: 2025-12-08 23:32:38

Beberapa Bulan Kemudian

Hujan mengetuk kaca jendela kamar seperti jarum-jarum gelisah. Malam itu dingin, padahal kalender baru menunjukkan awal bulan kesembilan kehamilan Nayara. Namun tubuhnya berbeda, makin berat, pegal, dan napasnya pendek-pendek.

Di ranjang, Nayara mengerjap, memegangi perutnya.

“Mas.” Suaranya lirih, pecah oleh rasa nyeri yang tiba-tiba menghantam dari dalam.

“Sakit sekali.”

Lampu meja menyala dalam sekejap, Devanka bangun dengan ekspresi panik. “Sakit di mana? Perutnya kenapa?”

“Perutku kayak ditarik, Mas. Sakit banget.”

Devanka langsung turun ranjang, menopang tubuh istrinya. “Sayang, lihat aku. Tarik napas, ya, pelan-pelan aja biar tenang.”

Nayara meremas lengan suaminya. “Enggak bisa, Mas, tolong ….”

Gelombang kontraksi mendadak, terasa cepat, keringat dingin mulai membasahi pelipis.

Nayara bahkan tidak bisa berdiri, untuk bergerak saja rasanya seluruh tenaganya lenyap. Hanya bisa menangis sambil meremas tangannya sendiri.

Gelombang kont
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 169. Bangun

    Lampu di atas ranjang Nayara sedikit diredupkan, Dokter menoleh pada Devanka. “Pak Devanka, kami perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh. Mohon Bapak keluar dulu, ya.”Devanka sontak menggeleng. “Saya di sini aja, Dok. Saya nggak ganggu, janji.”Dokter menatapnya sebentar, lalu menghela napas tipis. “Bukan soal mengganggu. Kami butuh ruang, dan Bapak juga butuh waktu sejenak agar tidak tertekan. Percayakan sebentar pada kami.”Devanka menatap Nayara. Wajah itu masih pucat, mata masih terpejam, tapi jari-jarinya tadi bergerak.Tangannya enggan melepaskan.“Nay,” bisiknya lirih. “Aku keluar sebentar. Jangan takut, ya. Aku nanti balik lagi.”Tak ada jawaban, tapi entah kenapa, Devanka merasa Nayara mendengarnya. Ia melangkah mundur, setiap langkah terasa berat, seperti ada tali tak kasatmata yang menarik dadanya kembali ke ranjang itu.Pintu ICU tertutup perlahan.Klik.Devanka berdiri kaku beberapa detik di depan pintu, lalu lututnya melemas. Ia duduk di kursi lorong dengan tubuh memb

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 168. Respon Kecil

    Rumah sakit kembali diselimuti hiruk-pikuk yang sama, tapi bagi Devanka, dunia tetap terasa mengecil, hanya sebatas ranjang ICU dan tubuh istrinya yang terbaring tak berdaya.Ia kembali duduk di kursi kecil di samping ranjang Nayara, satu tangan menggenggam tangan istrinya, tangan lain memegang kain hangat.Ia mengelap lengan Nayara dari pergelangan ke siku, lalu naik ke bahu. Setiap usapan penuh kehati-hatian, seolah ia takut sentuhan yang terlalu kuat bisa membuat Nayara sakit.“Kaki kamu dingin lagi,” gumamnya lirih. “Aku pijitin, ya.”Ia membuka selimut sedikit, cukup untuk menjangkau betis dan telapak kaki Nayara. Ibu jarinya menekan perlahan titik-titik yang dulu sering Nayara keluhkan saat hamil.“Kamu inget nggak?” tanyanya sambil tersenyum samar. “Waktu kamu bangunin aku jam tiga pagi cuma gara-gara kaki kamu kram?”Ia tertawa kecil, suara yang patah di ujungnya.“Aku ngedumel setengah mati, tapi tetap bangun dan pijitin. Terus kamu malah ketiduran sambil pegang tangan aku.”

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 167

    Tiga minggu berlalu, hari-hari terasa seperti satu garis panjang tanpa tanggal bagi Devanka. Lorong rumah sakit sudah seperti bagian dari hidupnya, ia hafal bunyi pintu otomatis ICU, hafal suara monitor yang sering berubah ritme, hafal bau antiseptik yang menusuk seperti pengingat bahwa istrinya belum kembali padanya.Meski kedua bayi sudah diperbolehkan pulang seminggu lalu, Devanka tetap tinggal di rumah sakit. Dian dan Seno membawa pulang cucu-cucu mereka, merawatnya dengan perhatian penuh. Setiap hari video call masuk ke ponsel Devanka, Dian menunjukkan si kecil yang baru selesai mandi, atau Seno menimang si bayi perempuan yang suka menguap kecil. Namun, Devanka tak sanggup memberi nama pada mereka tanpa persetujuan sang istri.“Aku tunggu Nayara bangun dulu, Ma,” jawaban itu selalu keluar dengan suara seraknya, dan Dian tak pernah memaksa lagi.Pagi itu, jam tujuh lewat sedikit, Devanka masuk ke ruang ICU. Udara dinginnya membuat kulitnya merinding, tapi ia tidak pernah lupa m

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 166

    Lorong rumah sakit seperti menelan suara Devanka. Kata 'koma' bergema berkali-kali dalam kepalanya, memantul di rongga dada, menghantam keras seperti batu. Ia berdiri mematung, tak tahu harus memegangi bagian mana dari dirinya yang terasa paling hancur.Tangannya gemetar, napasnya seperti tersangkut di kerongkongan.Ucapannya tercekat, pecah di sela-sela isaknya, “Nayara nggak mungkin ninggalin aku kayak gini.”Namun tubuhnya tak mampu bergerak.Dokter Melati memberi isyarat pada perawat.“Pindahkan Ibu Nayara ke ICU. Siapkan ventilator dan monitor lengkap.”Perawat langsung masuk kembali ke ruang operasi, menyiapkan brankar. Ketika pintu kembali terbuka, Nayara dibawa keluar.Bukan lagi Nayara yang tadi menggeliat kesakitan sambil memanggil nama suaminya dengan manja, kini tubuh pucat itu tak bergerak, wajahnya tertutup masker oksigen, rambutnya tergerai acak menempel pada kening berkeringat dingin. Infus menjuntai di kiri kanan, selang-selang kecil menempel di dada, dan monitor berg

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 165. Melahirkan

    Beberapa Bulan Kemudian Hujan mengetuk kaca jendela kamar seperti jarum-jarum gelisah. Malam itu dingin, padahal kalender baru menunjukkan awal bulan kesembilan kehamilan Nayara. Namun tubuhnya berbeda, makin berat, pegal, dan napasnya pendek-pendek. Di ranjang, Nayara mengerjap, memegangi perutnya. “Mas.” Suaranya lirih, pecah oleh rasa nyeri yang tiba-tiba menghantam dari dalam. “Sakit sekali.” Lampu meja menyala dalam sekejap, Devanka bangun dengan ekspresi panik. “Sakit di mana? Perutnya kenapa?” “Perutku kayak ditarik, Mas. Sakit banget.” Devanka langsung turun ranjang, menopang tubuh istrinya. “Sayang, lihat aku. Tarik napas, ya, pelan-pelan aja biar tenang.” Nayara meremas lengan suaminya. “Enggak bisa, Mas, tolong ….” Gelombang kontraksi mendadak, terasa cepat, keringat dingin mulai membasahi pelipis. Nayara bahkan tidak bisa berdiri, untuk bergerak saja rasanya seluruh tenaganya lenyap. Hanya bisa menangis sambil meremas tangannya sendiri. Gelombang kont

  • Dendam Pernikahan Pewaris Tampan    Bab 164

    “Ya, Pak Bimo?” Di seberang, terdengar embusan napas berat, lalu suara penyidik yang biasanya tenang kini bergetar tipis. “Pak Devanka, maaf menghubungi Bapak lagi. Ada perkembangan baru, sangat mendesak.” Devanka menegakkan bahu. “Apa lagi?” Hening sepersekian detik. Nayara menggenggam ujung dress-nya, menahan napas. “Riona ditemukan meninggal, Pak.” Devanka membeku. “A-apa?” Nayara spontan menutup mulutnya. Penyidik melanjutkan. “Riona bunuh diri di dalam sel. Petugas jaga mendapati dia sekitar lima belas menit lalu.” Devanka menatap kosong ke halaman yang barusan penuh tawa Nayara. “Bagaimana bisa?” tanyanya lirih bercampur dingin, seperti air es yang retak. “Kami sedang kumpulkan semua kronologi,” kata Pak Bimo cepat. “Tapi gambaran awal begini, Pak ... pukul 16.10, Riona masih terlihat duduk diam di sudut sel. Petugas perempuan memberinya air minum, tidak menunjukkan gejala bertindak yang membahayakan, hanya menangis sesekali. Pukul 16.28, CCTV menangkap d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status