Share

Bab 4

Rumah kontrakan mereka telah terbakar berikut isinya, tak ada yang bisa diselamatkan sama sekali. Akhirnya, Rozi membawa anak sulungnya ke rumah orang tuanya.

Pak Abdi dan Hayati, kedua orang tua Rozi, menerima anak dan cucu mereka dengan perasaan sedih dan pedih.

Arumi menangis memeluk ayahnya. Kini, kehidupan mereka seolah dibalikkan ke bawah dalam semalam. Semua sangat terpukul, terlebih Arumi. Dia kehilangan ibunya, pelipur lara dalam hidupnya, penerang cahaya hatinya.

"Sabar ya, Cu! Sabar," ujar Pak Abdi seraya mencoba memeluk Arumi.

Arumi menghindar, dia tidak mau dipeluk siapa pun selain ayahnya sekarang.

"Ayo sini, Arumi, sama kakek," ujar lelaki tua itu.

Arumi menolak, dia meringkuk di belakang ayahnya.

"Sudahlah, mungkin dia masih sedih," ujar Bu Hayati.

"Sekarang, Rozi gak punya tempat tinggal, Rozi tinggal di sini ya Bu, Pak," ujar lelaki itu.

"Ndak apa-apa, ini rumahmu juga," ujar Bu Hayati. "Udah lama ibuk suruh kalian sekeluarga pindah ke sini, tapi istrimu itu selalu menolak!" sambung Bu Hayati.

"Sudahlah, ngapain diungkit, dia udah meninggal," ujar Pak Abdi.

"Pak, bagaimana dengan tahlilan? Apa ndak dipersiapkan?"

"Tahlilan untuk istrimu? Ada uangnya gak?" tanya Pak Abdi. "Bapak sekarang gak ada uang."

"Rozi gak punya apa-apa sekarang pak," ujar Rozi.

"Ya sudah jangan diadakan," sahut Pak Abdi. "Lagian dia gak meninggal di sini juga," sambungnya.

Rozi terdiam.

"Ibuk sudah siapkan kamar kamu, tapi di kamar bekas gudang ya. Kan kamar kamu udah dikasi ke Lisa."

Rozi mengangguk. "Apa aja, Buk. Untuk sekarang yang penting ada tempat tinggal," ujar laki-laki itu.

Akhirnya, mereka tidur di kamar belakang, bekas gudang. Rumah Pak Abdi tidak terlalu besar. Hanya ada dua kamar utama, satu milik Pak Abdi dan Istrinya, satu dulu milik Rozi, tapi sejak dia menikah dan pindah, kamar itu diberikan ke adik perempuannya yang bernama Lisa. Umurnya sudah 20 tahun. 12 tahun lalu, dia masih berumur 8 tahun dan tidur di kamar ibu bapaknya, di kasur lantai. Sejak Rozi menikah dan mengontrak, dia pindah ke sana. Tinggallah kamar belakang yang dijadikan tempat menyimpan barang-barang.

Mereka mengemasi semua barang-barang itu dan memasang kembali ranjang kayu bekas Rozi dulu lalu memberinya kasur lantai seadanya. Diterangi bohlam 10 Watt, mereka tidur di sana.

"Arumi tidur di atas, bapak di bawah," ujar Rozi.

Arumi mengangguk, dia berubah menjadi pendiam. Matanya sembab dan bengkak karena terus menangis.

Malam itu, mereka beristirahat dari lelahnya kepedihan. Tapi, kutukan yang telanjur tersumpah, telah menemani mereka dalam setiap langkah.

Rozi tidur dan lantai, beralaskan tikar yang tipis. Sedangkan Arumi di ranjang atas. Laki-laki itu tak dapat tidur, walau badannya letih. Pikirannya masih dipenuhi penyesalan yang begitu mendalam. Dia berbalik ke kiri dan kanan, hingga akhirnya dia lelah dan mulai memejamkan mata.

Tik! Tik! Tik!

Bunyi jam dinding. Ruangan remang-remang itu begitu sendu dan dingin, di sebelahnya ada toilet.

Sebenarnya gudang itu tidak layak untuk tidur, tapi mereka hanya punya ruangan itu. Mau tidak mau dipakai.

Tiba-tiba saja Rozi mendengar ada yang masuk ke kamar mandi. Dia masih terpejam, tapi telinganya awas. Mungkin itu keluarganya yang bangun kencing malam.

Rozi berbalik, wajahnya menghadap ke bawah ranjang yang ditiduri oleh Arumi. Lalu, suara pintu toilet dibuka. Tapi Rozi bingung kenapa tidak ada suara langkah kaki?

Krieeeeet!

Mendadak, pintu kamar Rozi terdengar terbuka. Laki-laki itu membuka matanya. Dia mencoba berbalik, tapi tubuhnya kaku tidak dapat digerakkan.

Perasaan laki-laki itu tidak enak. Dan seolah tak cukup hanya di situ saja, dari sudut matanya dia melihat seseorang masuk dan berjalan.

Rozi berdebar-debar. Siapa dia? Lalu kenapa Rozi tidak bisa menggerakkan tubuhnya batang sejengkal?

Langkah kaki itu berjalan hingga ke sebelah ranjang sana. Rozi melorot ketika kaki itu dipenuhi dengan arang yang menghitam. Lalu, tiba-tiba saja bau daging terbakar tercium cukup pekat.

Kaki-kaki itu menjejak lantai, arang yang melekat di kedua tungkainya rontok ke bawah dan mengotori lantai.

Rozi merinding, tubuhnya gemetar. Lalu tiba-tiba saja sesuatu jatuh dari atas, tergeletak tepat di sebelah kaki tersebut.

Laki-laki itu mulai panik, ditambah lagi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Mendadak, benda bulat itu menggelinding dengan cepat dan menghampiri Rozi. Betapa terkejutnya dia ketika benda itu tiba-tiba berhenti dan membelalakkan mata ke arah Rozi.

"Aaaaaaaaaaaarrgh!" Rozi tersentak kak terbangun.

Arumi terkejut mendengar ayahnya berteriak.

"Ayah, ada apa?"

Rozi memandang sekeliling. Pintu kamar mereka tertutup dan di bawah ranjang Arumi tidak ada apa-apa. Dia menghela napas lega.

"Udah tidur lagi, ndak ada apa-apa," katanya.

Arumi kembali merebahkan dirinya. Sementara Rozi tercenung memikirkan apa yang sebenarnya dia lihat tadi.

Laki-laki itu kembali berbaring dan tertidur. Tanpa dia ketahui kalau ada sepasang mata yang mengintipnya dari langit-langit kamar.

***

"Ini baju sumbangan dari warga untuk Arumi dan pak Rozi," ujar pak RT desa tempat tragedi kebakaran tersebut. "Ada juga sumbangan ala kadarnya dari warga," katanya lalu menyerahkan sebuah amplop.

Rozi menerimanya dan bersyukur. "Terima kasih, Pak."

"Eee, ngomong-ngomong mas Rozi, kayaknya rumah itu perlu kita bacakan doa," ujar pak RT dengan hati-hati.

"Kenapa memangnya pak?"

"Sebenarnya ...." Pak RT terlihat gusar, dia menundukkan bahunya dan beranjak lebih dekat pada Rozi. "Warga bilang ada suara tangisan dan bekas rumah yang terbakar itu," ujarnya.

"Suara tangisan?"

"Iya. Keluarga bapak kan meninggal dengan tragis, takut ada sesuatu yang belum selesai, urusannya misalnya. Almarhumah punya hutang yang belum selesai?" tanya pak RT.

"Setahu saya istri saya gak pernah berhutang pak, sudah saya tanya ke warung-warung terdekat dulu pas dia sakit."

"Bukan utang uang, tapi utang kemarahan begitu?"

Rozi terkejut. "Mana ada seperti itu pak, itu cuma mitos. Lagian istri saya orangnya baik, gak pernah mencari musuh sama orang."

Pak RT terdiam. "Syukurlah kalau begitu, cuma kita takut aja sebab udah jadi isu di kampung kita dan yang denger gak cuma satu, tapi banyak. Kang bakso, tetangga, belum lagi orang-orang yang lewat," ujar pak RT.

"Saya gak tahu soal itu pak, tapi takutnya almarhumah istri saya difitnah aja. Ngomong-ngomong, yang punya rumah gak ada datang ke tempat pak RT?"

"Gak ada, tapi Mas Rozi siap-siap aja. Biar gimana pun itu rumah dia, takut dia minta pertanggung jawaban kan Mas gak bersalah juga."

Rozi mengangguk-angguk.

"Kalau gitu, saya permisi," ujar Pak RT.

Rozi bersalaman dengan Pak RT. Lalu lelaki itu pun pergi. Dia meremas amplop yang dia pegang.

'Suara menangis?' gumamnya dalam hati.

"Ozi? Udah pulang Pak RT-nya?" tanya Bu Hayati.

"Udah," ujar Rozi.

Bu Hayati melihat amplop di tangan Rozi.

"Ibu boleh minta uang ndak?"

Rozi melirik amplop itu, tidak enak rasanya udah menumpang gak ngasi uang pula. Akhirnya dia menyerahkan semuanya ke sang ibu.

"Ambil aja, Bu. Buat biaya makan Rozi dan Arumi."

"Makasih," ujar Bu Hayati lalu dia pun pergi.

Rozi membawa kantong baju bekas sumbangan warga ke kamarnya. Dia melihat Arumi di sana, sedang berdiri memandang ke luar jendela.

"Nak?"

Arumi menoleh. Rozi meletakkan kantong itu di kasur dan membongkarnya. Dia menunjukkan beberapa baju yang cocok untuk Arumi.

"Liat ini, Nak. Kayaknya cocok dengan Arumi," ujar Rozi seraya mengangkat satu baju.

Arumi menghela napas. Dia tak bersemangat sama sekali. Anak itu kembali memandang ke luar.

"Ayah, sebenarnya ayah tahu gak, tadi malam ....." Arumi menghentikan omongannya lalu dia memandang ayahnya dengan lekat. "Tadi malam ibu datang ke sini," katanya seraya menatap ayahnya dengan tajam.

Rozi merinding. Saat itu dia seperti melihat raut wajah Kamelia di diri Arumi.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status