Share

Bab 5

"Husst, jangan bicara kek gitu, Nak," ujar Rozi.

"Tapi emang iya, ibu semalam ke sini. Dia bilang ..."

"Cukup! Ayah ndak suka Arumi ngomong yang aneh-aneh. Itu bukan ibu, bukan apa-apa, ndak ada apa-apa," ujar lelaki itu.

Dia tampak gelisah karena Arumi berkata seperti itu. Sementara Arumi menunduk karena dia merasa ayahnya tidak suka dan tidak mau membicarakan ibunya. Arumi sedih, bahkan untuk mengingat kenangan bersama ibunya saja dia tidak diperbolehkan. Anak itu berpikir, kenapa ayahnya seperti itu?

Arumi menghela napas lalu membantu memilih baju sumbangan tersebut dan menyisihkan yang bisa dia pakai. Gadis itu murung. Kehilangan ibu bagaikan kehilangan segala-galanya bagi Arumi. Kenapa ibunya harus pergi, kenapa tidak ayahnya?

Gadis itu sudah tahu, sejak ibunya sakit, ayahnya sering marah-marah pada mereka. Kadang Arumi yang jadi sasaran. Pulang sekolah, dia langsung disuruh mengasuh sampai dia kelelahan. Arumi menangis di sisi ibunya yang tak berdaya dan hanya ditanggapi dengan tangisan pula oleh Kamelia.

Arumi sedih, dia berpikir dia yang salah karena kemarin tidak langsung pulang ke rumah setelah sekolah. Namun, gadis itu lega karena tadi malam ibunya datang dan memeluk gadis itu serta membisikkan. "Arumi tidak bersalah, jangan menangis."

Tentu saja Arumi mengira itu hanya mimpi, tapi dia merasa ibunya benar-benar datang dan menghiburnya.

Rozi keluar dan dia berpapasan dengan Lisa di depan kamarnya. Gadis berusia 20 tahun itu melengos dan berlalu sembari menjeling pada Rozi.

"Lisa, tunggu!"

Rozi menahan lengan adiknya.

"Cih, apa-apaan sih bang?"

"Mau ke mana?"

"Urusan Lisa-lah, Bang!"

"Pinjam Abang duit dulu, 10 ribu, mau isi bensin. Abang mancing dulu, carikan ikan atau udang buat kita makan!"

Lisa mengernyit. "Mancing-mancing! Kerja bang! Kerja!" katanya.

Rozi berang saat mendengar perkataan itu. "Kalau ndak mau pinjamkan, jangan ngomong gitulah!"

"Eh, memang benar kan, Bang? Selama ini istrimu yang kerja, Abang tahunya mancing, main layangan, terus kerja ikut si Poleh yang gajinya cuma 200 ribu seminggu. Emang paling bener, Kak Kamelia bagusnya memang meninggal daripada hidup sama suami kek elu, Bang!"

Lisa berlalu, gadis itu menepis rambutnya dengan angkuh.

"Apa kau bilang, Lisa!?" Rozi hendak menghambur pada Lisa dan mau menampar pipinya.

Akan tetapi, dia mengurungkan niatnya. Laki-laki itu meremas tangannya sendiri, menahan emosi yang menggelegak di dadanya.

"Apa, Bang? Tampar, ayo tampar! Tamparan Abang tuh gak lebih sakit daripada ditampar kenyataan!" ujar Lisa. "Makanya pas punya istri, dihargai dan dijaga. Udah meninggal, menyesal, 'kan?!"

Lisa pergi keluar, dia menghidupkan motornya dan pergi dari sana. Sementara Rozi, menahan emosi yang membuncah di dada. Perkara Lisa terngiang-ngiang di kepalanya, tapi tetap saja hati sekeras batu itu menyangkal semua.

'Aku gak salah, ini semua kecelakaan!' bisik hatinya.

Sementara itu, Lisa mengelap air matanya. Gadis itu sangat sayang dengan keponakannya. Terutama yang Delisa dan Rani. Dia yang penyuka anak kecil, selalu pergi ke rumah kakak iparnya dan menitipkan uang gajinya untuk anak-anak itu karena dia melihat sendiri kakak iparnya berjuang mengasuh dan bekerja demi membesarkan buah hati mereka.

Ditinggal oleh kedua balita dan bayi imut-imut itu, membuang hati Lisa hancur. Dialah orang yang menangis paling keras setelah Arumi. Dia tahu susahnya mencari uang, makanya sampai sekarang dia belum menikah karena takut kalau bertemu laki-laki tidak berguna seperti abangnya.

Lisa terus berkendara menuju tempat kerjanya. Dia harus tetap hidup walau jiwanya lelah. Ada orang tua yang harus dia biayai.

Sementara itu, Rozi tetap pergi memancing walau dia tidak punya uang untuk mengisi bensin. Sebenarnya dia malu menganggur, tapi tak punya kreatifitas dan wawasan untuk mencoba bekerja yang lebih layak. Akhirnya, dia melarikan diri ke danau dan mengais harapan di sana dengan joran usangnya.

Laki-laki itu termenung sembari menunggu sesuatu melahap umpan yang dia jatuhkan tadi. Apalah, ikan kek, apa kek, yang penting dia membawa sesuatu untuk dimakan. Jadi, harga dirinya tidaklah murah amat, pikirnya.

Detik demi detik, menit demi menit, jam ke jam, hingga tanpa terasa dua waktu sholat terlewati. Dia tidak pernah sholat jadi peduli amat dia dengan ibadah, apa itu sholat? Dia tidak kenal dan tidak pernah melaksanakannya.

Sudah berpindah-pindah spot, masih saja tidak mendapatkan hasil.

"Arrrgh, lebih baik pulang!" katanya pada diri sendiri.

Rozi menarik kail dan berniat pulang, akan tetapi tiba-tiba saja sesuatu tersangkut di mata kail. Lalu, jorannya bergerak.

Mata Rozi berbinar. Dia langsung menahan joran agar ikan tidak terlepas. Dia mendekat ke tangga yang ada di tepi danau dan mencoba menarik ikan itu.

Akan tetapi, tarikan ikan sangat kuat. Rozi sampai kewalahan!

"Ish! Ini pasti ikan nila gede, nih!" katanya dengan wajah girang. Terbayang makan ikan nila bakar malam ini.

Perlawanan ikan itu mulai melemah, lalu Rozi menarik talinya mendekat. Ikan itu pun menyerah. Rozi girang, dia mendekat ke air danau, ingin menarik ikan yang telah dia tunggu-tunggu selama berjam-jam.

Akan tetapi alangkah terkejutnya Rozi ketika melihat bayangan seseorang di dalam air. Seorang wanita sedang mengambang di dalam air dengan wajah pucat dan mata yang terpejam.

Rozi tak sanggup bergerak, otot-ototnya kaku seperti batu. Dia menatap lekat ke wanita itu. Lalu mendadak, wanita itu membuka matanya dan langsung naik ke atas, meraih tubuh Rozi kemudian menariknya ke dalam air.

Rozi tenggelam, wanita itu menariknya hingga ke bawah. Kedua tangannya mencekik leher Rozi dengan kuat.

Rozi kelelep, dia menggelepar-gelepar ingin naik, tetapi cengkraman wanita itu sangat kuat. Laki-laki itu kehabisan napas, dia menggapai-gapai ke atas, berharap seseorang menolongnya.

"Hihihihihihi! Beginilah rasanya saat anak-anakku sesak dan mati kehabisan napas! Rasakan!" Samar-samar Rozi mendengar sesuatu berteriak di telinganya.

Laki-laki itu sudah kehabisan napas, barulah dia bisa melihat wujud sosok wanita itu. Kamelia?

Tiba-tiba saja, sesuatu menarik tangan Rozi dari atas. Ternyata mereka adalah dua orang pemancing yang kebetulan ingin mencari ikan di sana.

"Bang! Bang! Gak apa-apa, Bang!" seru salah seorang pemuda yang menyelamatkan Rozi.

Laki-laki itu terbatuk. "Gak ... gak apa-apa," ujarnya.

"Syukurlah, Bang. Ngapain di dalam air, Bang? Abang mau bunuh diri?" tanya pemuda itu.

"Gak, saya ... saya pun gak tahu!"

"Iya nih, kami pikir Abang mau bunuh diri, dari tadi diam-diam di dalam air gak keluar-keluar," ujar pemuda itu.

Rozi tercenung. Tadi itu ... apa dia melihat istrinya? Rozi merinding seketika.

"Ya udah, kita balik ya, Bang," ujar kedua pemuda itu.

Rozi mengangguk. "Makasih, ya," katanya.

"Sama-sama, Bang," ujar kedua pemuda itu.

Lalu, orang itu pun pergi. Rozi kembali melihat ke dalam air, tidak terlihat apa pun di sana. Apa dia salah lihat?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status