Share

3. Pembelaan Sang Suami

Author: Aprillia D
last update Last Updated: 2025-04-13 19:01:55

Malam itu setelah tragedi Maya terkena tumpahan kuah sup panas, Arhan sekeluarga buru-buru pamit pulang, bahkan mereka tak sempat menyelesaikan makan malam yang seharusnya menyenangkan itu. Mereka hendak membawa anaknya langsung ke rumah sakit.

Mira pun memarahi menantunya habis-habisan. Dia menyeret Intan secara paksa ke ruang tamu seakan Intan adalah seekor binatang. Sementara Bima mengiringi ibunya sejak tadi, dia takut ibunya menyakiti Intan. Sedangkan Tasya dan Risyad hanya menguping pertengkaran itu dari jauh.

"Puas kamu sudah menghancurkan makan malam kami! Kamu pasti sengaja kan mempermalukan saya begitu di depan kolega saya?!" Mira menatap Intan melotot seakan bola matanya hendak keluar.

Intan yang sejak tadi tertunduk menjawab dengan takut. "Enggak, Ma." Dia menggeleng kencang-kencang. "Sama sekali enggak. Aku beneran nggak sengaja!"

"Bohong kamu!" Mira menyentakkan tangan Intan hingga terasa sakit dan membuat Intan meringis.

"Ma, bisa nggak sih, Ma, nggak usah sekasar itu sama Intan," tegur Bima yang sejak tadi tak lagi mampu melihat sikap mamanya terhadap Intan.

Mira serta-merta menatap Bima. "Intan udah keterlaluan, Bima. Dia udah menumpahkan sup panas di kaki Maya, anak kolega kita. Mau taruh di mana muka Mama. Untung aja tadi dia nggak nuntut macam-macam. Kalau nggak siapa yang mau tanggung jawab! Kamu mau?!" tanyanya kemudian pada Intan.

"Tapi Intan kan nggak sengaja, Ma. Dan Intan itu istri aku. Mama jangan berlebihan gitu, dong."

"Berlebihan kamu bilang? Dia udah menumpahkan kuah panas sama anak orang, Bima. Kamu sadar nggak kesalahan istrimu itu?!"

"Tetap aja, Ma. Aku nggak suka Mama bersikap begitu sama Intan. Dia istri aku!"

"Istri yang nggak berguna!" Lantas Mira kembali fokus pada Intan. "Kenapa sih kamu senang bikin masalah di keluarga saya, sengaja ya kamu bikin darah saya tuh mendidih. Kamu sengaja lakukan itu karena kamu iri sama Maya, iya, kan?"

Intan terdiam mendengarnya. Memang sebenarnya tadi dia salah fokus karena mendengar ucapan Tasya yang mengatakan Maya lebih pantas menjadi kakak iparnya sampai dia tak sengaja menumpahkan sup. Dia sungguh tak menyangka kalau kuah sup itu akan mengenai kaki Maya. Hatinya sungguh sakit mendengar ucapan adik iparnya itu. Namun, meskipun begitu, dia tak bermaksud menyakiti Maya, sungguh.

Intan menggeleng sambil menangis. "Enggak, Ma. Aku nggak sengaja."

"Bohong kamu!"

"Ma, udahlah, jangan nuduh Intan seperti itu. Intan nggak mungkin sejahat yang ada di pikiran Mama." Lagi Bima yang membela.

"Saya nggak ngomong sama kamu, kamu diam, ya." Mira begitu berang hingga dia berkata begitu dengan anaknya sendiri.

"Tapi aku nggak bisa diam aja dong, Ma, melihat Mama begitu sama istriku."

"Terus aja kamu belain istrimu itu." Mira mendorong Intan hingga tubuhnya menghantam Bima.

"Ya jelas dong, Ma, aku belain istri aku." Bima lalu menatap istrinya yang sudah menangis. "Aku minta kamu masuk aja ke kamar sekarang." Permintaan Bima terdengar tegas dan tak ingin ditolak. Intan pun menurut masuk ke kamar dengan hati yang sedih.

Mira melotot menatap anak sulungnya tak habis pikir. "Kenapa kamu suruh masuk istrimu. Mama belum selesai ngomong sama dia!"

"Apalagi sih yang harus diomongin nggak ada," jawab Bima. "Apa yang menimpa Maya itu murni musibah bukan maunya kita apalagi Intan. Lagian, Ma, aku tahu kok, sikap Mama begitu ke Intan bukan karena kesalahannya sama Maya, tapi karena memang Mama nggak suka sama Intan. Mama belum bisa nerima dia."

"Nah, itu kamu pintar."

"Kenapa sih Mama nggak bisa nerima Intan? Mau sampai kapan, sih, Ma?"

Mira menatap anaknya tak habis pikir. "Dari awal kalian menikah Mama memang udah nggak setuju sama latar belakang keluarganya yang miskin dan nggak jelas bapaknya. Apalagi sekarang dia mandul, nggak bisa kasih kamu keturunan. Mama nggak akan pernah bisa nerima dia. Mama heran kenapa kamu masih mau mempertahankan dia, belain dia mati-matian lagi."

"Harus berapa kali sih, Ma, aku jelaskan, Intan nggak mandul. Dokter bilang dia masih ada kemungkinan untuk punya anak."

"Tapi buktinya udah lima tahun nggak hamil-hamil juga."

"Jadi cuman karena asumsi Mama itu Mama jadi benci sama Intan dan berhak memperlakukan dia seperti itu?"

"Memang kamu mau nggak punya anak sampai tua? Mikir, dong, Bima. Jangan dibutakan sama cinta. Perempuan di luar sana banyak yang jauh lebih baik daripada dia. Yang kedudukannya lebih tinggi yang sederajat sama kita. Dan yang paling penting subur. Dan Mama yakin kalau kamu cerai dari dia banyak perempuan di luar sana ngantri buat jadi istri kamu--"

"Berhenti ngomong begitu, Ma. Berhenti meminta aku buat lepasin Intan dan memilih perempuan lain di luar sana, karena itu nggak mungkin." Bima menggeleng. Sungguh tak habis pikir dengan ucapan mamanya itu.

"Mama benar-benar nggak ngerti sama jalan pikiran kamu, Bima."

"Aku juga nggak ngerti sama jalan pikiran Mama. Kenapa Mama melihat seseorang cuma dari latar belakang? Mama memangnya nggak ingat kita dulu kayak gimana? Mama sendiri yang cerita ke aku dan Tasya kalau orang tua Mama dulu miskin juga kan? Sampai akhirnya Mama ketemu Papa yang mau menikahi Mama hingga Mama memiliki semua ini."

Mira terkejut tak menyangka mendengar kalimat itu. Dia nyaris berbisik dengan tatapan melotot. "Kenapa kamu jadi bahas-bahas masa lalu kita?"

"Maaf, Ma, aku nggak bermaksud ngebahas. Aku cuman mau ngingetin Mama tentang siapa kita dulu. Supaya Mama nggak lupa diri dan harusnya Mama tahu gimana rasanya jadi orang miskin."

Mira makin berang mendengarnya. "Kamu ini, ya, makin lama makin kurang aja sama Mama. Kamu pasti terpengaruh sama istrimu itu kan? Kamu belain dia sampai ngatain Mama begitu! Kurang ajar sekali kamu!"

"Maaf, Ma, aku nggak bermaksud melawan Mama. Tapi sikap Mama ke Intan itu memang udah keterlaluan dan aku nggak bisa terima. Dan aku juga nggak mau Mama lupa diri."

"Benar-benar keterlaluan kamu, Bima." Mira menjerit melihat Bima yang kemudian berlalu meninggalkannya.

Tasya yang menguping sejak tadi lalu muncul menghadap mamanya. Dia mengusap bahu mamanya. "Ma, udah, Ma, tenang. Mama udah tua, jangan terlalu sering emosi. Apalagi gara-gara mereka. Yang ada nanti Mama jatuh sakit."

Mira menoleh pada Tasya. "Lihat kelakuan kakakmu. Makin hari makin kurang ajar aja dia sama Mama."

"Iya, Ma. Aku ngerti perasaan Mama. Dan itu semua gara-gara Kak Intan. Pasti dia yang sudah mengompori Kak Bima buat melawan Mama. Benar-benar keterlaluan dia itu!"

Sementara itu Intan yang sejak tadi mendengar pertengkaran suami dan ibu mertuanya hanya bisa menangis seorang diri di dalam kamar. Dia selalu berharap pada Tuhan untuk diberi kesabaran yang luas dalam menjalani pernikahan yang penuh tekanan ini.

"Sayang, kamu belum tidur?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   189. Kabar Tak Terduga

    Kabar Duka, Seorang Pengusaha Sukses, Fara Wijayanti, Dikabarkan Meninggal Dunia karena Lompat dari Ketinggian Gedung Lima Lantai. Bima membaca judul artikel online pagi itu berkali-kali. Bolak-balik dia membaca judul hingga isi artikel, lalu balik lagi ke judul. Memastikan bahwa sosok yang diberitakan itu adalah orang yang dia kenal. Bahkan dalam artikel tersebut terdapat foto sosok yang bunuh diri, dia sudah tampak meregang nyawa. Bima mengernyit. "Tante Fara meninggal karena bunuh diri? Ini benar nggak sih?" Bima bergumam seorang diri.Bima sebenarnya baru saja bangun, dan seperti biasa, rutinitasnya di pagi hari libur membaca berita, baik online maupun offline di koran. Tapi berita yang kali ini sungguh tak dia duga. "Kenapa, Mas, mukanya tegang gitu." Intan yang mengantarkan camilan dan minuman untuk suaminya melihat ekspresi suaminya yang begitu tegang, apalagi yang pria itu pikirkan? Intan meletakkan makanan itu di atas meja. Bima langsung mendongak menatap istrinya. Wajahn

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   188. Kembalinya Sang Ibu Mertua (2)

    "Mama lagi istirahat di kamar, lagi dimandiin sama Bi Iyem," jawab Intan yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi minuman dan sepiring makanan. Bima dan Risyad menatap ke arah Intan sekilas lalu mereka terdiam. Tasya pun menatap Intan. Wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan. Lalu dengan angkuh dia berjalan melewati Intan menuju kamar mamanya. Intan menatap kepergian Tasya sekilas, sikap Tasya barusan sedikit banyak membuatnya kepikiran, tapi dia tak mau terlalu memikirkannya. "Ini, Mas, Risyad, silakan diminum." Intan meletakkan minuman di atas meja. "Makasih, Sayang," jawab Bima. "Sama-sama, Mas," jawab Intan sembari tersenyum simpul. "Hmm kalau gitu aku ke dapur lagi, ya, Mas. Itu kuenya jangan lupa di makan." Intan pamit memandangi suami dan Risyad bergantian sebelum akhirnya pergi dari sana. Sepeninggal Intan, Risyad menatap iparnya sambil tersenyum simpul. "Bahagia ya, Bim, punya istri rajin kayak Intan. Udah ada ART masih nyempetin buat minuman." Risyad bisa melihat b

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   187. Kembalinya Sang Ibu Mertua

    "Mama!" Adalah Intan orang pertama yang berlari menyambut Mira ke halaman saat dilihatnya ibu mertuanya itu dipapah oleh Risyad turun dari mobil. Intan langsung mengambil alih Mira dari Risyad, dan mendorong kursi roda ibu mertuanya pelan menuju teras. "Mama, Mama baik-baik aja, kan, Ma? Aku senang dan lega banget Mama akhirnya bisa pulang ke rumah," sambut Bima yang sejak tadi berdiri di teras. Pria itu lantas berjongkok memeluk mamanya. Dia bahkan sampai menangis penuh penyesalan. "Maafin Bima, Ma, maafin Bima yang nggak jagain Mama." Bima sungguh-sungguh menyesal terlebih ketika dia teringat mamanya yang mengejarnya hingga terjadi kecelakaan yang membuat mamanya jadi seperti ini. Sementara Mira di kursi rodanya hanya diam, diam-diam dia mengeluarkan air mata. Dia teringat dengan cerita Fara bahwa Bima sempat datang untuk menyelamatkannya, tapi gagal. Mira lalu menatap anaknya lekat-lekat. Lebam di wajah Bima masih terlihat samar. Itu pasti lebam bekas habis dipukuli. Sa

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   186. Ketahuan

    Maya terus memainkan kursi roda itu di pinggir kolam renang, memiringkannya, nyaris menjatuhkannya. Membuat Mira menjerit ketakutan, sesekali Maya tertawa. "Ups, Tante takut, ya?" Maya mengejek di belakangnya. "Tenang aja aku ada di sini jadi Tante nggak perlu takut." Mira ingin bicara tapi tidak bisa hingga dia hanya bergumam tidak jelas sembari menggelengkan kepalanya. Matanya terus tertuju pada air kolam renang, dia sungguh ketakutan. "Tante pengen belajar berenang nggak?" tanya Maya di belakangnya. "Kalau mau aku bisa ajarin." Mira hanya bisa menggeleng-geleng. "Diam di tempat!" Tiba-tiba saja sebuah suara memberi perintah. Maya yang kini membelakangi pintu tak berani bergerak, gadis itu mematung di tempatnya, dan matanya membelalak menatap ke depan. Dia tahu itu suara polisi. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba masuk ke sini? "Anda jangan bergerak, diam di tempat!" perintah suara itu lagi. Lalu suara langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Detik itu, Maya langsung mele

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   185. Muslihat Maya

    Maya masuk ke ruangan Mira sambil mengucapkan permisi. Gadis itu juga membawa kursi roda yang sepertinya untuk Mira. "Halo, permisi, Tante." Gadis itu lalu menutup pintu. Lantas dia berjalan mendekati Mira sambil tersenyum, mendorong kursi rodanya. "Hai, Tante, apa kabar? Ketemu lagi kita di sini." Mira melotot menatap ke arah Maya. Tapi Maya tetap tenang melihatnya, gadis itu lalu tersenyum saja. "Tante kenapa liatin aku kayak gitu? Tadi Mama cerita katanya Tante ada di sini, jadi ya udah aku samperin aja ke sini. Aku kangen loh sama, Tante. Udah lama, ya, kita nggak ketemu?" Mira lagi lagi hanya bisa terdiam. Dia tak mengerti maksud sikap gadis itu. Sementara Maya senantiasa tersenyum. Gadis itu lalu melirik piring berisi makanan yang ada di meja, lantas dia menatap Mira kembali. "Mama bilang Tante nggak mau makan, ya? Ya udah sekarang biar aku suapin, ya?" Maya lalu mengambil piring itu, menyedokkannya dan mengarahkan sendok itu pada Mira. "Buka dong mulutnya, Tante. Tante ha

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   184. Bantuan

    "Ayok makan, dong, saya sudah berbaik hati, ya, ini mau suapin kamu makan, kamu jangan memancing emosi saya begini!" Emosi Fara makin tersulut melihat Mira yang tak mau membuka mulutnya. "Kamu mau mati kelaparan hah? Udah tahu nggak bisa makan sendiri, nggak mau juga disuapin. Kamu ini udah sakit aja masih belagu ya, Mira." Fara menggeleng seakan tak habis pikir. "Ya sudah kalau kamu memang nggak mau makan. Saya nggak mau pusing-pusing mikirin kamu. Kamu makan aja sendiri kalau bisa ini?" Fara meletakkan piring itu di atas meja dengan agak kasar. Lantas dia keluar dari ruangan itu dengan kesal. Namun, begitu dia membuka pintu ruang, terkejut lah dia dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Buru-buru dia keluar dan segera menutup pintu lantas menguncinya. Dia menatap orang itu tajam. "Ngapain kamu berdiri di sini, Imas?! Kamu nguping, ya?!" tanyanya sambil melotot tajam. Sementara ART yang sejak tadi berdiri di depan ruang itu terlihat takut-takut. Sambil menunduk dan suara gem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status