Share

Derita Istri yang Difitnah Mandul
Derita Istri yang Difitnah Mandul
Author: Aprillia D

Prolog

Author: Aprillia D
last update Last Updated: 2025-04-13 18:50:05

"Selamat ulang tahun yang ke lima puluh lima tahun, Ma." Intan mengucapkan ulang tahun pada ibu mertua tercintanya. "Semoga Mama panjang umur, sehat selalu, bahagia selalu dan pastinya selalu sayang sama kami. Pokoknya aku doakan yang terbaik buat Mama. Dan ini hadiah dari aku dan Mas Bima buat Mama." Intan lalu mengulurkan tootbag berisi hadiah ulang tahun untuk sang mertua.

Mirawati, sang mertua, tersenyum lalu mengintip isi tootbag itu. Ternyata di dalamnya ada sekotak perhiasan, barang berharga favoritnya. "Kalian selalu tahu kesukaan Mama. Makasih, ya, Intan," jawabnya kemudian.

"Sama-sama, Ma,"

"Kamu memang menantu Mama yang paling baik," pujinya lagi.

"Selamat ulang tahun juga ya, Ma." Bima, sang anak pertama ikut mengucapkan. "Aku doain yang terbaik buat Mama. Kami bahagia bisa hadir dan berkumpul di acara bahagia Mama ini. Iya kan, Sayang?" Bima lalu merangkul istrinya yang mengangguk mengiyakan.

Tasya, sang anak kedua juga tak mau kalah dari kakaknya ikut mengucapkan mamanya ulang tahun. Serta memberi hadiah berupa perhiasan mahal, darinya dan Risyad, suaminya. Begitu juga dengan Mischa, putri ketiga sekaligus putri bungsu Mirawati. Mereka berlomba-lomba menarik perhatian sang mama tercinta.

Malam itu, di sebuah restoran mewah ulang tahun Mirawati, wanita paruh baya yang usianya genap lima puluh lima tahun, dirayakan. Hari itu menjadi hari yang membahagiakan baginya. Seluruh anggota keluarganya berkumpul menghadiri acara ulang tahunnya.

Siapa pun bisa melihat kebahagiaan terpancar di wajah awet muda milik Mirawati. Dia menatap anak dan menantunya satu persatu dengan haru. "Mama nggak tahu lagi harus mengucapkan apa sama kalian yang selalu perhatian sama Mama, selain terima kasih."

"Mama harusnya nggak ngomong gitu," sahut Bima. "Karena udah kewajiban kita berbakti sama Mama setelah apa yang sudah Mama berikan sama kami selama ini. Bahkan ini belum ada apa-apanya dibanding jasa Mama selama ini. Papa udah nggak ada. Dan aku sebagai anak nggak mau kehilangan momen membahagiakan orang tuaku lagi seperti aku yang kehilangan momen bersama Papa," jelasnya panjang lebar.

Mendengar anaknya mengungkit soal suaminya, wajah Mira yang tadi tersenyum kini sedikit murung. Dia pun jadi teringat dengan mendiang suaminya yang telah meninggal akibat kecelakaan pesawat di masa lalu. Suaminya itu begitu baik, seandainya dia masih hidup, dia pasti juga ikut merayakan ulang tahun ini, bahkan suaminya yang selalu menyiapkan kejutan untuk ulang tahun Mira.

"Udah, Ma. Jangan sedih, yang penting di sini ada kami yang selalu ada buat Mama." Tasya berusaha menghibur mamanya kala dilihatnya wajah sang ibu mulai murung.

"Iya, Ma. Tugas kami berbakti kepada Mama." Intan, istrinya Bima, ikut menimpali.

Fokus Mirawati lalu beralih pada Intan dan tersenyum menatap menantu kesayangannya itu. "Kamu cuman menantu Mama, tapi kamu baik banget sama Mama." Mirawati lalu tertawa, mengalihkan pandangan ke perut Intan yang buncit. "Kalian bener, harusnya hari ini Mama bahagia banget, karena nggak cuman dapat kado dan perhatian dari kalian. Tapi juga calon cucu laki-laki dalam kandungan kamu."

Intan tersenyum dan menunduk, ikut memandangi perut buncitnya yang kini tengah dipegang ibu mertuanya.

"Sehat-sehat ya cucu Eyang." Mirawati bicara pada bayi dalam kandungan itu. Lantas dia menatap menantunya. "Jaga kandunganmu, ya, Intan. Kamu harus jaga kesehatan. Usia kandunganmu sudah enam bulan, beberapa bulan lagi kamu lahiran. Mama nggak sabar mau menyambut cucu kesayangan Mama."

Intan tak kalah bahagia mendengarnya. "Iya, Ma. Insya Allah bayi ini akan lahir dan hadir di tengah keluarga kita dengan sehat. Dia pasti senang punya Eyang, dan Onty-onty yang baik dan menyayanginya." Intan lalu mengusap perutnya.

Mira tertawa mendengarnya. "Mama jadi benar-benar nggak sabar nunggu momen itu tiba. Makasih, ya, Intan, udah kasih Mama cucu laki-laki. Makasih juga, Bima." Mira tersenyum memandangi anak dan menantunya bergantian. Bima tersenyum bahagia. Selanjutnya mereka bercakap-cakap tentang kebahagiaan di masa depan.

Sementara Tasya sejak tadi hanya menatap pemandangan itu dengan penuh rasa iri.

"Mama." Lalu dia tersadar ketika, Keisya, anaknya yang berusia enam tahun dan tengah menikmati kue ulang tahun sejak tadi memanggilnya.

Tasya pun menunduk menatap anaknya. "Iya, Sayang?"

"Eyang kok ngomongnya gitu?"

Tasya mengerjap-ngerjap tak mengerti. "Ngomong apa, Sayang?"

"Eyang kok bilang dedek bayi dalam kandungan Tante Intan cucu kesayangan? Memangnya Eyang nggak sayang sama Keisya?"

Mendengar pertanyaan itu, rasanya membuat darah Tasya mendidih. Apalagi ucapan mamanya itu ternyata didengar oleh Keisya. Dia tak habis pikir bisa-bisanya mamanya bicara seperti itu di depan Keisya. Mama tidak memikirkan perasaan Keisya. Namun, Tasya berusaha menahan emosinya di depan anaknya dan tetap tersenyum tenang.

"Eyang sayang juga kok sama Keisya," jawabnya kemudian.

"Terus kenapa Eyang ngomong gitu, Ma?"

"Eyang kan sayang sama semua cucunya. Jadi semua cucunya bakal jadi cucu kesayangan Eyang, gitu maksudnya, Sayang." Lalu dia sedikit berbisik pada anaknya. "Lagi pula, ya, Eyang itu cuman basa-basi aja di depan Tante Intan, biar dia senang."

"Gitu, ya, Ma?" Keisya masih terlihat bingung.

"Iya. Udah kamu jangan pikirin itu. Habisin aja kuenya."

"Tasya, kamu ngomong apa sih sama Keisya? Anak sekecil dia mana ngerti." Risyad, suaminya tiba-tiba menegur. Namun, Tasya tak menghiraukan. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.

Jujur ucapan anaknya sedikit banyak mengganggu pikirannya. Membuatnya semakin iri saja dengan Intan yang bisa menghasilkan anak laki-laki. Sementara dirinya, anak pertamanya perempuan dan sampai detik ini dia belum hamil lagi. Dan kalau dia hamil, mamanya menuntut anak lelaki darinya. Dan selama ini dia akui mamanya itu memang tidak terlihat begitu menyayangi Keisya karena Mira menganggap Keisya anak nakal yang menyebalkan.

Memang begitu penting peran anak laki-laki dalam keluarga mereka. Karena kelak anak lelaki itu yang akan menjadi penerus perusahaan di keluarga mereka. Saat ini Intan sedang mengandung anak lelaki, yang itu artinya Intan akan semakin disayang oleh Mama, Intan jadi disayang di keluarganya. Bahkan mungkin nanti, anak itu akan menjadi pewaris yang memimpin perusahaan mereka kelak. Tasya benci hal itu.

Tasya melihat Intan pergi menuju toilet, lalu dia pun menyusul kakak iparnya itu.

***

"Kamu jangan senang dulu, Intan." Tasya bersidekap dada, mencegat kakak iparnya begitu keluar dari pintu toilet. Tasya mengangkat dagunya, menatap kakak iparnya dengan angkuh. Sorot matanya seolah mengatakan 'jangan coba-coba rebut perhatian Mama dari aku'

Melihat keberadaan adik iparnya itu tentu saja membuat Intan terkejut bukan main. "Ya ampun, Tasya, kamu sejak kapan ke sini?" tanya Intan kemudian sambil melihat keadaan sekitar mereka. Toilet itu sepi, hanya ada mereka berdua.

Tak memedulikan perkataan kakak iparnya barusan, Tasya kembali bicara. "Aku nggak bosan memberitahu kamu Intan kalau Mama baik sama kamu itu hanya karena kamu tengah mengandung anak laki-laki. Kalau enggak, kamu udah dicampakkan dari dulu. Jadi nggak usah ngerasa paling bahagia." Tasya menatap Intan tajam.

Mendengar itu, Intan, yang sudah terbiasa tak terkejut lagi. Wanita itu selalu bersabar tiap mendapat perlakuan tak menyenangkan dari adik iparnya. Sikap adik iparnya itu sudah menjadi makanan baginya.

Intan mencoba tersenyum. "Memangnya salah, ya, kalau aku merasa bahagia?" Intan malah bertanya demikian membuat Tasya sengit.

"Kamu pastinya nggak lupa kan gimana dulu Mama memperlakukan kamu? Mama nggak pernah suka sama kamu," lanjut Tasya lagi. "Jadi kamu nggak usah sok merasa paling spesial di keluarga ini hanya karena kamu sedang mengandung anak laki-laki. Saat ini kamu boleh aja merasa berada di atas awan, Intan. Tapi aku pastikan kebahagiaanmu nggak akan bertahan lama. Mama bisa aja baik sama kamu, tapi aku dan Mischa nggak akan pernah suka sama kamu. Kami nggak pernah sudi punya kakak ipar kayak kamu."

Intan terdiam mendengarnya. Rasanya berapa kali pun dia menjelaskan, adik iparnya itu tak pernah mau percaya padanya. Jadi rasanya percuma saja dia bicara.

Selanjutnya, Tasya melempar senyum sinis, lalu keluar dari toilet itu.

Selepas kepergian Tasya, Intan menatap wajahnya di depan cermin. "Intan, kamu harus kuat, ya. Kamu harus sabar ...." Lalu wanita itu tersenyum. Begitulah cara Intan menguatkan dirinya setiap hari kala dia mendapat tekanan dan perlakuan tak menyenangkan dari keluarga suaminya.

Dari awal keluarga suaminya memang tidak menyukainya. Dari awal masuk ke keluarga ini, Intan sudah tahu apa risikonya. Intan sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Dan sampai sejauh ini dia mampu menghadapi semuanya.

Karena Intan punya keyakinan di dalam hati, suatu saat nanti seluruh keluarga suaminya pasti akan menerimanya dan menyukainya. Untuk saat ini dia bersyukur, ibu mertuanya sudah bisa menerimanya. Dan dia yakin, kelak kedua adik iparnya juga pasti bisa menerimanya dengan baik.

***

Waktu terus berlalu. Intan menjalani hari-harinya dengan bahagia. Dia tak sabar menunggu kelahiran si buah hati yang nanti akan membuat keluarga ini makin bahagia.

Intan tersenyum mengusap perut buncitnya sambil duduk di pinggir kasur. "Terima kasih, ya, Sayang. Kamu sudah hadir di perut Mama. Kehadiranmu sangat berarti buat Mama. Kamu yang berjasa buat Mama. Semenjak adanya kamu, hidup Mama semakin bahagia. Mama jadi nggak sabar pengin lihat kamu cepat-cepat besar dan lahir ke dunia ini. Kehadiran kamu nanti nggak hanya disambut sama Mama dan Papa, tapi juga sama eyang putri, onty-onty yang baik, mereka semua akan sangat menyayangimu, Nak." Intan mengajak bayinya bicara dan dia tertawa kala merasakan perutnya bergerak-gerak, bayinya meresponsnya.

Sungguh kebahagiaan yang Intan rasakan karena kehadiran bayi itu tak bisa diungkap dengan kata-kata.

Sampai kejadian yang membawa malapetaka dalam hidupnya datang.

Waktu itu Intan sedang mengemasi kamarnya. Meski sedang hamil, Intan masih senang beberes rumah. Kehamilan tak membuatnya malas. Setelah menyapu kamar, Intan hendak mengampar tikar di lantai kamarnya itu. Akan tetapi ternyata tikarnya berada di atas lemari pakaian yang tinggi.

"Ya ampun tinggi banget. Itu pasti Mas Bima, deh, yang simpan." Intan menghela napas. "Hmm gimana ya ngambilnya?"

Sebuah ide langsung muncul saat dia melihat kursi plastik di kamarnya. Intan tersenyum. "Bukan Intan namanya kalau kehabisan ide."

Wanita yang sedang hamil tua itu pun tanpa ragu mengambil kursi itu dan mendekatkannya ke lemari, tepat di bawah tikar plastik itu berada.

Selama hamil tua, Intan memang cukup sering mengerjakan pekerjaan rumah yang berat. Dia pikir tak masalah karena kandungannya sudah kuat. Dan itu terbukti mengingat selama ini kandungannya baik-baik saja. Karenanya dia juga tidak ragu untuk menaiki kursi plastik demi mengambil tikar plastik yang ada di atas lemari.

Pelan-pelan, Intan pun naik ke atas kursi plastik itu. Lalu tangannya terulur ke atas lemari untuk mengambil tikar yang tergulung. Ketika tangannya sedikit lagi mencapai ujung tikar itu, tiba-tiba sesuatu yang entah apa jatuh dari atas dan menimpa bahunya.

Intan spontan menjerit dan meronta-ronta karena hal itu. "Cicak! Cicak!" jerit dan ketakutannya semakin menjadi kala tahu apa yang menimpanya.

Akibatnya tubuh Intan yang berdiri di atas kursi itu kehilangan keseimbangan. Dan tanpa bisa ditahan, Intan beserta perutnya yang buncit jatuh menghantam kerasnya lantai ubin. Intan pingsan setelah berteriak kesakitan.

Mendengar suara teriakan, Mirawati datang ke kamar dengan wajah panik. Kepanikannya menjadi melihat tubuh Intan menelungkup di atas lantai dan tak sadarkan diri.

"Ya ampun, Intan!" Mirawati berjongkok, menjerit histeris menyadari Intan sedang hamil besar. Dia membalikkan tubuh Intan dan memegangi perut buncit menantunya. "Cucuku! Ya Allah cucuku!"

Aprillia D

Halo, Readers, aku bawa cerita baru nih? Gimana prolognya? Tertarik nggak buat baca bab selanjutnya? Ikuti terus, ya. Dan jangan lupa simpan cerita ini di library kalian, biar mudah dapat notif kalau aku update. Thankyou.

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
sedih kalau kita harus kehilangan anak apalagi ini keguguran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   189. Kabar Tak Terduga

    Kabar Duka, Seorang Pengusaha Sukses, Fara Wijayanti, Dikabarkan Meninggal Dunia karena Lompat dari Ketinggian Gedung Lima Lantai. Bima membaca judul artikel online pagi itu berkali-kali. Bolak-balik dia membaca judul hingga isi artikel, lalu balik lagi ke judul. Memastikan bahwa sosok yang diberitakan itu adalah orang yang dia kenal. Bahkan dalam artikel tersebut terdapat foto sosok yang bunuh diri, dia sudah tampak meregang nyawa. Bima mengernyit. "Tante Fara meninggal karena bunuh diri? Ini benar nggak sih?" Bima bergumam seorang diri.Bima sebenarnya baru saja bangun, dan seperti biasa, rutinitasnya di pagi hari libur membaca berita, baik online maupun offline di koran. Tapi berita yang kali ini sungguh tak dia duga. "Kenapa, Mas, mukanya tegang gitu." Intan yang mengantarkan camilan dan minuman untuk suaminya melihat ekspresi suaminya yang begitu tegang, apalagi yang pria itu pikirkan? Intan meletakkan makanan itu di atas meja. Bima langsung mendongak menatap istrinya. Wajahn

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   188. Kembalinya Sang Ibu Mertua (2)

    "Mama lagi istirahat di kamar, lagi dimandiin sama Bi Iyem," jawab Intan yang tiba-tiba muncul membawa nampan berisi minuman dan sepiring makanan. Bima dan Risyad menatap ke arah Intan sekilas lalu mereka terdiam. Tasya pun menatap Intan. Wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan. Lalu dengan angkuh dia berjalan melewati Intan menuju kamar mamanya. Intan menatap kepergian Tasya sekilas, sikap Tasya barusan sedikit banyak membuatnya kepikiran, tapi dia tak mau terlalu memikirkannya. "Ini, Mas, Risyad, silakan diminum." Intan meletakkan minuman di atas meja. "Makasih, Sayang," jawab Bima. "Sama-sama, Mas," jawab Intan sembari tersenyum simpul. "Hmm kalau gitu aku ke dapur lagi, ya, Mas. Itu kuenya jangan lupa di makan." Intan pamit memandangi suami dan Risyad bergantian sebelum akhirnya pergi dari sana. Sepeninggal Intan, Risyad menatap iparnya sambil tersenyum simpul. "Bahagia ya, Bim, punya istri rajin kayak Intan. Udah ada ART masih nyempetin buat minuman." Risyad bisa melihat b

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   187. Kembalinya Sang Ibu Mertua

    "Mama!" Adalah Intan orang pertama yang berlari menyambut Mira ke halaman saat dilihatnya ibu mertuanya itu dipapah oleh Risyad turun dari mobil. Intan langsung mengambil alih Mira dari Risyad, dan mendorong kursi roda ibu mertuanya pelan menuju teras. "Mama, Mama baik-baik aja, kan, Ma? Aku senang dan lega banget Mama akhirnya bisa pulang ke rumah," sambut Bima yang sejak tadi berdiri di teras. Pria itu lantas berjongkok memeluk mamanya. Dia bahkan sampai menangis penuh penyesalan. "Maafin Bima, Ma, maafin Bima yang nggak jagain Mama." Bima sungguh-sungguh menyesal terlebih ketika dia teringat mamanya yang mengejarnya hingga terjadi kecelakaan yang membuat mamanya jadi seperti ini. Sementara Mira di kursi rodanya hanya diam, diam-diam dia mengeluarkan air mata. Dia teringat dengan cerita Fara bahwa Bima sempat datang untuk menyelamatkannya, tapi gagal. Mira lalu menatap anaknya lekat-lekat. Lebam di wajah Bima masih terlihat samar. Itu pasti lebam bekas habis dipukuli. Sa

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   186. Ketahuan

    Maya terus memainkan kursi roda itu di pinggir kolam renang, memiringkannya, nyaris menjatuhkannya. Membuat Mira menjerit ketakutan, sesekali Maya tertawa. "Ups, Tante takut, ya?" Maya mengejek di belakangnya. "Tenang aja aku ada di sini jadi Tante nggak perlu takut." Mira ingin bicara tapi tidak bisa hingga dia hanya bergumam tidak jelas sembari menggelengkan kepalanya. Matanya terus tertuju pada air kolam renang, dia sungguh ketakutan. "Tante pengen belajar berenang nggak?" tanya Maya di belakangnya. "Kalau mau aku bisa ajarin." Mira hanya bisa menggeleng-geleng. "Diam di tempat!" Tiba-tiba saja sebuah suara memberi perintah. Maya yang kini membelakangi pintu tak berani bergerak, gadis itu mematung di tempatnya, dan matanya membelalak menatap ke depan. Dia tahu itu suara polisi. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba masuk ke sini? "Anda jangan bergerak, diam di tempat!" perintah suara itu lagi. Lalu suara langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Detik itu, Maya langsung mele

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   185. Muslihat Maya

    Maya masuk ke ruangan Mira sambil mengucapkan permisi. Gadis itu juga membawa kursi roda yang sepertinya untuk Mira. "Halo, permisi, Tante." Gadis itu lalu menutup pintu. Lantas dia berjalan mendekati Mira sambil tersenyum, mendorong kursi rodanya. "Hai, Tante, apa kabar? Ketemu lagi kita di sini." Mira melotot menatap ke arah Maya. Tapi Maya tetap tenang melihatnya, gadis itu lalu tersenyum saja. "Tante kenapa liatin aku kayak gitu? Tadi Mama cerita katanya Tante ada di sini, jadi ya udah aku samperin aja ke sini. Aku kangen loh sama, Tante. Udah lama, ya, kita nggak ketemu?" Mira lagi lagi hanya bisa terdiam. Dia tak mengerti maksud sikap gadis itu. Sementara Maya senantiasa tersenyum. Gadis itu lalu melirik piring berisi makanan yang ada di meja, lantas dia menatap Mira kembali. "Mama bilang Tante nggak mau makan, ya? Ya udah sekarang biar aku suapin, ya?" Maya lalu mengambil piring itu, menyedokkannya dan mengarahkan sendok itu pada Mira. "Buka dong mulutnya, Tante. Tante ha

  • Derita Istri yang Difitnah Mandul   184. Bantuan

    "Ayok makan, dong, saya sudah berbaik hati, ya, ini mau suapin kamu makan, kamu jangan memancing emosi saya begini!" Emosi Fara makin tersulut melihat Mira yang tak mau membuka mulutnya. "Kamu mau mati kelaparan hah? Udah tahu nggak bisa makan sendiri, nggak mau juga disuapin. Kamu ini udah sakit aja masih belagu ya, Mira." Fara menggeleng seakan tak habis pikir. "Ya sudah kalau kamu memang nggak mau makan. Saya nggak mau pusing-pusing mikirin kamu. Kamu makan aja sendiri kalau bisa ini?" Fara meletakkan piring itu di atas meja dengan agak kasar. Lantas dia keluar dari ruangan itu dengan kesal. Namun, begitu dia membuka pintu ruang, terkejut lah dia dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Buru-buru dia keluar dan segera menutup pintu lantas menguncinya. Dia menatap orang itu tajam. "Ngapain kamu berdiri di sini, Imas?! Kamu nguping, ya?!" tanyanya sambil melotot tajam. Sementara ART yang sejak tadi berdiri di depan ruang itu terlihat takut-takut. Sambil menunduk dan suara gem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status