LOGIN"Bu Indira. Maaf, saya baru bisa bawa pak Bara pulang sekarang," ucap Rudi yang kesulitan memapah Bara. Napasnya sampai terengah-engah, pertanda ia kesulitan untuk membawa bosnya pulang.Indira terlihat sedih melihat suaminya pulang dalam keadaan seperti ini. Mabuk. Pada dini hari. Bara tidak pernah seperti ini sebelumnya.'Apa aku begitu menyakitimu, Mas?' kata Indira dalam hatinya. "Terima kasih Pak Rudi. Pak Rudi sudah menjaga suami saya dan membawanya pulang dengan selamat. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, kalau seandainya pak Rudi tidak ada disamping suami saya." Indira mengucapkan terima kasih pada Rudi yang sudah bisa diam menjaga suaminya selama di club malam. Ia tidak tahu godaan apa di luar sana yang mungkin akan menerpa suaminya , jikalau tak ada Rudi."Ini sudah tugas saya, Bu. Dan mohon maaf, saya tidak bisa mencegah Pak Bara untuk tidak mabuk," katanya sopan pada Indira.Indira menggelengkan kepalanya. "Tidak apa."Dengan bantuan Rudi, Indira berhasil membawa sua
Helena terpekik kesakitan. Rambutnya yang pendek tak cukup untuk dijadikan pegangan, namun jari-jari Eva tetap mencengkeram kuat, membuat kulit kepalanya perih. Radit dan Reina cepat bertindak. Radit menarik tangan Eva dengan lembut tapi tegas."Tante, tolong! Lepaskan dulu. Saya mengerti kemarahan Tante, tapi kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah."Reina ikut memegang bahu Eva. "Tante sudah. Biarkan dia bicara sampai selesai."Eva melepaskan pegangannya dengan kasar. Dadanya naik turun. Air matanya sudah jatuh, membasahi pipi yang mulai keriput karena usia dan duka yang tak pernah benar-benar sembuh. "Apa gunanya dia bicara sekarang? Putriku sudah meninggal! Celine tumbuh tanpa ibunya! Dan kalian..." Ia menunjuk Radit, "...kalian semua hanya diam saja bertahun-tahun!"Helena bersandar di kursinya, tangannya gemetar hebat. "Saya ... saya tidak bermaksud sampai separah itu. Saya pikir Bu Amara hanya akan marah pada Pak Radit, mungkin mereka bertengkar sebentar, lalu saya bisa ...
Indira memutuskan untuk tidak masuk kerja hari itu. Ia menghubungi kantornya dan meminta cuti mendadak. Untunglah jadwalnya tidak terlalu padat. Tidak ada agenda yang penting. Sepanjang hari, ia hanya diam di kamar. Memandangi langit-langit kamar. Mengingat-ingat di mana letak kesalahannya. Apakah ia terlalu sibuk bekerja? Apakah ia kurang perhatian pada Bara? Apakah ia seharusnya tidak bertemu Dewa sama sekali meskipun untuk alasan menyelamatkan diri? Tapi kan itu kebetulan. Dewa. Nama itu kembali menghantui. Mantan tunangannya yang dulu hampir dinikahinya sebelum akhirnya ia sadar bahwa cinta sejatinya adalah Bara. Pertemuan mereka semalam benar-benar kebetulan dan itu membuat Bara cemburu.Indira menggeleng. Ia tidak boleh paranoid. Dewa tidak mungkin terlibat dalam semua ini. Dewa sudah memiliki kehidupan sendiri. Dewa bahkan sudah menikah dan memiliki anak.Tapi benarkah?***Di rumah, Nathan dan Nala duduk di teras belakang. Mereka melihat Yuli yang sedang menyiram tanaman sam
Bara membanting pintu kamar. Suara keras itu bergema di seluruh rumah, membuat Nathan yang sedang belajar di kamarnya tersentak. Nala yang baru saja bangun dari tidur siang langsung menangis mendengar suara keras itu.Yuli, pengasuh kedua anak itu, muncul dari dapur dengan wajah kalem. Terlalu kalem. Matanya mengamati Indira yang masih berdiri di ruang tamu dengan air mata mengalir di pipi."Bu Indira... tidak apa-apa?" tanya Yuli dengan nada penuh kepedulian. Tapi ada sesuatu di balik suaranya. Sesuatu yang dingin. Sesuatu yang jika Indira tidak sedang terlalu hancur, mungkin akan bisa ia rasakan.Indira menggeleng pelan. "Tolong jaga Nala dan Nathan ya, Mbak Yuli. Aku mau ke kamar mandi."Ia berjalan lemas menuju kamar mandi. Di balik pintu tertutup, ia membiarkan dirinya menangis sekencang-kencangnya. Air keran ia nyalakan agar suara tangisnya tak terdengar. Tapi hatinya hancur. Benar-benar hancur.Bagaimana mungkin Bara tidak percaya padanya? Bukankah mereka sudah melewati begitu
Hari-hari berikutnya, Indira berusaha tak memikirkan semua itu. Ia tetap bekerja seperti biasa. Begitu pula Bara. Mereka tetap saling mengabari di sela-sela kesibukan masing-masing. Mereka bergantian menjemput Nathan dan Nala.Namun, ada yang berbeda. Indira merasa lebih waspada. Ia mulai memperhatikan setiap detail kecil di rumahnya. Posisi gelas yang berubah. Pintu dapur yang terkadang tidak terkunci. Aroma parfum asing yang samar-samar tercium di ruang tamu.Tapi ia tak mau terobsesi. Ia tak mau menjadi istri paranoid yang mencurigai segalanya. Ia percaya pada Bara. Ia percaya pada pernikahannya.Sampai pada suatu hari...Indira pulang kerja lebih malam dari biasanya. Proyek barunya menuntut lembur. Langit sudah benar-benar gelap saat ia berjalan menuju tempat parkir. Hanya beberapa mobil yang tersisa di area parkir gedungnya."Sebentar lagi sampai rumah, Nala, Nathan," gumamnya sambil membuka kunci mobil.Akan tetapi, sebelum ia sempat membuka pintu mobil, tiga orang pria muncul d
"Dari mana kamu dapat foto ini?" Bara menahan senyum saat melihat foto yang disodorkan istrinya."Dari meja kerja kamu, Mas. Jawab aku. Kamu ada hubungan apa sama Gisella? Jangan-jangan dia mantan kamu?" ucap Indira yang mencecar suaminya dengan pertanyaan itu.Bara terdiam sejenak, mendengar kata-kata tuduhan dari Indira. Ia mulai berpikir. Sampai akhirnya ia bicara."Ini editan Sayang. Apa kamu nggak lihat?"Indira terdiam, raut wajahnya tak terbaca dan entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Bara pun menghela napas berat."Kita ke ahli it kalau kamu gak percaya ini editan.""Aku percaya sama kamu Mas. Tapi apa maksudnya ada foto ini di ruang kerja kamu? Siapa yang menyimpannya dan kenapa kamu dibuat seolah-olah udah kenal lama sama Bu Gisella ini?"Indira mencecar Bara dengan pertanyaan yang ada dipikirannya. Heran saja, kenapa ada orang yang melakukan ini? Siapa?"Aku juga gak tahu. Apa perlu kita cari tahu siapa orangnya? Ada CCTV di ruang kerjaku di kantor. Kita lihat yuk!" aj
"Indira, jawab. Mereka ...Nathan dan Nala, anak-anakku, kan?"tanya Bara yang semakin mendesak Indira. Ia butuh jawaban segera. Meskipun hatinya sudah berkata, kalau ia memiliki ikatan dengan Nala dan Nathan. Bahkan saat pertama kali ia bertemu dengan kedua anak kembar itu."Tidak, mereka anak-anakk
Rasa cemburu panas membakar dada Bara, saat melihat betapa dekatnya Indira dengan Dewa. Membayangkan betapa selama ini mereka berdua sangat dekat dibelakangnya dan ia tidak tahu apa-apa.Bahkan Dewa sering kali bertemu dengannya, tapi lelaki itu tidak mengatakan apa-apa tentang Indira.Bara meraih
Indira melangkah pergi begitu saja dengan dada yang terasa dihimpit batu besar. Langkahnya cepat, setengah berlari, seolah kalau ia berhenti satu detik saja, air matanya akan jatuh dan ia akan runtuh di hadapan Bara.Permintaan maaf itu yang selama enam tahun ia tunggu, ternyata tak datang sebagai
Bara menatap Indira dengan curiga, tajam dan menuntut. Nada bicaranya jelas, menginterogasi, seolah Indira adalah tahanan dan menyembunyikan rahasia.Mendengar Indira mengatakan soal anak-anak—dari sanalah Bara curiga. Sedangkan Indira, merasa gelisah karena Bara terus menodongnya dengan pertanyaan







