LOGINAku berhasil mendapatkan kontrak besar senilai enam puluh miliar rupiah untuk pabrik milik orang tuaku. Hari pembagian gaji pun tiba. Kakakku menerima bonus seratus juta. Adikku menerima bonus dua ratus juta. Sementara itu, slip gajiku hanya berisi satu baris. [Gaji pokok: Rp 6.000.000,00] “Selama sepuluh tahun ini, Kakak nggak pernah sekali pun salah menghitung pembukuan. Bonus seratus juta ini memang pantas buatmu!” “Semua klien memuji Adik karena tampan dan pandai berbicara. Kontrak besar ini juga berhasil didapat berkat jasamu! Ini dua ratus juta buatmu!” Sebelum sempat bereaksi, ibu melemparkan enam puluh lembar uang seratus ribuan yang sudah kusut ke hadapanku. “Orang bodoh dan jelek memang harus kerja lebih keras.” “Jangan lihat seberapa besar usahamu, tapi nilai yang kamu hasilkan cuma segitu.” Aku menatap slip gaji itu. Sedikit tertegun. Untuk melatih kami agar hidup mandiri, ayah dan ibu menetapkan harga untuk setiap barang di rumah. Semangkuk semur daging sapi dihargai enam puluh ribu. Mandi air panas selama sepuluh menit dikenai biaya seratus ribu. Bahkan sejak masih kecil, kami bertiga sudah diwajibkan bekerja di pabrik milik orang tua sendiri agar bisa mendapatkan uang. Kakakku pandai berhitung. Karena itu, dia ditempatkan di kantor, duduk di ruang ber-AC sambil mengurus pembukuan dan menulis kuitansi. Adikku berwajah tampan. Karena itu, dia bertugas sebagai penyambut tamu di ruang resepsionis yang selalu menyediakan camilan sepuasnya. Sedangkan aku... Ibarat batu bata. Di mana pun dibutuhkan, di situlah aku berada. Aku harus membongkar barang. Menyapu lantai. Sekaligus keluar menemui klien untuk mengurus kerja sama bisnis. Padahal, gaji kami sama-sama enam juta sebulan. Kalau ingin makan daging, aku hanya bisa bekerja mati-matian untuk membuktikan nilai diriku. Namun sekarang... Aku bahkan tak tahu lagi, untuk apa semua jerih payahku selama ini. Aku menunduk membuka ponsel, lalu menggulir deretan pesan spam sampai akhirnya menemukan sebuah pesan berisi tawaran pekerjaan bergaji tinggi.
View MoreDi seberang telepon terdengar suara ibu yang langsung tersentak kaget.“Apa? Nggak mungkin! Sebanyak itu?”Aku mendengus dingin. Baru saja hendak menutup telepon, ibu buru-buru berkata, “Meski mereka memberimu gaji setinggi apa pun, kami tetap keluargamu! Apa kamu nggak bisa melepaskan mereka dan memilih kami? Bukankah itu memang kewajibanmu sebagai seorang anak?”Aku hampir tertawa terbahak-bahak.Dari mana mereka punya muka untuk mengatakan hal seperti itu?Aku sudah tak punya kesabaran sedikit pun untuk mendengarkan pembelaan mereka.Tanpa ragu, kututup telepon itu, lalu langsung memblokir nomornya.Sejak saat itu, aku benar-benar memutuskan semua hubungan dengan keluarga yang selama ini hanya tahu “mengisap darahku”.Karena tak bisa lagi menghubungiku, mereka justru mengajukan gugatan ke pengadilan.Mereka menuntut agar aku memberikan nafkah kepada orang tua sebesar seratus juta setiap bulan.Bukan hanya itu, mereka juga menuntut agar aku kembali mengambil alih pabrik keluarga seka
Keberhasilanku mendapatkan kontrak senilai seratus miliar dari Pak Heru menjadi titik balik yang mengubah seluruh hidupku.Selama dua tahun berikutnya, aku mencurahkan seluruh tenaga dan pikiranku untuk membangun karier di perusahaan baru.Berbekal pengalaman yang kukumpulkan selama bertahun-tahun, ditambah kemampuan profesional yang terus terasah, pencapaianku melesat dengan cepat.Hanya dalam waktu dua tahun, aku berhasil mengamankan satu kontrak raksasa bernilai triliunan, lima kontrak bernilai miliaran, serta sembilan belas kontrak bernilai ratusan juta.Setiap kerja sama berjalan mulus. Setiap klien yang kutangani selalu memberikan penilaian terbaik.Posisiku sebagai sales nomor satu di perusahaan pun semakin kokoh.Tak seorang pun mampu menggoyahkannya.Gaji dan komisi terus meningkat.Dalam waktu dua tahun saja, tabunganku telah menembus angka sepuluh miliar.Kalau semua ini terjadi dulu, bahkan aku tak akan berani membayangkannya.Sementara itu…Kondisi pabrik milik kedua oran
Adikku benar-benar terpaku.Wajahnya dipenuhi keterkejutan sekaligus rasa malu.Pak Heru bahkan tak lagi melirik ke arahnya.Beliau mengulurkan tangan ke arah lift, lalu dengana sopan mempersilahkanku masuk.Namun, adikku rupanya masih belum mau menyerah. Dengan keras kepala, dia memberanikan diri menatap langsung ke arah Pak Heru dan bertanya lantang.“Pak Heru! Sungguh, saya benar-benar nggak mengerti!”“Gladis itu biasa saja. Penampilannya biasa, nggak pandai berbicara, juga nggak terlalu pintar. Orang yang nggak punya kelebihan seperti dia, kenapa justru bisa mendapat perhatian dan kepercayaan Bapak?”Pertanyaan itu ternyata juga mewakili kebingungan terbesar yang selama ini dipendam ayah, ibu dan kakakku.Dalam pemahaman mereka yang sempit, modal untuk meraih kesuksesan di dunia kerja hanyalah wajah yang menarik, kepiawaian berbicara dan kecerdasan.Mendengar pertanyaan itu, Pak Heru tak langsung menjawab.Sebaliknya, dia mengajukan sebuah pertanyaan profesional.“Kamu sudah beker
Ucapan sekretaris itu membuat mereka semua terpaku di tempat.Suasana sempat diliputi keheningan.Namun, sesaat kemudian, adikku kembali memecahnya dengan bantahan keras kepala.“Sekarang aku tahu! Dia pasti aktor yang sudah kamu bayar dari awal, ‘kan?”“Kak, mau sampai kapan kamu terus begini? Sudah bodoh, akal-akalanmu juga lucu sekali. Sebegitu inginnya kamu pamer di depan kami? Apa kamu nggak takut nanti saat sekretaris yang asli datang? Kamu bakal ditampar habis-habisan di depan semua orang, loh?”Bahkan sampai detik ini, dia masih memilih membohongi dirinya sendiri.Sekretaris itu menghela napas panjang.Jangankan marah, dia bahkan sudah terlalu malas untuk menanggapi tingkah adikku.Dengan tenang, dia sedikit memiringkan tubuh, lalu mengulurkan tangan ke arahku.“Silakan lewat sini, Nona Gladis.”Dia langsung mengantarku menuju lift khusus di sisi lain gedung.Lift yang menuju lantai paling atas gedung perkantoran ini hanya diperuntukkan bagi jajaran eksekutif dan para mitra per












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.