LOGINCang Xuan berdiri di ambang pintu ruang rahasia.Cahaya redup dari lorong jatuh ke wajah tuanya, memperlihatkan ekspresi yang sulit dibaca.Tidak ada keterkejutan.Tidak ada kepanikan.Seolah apa yang baru saja mereka temukan memang sudah lama berada dalam perhitungannya.Long Tian menatapnya tanpa berkedip.Tangannya perlahan bergerak menuju gagang pedang.Shen Luo dan Yue Ran langsung merasakan perubahan suasana.Xu Beihan tidak menghalangi.Ia hanya memandang Cang Xuan dengan sorot mata yang jauh lebih serius daripada sebelumnya."Penatua Agung..."suara Long Tian terdengar dingin."Sejak kapan kau tahu tempat ini?"Cang Xuan tidak langsung menjawab.Ia melangkah masuk ke dalam aula.Setiap langkahnya terdengar jelas di antara dinding batu.Tok...Tok...Tok...Setelah berdiri beberapa meter dari Long Tian, ia memandang prasasti Bai Jian.Tat
Cahaya rekaman perlahan memudar.Sosok Bai Jian yang baru saja berdiri di hadapan mereka mulai menjadi transparan. Suara terakhirnya masih menggantung di ruang rahasia."Long Tian..."Lalu semuanya lenyap.Lingkaran formasi di lantai berhenti berputar.Kegelapan kembali memenuhi aula bawah tanah.Tidak ada seorang pun yang berbicara.Long Tian masih berdiri di tempatnya.Tatapannya tertuju pada ruang kosong tempat Bai Jian sebelumnya berdiri.Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Su Yan.Simbol itu...Simbol yang terlihat pada tubuh orang yang dilindungi Bai Jian tidak mungkin kebetulan.Selama beberapa bulan terakhir, nama Su Yan terus muncul di balik berbagai misteri.Surat Istana Cahaya.Segel yang bereaksi dengan luka jiwanya.Formula pil lama.Suara yang muncul dalam kesadarannya.Dan sekarang...Bai Jian.Long Tian menarik napas perlahan.Namun semakin ia mencoba menenangkan pikirannya, semakin banyak potongan masa lalu bermunculan.***Dalam ingatan y
Cahaya di dalam ruang rahasia semakin terang.Lingkaran formasi kuno yang memenuhi lantai berputar perlahan, memancarkan ribuan butir cahaya yang melayang memenuhi aula batu.Long Tian berdiri paling depan.Di belakangnya, Xu Beihan, Shen Luo, dan Yue Ran menahan napas.Tak seorang pun berani bergerak.Aura yang keluar dari formasi itu bukan aura pembunuh.Namun mengandung tekanan zaman yang begitu tua hingga membuat Qi di dalam tubuh mereka ikut melambat.Butiran cahaya perlahan menyatu.Sedikit demi sedikit membentuk sosok manusia.Jubah putih.Rambut panjang yang terikat sederhana.Sebilah pedang tergantung di pinggang.Wajahnya mulai terlihat semakin jelas.Xu Beihan mengepalkan botol araknya."Bai Jian..."Suaranya nyaris tidak terdengar.Shen Luo memandang sosok itu tanpa berkedip.Entah mengapa, pola pedang yang dipancarkan bayangan tersebut terasa sangat akr
Keheningan menyelimuti ruang bawah tanah Puncak Sembilan Kematian.Tak seorang pun berbicara.Tatapan Long Tian, Xu Beihan, Shen Luo, dan Yue Ran masih tertuju pada prasasti batu yang dipenuhi retakan usia.Di atasnya terukir kalimat yang membuat udara terasa jauh lebih berat."Bai Jian mati di sini, tetapi dosanya dikubur di tempat lain."Kalimat itu sederhana.Namun bagi Long Tian...Setiap katanya terasa seperti menghantam langsung ke dalam ingatan yang selama ini berusaha ia susun kembali.Ia mengangkat tangan perlahan, menyentuh permukaan batu yang dingin.Ujung jarinya berhenti tepat pada nama Bai Jian.Untuk sesaat...Retakan halus di inti jiwanya kembali berdenyut.Rasa nyeri itu tidak sekuat ketika menerima surat dari Istana Cahaya, tetapi cukup untuk membuat napasnya tertahan.Beberapa bayangan samar melintas di benaknya.Seorang pria berjubah
Seleksi Antar-Puncak belum berakhir.Sorak-sorai masih memenuhi Arena Pedang Abadi ketika pertandingan lain terus berlangsung silih berganti. Namun perhatian Long Tian sudah tidak lagi sepenuhnya berada di arena.Sejak pola pedang Shen Luo memicu reaksi aneh di Puncak Sembilan Kematian, ia terus merasakan denyut Qi yang sangat tua memanggil dari kejauhan.Panggilan itu tidak kuat.Tetapi cukup jelas bagi seseorang yang pernah berdiri di puncak dunia kultivasi.Long Tian memejamkan mata sesaat.Denyut itu kembali muncul.Seperti seseorang sedang mengetuk pintu yang telah lama terkunci.Di sampingnya, Xu Beihan membuka botol araknya, lalu meneguknya beberapa kali sebelum berkata pelan,"Kau juga merasakannya.""Itu berasal dari puncakmu."Long Tian membuka mata."Ya."Xu Beihan menghela napas panjang."Kalau begitu...""...sudah waktunya kita melihat sesuatu yang seharusnya tetap terkubur."Mereka saling berpandangan.Tanpa perlu banyak kata, keduanya memahami maksud masing-masing.***
Shen Luo telah dibawa turun dari arena.Dan Yuheng segera memberinya pil pemulih Qi, sementara beberapa murid Puncak Sembilan Kematian membantu membawanya menuju tempat istirahat.Pertandingan berikutnya tetap berlangsung.Namun perhatian sebagian besar penonton sudah tidak lagi berada di arena.Yang mereka bicarakan hanyalah dua nama.Yue Ran.Dan Shen Luo.Dua murid yang sebelumnya dianggap gagal kini berhasil menumbangkan lawan-lawan yang jauh lebih diunggulkan.Tak sedikit murid mulai memandang Long Tian dengan rasa ingin tahu.Guru seperti apa yang mampu mengubah murid-murid seperti itu hanya dalam waktu beberapa bulan?
Keheningan yang teramat pekat menyelimuti puing-puing Lapangan Sembilan Naga Emas setelah Ye Chen mengakui kekalahannya secara terbuka. Namun, atmosfer penghormatan timbal balik antara dua reinkarnator agung tersebut mendadak hancur berantakan ketika dinding isolasi spasial sepenuhnya lenyap. Dar
Cahaya emas redup yang menyelimuti tubuh Long Tian sepanjang malam perlahan menyusut, mengalir kembali melalui pori-pori kulitnya saat fajar menyingsing. Ketika ia membuka mata, sepasang pupil matanya berkilat sesaat dengan warna emas tipis sebelum kembali menjadi hitam pekat yang tenang.‘Napas Nag
Long Cheng tertawa terbahak-bahak, tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa ngerinya melihat ketenangan Long Tian. Di matanya, pemuda di depannya ini tetaplah "sampah" yang entah bagaimana mendapatkan sedikit keberanian. Bagi seorang kultivator tingkat ketujuh ranah Penguatan Tubuh seperti dirinya,
Long Tian kembali ke gubuknya saat senja mulai memudar. Di tangannya, tas berisi seratus keping batu energi tingkat menengah terasa berat sebuah beban yang akan menjadi kunci kebangkitannya. Namun, prioritas utamanya bukan dirinya sendiri. Ia segera mendekati pembaringan ibunya, Qin Rou, yang napas







