Share

2 Mastermind

Penulis: Lembean
last update Tanggal publikasi: 2026-04-28 10:41:54

Langkah kaki lima orang terdengar mendekat. Kevin berhenti, berbalik dengan ekspresi datar.

Gadis yang menjadi juru bicara itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, postur tubuhnya tegak dengan kepercayaan diri yang terasa seperti sudah dilatih sejak kecil untuk selalu merasa paling benar di ruangan mana pun. Empat temannya berdiri di belakangnya dengan ekspresi yang lebih kurang serupa, campuran antara ingin tahu dan siap mendukung.

"Kamu menyenggol aku dan mau pergi begitu saja, heh?" kata gadis itu.

"Itu tidak disengaja," jawab Kevin singkat.

"Tidak sengaja?" Gadis itu mengulang dengan nada yang mengandung tawa meremehkan. "Kamu nyenggol orang dan cuma bilang tidak sengaja?"

"Iya," kata Kevin.

Jawabannya yang tidak bersemangat rupanya lebih menyulut api daripada memadamkannya. 

Dua orang petugas keamanan yang tadinya berdiri di dekat pintu mulai berjalan mendekat, menarik perhatian oleh situasi kecil yang mulai berkembang.

Kevin dengan sabar menjelaskan kepada petugas itu apa yang terjadi. Saat dia mengambil kopernya, tubuhnya tidak sengaja menyenggol gadis yang berdiri terlalu dekat. Itu saja. 

Petugas yang lebih tua di antara keduanya mengangguk, tampak tidak melihat ini sebagai masalah besar.

Tapi gadis itu belum selesai.

"Bapak tahu siapa ayah saya?" suaranya berubah lebih tajam, ditujukan kepada petugas itu. "Ayah saya Rudy Winata. Winata Group. Bapak pasti tahu Winata Group kan? Salah satu perusahaan terbesar di kota ini."

Kevin merasakan perubahan kecil pada postur tubuh kedua petugas itu. Sesuatu yang halus tapi jelas. Bahu yang sedikit lebih tegak, ekspresi yang sedikit lebih berhati-hati.

Winata.

Kevin menyimpan nama itu baik-baik di dalam kepalanya.  karena baru mendengarnya. 

"Orang seperti ini," kata si gadis, menunjuk Kevin dengan dagunya, "bebas saja menyenggol orang di sini? Seharusnya Bapak minta dia minta maaf dengan benar."

"Itu tidak disengaja," kata Kevin.

"Minta maaf yang benar!"

Kevin menatap gadis itu selama dua detik. Dalam dua detik itu dia membaca segalanya, cara gadis ini berdiri, cara dia menggunakan nama ayahnya seperti menghunus senjata, cara teman-temannya berkerumun di belakang memberi dukungan moral. 

Gadis seperti ini sudah dia kenal sejak lama. Mereka bukan orang jahat, tidak secara fundamental. Mereka hanya orang-orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia berputar mengelilingi nama keluarga mereka.

Tapi batas kesabaran ada batasnya.

Kevin mengeluarkan ponselnya. Bukan ponsel murah, tapi tidak ada yang mencolok dari tampilannya, layar datar dengan casing polos hitam. Dia mulai mengetik sesuatu dengan jempol kanannya, ekspresinya tidak berubah.

"Kamu ngapain?" suara gadis itu menajam. "Aku lagi bicara sama kamu, kamu malah main hp, heh?"

Kevin tidak menjawab.

"Dasar tidak sopan," salah satu teman gadis itu berdecak. "Gayanya kayak orang penting aja."

Nama gadis yang utama itu, Kevin kemudian dengar dari teman-temannya yang memanggilnya, adalah Chika. Chika Winata. Anak bungsu Rudy Winata.

Kevin menatap layar ponselnya. Di sana terbuka sebuah aplikasi yang tampilannya seperti dashboard analitik dengan berbagai grafik dan angka-angka yang bergerak. Jarinya bergerak tenang, memasukkan beberapa parameter, memilih beberapa opsi.

Winata Group. Kode saham WNTG. Kapitalisasi pasar yang cukup besar untuk kota sekelas ini. Tapi cukup kecil untuk digerakkan oleh seseorang yang selama setahun terakhir telah membangun pengaruh yang luar biasa di pasar modal regional ini lewat nama sandi yang dia pakai di berbagai forum dan platform analisis pasar.

Mastermind.

Itu nama yang orang-orang berikan kepadanya. Kevin tidak pernah memilih nama itu sendiri. Nama itu muncul begitu saja dari komunitas trader dan investor yang mulai memperhatikan betapa akuratnya setiap analisis dan rekomendasi yang dia bagikan selama setahun belakangan. Akurat bukan karena keberuntungan, tapi karena enam tahun belajar dari Pak Soma yang pernah membangun dan meruntuhkan portofolio Miliaran dolar dengan tangannya sendiri.

Kevin mengetikkan serangkaian rekomendasi singkat di tiga platform berbeda secara bersamaan. Isinya sederhana: WNTG menunjukkan tanda-tanda teknikal yang lemah, ada potensi koreksi jangka pendek, pertimbangkan untuk melepas posisi.

Itu saja. Tapi dalam dunia di mana nama Mastermind sudah menjadi semacam oracle, kata-kata itu setara dengan seseorang meniup lilin di tengah gudang mesiu.

"Kamu dengerin aku tidak sih?" Chika melangkah lebih dekat. "Aku tanya kenapa kamu main hp terus!"

Kevin mengangkat wajahnya dan menunjukkan layar ponselnya kepada Chika. Sebuah grafik harga saham dengan garis yang sudah mulai bergerak turun.

"Saya sedang mengkoreksi saham perusahaan ayahmu," kata Kevin dengan nada yang sama persis seperti orang melaporkan cuaca. "Karena sikapmu tadi."

Chika menatap layar itu selama dua detik, lalu tertawa kecil. Di belakangnya, teman-temannya ikut tertawa.

"Kamu serius?" kata salah satu temannya. "Lebay banget."

"Ngaku-ngaku bisa mainin saham segala," teman yang lain menimpali. "Saham bukan main-main, Mas."

Chika sendiri menggeleng dengan senyum yang mengandung lebih banyak belas kasihan daripada amarah. "Kamu pikir kamu siapa, heh? Ngomong soal mainin saham perusahaan ayah aku dengan kamu yang cuma punya baju kayak gitu."

Kevin menyimpan ponselnya ke saku. Dia tidak perlu menunggu lama.

Ponsel Chika berdering.

Chika melirik layarnya dengan ekspresi yang berubah sedikit ketika melihat nama yang tertera. Dia mengangkat satu jari ke arah Kevin, isyarat tunggu sebentar yang dilakukan dengan yakin bahwa Kevin akan menunggu, dan menerima telepon itu dengan sedikit membalikkan badan.

"Halo, Yah—"

Diam.

Kevin tidak bisa mendengar apa yang diucapkan di ujung telepon sana. Tapi dia bisa melihat punggung Chika yang tadinya tegak penuh percaya diri itu perlahan-lahan menjadi lebih kaku. Bisa melihat tangan kirinya yang tadinya santai terselip di saku itu diam-diam menggenggam ujung bajunya.

"Iya, tapi Yah—"

Diam lagi.

"Aku tidak tahu, Yah, aku—"

Teman-teman Chika mulai saling pandang. Kevin berdiri dengan tangan di saku, ekspresinya tidak banyak berubah.

Chika memutar badannya perlahan. Matanya menemukan Kevin, dan di dalam matanya itu sekarang ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi tatapan meremehkan. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti orang yang baru saja menyadari bahwa mereka salah mengira boneka mainan sebagai benda tidak berbahaya, dan sekarang boneka itu ternyata terbuat dari baja.

"Sebentar ya Yah, aku tanya dulu." Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. Dia menurunkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinga. "Kamu... siapa kamu?"

"Seseorang yang mau pergi," jawab Kevin. "Boleh saya pergi sekarang?"

"Mastermind..." Chika mengucapkan kata itu hampir seperti berbisik. Matanya tidak berkedip menatap Kevin. "Kamu Mastermind?"

Ayah Chika rupanya masih berbicara di ujung telepon. Suaranya cukup keras untuk sampai ke telinga Kevin yang berdiri tidak terlalu jauh, meski tidak cukup jelas untuk didengar kata per katanya. 

Tapi Kevin bisa menebak isinya. Saham WNTG sedang bergerak turun dengan cepat karena komunitas pasar tiba-tiba kompak melepas posisi mereka setelah rekomendasi Mastermind keluar. Rudy Winata pasti sedang berdiri di depan layar monitornya dengan kepala mau pecah.

Semua teman Chika kini menatap Kevin. Ekspresi mereka campuran antara tidak percaya dan canggung.

"Dia tidak mungkin Mastermind," bisik salah satu dari mereka. "Lihat penampilannya."

"Iya, Mastermind itu pasti orang besar," yang lain mengangguk setuju.

Kevin memandang mereka sebentar, lalu mulai berbalik.

"Tunggu!" Chika bergerak cepat, melangkahi kopernya sendiri untuk menghadang Kevin. Ponselnya masih tergenggam, ayahnya mungkin masih di ujung sana. "Kevin, tunggu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   31 Cukup Tahu Bahwa Kamu Ada

    Ferdi menatap Lady dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan cepat. "Papa bilang mundur.""Mundur?" Lady menggeleng. "Tapi kamu sudah terlanjur bilang ke mereka—""Lady." Suara Ferdi sudah berubah nada, lebih rendah, lebih datar. "Bapak bilang ada masalah di saham perusahaan kita sekarang. Entah kenapa tiba-tiba ada tekanan. Ini bukan waktu yang tepat untuk buat masalah baru."Lady memandangi Ferdi, lalu ke arah Victoria, lalu kembali ke Ferdi. "Jadi kamu mau biarkan dia menang? Karena saham? Ferry, ini tentang harga diri—""Ini tentang perusahaan keluargaku," kata Ferdi, dan kali ini ada tepi dalam suaranya yang tidak ada sebelumnya. "Bukan harga dirimu."Lady terdiam."Kakek menelepon juga," lanjut Ferdi lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dua kali."Di sudut ruangan, staf franchise yang sudah dari tadi berdiri dengan ekspresi orang yang ingin ada di tempat lain memilih saat ini untuk mulai membereskan dokumen di atas meja.Lady menoleh ke Victoria dengan tat

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   30 Musuh Lama Victoria

    Victoria berdiri."Lady." Suaranya tidak naik, tidak gemetar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak terdengar tadi. "Saya tidak pernah melakukan apapun kepadamu.""Oh betulkah?" Lady menoleh dengan ekspresi yang sudah disiapkan. "Kamu ingat waktu SMA? Kamu dan keluarga Kivlanmu yang terkenal itu, semua orang berlomba-lomba dekat sama kamu. Dan aku? Aku tidak ada artinya di matamu.""Saya tidak pernah menginjakmu, Lady.""Tidak mengajakku bergabung sama saja dengan menginjak.""Saya tidak mau berteman dengan orang yang suka menjatuhkan siswa yang lebih lemah," kata Victoria. "Itu alasan saya menjaga jarak. Bukan karena keluargamu atau keluargaku. Tapi karena caramu memperlakukan orang lain."Lady mengeluarkan suara kecil. "Itulah. Merasa dirinya lebih baik dari semua orang.""Saya tidak merasa lebih baik. Saya tidak suka melihat orang diperlakukan buruk.""Itu sama saja." Lady berpaling ke staf franchise. "Jadi, Mas, bagaimana? Kami ambil semua kuota."Staf franchise itu melirik ke V

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   29 Jangan Sisakan untuk Orang Lain

    Pagi ini belum genap pukul enam ketika dua prajurit yang bertugas di dalam mobil pengawasan mereka dikejutkan oleh suara ketukan di kaca jendela sisi pengemudi.Bukan ketukan keras. Justru sangat pelan, hanya dua ketukan ringan dengan buku jari. Tapi di tengah keheningan gang sempit yang masih gelap dan di antara dua prajurit yang sudah menghabiskan semalam bergantian tidur setengah waspada, dua ketukan itu terasa seperti sirene.Prajurit yang duduk di kursi pengemudi, yang kebetulan sedang tidak tidur, memutar kepala ke arah jendela.Dan langsung menegakkan tubuhnya.Di luar jendela, berdiri Kevin. Tangan satu di saku, tangan lainnya baru saja selesai mengetuk, ekspresinya tenang seperti orang yang mengetuk pintu tetangga untuk meminjam garam.Prajurit di kursi penumpang yang tadinya setengah mengantuk langsung duduk tegak begitu melihat rekannya bereaksi.Kaca jendela diturunkan."Selamat pagi," kata Kevin.Dua prajurit itu menatapnya tanpa segera menemukan kata-kata yang tepat. Di

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   28 Dibuntuti dan Dilindungi

    "Beliau adalah ketua dari keluarga Salim. Putranya adalah menteri aktif. Ini bukan tawaran biasa, kami ingin bisa menghubungimu untuk mengucapkan terima kasih secara layak. Ada hadiah yang—""Tidak perlu hadiah," kata Kevin. Suaranya tidak kasar, tapi tidak membuka ruang diskusi.Marcos menatapnya. "Kami tidak bisa membiarkan jasa seperti ini berlalu begitu saja tanpa—""Saya ada keperluan lain," kata Kevin. "Permisi."Marcos tidak menghalangi langkahnya kali ini.Kevin keluar dari kamar 712, melewati penjaga yang masih berdiri di luar dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi di dalam, dan berjalan kembali ke arah koridor menuju bangsal C lantai tiga.---Bu Ratna sudah duduk di tepi ranjangnya saat Kevin tiba, sudah mengenakan baju yang dibawa Sarah dan sudah memegang tas kecilnya di pangkuan dengan ekspresi orang yang sudah siap keluar dari rumah sakit sejak setengah jam lalu tapi masih menunggu proses administrasi."Lama sekali," kata Bu Ratna

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   27 Memurnikan Parasit Roh Jahat

    Dari dekat, yang Kevin rasakan bukan sekadar tubuh orang tua yang sakit.Ada sesuatu di dalam sana yang berbeda dari kondisi medis biasa. Sesuatu yang sudah lama Kevin pelajari untuk dibedakan dari kerusakan fisik murni, semacam distorsi yang terasa seperti nada yang salah dalam simfoni yang seharusnya terdengar dengan cara tertentu. Tubuh manusia memiliki ritmenya sendiri yang bisa dibaca oleh seseorang yang cukup terlatih, dan ritme Richard Salim sudah lama terganggu bukan oleh kerusakan organ tapi oleh sesuatu yang lebih dalam dan lebih tua dari itu.Kevin menutup matanya.Dengan hawa murni yang mengalir keluar dari tangannya yang berada beberapa sentimeter di atas dada sang pasien, dia mulai memetakan apa yang sebenarnya terjadi.Penyakitnya bukan di paru-paru meski gejalanya kadang menyerupai masalah pernapasan. Bukan di jantung meski monitornya kadang mencatat irama yang tidak teratur. Bukan di ginjal meski beberapa hasil darah menunjukkan angka yang tidak normal.Di bawah semu

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   26 Saya bisa Menyembuhkannya

    Rumah sakit pada pagi hari selalu punya ritmenya sendiri. Lorong-lorong yang mulai ramai dengan langkah perawat dan kereta dorong, bau antiseptik yang bercampur dengan aroma sarapan dari kafetaria lantai bawah, dan suara-suara rendah yang menggantung di udara seperti lapisan kabut yang tidak kemana-mana.Kevin berjalan di samping Sarah menuju bangsal perawatan tempat Bu Ratna menunggu kepulangannya. Sarah membawa kantong plastik berisi pakaian ganti dan beberapa makanan kesukaan Bu Ratna yang sudah disiapkan sejak semalam, melangkah dengan ringan seperti orang yang sudah lama menunggu hari ini.Mereka melewati sebuah koridor yang menghubungkan bangsal biasa dengan sayap VVIP di sisi timur gedung. Koridor itu lebih sepi, lebih tenang, dengan pencahayaan yang sedikit lebih redup dan karpet tipis di lantainya yang meredam suara langkah.Kevin memperlambat langkahnya.Bukan karena ada yang menghalanginya. Bukan karena sesuatu yang terlihat. Tapi di balik salah satu pintu kamar VVIP yang

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   13 Wajib Lapor

    Victoria berbicara dengan suara yang awalnya sedikit bergetar tapi kemudian menguat seiring berjalannya kalimat demi kalimat. Dia menceritakan semuanya dengan urutan yang jelas, dari permintaan manajer seniornya, hingga saat pintu kamar dikunci dari luar, hingga teriakan yang keluar dari mulutnya y

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   18 Perintah Inspektur Nova

    Setelah badai gairah yang memuncak, Nova tidak langsung turun dari pangkuan Kevin. Ia tetap di atas, membiarkan batangnya yang masih berdenyut perlahan di dalam dirinya, merasakan kehangatan dan kebasahan yang tersisa. Kevin memeluk pinggang Nova, menikmati kedekatan ini. Namun, Nova tidak membiark

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   16 Nova Menepati Janjinya

    "Apakah kamu yang melakukannya?" tanya Inspektur Nova, langsung.Kevin diam beberapa detik. Kemudian, "Ya."Inspektur Nova mengangguk pelan, seperti menerima konfirmasi atas sesuatu yang sudah dia ketahui tapi butuh diucapkan.Kevin mengulurkan kedua tangannya ke depan, pergelangan tangan berdampin

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   14 Menghabisi Riko dan Anaknya

    Victoria menutup ponselnya. Dia menatap Kevin dengan cara yang berbeda dari tadi, cara yang lebih dalam dan lebih penuh pertanyaan. "Mas..." dia berhenti. "Mas seperti seseorang yang pernah saya kenal. Saya tidak tahu dari mana. Tapi ada sesuatu yang..."Kevin menatapnya.Dia tidak menjawab. Bukan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status