LOGINLangkah kaki lima orang terdengar mendekat. Kevin berhenti, berbalik dengan ekspresi datar.
Gadis yang menjadi juru bicara itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, postur tubuhnya tegak dengan kepercayaan diri yang terasa seperti sudah dilatih sejak kecil untuk selalu merasa paling benar di ruangan mana pun. Empat temannya berdiri di belakangnya dengan ekspresi yang lebih kurang serupa, campuran antara ingin tahu dan siap mendukung.
"Kamu menyenggol aku dan mau pergi begitu saja, heh?" kata gadis itu.
"Itu tidak disengaja," jawab Kevin singkat.
"Tidak sengaja?" Gadis itu mengulang dengan nada yang mengandung tawa meremehkan. "Kamu nyenggol orang dan cuma bilang tidak sengaja?"
"Iya," kata Kevin.
Jawabannya yang tidak bersemangat rupanya lebih menyulut api daripada memadamkannya.
Dua orang petugas keamanan yang tadinya berdiri di dekat pintu mulai berjalan mendekat, menarik perhatian oleh situasi kecil yang mulai berkembang.
Kevin dengan sabar menjelaskan kepada petugas itu apa yang terjadi. Saat dia mengambil kopernya, tubuhnya tidak sengaja menyenggol gadis yang berdiri terlalu dekat. Itu saja.
Petugas yang lebih tua di antara keduanya mengangguk, tampak tidak melihat ini sebagai masalah besar.
Tapi gadis itu belum selesai.
"Bapak tahu siapa ayah saya?" suaranya berubah lebih tajam, ditujukan kepada petugas itu. "Ayah saya Rudy Winata. Winata Group. Bapak pasti tahu Winata Group kan? Salah satu perusahaan terbesar di kota ini."
Kevin merasakan perubahan kecil pada postur tubuh kedua petugas itu. Sesuatu yang halus tapi jelas. Bahu yang sedikit lebih tegak, ekspresi yang sedikit lebih berhati-hati.
Winata.
Kevin menyimpan nama itu baik-baik di dalam kepalanya. karena baru mendengarnya.
"Orang seperti ini," kata si gadis, menunjuk Kevin dengan dagunya, "bebas saja menyenggol orang di sini? Seharusnya Bapak minta dia minta maaf dengan benar."
"Itu tidak disengaja," kata Kevin.
"Minta maaf yang benar!"
Kevin menatap gadis itu selama dua detik. Dalam dua detik itu dia membaca segalanya, cara gadis ini berdiri, cara dia menggunakan nama ayahnya seperti menghunus senjata, cara teman-temannya berkerumun di belakang memberi dukungan moral.
Gadis seperti ini sudah dia kenal sejak lama. Mereka bukan orang jahat, tidak secara fundamental. Mereka hanya orang-orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia berputar mengelilingi nama keluarga mereka.
Tapi batas kesabaran ada batasnya.
Kevin mengeluarkan ponselnya. Bukan ponsel murah, tapi tidak ada yang mencolok dari tampilannya, layar datar dengan casing polos hitam. Dia mulai mengetik sesuatu dengan jempol kanannya, ekspresinya tidak berubah.
"Kamu ngapain?" suara gadis itu menajam. "Aku lagi bicara sama kamu, kamu malah main hp, heh?"
Kevin tidak menjawab.
"Dasar tidak sopan," salah satu teman gadis itu berdecak. "Gayanya kayak orang penting aja."
Nama gadis yang utama itu, Kevin kemudian dengar dari teman-temannya yang memanggilnya, adalah Chika. Chika Winata. Anak bungsu Rudy Winata.
Kevin menatap layar ponselnya. Di sana terbuka sebuah aplikasi yang tampilannya seperti dashboard analitik dengan berbagai grafik dan angka-angka yang bergerak. Jarinya bergerak tenang, memasukkan beberapa parameter, memilih beberapa opsi.
Winata Group. Kode saham WNTG. Kapitalisasi pasar yang cukup besar untuk kota sekelas ini. Tapi cukup kecil untuk digerakkan oleh seseorang yang selama setahun terakhir telah membangun pengaruh yang luar biasa di pasar modal regional ini lewat nama sandi yang dia pakai di berbagai forum dan platform analisis pasar.
Mastermind.
Itu nama yang orang-orang berikan kepadanya. Kevin tidak pernah memilih nama itu sendiri. Nama itu muncul begitu saja dari komunitas trader dan investor yang mulai memperhatikan betapa akuratnya setiap analisis dan rekomendasi yang dia bagikan selama setahun belakangan. Akurat bukan karena keberuntungan, tapi karena enam tahun belajar dari Pak Soma yang pernah membangun dan meruntuhkan portofolio Miliaran dolar dengan tangannya sendiri.
Kevin mengetikkan serangkaian rekomendasi singkat di tiga platform berbeda secara bersamaan. Isinya sederhana: WNTG menunjukkan tanda-tanda teknikal yang lemah, ada potensi koreksi jangka pendek, pertimbangkan untuk melepas posisi.
Itu saja. Tapi dalam dunia di mana nama Mastermind sudah menjadi semacam oracle, kata-kata itu setara dengan seseorang meniup lilin di tengah gudang mesiu.
"Kamu dengerin aku tidak sih?" Chika melangkah lebih dekat. "Aku tanya kenapa kamu main hp terus!"
Kevin mengangkat wajahnya dan menunjukkan layar ponselnya kepada Chika. Sebuah grafik harga saham dengan garis yang sudah mulai bergerak turun.
"Saya sedang mengkoreksi saham perusahaan ayahmu," kata Kevin dengan nada yang sama persis seperti orang melaporkan cuaca. "Karena sikapmu tadi."
Chika menatap layar itu selama dua detik, lalu tertawa kecil. Di belakangnya, teman-temannya ikut tertawa.
"Kamu serius?" kata salah satu temannya. "Lebay banget."
"Ngaku-ngaku bisa mainin saham segala," teman yang lain menimpali. "Saham bukan main-main, Mas."
Chika sendiri menggeleng dengan senyum yang mengandung lebih banyak belas kasihan daripada amarah. "Kamu pikir kamu siapa, heh? Ngomong soal mainin saham perusahaan ayah aku dengan kamu yang cuma punya baju kayak gitu."
Kevin menyimpan ponselnya ke saku. Dia tidak perlu menunggu lama.
Ponsel Chika berdering.
Chika melirik layarnya dengan ekspresi yang berubah sedikit ketika melihat nama yang tertera. Dia mengangkat satu jari ke arah Kevin, isyarat tunggu sebentar yang dilakukan dengan yakin bahwa Kevin akan menunggu, dan menerima telepon itu dengan sedikit membalikkan badan.
"Halo, Yah—"
Diam.
Kevin tidak bisa mendengar apa yang diucapkan di ujung telepon sana. Tapi dia bisa melihat punggung Chika yang tadinya tegak penuh percaya diri itu perlahan-lahan menjadi lebih kaku. Bisa melihat tangan kirinya yang tadinya santai terselip di saku itu diam-diam menggenggam ujung bajunya.
"Iya, tapi Yah—"
Diam lagi.
"Aku tidak tahu, Yah, aku—"
Teman-teman Chika mulai saling pandang. Kevin berdiri dengan tangan di saku, ekspresinya tidak banyak berubah.
Chika memutar badannya perlahan. Matanya menemukan Kevin, dan di dalam matanya itu sekarang ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi tatapan meremehkan. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang terasa seperti orang yang baru saja menyadari bahwa mereka salah mengira boneka mainan sebagai benda tidak berbahaya, dan sekarang boneka itu ternyata terbuat dari baja.
"Sebentar ya Yah, aku tanya dulu." Suaranya lebih pelan dari sebelumnya. Dia menurunkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinga. "Kamu... siapa kamu?"
"Seseorang yang mau pergi," jawab Kevin. "Boleh saya pergi sekarang?"
"Mastermind..." Chika mengucapkan kata itu hampir seperti berbisik. Matanya tidak berkedip menatap Kevin. "Kamu Mastermind?"
Ayah Chika rupanya masih berbicara di ujung telepon. Suaranya cukup keras untuk sampai ke telinga Kevin yang berdiri tidak terlalu jauh, meski tidak cukup jelas untuk didengar kata per katanya.
Tapi Kevin bisa menebak isinya. Saham WNTG sedang bergerak turun dengan cepat karena komunitas pasar tiba-tiba kompak melepas posisi mereka setelah rekomendasi Mastermind keluar. Rudy Winata pasti sedang berdiri di depan layar monitornya dengan kepala mau pecah.
Semua teman Chika kini menatap Kevin. Ekspresi mereka campuran antara tidak percaya dan canggung.
"Dia tidak mungkin Mastermind," bisik salah satu dari mereka. "Lihat penampilannya."
"Iya, Mastermind itu pasti orang besar," yang lain mengangguk setuju.
Kevin memandang mereka sebentar, lalu mulai berbalik.
"Tunggu!" Chika bergerak cepat, melangkahi kopernya sendiri untuk menghadang Kevin. Ponselnya masih tergenggam, ayahnya mungkin masih di ujung sana. "Kevin, tunggu."
Victoria berbicara dengan suara yang awalnya sedikit bergetar tapi kemudian menguat seiring berjalannya kalimat demi kalimat. Dia menceritakan semuanya dengan urutan yang jelas, dari permintaan manajer seniornya, hingga saat pintu kamar dikunci dari luar, hingga teriakan yang keluar dari mulutnya yang rupanya didengar oleh Kevin yang entah bagaimana sudah berada di luar kamar itu.Inspektur Nova mendengarkan tanpa memotong.Beberapa anggota keluarga Wirata yang masih bisa berdiri menatap Victoria dengan tatapan yang bermaksud mengintimidasi. Victoria tidak menunduk. Dia memilih untuk tidak menunduk, meski Kevin bisa melihat dari cara tangannya sedikit mengepal di samping tubuhnya bahwa itu adalah pilihan yang membutuhkan usaha.Tapi sekalipun sudah ada kesaksKevin harus tetap diamankan. Inspektur Nova tidak punya pilihan lain dengan situasi ini, satu pria dengan tiga puluh korban di sekelilingnya dan dua orang dengan tulang patah yang membutuhkan penanganan medis, situasi yang bagaima
Denny sudah memojokkan Victoria ke sudut kamar dekat jendela. Satu tangannya di dinding di samping kepala Victoria. Victoria, yang terlihat sudah mencoba mendorong pria itu menjauh, berdiri dengan bahu tegang dan rahang mengeras.Saat pintu terbuka, keduanya menoleh.Denny melepaskan posisinya, berbalik dengan ekspresi seseorang yang tidak terbiasa diganggu pada saat yang tidak tepat. "Siapa kamu? Keluar dari..."Kevin tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimat itu. Tangannya bergerak, meraih kerah Denny dan menariknya menjauh dari Victoria dengan gerakan yang tidak membutuhkan banyak tenaga. Denny menabrak meja kecil di dekat ranjang, cangkir dan teko kecil berhamburan ke lantai."Pergi ke dekat pintu," kata Kevin kepada Victoria tanpa melepas tatapan dari Denny.Victoria tidak bergerak seketika, matanya masih setengah terkejut."Pergi ke dekat pintu," Kevin mengulang.Victoria bergerak.Denny sudah bangkit, wajahnya merah. Ekspresinya sudah bukan lagi ekspresi pria yang
Hotel Bintang Alfa adalah bangunan tujuh lantai yang berdiri di salah satu jalan utama pusat kota, cukup bergengsi untuk menjadi tujuan tamu bisnis tapi tidak cukup besar untuk bersaing dengan jaringan hotel internasional yang sudah mulai masuk ke kota ini dalam beberapa tahun terakhir. Kevin memarkir motor tua Bu Ratna di area parkir pengunjung yang terasa sedikit terlalu mewah untuk kendaraan itu, dan masuk ke lobi dengan langkah yang tidak terburu-buru.Victoria Kivlan tidak sulit ditemukan. Dia berdiri di dekat meja resepsionis, sedang berbicara dengan seorang staf junior, mengenakan seragam manajer berwarna biru tua. Kevin mengenalinya bukan karena wajahnya persis seperti yang dia ingat, enam tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah seseorang dari remaja menjadi orang dewasa yang berbeda, melainkan karena ada sesuatu dalam cara dia berdiri dan berbicara yang membawa Kevin kembali ke kenangan-kenangan samar dari masa sebelum segalanya hancur.Ayah mereka berteman. Karena itula
Pagi itu udara rumah kost Bu Ratna masih basah oleh embun ketika Kevin keluar dari kamarnya dengan ransel kecil di punggung. Dia tidak membawa banyak. Hanya yang perlu.Sarah sudah berdiri di halaman kecil itu, di samping sebuah motor bebek tua berwarna merah yang sudah kehilangan sebagian kilap catnya. Motor itu bersih meski sudah berumur, seperti sesuatu yang dirawat dengan baik bukan karena nilainya tapi karena memang terbiasa merawat apa yang dipunya."Ini motor Bu Ratna," kata Sarah, menyodorkan kunci ke arah Kevin. "Saya sudah telepon Beliau tadi pagi. Dokter bilang hasil pemeriksaan terakhir tidak menunjukkan sel kanker sama sekali. Beliau tinggal menunggu satu check up lagi sebelum boleh pulang." Dia berhenti sebentar, senyumnya muncul dengan cara yang tidak direncanakan. "Tadi Beliau lebih banyak nanya tentang Mas Kevin daripada soal jadwal kepulangannya sendiri."Kevin menerima kunci itu. "Terima kasih.""Bu Ratna yang bilang supaya saya siapkan semua yang Mas butuhkan." Sar
Bu Ratna batuk lebih keras. Dan kemudian, dengan suara yang membuat Sarah menghela napas tajam dari dekat pintu, beliau memuntahkan sesuatu ke mangkuk yang selalu tersedia di meja samping ranjang. Sesuatu yang berwarna gelap, dan yang bau serta tampilannya membuat Sarah melangkah cepat ke depan."Mas Kevin, apa yang-""Jangan ganggu."Suara Kevin keluar tenang dan tanpa drama, tapi cukup untuk membuat Sarah berhenti.Satu menit lagi. Dua menit. Bu Ratna batuk beberapa kali lagi, dan setiap kali ada sesuatu yang keluar, sedikit lebih sedikit dari sebelumnya, seperti proses yang sedang mendekati akhirnya.Kemudian semuanya berhenti.Kevin membuka matanya. Dia menarik napas dalam sekali, merasakan kelelahan yang sudah dia kenal, kelelahan yang selalu datang setelah menggunakan hawa murni terlalu banyak sekaligus. Tapi tidak parah. Bu Ratna bukan kasus yang sudah melampaui titik di mana tenaganya tidak cukup.Bu Ratna terbaring dengan napas yang terdengar berbeda. Lebih bersih. Lebih lapa
Mobil Sarah ternyata sebuah van kecil berwarna putih kelabu yang sudah cukup berumur, dengan stiker tanaman kecil yang ditempelkan di sudut kanan bawah kaca depan dan gantungan kunci berbentuk bintang laut yang tergantung di spion tengah. Kevin menaruh ransel dan kopernya di bagasi belakang yang tidak terlalu besar itu, lalu duduk di kursi penumpang depan.Interiornya bersih meski tidak mewah. Ada buku catatan kecil yang terjepit di antara kursi dan konsol tengah, dan satu botol air minum setengah penuh di cup holder.Sarah memasang sabuk pengamannya, menyalakan mesin, dan mobil itu melaju keluar dari pinggir jalan."Mas baru di kota ini?" tanyanya sambil menatap ke depan, mengarahkan setir ke jalanan yang masih belum terlalu ramai."Orang lama," jawab Kevin. "Tapi sudah enam tahun tidak di sini. Baru pulang tadi malam."Sarah mengangguk. "Pantas saya tidak pernah lihat Mas sebelumnya." Dia terdiam sebentar. "Mas mau pergi ke mana setelah ini? Sudah ada tempat menginap?""Belum," kata







