เข้าสู่ระบบKevin berhenti. Bukan karena namanya dipanggil, dia tidak ingat memberitahu siapa namanya. Dia berhenti karena dia penasaran dari mana gadis ini tahu namanya, sebelum kemudian menyadari bahwa mungkin salah satu petugas tadi menyebutkan namanya saat prosedur klarifikasi.
"Tolong berhenti," kata Chika. Nadanya bukan lagi nada gadis yang tadi menodong-nodong jari ke wajah Kevin. Ada sesuatu yang terasa seperti usaha keras untuk tetap terlihat tidak terlalu memohon. "Saham Papa..."
"Saya tidak tahu apa yang kamu bicarakan," kata Kevin datar.
Chika menatapnya, membaca wajahnya.
Kevin mengembalikan tatapan itu dengan ekspresi yang tidak memberikan apa-apa.
Teman-teman Chika saling berbisik di belakang. Kevin bisa mendengar potongan-potongan bisikannya, bahwa Kevin jelas bukan Mastermind, bahwa mungkin ini kebetulan saja, bahwa saham mungkin memang sedang tidak bagus hari ini, bahwa Chika jangan terlalu percaya pada orang tak dikenal berpenampilan seperti itu.
Kevin memutar badannya dan melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar.
Kali ini tidak ada yang mengejarnya dengan teriakan.
Yang mengejarnya adalah langkah kaki yang cepat tapi tidak berlari, dan suara Chika yang sekarang terdengar berbeda dari tadi, lebih pelan, lebih manusiawi.
"Kevin. Aku minta maaf soal tadi."
Kevin tidak berhenti.
"Aku tahu aku salah tadi. Aku terlalu berlebihan." Langkah kaki Chika menyejajari langkah Kevin. Dia melihat ke samping dan mendapati bahwa gadis itu memang berjalan di sampingnya sekarang, tanpa empat temannya yang tertinggal di belakang dengan ekspresi bingung. "Kamu mau ke mana? Apa ada yang jemput?"
"Belum ada rencana," jawab Kevin setelah jeda sebentar.
"Naik mobilku saja."
Kevin melirik ke sampingnya.
Chika menatap ke depan, kedua tangannya menggenggam tali tas di bahunya. Di wajahnya masih tersisa sedikit merah, entah karena malu atau karena masih sedikit kesal pada dirinya sendiri. Tapi ekspresinya tulus, atau setidaknya berusaha tulus.
"Aku tidak gigit," tambahnya.
Kevin memikirkan ini sebentar. Harus cari Taksi dari pelabuhan ke pusat kota dan harus memakai uang cash, dan dia tidak membawa uang, karena dia terlalu pelupa.
Dan dia belum sempat menyewa kendaraan.
"Baik," kata Kevin.
Chika meliriknya sebentar, sedikit terkejut bahwa jawabannya secepat itu, sebelum kembali menatap ke depan dengan sudut bibir yang bergerak naik sedikit.
Mobil Chika ternyata sebuah SUV putih mengkilap yang diparkir di area parkir VIP dengan seorang sopir yang sudah menunggu. Sopir itu membuka pintu belakang tanpa pertanyaan, dan Kevin masuk, meletakkan ranselnya di pangkuan, sementara kopernya dimasukkan ke bagasi oleh sopir itu.
Chika duduk di sampingnya, mengirimkan pesan ke ponselnya, kemungkinan besar kepada teman-temannya yang dia tinggal tadi.
Saat mobil mulai melaju meninggalkan area pelabuhan, Chika menyimpan ponselnya dan menoleh ke Kevin.
"Kamu orang Alfa asli?" tanyanya.
"Dulu," jawab Kevin, menatap jendela. Di luar, jalanan kota yang sudah tidak dia lihat selama enam tahun mengalir pelan. Beberapa gedung baru. Beberapa yang lama sudah berganti rupa. Tapi garis pantai di kejauhan itu, dan siluet restoran-restoran yang berjejer di tepiannya, masih sama persis.
"Dulu tinggal di mana?"
"Daerah Selatan."
Chika mengangguk perlahan. "Kamu sudah lama pergi?"
"Enam tahun."
"Wah." Chika memutar badannya sedikit ke arah Kevin, seperti orang yang baru menemukan topik yang menarik. "Ngapain balik?"
Kevin akhirnya memalingkan wajahnya dari jendela dan menatap Chika. Gadis ini tidak buruk, pikirnya, kalau tidak sedang berada dalam mode putri mahkota yang merasa dunia harus tunduk pada nama keluarganya. Wajahnya ekspresif, matanya hidup, dan ada rasa ingin tahu yang genuine di dalamnya yang tidak dibuat-buat.
"Ada keperluan," jawab Kevin.
Chika tersenyum, senyum orang yang tahu bahwa jawaban itu tidak lengkap tapi memilih untuk tidak memaksa.
"Kamu sudah makan?" tanyanya.
Kevin memikirkan terakhir kali dia makan, yang adalah sebungkus nasi bungkus di atas feri dua jam lalu. "Belum."
"Bagus." Chika menoleh ke depan, ke arah sopirnya. "Pak Hendra, ke Pondok Sari dulu ya."
Sopir itu mengangguk tanpa suara.
Kevin kembali menatap ke jendela. Di luar, kota Alfa bergerak melewatinya, ramai dan tidak tahu menahu, dan di suatu tempat di dalam kota ini tersimpan jawaban yang sudah enam tahun dia cari.
Setelah makan, Chika mencondongkan tubuhnya lebih dekat, bibirnya melengkung genit. "Aku ingin mengenalmu lebih jauh, Kevin. Kota Alfa punya banyak rahasia, tapi malam ini, mari kita buat rahasia milik kita sendiri."
Matanya berkedip penuh janji, dan Kevin merasakan tarikan itu—ia selalu tertarik pada wanita yang tahu cara memikat.
Mereka berjalan ke hotel kecil di dekat restoran, lobi yang tenang dengan karpet merah pudar dan aroma kopi samar. Saat check-in, tangan Chika menyentuh punggung Kevin, sentuhan ringan yang membuat darahnya berdesir.
Di kamar hotel yang sederhana, cahaya lampu meja kuning lembut menerangi tempat tidur besar dengan seprai putih bersih. Jendela menghadap ke pantai yang gelap, suara ombak samar terdengar dari kejauhan.
Kevin berdiri di tengah ruangan, auranya tenang tapi matanya mengamati Chika dengan penuh perhatian. Ia suka situasi seperti ini, di mana ia bisa mengendalikan ritme.
Chika mendekat, tubuhnya bergerak anggun, gaunnya bergesek pelan dengan kulitnya sendiri. 'Kau tahu, pria seperti kamu ini, tidak mudah dilupakan,' bisiknya, suaranya rendah dan menggoda. Ia meraih kerah kemeja sederhana Kevin, jari-jarinya lincah membuka kancing satu per satu, lambat, sengaja memperpanjang momen.
Kevin merasakan napas Chika yang hangat di lehernya saat ia mendekat lebih dekat. 'Chika,' gumamnya, suaranya dalam, tangannya menyentuh pinggang gadis itu, merasakan kelembutan kulit di bawah kain tipis.
Chika tersenyum, matanya terkunci pada bibir Kevin, penuh kekaguman dan hasrat. Ia mencondongkan wajahnya, bibirnya menyentuh bibir Kevin dengan lembut, ciuman awal yang ringan seperti hembusan angin, tapi segera mendalam.
Lidahnya menyusup pelan, menari dengan lidah Kevin, rasa manis dari makanan tadi masih tersisa.
Kevin membalas, tangannya menarik Chika lebih dekat, merasakan payudaranya menekan dada telanjangnya saat kemeja terbuka sepenuhnya.
Chika mundur sedikit, napasnya tersengal, tapi senyumnya tak pudar. Jari-jarinya menelusuri dada Kevin, merasakan otot yang tegang di bawah kulit hangatnya. 'Biarkan aku tunjukkan betapa aku mengagumimu,' katanya pelan, suaranya bergetar dengan keintiman.
Ia mendorong Kevin duduk di tepi tempat tidur, lututnya menyentuh lantai saat ia berlutut di depannya.
Tangan Chika bergerak ke ikat pinggang celananya, membuka gesper dengan gerakan lambat, matahari terbenam di pelabuhan seolah mencerminkan panas yang mulai membara di ruangan itu.
Kevin menatapnya, percaya dirinya membuatnya tetap tenang, tapi hasrat mulai menggeliat di perutnya.
Celana Kevin terbuka, dan Chika menariknya turun perlahan, memperlihatkan boxer hitam yang menegang.
Ia menatap ke atas, matanya penuh godaan, sebelum jari-jarinya menyusup ke dalam, merasakan kehangatan dan kekerasan batangnya yang mulai mengeras. 'Kau begitu... kuat,' bisiknya, suaranya penuh kekaguman, tangannya membelai pelan, membangun ketegangan dengan sentuhan lembut yang berulang.
Benjamin mengangkat tangannya, bukan dalam posisi menyerang, tapi dalam posisi orang yang masih mencoba jalur lain sebelum jalur terakhir. "Kevin, dengarkan aku dulu. Aku adalah sahabat ayahmu. Aku kenal ayahmu bertahun-tahun—""Sahabat yang mengundang sahabatnya ke pesta kematian.""Itu bukan..." Benjamin menghela napas. "Itu bukan seperti yang kamu kira. Aku juga ditipu. Orang dari ibu kota itu, dia yang mengatur semuanya, dia yang menyuruh aku untuk mengundang ayahmu. Aku tidak tahu malam itu akan berakhir seperti itu."Kevin menatapnya."Aku takut, Kevin." Suara Benjamin turun setengah oktav, menjadi suara orang yang sedang mengakui sesuatu yang sudah lama ditutup rapat. "Orang dari ibu kota itu bukan orang biasa. Kalau aku tidak mengikuti instruksinya, aku yang menjadi sasaran berikutnya. Aku punya keluarga, aku punya anak, aku—""Saya ingat dengan sangat jelas ekspresi wajah Benjamin malam itu."Kalimat Kevin itu keluar dengan tenang, tapi membuat Benjamin berhenti berbicara."S
Malam itu langit Kota Alfa tidak memiliki banyak bintang. Awan tipis menutupi sebagian besar langit malam dan udara terasa lebih lembab dari biasanya, membawa serta bau hujan yang belum turun tapi sudah mengancam dari kejauhan.Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah di kawasan perumahan kelas menengah atas yang tidak terlalu mencolok dari luar. Bukan kawasan paling mewah di Kota Alfa, bukan kawasan paling sederhana, melainkan kawasan yang dipilih dengan pertimbangan bahwa tidak ada yang terlalu memperhatikan siapa yang keluar masuk di sini karena semua orang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.Benjamin turun dari mobilnya, memberikan isyarat kepada dua pengawalnya untuk tetap di luar, dan melangkah menuju pintu dengan langkah orang yang sudah sangat hafal dengan jalur ini. Kunci cadangan sudah lama dia simpan sendiri. Kebiasaan lama yang tidak pernah berubah.Pintu terbuka.Ruang tamu menyambutnya dengan lampu yang sudah menyala, seperti biasa. Dona selalu menyalakan la
Ferdi menatap Lady dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan cepat. "Papa bilang mundur.""Mundur?" Lady menggeleng. "Tapi kamu sudah terlanjur bilang ke mereka—""Lady." Suara Ferdi sudah berubah nada, lebih rendah, lebih datar. "Bapak bilang ada masalah di saham perusahaan kita sekarang. Entah kenapa tiba-tiba ada tekanan. Ini bukan waktu yang tepat untuk buat masalah baru."Lady memandangi Ferdi, lalu ke arah Victoria, lalu kembali ke Ferdi. "Jadi kamu mau biarkan dia menang? Karena saham? Ferry, ini tentang harga diri—""Ini tentang perusahaan keluargaku," kata Ferdi, dan kali ini ada tepi dalam suaranya yang tidak ada sebelumnya. "Bukan harga dirimu."Lady terdiam."Kakek menelepon juga," lanjut Ferdi lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dua kali."Di sudut ruangan, staf franchise yang sudah dari tadi berdiri dengan ekspresi orang yang ingin ada di tempat lain memilih saat ini untuk mulai membereskan dokumen di atas meja.Lady menoleh ke Victoria dengan tat
Victoria berdiri."Lady." Suaranya tidak naik, tidak gemetar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak terdengar tadi. "Saya tidak pernah melakukan apapun kepadamu.""Oh betulkah?" Lady menoleh dengan ekspresi yang sudah disiapkan. "Kamu ingat waktu SMA? Kamu dan keluarga Kivlanmu yang terkenal itu, semua orang berlomba-lomba dekat sama kamu. Dan aku? Aku tidak ada artinya di matamu.""Saya tidak pernah menginjakmu, Lady.""Tidak mengajakku bergabung sama saja dengan menginjak.""Saya tidak mau berteman dengan orang yang suka menjatuhkan siswa yang lebih lemah," kata Victoria. "Itu alasan saya menjaga jarak. Bukan karena keluargamu atau keluargaku. Tapi karena caramu memperlakukan orang lain."Lady mengeluarkan suara kecil. "Itulah. Merasa dirinya lebih baik dari semua orang.""Saya tidak merasa lebih baik. Saya tidak suka melihat orang diperlakukan buruk.""Itu sama saja." Lady berpaling ke staf franchise. "Jadi, Mas, bagaimana? Kami ambil semua kuota."Staf franchise itu melirik ke V
Pagi ini belum genap pukul enam ketika dua prajurit yang bertugas di dalam mobil pengawasan mereka dikejutkan oleh suara ketukan di kaca jendela sisi pengemudi.Bukan ketukan keras. Justru sangat pelan, hanya dua ketukan ringan dengan buku jari. Tapi di tengah keheningan gang sempit yang masih gelap dan di antara dua prajurit yang sudah menghabiskan semalam bergantian tidur setengah waspada, dua ketukan itu terasa seperti sirene.Prajurit yang duduk di kursi pengemudi, yang kebetulan sedang tidak tidur, memutar kepala ke arah jendela.Dan langsung menegakkan tubuhnya.Di luar jendela, berdiri Kevin. Tangan satu di saku, tangan lainnya baru saja selesai mengetuk, ekspresinya tenang seperti orang yang mengetuk pintu tetangga untuk meminjam garam.Prajurit di kursi penumpang yang tadinya setengah mengantuk langsung duduk tegak begitu melihat rekannya bereaksi.Kaca jendela diturunkan."Selamat pagi," kata Kevin.Dua prajurit itu menatapnya tanpa segera menemukan kata-kata yang tepat. Di
"Beliau adalah ketua dari keluarga Salim. Putranya adalah menteri aktif. Ini bukan tawaran biasa, kami ingin bisa menghubungimu untuk mengucapkan terima kasih secara layak. Ada hadiah yang—""Tidak perlu hadiah," kata Kevin. Suaranya tidak kasar, tapi tidak membuka ruang diskusi.Marcos menatapnya. "Kami tidak bisa membiarkan jasa seperti ini berlalu begitu saja tanpa—""Saya ada keperluan lain," kata Kevin. "Permisi."Marcos tidak menghalangi langkahnya kali ini.Kevin keluar dari kamar 712, melewati penjaga yang masih berdiri di luar dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi di dalam, dan berjalan kembali ke arah koridor menuju bangsal C lantai tiga.---Bu Ratna sudah duduk di tepi ranjangnya saat Kevin tiba, sudah mengenakan baju yang dibawa Sarah dan sudah memegang tas kecilnya di pangkuan dengan ekspresi orang yang sudah siap keluar dari rumah sakit sejak setengah jam lalu tapi masih menunggu proses administrasi."Lama sekali," kata Bu Ratna
Kevin terus menggenjot Sarah dengan ritme yang stabil dan penuh perhitungan dalam gaya *spooning*. Tangannye melingkari pinggang Sarah, menariknye semakin erat ke tubuhnye, memastikan setiap dorongan mengenai titik kenikmatan Sarah. Bibirnye mengecup leher Sarah, menjilat telinganye, membisikkan ka
Chika bersandar di dada Kevin, kepalanya di bahu Kevin, saat air mulai membasahi tubuh mereka. Kevin menyalakan tombol jacuzzi, dan gelembung-gelembung mulai berdesir, memijat kulit mereka dengan lembut. Chika memejamkan mata, merasakan relaksasi menjalar ke seluruh tubuhnya. Kevin meraih sabun cai
Kevin mencengkeram erat pinggul Chika, membantu Chika menekan dirinya lebih dalam. Rambut panjang Chika yang berantakan menempel di wajahnya, tanda betapa kerasnya mereka bercinta. Chika merasakan guncangan hebat di seluruh tubuhnya, sensasi hangat menjalar dari bawah perutnya, dan ia mengerang ker
Kevin menghela napas dalam, tangannya menyentuh rambut Chika, jari-jarinya menyelip di antara helai-helai hitam itu, membiarkan gadis itu mengambil alih ritme lambat ini.Chika menarik boxer turun, membebaskan batang kemaluan Kevin yang kini tegak penuh, vena-vena menonjol di permukaannya yang halu







