Share

BAB 6 — Warisan Darah

Author: Jey
last update Last Updated: 2026-02-18 23:30:51

Sistem bom memang sudah lumpuh, namun neraka yang sesungguhnya baru saja membuka pintu. Asap putih tebal menyembur masuk dari sisa pintu baja yang hancur, membawa aroma mesiu dan ozon yang menyesakkan paru-paru. Aku merasakan Aura tersedak di belakangku, bersembunyi di balik punggungku sambil mencengkeram kemeja hitamku seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. Aku bisa merasakan getaran hebat dari tubuhnya, sebuah campuran antara ketakutan murni dan ledakan adrenalin yang mulai meracuni nadinya.

Aku tetap bergeming. Pistol di tanganku terasa menyatu dengan raga, seolah-olah besi panas ini adalah bagian dari tulang-tulangku sendiri. Tanpa gegabah, aku menunggu. Aku menghitung napas dalam kesunyian yang mencekam hingga bayangan musuh pertama tertangkap netraku di balik kepulan asap. Aku tidak butuh waktu lama untuk membidik.

Dor! Dor!

Kilatan api kecil membelah asap sesaat. Suara rintihan samar terdengar, disusul suara benda berat yang menghantam lantai beton dengan bunyi gedebuk yang final. Satu tumbang.

"Tetap di belakangku," perintahku tanpa menoleh. Suaraku rendah dan tajam, memastikan tidak ada keraguan yang tertangkap oleh indranya. "Jangan bergerak sampai aku yang menyuruhmu, meskipun dunia ini runtuh tepat di atas kepalamu."

Tiga siluet lainnya muncul dari kegelapan asap, bergerak lebih terkoordinasi dengan taktik menjepit. Cahaya redup dari lampu dinding yang bergoyang menciptakan bayangan memanjang yang menakutkan di dinding, membuat mereka tampak seperti hantu-hantu pembalas dendam yang merangkak keluar dari neraka.

Dor! Dor! Dor!

Rentetan tembakan memekakkan telinga, namun aku tidak panik. Aku bergerak dengan kelincahan yang sudah kuasah bertahun-tahun, seperti penari kematian yang sudah menghafal setiap langkah di lantai dansa berdarah ini. Aku menembak sambil menarik Aura ke belakang tumpukan kotak kayu tua berisi arsip kotor Baron. Aku menjadikannya benteng sementara, menekan tubuh Aura agar tetap rendah saat timah panas menghantam kayu tepat beberapa inci di atas kepalanya. Serpihan kayu beterbangan, terselip di rambut hitamnya yang berantakan.

"Adrian!" Aura berteriak parau. Aku bisa mendengar oksigen yang seolah hilang dari paru-parunya.

"Diam!" Aku menekan kepala Aura ke bawah dengan telapak tanganku yang besar. "Tunggu instruksiku."

Dua pria bersenjata mendekat dengan langkah hati-hati. Mereka mencium bau darah yang merembes dari bahuku. Salah satu dari mereka mencoba menerobos dari sisi kanan, memuntahkan peluru dari senapan otomatisnya tanpa henti. Percikan api menyambar saat peluru memantul di dinding baja, menerangi wajahku yang mungkin saat ini tampak seperti iblis di mata Aura.

Aku menunggu saat yang tepat. Aku menahan napas, mengunci pantulan cahaya pada laras senjata lawan. Detik-detik itu terasa seperti keabadian yang menyiksa, hingga akhirnya pria itu muncul di celah kotak. Aku melesat keluar seperti pegas yang dilepaskan.

Satu tembakan. Tepat di dahi.

Blar!

Pria bertopeng itu jatuh menghantam lantai beton. Darah gelap mulai mengalir, merembes cepat di bawah topeng balaclava-nya. Aku melihat matanya yang terbuka lebar menatap kosong ke langit-langit—nyawa yang terenggut sebelum sempat berkedip. Aura tersedak di belakangku; bau amis darah yang segar menyergap, dan aku tahu dia sedang berjuang menahan mual.

"Aura! Jangan lihat mayatnya! Fokus padaku!" Aku menyentak bahunya, memaksa mata obsidiannya yang kini dipenuhi horor untuk menatapku.

Namun, saat perhatianku teralih sejenak pada Aura, pria ketiga muncul dari sisi kiri, berdiri tepat di belakangku. Moncong senjatanya terarah lurus ke punggungku, tepat ke titik di mana luka bakar masa laluku berada.

Di sinilah kejutan itu terjadi. Insting bertahan hidup Aura mengambil alih sebelum aku sempat berbalik. Tanpa kuprediksi, dia meraih lampu meja logam berat yang sempat ia sambar tadi. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Aura mengayunkannya sekuat tenaga.

Prang!

Lampu itu pecah menghantam kepala pria bersenjata itu hingga ia terhuyung. Senapannya terlepas. Aku tidak memberikan kesempatan kedua. Aku berbalik dengan kecepatan kilat dan melepaskan satu tembakan tepat di dadanya.

Pria itu kejang sesaat sebelum akhirnya diam secara permanen. Aku melihat Aura terengah-engah, menyaksikan kematian kedua dalam hitungan detik dengan tangan gemetar hebat.

"Bagus," bisikku. Ada rasa bangga yang gelap menyusup di suaraku. "Kamu baru saja membuktikan bahwa darah Baron memang mengalir di nadimu. Kamu bukan sekadar brankas, Aura. Kamu bisa menjadi senjata yang cukup tajam jika dipicu dengan benar."

Asap menipis, menampakkan pria keempat yang menembak membabi buta karena panik di balik pilar. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. "Kita tidak punya waktu untuk drama ini."

Aku menyambar tangannya, menariknya berlari menuju lorong rahasia lain di sudut ruangan. "Cepat! Lari atau mati!"

Kami berlari menembus kegelapan lorong yang pengap. Aku bisa merasakan desing peluru yang melesat melewati telinga kami. Namun, di ujung lorong yang buntu, aku berhenti mendadak. Di sana, seorang pria sudah menunggu dengan senapan terkokang, ditemani dua pria lain yang menjaga tas kulit besar berisi uang tunai dan dokumen rahasia Baron.

"Adrian..." Aura berbisik, suaranya mengandung pengenalan yang pahit.

"Pengkhianat," geramku. Rahangku mengeras.

Pria itu membuka sedikit topengnya, menampakkan seringai familiar. Daniel. Asisten kepercayaan Baron yang selama ini kupantau.

"Jadi kamu yang mengatur pengalihan perimeter polisi itu agar bisa menjarah brankas di tengah kekacauan?" Suaraku bukan lagi suara manusia, melainkan suara pemangsa yang telah menemukan target utamanya.

Daniel tertawa rendah, sebuah tawa penuh kemenangan yang menjijikkan. "Terlambat, Adrian. Aku sudah tahu rencana busukmu sejak awal. Sekarang, aku akan mengambil semua yang tersisa. Termasuk gadis ini, untuk memastikan Baron tetap bungkam di penjara."

Aku menatap Daniel, lalu melirik Aura yang terpojok di belakangku. Kami terjebak di antara mayat di belakang dan pengkhianat di depan.

"Adrian... kenapa mereka membawa tas itu?" tanya Aura, matanya tertuju pada dokumen yang menyembul.

Aku tidak menjawab secara lisan. Aku perlahan mengangkat pistolku, mengarahkan moncong hitam itu tepat di antara kedua mata Daniel. Aku tidak sedang memedulikan uang atau dokumen itu. Aku sedang menghitung seberapa dalam dendam yang harus kutumpahkan pada pria yang sepuluh tahun lalu ikut membiarkan rumah keluargaku terbakar.

"Daniel," bisikku, suaraku sedalam liang lahat. "Pelajaran ketiga: Jangan pernah mencuri dari orang yang sudah tidak punya apa-apa untuk dikorbankan. Karena aku akan memastikan kematianmu tidak akan secepat teman-temanmu di dalam."

Aku merasakan Aura menatap punggungku. Dia harus menyadari satu hal: di mataku sekarang, Daniel bukan sekadar penghalang. Dia adalah santapan utamaku, dan Aura akan melihat bagaimana seorang predator menghabisi mangsanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 6 — Warisan Darah

    Sistem bom memang sudah lumpuh, namun neraka yang sesungguhnya baru saja membuka pintu. Asap putih tebal menyembur masuk dari sisa pintu baja yang hancur, membawa aroma mesiu dan ozon yang menyesakkan paru-paru. Aku merasakan Aura tersedak di belakangku, bersembunyi di balik punggungku sambil mencengkeram kemeja hitamku seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. Aku bisa merasakan getaran hebat dari tubuhnya, sebuah campuran antara ketakutan murni dan ledakan adrenalin yang mulai meracuni nadinya.Aku tetap bergeming. Pistol di tanganku terasa menyatu dengan raga, seolah-olah besi panas ini adalah bagian dari tulang-tulangku sendiri. Tanpa gegabah, aku menunggu. Aku menghitung napas dalam kesunyian yang mencekam hingga bayangan musuh pertama tertangkap netraku di balik kepulan asap. Aku tidak butuh waktu lama untuk membidik.Dor! Dor!Kilatan api kecil membelah asap sesaat. Suara rintihan samar terdengar, disusul suara benda berat yang menghantam lantai beton dengan bunyi

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 5 — Detak Jantung di Ujung Detik

    00:54:12Angka merah di monitor terus menyusut, memantulkan cahaya pucat ke wajahku. Dari pantulan layar, aku bisa melihat Aura mematung menatap pintu baja yang kini menjadi satu-satunya pembatas kami dari kematian atau pembunuh haus darah di luar sana. Ruangan ini memang terasa seperti peti mati canggih, dan aku adalah orang yang memegang kuncinya."Kenapa kamu diam saja? Duduk dan jangan menghalangi pandanganku." Perintahku tanpa menoleh sedikit pun. Jemariku tetap menari di atas keyboard tua yang berderit, mengetik barisan kode enkripsi yang rumit untuk menunda ajal kami.Aura tidak bergerak. Aku tahu matanya tertuju pada lengan kemeja hitamku yang robek. Di sana, kainnya basah oleh cairan pekat yang mulai merembes dan menetes ke lantai marmer yang dingin. Darahku sendiri."Lo luka, Adrian," bisiknya, suaranya bergetar di tengah desis server yang monoton.Aku mendengus sinis. Luka peluru ini bagiku tidak lebih dari sekadar gigitan nyamuk jika dibandingkan dengan luka yang kusimpan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 4 — Labirin Kematian

    Ledakan itu bukan sekadar gertakan; getarannya merambat dari lantai marmer hingga ke ulu hatiku. Aku melihat langit-langit perpustakaan mulai runtuh, menghamburkan debu dan serpihan kayu yang memerihkan mata. Dalam satu gerakan refleks yang sudah terlatih, aku menyentak Aura dengan kasar, mendekapnya erat di balik meja jati masif milik ayahnya. Aku menjadikannya perisai dari lesatan serpihan kaca yang menghujam udara.Di tengah kekacauan ini, aku bisa merasakan tubuh Aura yang bergetar hebat dalam pelukanku. Aroma sandalwood dan sisa kopi dari tubuhku adalah satu-satunya hal yang ia miliki sekarang. Aku tetap tenang, detak jantungku stabil dan terkontrol, sangat kontras dengan miliknya yang berdentum brutal melawan dadaku."Jangan bergerak, jangan bersuara," bisikku tepat di telinganya. Suaraku rendah, memastikan dia tahu bahwa akulah kendali di sini.Pintu perpustakaan yang megah itu kini tinggal puing. Dari balik kepulan asap kelabu, siluet pria-pria berpakaian taktis dengan balacla

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 3 — Penjara yang Indah

    Hening yang menyusul setelah sambungan telepon itu terputus terasa jauh lebih memuaskan daripada ledakan kemarahan Baron yang paling kasar sekalipun. Dari balik bayangan pintu, aku mengamati Aura. Gadis itu menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong, seolah berharap ada keajaiban yang muncul dari desis statis di sana."Papah?" bisiknya parau. Suara yang dulu penuh kebanggaan itu kini hilang ditelan sunyinya perpustakaan.Aku melangkah keluar dari kegelapan tepat saat dia menyambar pembuka surat emas dari meja ayahnya. Dia menggenggam benda tajam itu dengan tangan gemetar, sebuah upaya perlawanan yang menyedihkan namun menarik untuk ditonton. Begitu dia berbalik dan melihatku, langkahnya terhenti seketika.Aku sengaja melepas jasku, membiarkan kemeja hitamku terbuka sedikit di bagian leher untuk menunjukkan bahwa aku sedang berada di rumahku sendiri. Di tangan kananku, tablet terus berkedip, menampilkan data aset Baron yang sedang kuhancurkan satu demi satu, sementara tan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 2 — Runtuhnya Langit Pertama

    Aku menyesap kopi hitam tanpa gula di balik meja kerja jati milik Baron. Pahitnya cairan itu setara dengan kebencian yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Terlalu pagi bagi seorang putri konglomerat yang terbiasa dimanjakan, namun ini adalah waktu yang tepat untuk memulai penghancuran mentalnya. Disiplin adalah fondasi utama untuk menghancurkan lawan, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu mangsaku bangun dengan tenang.Aku sengaja meletakkan papan catur di depanku, mengatur bidaknya dalam posisi yang berantakan, simbol dari kekacauan yang sedang kusiapkan untuk keluarga ini. Kacamata perakku tergeletak di samping meja. Aku ingin dia melihat mata obsidianku yang telanjang hari ini. Aku ingin dia merasakan intimidasi murni tanpa penghalang. Brak!Pintu ek besar itu terhempas kasar. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan kecemasan itu sangat kukenali. Aura Clarissa berdiri di sa

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 1 — Pelajaran Menghancurkan Dunia

    Rumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron."Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut."Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status