Home / Urban / Dewantara: Kebangkitan Sang Predator / BAB 5 — Detak Jantung di Ujung Detik

Share

BAB 5 — Detak Jantung di Ujung Detik

Author: Jey
last update Huling Na-update: 2026-02-18 23:15:12

00:54:12

Angka merah di monitor terus menyusut, memantulkan cahaya pucat ke wajahku. Dari pantulan layar, aku bisa melihat Aura mematung menatap pintu baja yang kini menjadi satu-satunya pembatas kami dari kematian atau pembunuh haus darah di luar sana. Ruangan ini memang terasa seperti peti mati canggih, dan aku adalah orang yang memegang kuncinya.

"Kenapa kamu diam saja? Duduk dan jangan menghalangi pandanganku." Perintahku tanpa menoleh sedikit pun. Jemariku tetap menari di atas keyboard tua yang berderit, mengetik barisan kode enkripsi yang rumit untuk menunda ajal kami.

Aura tidak bergerak. Aku tahu matanya tertuju pada lengan kemeja hitamku yang robek. Di sana, kainnya basah oleh cairan pekat yang mulai merembes dan menetes ke lantai marmer yang dingin. Darahku sendiri.

"Lo luka, Adrian," bisiknya, suaranya bergetar di tengah desis server yang monoton.

Aku mendengus sinis. Luka peluru ini bagiku tidak lebih dari sekadar gigitan nyamuk jika dibandingkan dengan luka yang kusimpan selama sepuluh tahun. "Fokus saja pada napasmu, Aura. Jangan pingsan di sini dan merepotkanku."

Tiba-tiba, dia bergerak nekat menyambar kotak P3K. "Lepas kemejamu. Aku tidak mau mati konyol karena kau infeksi sebelum bom meledak."

Aku menoleh, memberikan seringai ejek yang tajam. "Galak. Bagus, setidaknya otakmu tidak sepenuhnya tumpul karena ketakutan."

Aku menanggalkan kemejaku dengan tenang, membiarkan kain itu jatuh ke lantai. Aku bisa mendengar napasnya yang tercekat. Aku tahu apa yang dia lihat: hamparan jaringan parut dan bekas luka bakar luas di punggungku yang membeku seperti peta penderitaan masa lalu. Dan di sana, di tengah bahu kiriku, tampak tanda lahir sabit kecil yang selama ini kusembunyikan.

"Kak... Arlan?" Bisikannya penuh kepedihan, sebuah nama yang seharusnya sudah terkubur bersama abu rumahku.

Gerakanku membeku. Suasana di ruang bawah tanah ini mendadak menjadi lebih dingin daripada besi tua di sekeliling kami. Aura gravitasi di antara kami berubah menjadi sangat berat saat aku berbalik.

"Gue bilang, nama itu sudah mati!" desisku tajam, membiarkan kebencian murni terpancar dari suaraku. "Jangan pernah panggil nama itu lagi di depanku!"

Namun, dia justru nekat menyentuh bekas luka bakar itu dengan jemarinya yang gemetar. "Tanda lahir ini... Kak Arlan bilang ini keberuntungan. Kebakaran sepuluh tahun lalu... lo nggak mati di sana?"

Aku bergerak secepat predator, mencengkeram tangannya hingga kapas di genggamannya jatuh tak berguna. "Keluarga Dewantara kehilangan segalanya karena keserakahan ayahmu, Aura! Kamu pikir aku kembali ke sini hanya untuk bernostalgia?"

"Untuk membunuh gue?" tantangnya, meski aku bisa merasakan denyut nadinya yang menggila di bawah cengkeramanku.

"Membunuhmu itu terlalu mudah," bisikku, menyentaknya hingga dadanya membentur dadaku yang dingin oleh dendam. "Aku ingin kamu menonton dari barisan terdepan saat seluruh kemewahanmu berubah jadi abu. Aku ingin kamu merasakan kehilangan yang sama saat aku melihat ibuku mati di tengah kepulan asap karena ulah ayahmu!"

Air matanya jatuh, sebuah pemandangan yang seharusnya membuatku puas. "Kalau gitu, kenapa lo nyelamatin gue tadi? Lo bisa biarin mereka nembak gue."

Aku terdiam sejenak, menelusuri wajahnya yang hancur dengan tatapan tajam sebelum melonggarkan cengkeramanku. "Karena kematianmu di tangan orang lain tidak memberiku kepuasan sedikit pun. Kamu adalah hakku untuk dihancurkan, Aura. Bukan milik mereka."

BUM!

Getaran hebat mengguncang ruangan, menjatuhkan beberapa buku dari rak. Di monitor, salah satu titik merah di peta mansion menghilang, digantikan oleh sinyal peringatan yang berkedip merah.

"Mereka mulai meledakkan pintu akses pertama," ujarku, kembali ke mode dingin yang mematikan. Aku mengenakan kemejaku kembali dengan kasar tanpa mempedulikan luka yang masih terbuka. "Waktu kita sisa tiga puluh menit sebelum protokol pembersihan dimulai."

"Lalu apa? Lo beneran bakal ledakin tempat ini sama mereka?"

"Itu rencana awalnya," jawabku sembari menekan tombol Enter terakhir. Layar monitor berubah menjadi hijau pekat dengan tulisan kapital yang tegas: INPUT BIOMETRIC KEY.

Aku menoleh padanya, menikmati ironi yang kini menyelimuti situasi kami. "Tapi ada variabel yang berubah. Ayahmu, Baron, ternyata lebih licik dari yang kubayangkan. Dia menyembunyikan kunci akses terakhir di tempat yang tidak bisa kubuka sendiri."

"Apa maksud lo?"

Aku meraih tangan kanannya, menariknya dengan paksa menuju pemindai kecil di samping monitor utama. "Dia mendaftarkan sidik jari dan retina matamu sebagai kunci penghenti bom. Dia tahu, suatu saat musuhnya akan datang untuk mengambil aset ini, dan dia menjadikanmu satu-satunya 'gembok' yang bisa menyelamatkan hartanya."

Aku melihat dunianya runtuh untuk kesekian kalinya hari ini. "Jadi... Papah jadiin gue sandera buat hartanya sendiri? Bahkan di saat terakhir, gue cuma alat bagi dia?"

"Tepat. Dia tidak menyelamatkanmu karena cinta, Aura. Dia menyelamatkanmu karena kamu adalah 'brankas berjalan' miliknya. Dia tahu aku atau siapa pun, tidak akan berani membunuhmu sebelum mendapatkan kode ini."

Aku memperhatikan air matanya yang terus mengalir; mungkin ada sisa empati Arlan yang terusik, atau mungkin aku hanya menikmati melihat mentalnya hancur berkeping-keping. "Letakkan tanganmu di sini, Aura. Hentikan bomnya, atau kita hancur bersama semua rahasia kotor keluarga Baron."

Gedoran di pintu baja mulai bergetar hebat. Para penyusup itu sudah sangat dekat.

"Kalo gue mati, lo juga mati bareng gue, kan?" tanyanya tiba-tiba.

"Ya. Kita akan terbakar di neraka yang sama."

Dia menatap mataku sekali lagi, mencari sosok pelindung yang sudah lama kubunuh dalam diriku. Dengan napas berat, dia meletakkan telapak tangannya di atas pemindai.

SCANNING...

Lampu merah berputar sejenak sebelum layar membeku di angka 00:15:02. Detik yang menyiksa itu berhenti, menyisakan keheningan yang jauh lebih menakutkan. Namun, ketenangan itu hancur saat pinggiran pintu baja mulai membara karena pemotong laser.

"Mereka masuk," bisiknya panik.

Aku menarik pistol dari laci meja, senjata yang sudah kusiapkan sebagai rencana cadangan. Aku berdiri tegak, menghalangi pandangannya dari arah pintu. "Tetap di belakangku dan jangan tutup matamu," bisikku sembari mengokang senjata dengan bunyi mekanis yang tajam. "Lihat baik-baik, Aura. Inilah cara dunia memperlakukan orang-orang yang kalah."

Blar! Asap putih memenuhi ruangan tepat saat pintu itu jebol. Aku melepaskan tembakan pertama tanpa ragu sedikit pun. Mangsaku tidak akan jatuh ke tangan orang lain.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 6 — Warisan Darah

    Sistem bom memang sudah lumpuh, namun neraka yang sesungguhnya baru saja membuka pintu. Asap putih tebal menyembur masuk dari sisa pintu baja yang hancur, membawa aroma mesiu dan ozon yang menyesakkan paru-paru. Aku merasakan Aura tersedak di belakangku, bersembunyi di balik punggungku sambil mencengkeram kemeja hitamku seolah itu adalah satu-satunya jangkar di tengah badai. Aku bisa merasakan getaran hebat dari tubuhnya, sebuah campuran antara ketakutan murni dan ledakan adrenalin yang mulai meracuni nadinya.Aku tetap bergeming. Pistol di tanganku terasa menyatu dengan raga, seolah-olah besi panas ini adalah bagian dari tulang-tulangku sendiri. Tanpa gegabah, aku menunggu. Aku menghitung napas dalam kesunyian yang mencekam hingga bayangan musuh pertama tertangkap netraku di balik kepulan asap. Aku tidak butuh waktu lama untuk membidik.Dor! Dor!Kilatan api kecil membelah asap sesaat. Suara rintihan samar terdengar, disusul suara benda berat yang menghantam lantai beton dengan bunyi

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 5 — Detak Jantung di Ujung Detik

    00:54:12Angka merah di monitor terus menyusut, memantulkan cahaya pucat ke wajahku. Dari pantulan layar, aku bisa melihat Aura mematung menatap pintu baja yang kini menjadi satu-satunya pembatas kami dari kematian atau pembunuh haus darah di luar sana. Ruangan ini memang terasa seperti peti mati canggih, dan aku adalah orang yang memegang kuncinya."Kenapa kamu diam saja? Duduk dan jangan menghalangi pandanganku." Perintahku tanpa menoleh sedikit pun. Jemariku tetap menari di atas keyboard tua yang berderit, mengetik barisan kode enkripsi yang rumit untuk menunda ajal kami.Aura tidak bergerak. Aku tahu matanya tertuju pada lengan kemeja hitamku yang robek. Di sana, kainnya basah oleh cairan pekat yang mulai merembes dan menetes ke lantai marmer yang dingin. Darahku sendiri."Lo luka, Adrian," bisiknya, suaranya bergetar di tengah desis server yang monoton.Aku mendengus sinis. Luka peluru ini bagiku tidak lebih dari sekadar gigitan nyamuk jika dibandingkan dengan luka yang kusimpan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 4 — Labirin Kematian

    Ledakan itu bukan sekadar gertakan; getarannya merambat dari lantai marmer hingga ke ulu hatiku. Aku melihat langit-langit perpustakaan mulai runtuh, menghamburkan debu dan serpihan kayu yang memerihkan mata. Dalam satu gerakan refleks yang sudah terlatih, aku menyentak Aura dengan kasar, mendekapnya erat di balik meja jati masif milik ayahnya. Aku menjadikannya perisai dari lesatan serpihan kaca yang menghujam udara.Di tengah kekacauan ini, aku bisa merasakan tubuh Aura yang bergetar hebat dalam pelukanku. Aroma sandalwood dan sisa kopi dari tubuhku adalah satu-satunya hal yang ia miliki sekarang. Aku tetap tenang, detak jantungku stabil dan terkontrol, sangat kontras dengan miliknya yang berdentum brutal melawan dadaku."Jangan bergerak, jangan bersuara," bisikku tepat di telinganya. Suaraku rendah, memastikan dia tahu bahwa akulah kendali di sini.Pintu perpustakaan yang megah itu kini tinggal puing. Dari balik kepulan asap kelabu, siluet pria-pria berpakaian taktis dengan balacla

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 3 — Penjara yang Indah

    Hening yang menyusul setelah sambungan telepon itu terputus terasa jauh lebih memuaskan daripada ledakan kemarahan Baron yang paling kasar sekalipun. Dari balik bayangan pintu, aku mengamati Aura. Gadis itu menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong, seolah berharap ada keajaiban yang muncul dari desis statis di sana."Papah?" bisiknya parau. Suara yang dulu penuh kebanggaan itu kini hilang ditelan sunyinya perpustakaan.Aku melangkah keluar dari kegelapan tepat saat dia menyambar pembuka surat emas dari meja ayahnya. Dia menggenggam benda tajam itu dengan tangan gemetar, sebuah upaya perlawanan yang menyedihkan namun menarik untuk ditonton. Begitu dia berbalik dan melihatku, langkahnya terhenti seketika.Aku sengaja melepas jasku, membiarkan kemeja hitamku terbuka sedikit di bagian leher untuk menunjukkan bahwa aku sedang berada di rumahku sendiri. Di tangan kananku, tablet terus berkedip, menampilkan data aset Baron yang sedang kuhancurkan satu demi satu, sementara tan

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 2 — Runtuhnya Langit Pertama

    Aku menyesap kopi hitam tanpa gula di balik meja kerja jati milik Baron. Pahitnya cairan itu setara dengan kebencian yang kupelihara selama sepuluh tahun terakhir. Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Terlalu pagi bagi seorang putri konglomerat yang terbiasa dimanjakan, namun ini adalah waktu yang tepat untuk memulai penghancuran mentalnya. Disiplin adalah fondasi utama untuk menghancurkan lawan, dan aku tidak punya waktu untuk menunggu mangsaku bangun dengan tenang.Aku sengaja meletakkan papan catur di depanku, mengatur bidaknya dalam posisi yang berantakan, simbol dari kekacauan yang sedang kusiapkan untuk keluarga ini. Kacamata perakku tergeletak di samping meja. Aku ingin dia melihat mata obsidianku yang telanjang hari ini. Aku ingin dia merasakan intimidasi murni tanpa penghalang. Brak!Pintu ek besar itu terhempas kasar. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan kecemasan itu sangat kukenali. Aura Clarissa berdiri di sa

  • Dewantara: Kebangkitan Sang Predator    BAB 1 — Pelajaran Menghancurkan Dunia

    Rumah ini masih berbau sama: parfum ruangan mahal yang gagal menutupi aroma busuk pengkhianatan. Aku menarik napas cukup dalam, membiarkan bau itu meracuni paru-paruku, mengingatkanku mengapa aku kembali. Sepuluh tahun memang waktu yang cukup untuk membangun topeng sebagai lulusan terbaik London, namun tak pernah cukup untuk memadamkan api yang membakar ulu hatiku setiap kali kaki ini memijak lantai marmer keluarga Baron."Nona Aura akan segera turun, Tuan Adrian. Anda ingin minum sesuatu?" Suara pelayan itu gemetar. Aku bisa merasakan hawa dingin yang kupancarkan menembus seragam tipisnya, membuat nyalinya menciut."Tidak perlu," sahutku tanpa menoleh. Suaraku datar, sedingin es yang membeku di kutub. Aku menyesuaikan letak kacamata berbingkai perak di hidungku. Di balik lensa ini, aku sedang memetakan setiap sudut ruangan, mencari titik terlemah dari benteng kesombongan yang dibangun pria yang menghancurkan keluargaku.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki dari tangga melingkar itu memb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status