Share

34. Intrik Halus

last update publish date: 2026-05-16 22:09:36

**

“Kakek ….” Vega memandang dua lembar kertas tebal di atas meja itu, lalu beralih kepada pria tua di hadapannya. Dahinya berkerut, ragu-ragu hendak menanyakan hal ini. Kendati begitu, perempuan itu tetap bersuara. “Tiketnya hanya ada dua lembar saja?”

“Kau benar.” Senyum lebar Draco menghiasi wajahnya yang penuh kerutan. “Memang hanya ada dua lembar. Itu untukmu … dan Antares.”

Membola sempurna kedua mata biru Vega. Sama sekali tidak mengira bahwa sang kakek ternyata memang orang yang adil. S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   81. Mengunjungi Kakek

    **Meski di luar langit cerah dan matahari bersinar terik, namun di dalam area pemakaman, udara tetap dingin menusuk.Seperti yang Vega ingat pada kedatangan sebelumnya saat pemakaman paman dan bibinya, kabut tipis masih mengambang di antara batu-batu nisan seperti hantu tak kasat mata. Sunyi senyap di sekitar sana. Namun Vega justru senang, sebab ia bisa leluasa berziarah. Tak perlu dipandang aneh oleh orang lain yang datang.Masing-masing satu ikat bunga segar Vega letakkan di pusara paman, bibi, dan yang terakhir, kuburan dengan batu nisan marmer seperti monumen.Arcas Capella terkubur di bawah batu nisan itu.Vega meletakkan ikatan bunganya, lalu mundur. Ia menunduk, memandang dalam-dalam ukiran nama emas di atas batu marmer hitam itu.“Terimakasih ….” ucapnya parau setelah beberapa lama terdiam. “Sudah memberiku kesempatan untuk keluar dari kehidupan yang tidak bisa diharapkan. Jika kau ada di sini, Kakek, aku akan memberimu sebuah pelukan.”Di belakangnya, Antares diam-diam men

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   80. Pengalihan Hak Waris

    **Vega mengerling kepada Antares, seolah meminta persetujuan secara nonverbal kepada pria itu. Antares menangkap maksudnya dengan sangat baik. Pria rupawan itu lantas meraih pinggang Vega dan mendekapnya. Dengan sengaja menunjukkan kepada Regulus bahwa sekarang ia adalah pemilik sah perempuan itu. Bukan Orion.Tak nyaman, namun tak punya pilihan lain. Vega tida bisa menolak. Saat ini, satu-satunya yang bisa diandalkan penuh oleh Vega untuk tempat berlindung hanyalah Antares seorang.“Duduklah.” Pria bersurai cokelat itu berkata pelan seraya menunjuk kursi. Ia membiarkan Vega melangkah lebih dulu dan menyamankan diri.“Selamat siang, Tuan.” Antares menyapa tanpa senyuman. Hanya mengangguk sopan kepada pria separuh baya berkacamata di hadapannya."Selamat siang, Tuan dan Nona!" Regulus duduk menegakkan tubuh. Kedua tangannya terjalin di atas meja. Seperti Antares, ia juga berubah menjadi serius. Tahu bahwa kliennya seperti sedang terburu-buru, atau bersembunyi dari sesuatu. Ditinjau d

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   79. Vega Sudah Memutuskan

    **Setelah berhari-hari diguyur hujan, akhirnya pagi ini Vega bisa melihat sinar matahari yang cemerlang, menerobos celah tirai kamar dan membentuk garis bias lurus yang jatuh tepat pada wajahnya.Perempuan itu mengerjapkan mata. Ia geser posisinya sehingga tidak lagi tepat di bawah guyuran cahaya.Selama beberapa saat, Vega masih termangu. Pandangan matanya kosong, menatap sedikit pemandangan di luar jendela kamar yang tampak melalui celah tirai.Sepertinya hari ini akan cerah.“Selamat pagi, Sayang.”Sebuah kecupan manis mendarat di pelipis Vega, bersama dengan aroma wangi parfum yang menguar lembut.Antares meletakkan nampan di atas nakas, berisi segelas jus jeruk dan piring berisi panini.Vega hanya memandangnya dengan kosong.“Bangunlah dan makan sarapanmu. Kau tidak lupa hari ini, kan?”Menggeleng lirih. Tentu saja Vega ingat. Hari ini ia dan Antares sudah membuat janji temu bersama Regulus Skye.Vega sudah mengambil keputusan yang akan mengubah total haluan hidupnya. Ia akan me

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   78. Orion Bergerak

    **“Jelaskan kepada Ibu!”Orion mengalihkan pandang dari wanita yang sedang berdiri bersendekap tangan di hadapannya. Ia tidak suka ini, sebab pandangan tajam Lyra adalah satu-satunya yang bisa membuat Orion terintimidasi.“Mengapa kau jadi seperti ini, jelaskan sekarang!”“Memangnya aku menjadi seperti apa? Tidak ada yang perlu aku jelaskan–”“Banyak, Rion! Dan jangan memandang ke arah lain saat kau bicara, lihat Ibu dan jelaskan apa maksudmu!”Orion menghela napas panjang. Ia kini beradu tatap dengan sang ibu. Satu-satunya anggota keluarga yang tidak memiliki bola mata kelabu berkilauan. Iris milik Lyra cokelat terang, senada dengan warna rambutnya. Warna rambut yang ia turunkan kepada Antares, sang kembar bungsu.Wanita yang hampir berusia separuh abad itu masih menatap lekat sang putra pertama untuk menunggu klarifikasinya.Sedikitnya, Lyra merasa heran. Baru kali ini ia melihat tingkah Orion yang tidak tegas seperti ini. Padahal sejak usia kanak-kanak, si sulung sudah menunjukk

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   77. Tanda-Tanda Perpecahan

    **Vega terhenyak.Ia beringsut duduk, meski rasa nyeri menyengat bagian bawahnya. Sepenuhnya mengabaikan hal itu, Vega menatap Antares dengan pandangan serius.“Menurutmu, Ares, apa yang harus aku lakukan ….”“Menurutku, terima warisan dari kakekmu dan simpan untukmu sendiri. Tidak usah kau bagi-bagi dengan siapapun. Tidak perlu merasa wajib menjadi dermawan. Dan tidak perlu merasa tidak mampu menanggung harta sebanyak itu, sampai harus menjadi tolol dengan memberikannya kepada pria yang kau sukai.”Alis Vega seketika berkerut. Dari mana Antares tahu bahwa ia pada awalnya memang berencana mengalihkan warisan ini kepada Orion agar bisa dikelola dan terus dikembangkan dengan baik?Memangnya Antares mengikutinya kala berbulan-bulan ia ikut Orion ke kantor Black Hole untuk belajar tentang bisnis?Apakah pria itu mencuri dengar semua nasihat Orion tentang angan-angan akan menyerahkan harta itu kepada orang kepercayaan jika Vega bebar-benar memilikinya?“Jangan memandangku seperti itu. Ten

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   76. Obsessed With You

    **“Pe-pelan … tolong pelan sedikit … ini sangat sakit ….”Air mata Vega berjatuhan menimpa air panas dalam bak mandi yang bergejolak hebat hingga tumpah ruah ke atas lantai kamar mandi.Pergerakan intens dari dua orang yang ada di dalamnya yang membuatnya demikian.“Angkat pinggulmu lebih tinggi lagi ….” Antares menggeram. Ia menarik pinggang Vega hingga posisi perempuan itu menungging lebih tinggi. Kedua tangannya bertumpu pada pinggiran bak mandi, dengan wajah hampir menyentuh permukaan air.“Nah, benar seperti ini, Sayang. God, kau sangat seksi ….” Antares sama sekali tidak peduli pada jerit dan tangis Vega yang meminta berhenti. Ia terus bergerak. Tanpa lelah, tanpa ampun. Mengejar kebutuhan dirinya yang rasanya sudah hampir meledakkan akal sehat.“Ah, sial … ini sangat pas dengan punyaku. Kau meremasnya kuat sekali, Sayang.” Bisikan kata-kata kotor saling bersahutan dengan desah keras dan suara kecipak air.Vega memejamkan mata. Rasanya ia hampir pingsan. Bagian bawahnya digem

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   68. Kabur

    **Dua hari!Bayangkan, Orion mengurung Vega di dalam kamar tamu itu selama dua hari. Tak mengizinkan ia bertemu dengan siapapun, dan mewajibkan ia ditemani oleh setidaknya satu orang maid selama dua puluh empat jam. Pergerakannya diawasi, diatur sedemikian rupa.Pada hari ketiga, Vega rasanya suda

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   67. Orion Mulai Posesif

    **“Ini semua membuatku bingung. Kepalaku sakit. Tolong biarkan aku beristirahat sebentar saja.”Vega mendorong pelan tangan Orion yang sudah bergerak akan memeluk pinggangnya. Gerakan itu begitu halus dan alami, seakan Vega melakukannya tanpa sengaja. Tapi Orion tetap merasa sang istri menampikny

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   66. Jangan Percaya Dia!

    **“Tutup mulutmu, bajingan tengik! Jika kau terus meracau seperti orang gila, aku tidak akan segan-segan membuatmu benar-benar gila.”Antares memiringkan tubuh melewati Vega untuk melihat ke arah pintu, di mana suara dingin penuh ancaman itu baru saja terdengar.Wajahnya sama sekali tidak heran sa

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   65. Kebingungan Vega

    **“Kalian mengurungku, tidak membiarkan aku mengetahui apapun yang berkaitan dengan silsilah keluargaku. Kalian bahkan tidak mengizinkanku melihat makam Kakek. Tidak ada yang membahas tentang ini sepanjang aku tinggal di sini. Padahal kalian juga yang mengundangku datang.”Meski dengan suara hampi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status