Beranda / Romansa / Di Antara Dua Pilihan / Bab 4. Kamu cuma Berpura-pura

Share

Bab 4. Kamu cuma Berpura-pura

Penulis: Desti Angraeni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-30 16:21:53

Aroma masakan menggelitik rongga hidung Dhara. Gadis ini bergegas ke dapur karena mungkin Langit membuat kekacauan lagi. Namun, ternyata itu Keenan, ia memasak dengan terampil.

“Pagi.” Senyuman lembut dengan pembawaan shunsine didapatkan Dhara dari lelaki yang berhasil mengisi hatinya setelah Amir.

“Saya masak beberapa menu. Saya tidak tahu kamu suka atau tidak, tapi di kulkas cuma ada ini.” Bahkan penataan meja pun terkesan elegan jika di tangan Keenan.

Dhara masih menganga kala Keenan terkekeh.

“Makan, yuk.” Keenan segera menggiring Dhara ke arah kursi yang sudah disiapkan. Kedua bahu si gadis disentuh lembut.

“Kamu masak semua ini?”

Apa ini mimpi? Keenan, seseorang yang sering mengacuhkannya tiba-tiba sangat perhatian, dan ... tindakannya selalu di luar dugaan!

“Iya.” Keenan masih dengan senyuman yang sama.

Dhara masih dalam suasana tidak percaya, tetapi ini nyata. Lalu memperhatikan hidangan di meja makan dengan heran, “Sebanyak ini?”

Keenan mengangguk kecil. Ia menggeser kursi di sisi Dhara. “Harusnya 3 sampai 4 menu saja cukup buat kita berdua. Tapi karena ada teman masa kecil kamu, jadi saya memasak lebih banyak.” Beban! Batinnya mengumpat untuk Langit.

Dhara sedikit terhenyak seolah baru saja kembali ke dunia nyata. “Oh iya, di mana Langit?” Mata indahnya segera menyapu ruangan.

Sementara, Keenan sudah mengisi nasi di piring Dhara. “Mungkin masih tidur,” ketusnya.

“Aneh, biasanya Langit bangun pagi,” gumam Dhara.

“Biasanya?” Sorot mata Keenan menunjukan cemburunya.

Segera, senyuman lebar ditarik Dhara. “I-iya, biasanya ....” Ia menggaruk kepala tidak gatal.

Keenan tidak ingin melibatkan Langit, tetapi karena sudah terjadi, jadi ia harap pagi ini hanya dirinya dan Dhara.

Dan ternyata harapannya terkabul karena hingga sarapan berakhir, Langit tidak datang. Namun, sebenarnya ini sudah direncakan oleh Langit.

Memangnya siapa yang suka menjadi lalat?

Pukul sepuluh pagi, Dhara dan Langit baru saja bertemu, itu pun kala ia berpamitan, “Saya mau kuliah dulu.” Senyumannya selalu lembut.

“Thank ya, udah datang nemenin, dan makasih karena kamu tidak pernah bosan.” Seperti biasanya, senyuman Dhara seakan memberi harapan untuk lelaki yang menyimpan perasaan terlalu lama.

Jemari Langit ingin membelai pipi Dhara, tetapi pagi ini niat itu harus dihapus karena keberadaan Keenan. “Kapan Papa kamu pulang?”

“Tadi Papa telepon. Papa bilang lusa baru bisa pulang.” Dhara menjeda beberapa detik, “Eu-- Langit ....” Rasa canggung menyerangnya.

Sepasang mata hitam legam menyelidik kecil pada wajah Dhara yang sedikit menunduk. “Kenapa?” Suaranya sangat lembut.

“Maaf, tapi malam ini ..., kamu tidak usah datang.” Hanya canggung. Itu yang dirasakan Dhara.

“Ya.” Langit tersenyum teduh saat hatinya keberatan sekalian khawatir jika si gadis bersama Keenan sepanjang malam, tetapi ia tidak bisa mencampuri privasi seseorang.

Deru motor gede sudah meraung, Langit melambaikan tangannya dan mengisyaratkan agar Dhara kembali ke rumah karena cuaca sedang grimis.

Saat inilah Keenan menghampiri Langit, mereka pergi ke samping rumah. “Jangan berharap apapun. Dhara tidak butuh kamu!” Tatapannya tidak berubah. Menusuk.

“Saya harus melindungi Dhara dari orang seperti kamu!” Aura yang mengelilingi Langit tidak berbeda dengan rivalnya.

“Dhara baik-baik saja dan aman.”

Sunggingan bibir Langit sangat tajam. “Aman, kamu bilang.”

“Intinya, berhenti mendekati Dhara. Harusnya kamu udah tahu sejauh mana hubungan kami, dan harusnya kamu tahu diri.”

“Hubungan palsu!” Sunggingan bibirnya lebih tajam dari sebelumnya dan sudut matanya seolah menyimpan fakta.

“Jangan ikut campur!” Tatapan Keenan seperti jelaga yang tenang, tetapi seseorang melemparkan batu di permukaannya.

Rokok dirogoh dari balik almamaternya. Asap yang mengepul mengarah langsung pada langit kelabu. “Kamu tidak tahu apapun tentang Dhara, tapi seolah-olah kamu hapal segalanya.”

Saat ini Keenan mati kutu karena merasa tertampar hebat. Ia memang pasangan yang buruk, pasangan yang tidak tahu apapun tentang orang yang selama ini mencintainya, bahkan rela bertahan untuknya walau perih.

“Banyak hal buruk dan menyakitkan yang diarahkan dunia pada Dhara. Mulai dari dikucilkan teman-temannya, masalah keluarga, sampai dikhianati orangtua dan orang-orang yang dia pikir rumah, yang dia pikir tempat berlindung.”

Asap kembali mengepul, terbawa angin lalu digoyahkan dan menghilang di balik kabut. “Dhara tidak punya tempat bercerita walau beberapa orang bersedia mendengar, tapi dia memilih berbicara dengan pikirannya sendiri karena terlalu sering dikecewakan oleh manusia yang diharapkan merangkul, tapi kenyataannya lebih jahat dibandingkan dunia.”

“Dhara dibesarkan oleh kasih sayang, tapi tiba-tiba keadaan terbalik. Dia dicampakan tanpa alasan.” Suasana hening. “Dhara ....”

“Saya tidak punya waktu dengar bualan!” Keenan memotong dengan dingin.

Langit berseru, “Ini bukan bualan! Kamu tidak tahu apapun, tapi seolah tahu segalanya. Kalau kamu mau bersama Dhara, setidaknya kamu harus tahu masa lalunya dan seperti apa pandangan Dhara saat ini tentang kehidupan!”

“Berisik!” Keenan melengos.

“Satu hal penting yang harus kamu tahu. Dhara tidak butuh orang yang berpura-pura!”

Kalimat itu berhasil menghentikan langkah Keenan.

“Kamu cuma kasian sama Dhara, kamu tidak benar-benar tulus!”

Telapak kakinya seakan membeku setelah mendengar fakta yang terbaca oleh Langit. Keenan kembali mati kutu.

“Saya tidak tahu tentang kamu karena kamu orang asing. Tapi sebagai sesama lelaki, saya bisa membaca isi pikiran kamu.”

Dhara mencengkeram nampan kuat-kuat setelah mendengar lontaran dari mulut Langit. Itu sakit, tapi ia tersenyum. “Ya, saya tahu ...,” gumamnya ikhlas di balik jendela kayu yang masih tertutup rapat.

Leher Langit bergeser ke kiri karena aroma parfum Dhara yang lolos lewat sela-sela jendela. Apa kamu mendengarkan, Dhara?

Bersambung ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 36. Kamu Tahu Aturannya?

    Tepatnya hari senin, Anggara dan relasinya melakukan pertemuan bisnis. Acara ini bisa disebut pesta. 'Pesta pebisnis'. Keenan berdiri gagah di samping Anggara. Stelan formal itu sangat mencitrakan statusnya yang seorang pewaris satu-satunya. Namun, berbeda dengan Dhara, justru gadis ini duduk seorang diri di depan meja kaca yang dibalut kain putih gading dengan brokat berwarna emas di pinggirannya. Ia hanya tersenyum sesekali kepada semua orang yang tanpa sengaja beradu panjang. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia hanya duduk dengan canggung. "Kalau kaya gini harusnya saya tidak ikut," keluhnya dengan tatapan kesal tertuju pada Keenan yang berada cukup jauh. Ia menarik udara cukup panjang, lalu menoleh ke arah kiri berharap sedikit mencairkan rasa canggungnya. Deg!Sepasang mata bak berlian berhenti tepat ke arah lelaki yang juga sedang memandanginya, tersenyum lembut padanya, dan seolah lalu lalang manusia tidak pernah ada. "Langit!" Dhara tidak bisa menahan

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 35. Hal Mengganjal

    Dhara berdiri di depan jendela, menatap taman luas yang dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter. Di sana, beberapa pria bersetelan jas hitam tampak berjaga dengan alat komunikasi di telinga mereka. Awalnya, Keenan meyakinkannya bahwa itu adalah protokol keamanan standar untuk melindungi keluarganya dari sisa-sisa musuh politik ayahnya. Namun, seperti ada kejanggalan. Mungkin senjata-senjata itu tidak hanya diarahkan ke luar, tetapi juga ke dalam—kepadanya? Aturan pertama yang dibuat Keenan adalah tidak boleh ada nama Langit di rumah ini. Dan hari ini Dhara kehilangan no kontak sahabatnya. ​ Ia juga selalu mengingat kata-kata terakhir Keenan sebelum ayahnya memanggilnya ke kantor. 'Membuat seorang istri patuh'. Itu sangat tabu untuk Dhara. Patuh seperti apa yang suaminya maksud? Kini, Dhara sedang merindukan ayahnya, ia mengambil tas tangannya. Setelah menemukan ruangan mencurigakan tempo hari, hatinya tidak tenang. Ia perlu bicara dengan ayahnya secara langsung, tanpa melalu

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 34. Mungkin Rahasia Besar Tersimpan di Rumah Ini

    Matahari naik perlahan dan bumi mulai terasa lebih hangat di setiap jamnya. Dhara duduk di kursi kayu di taman. Di hadapannya hamparan taman bunga yang tak terhitung jumlahnya, lalu kupu-kupu dan burung-burung kecil datang dan pergi silih berganti.Sejenak, lehernya memutar ke arah belakang, menatap bangunan mewah yang menjadi atap barunya. “Ini seperti mimpi, tapi saya tidak pernah terbangun.”Kehidupannya sekarang bukan impiannya, tapi hanya dianggap sebagai pengganti kehidupan yang hilang karena direnggut Anggara. Namun, Dhara belum menanamkan keyakinan tentang itu karena harusnya kehidupan sempurna milik keluarga Wira jauh lebih indah dibandingkan ini.“Masalah Papa udah selesai, tapi gimana sama Mama? Di mana Mama sekarang?” Rasa rindu menjalar, berakhir membuncai di kepala Dhara.Ia segera beringsut dari duduknya. Lalu menatap terpaku ke arah bangunan yang mungkin banyak menyimpan rahasia. “Mungkin, petunjuk tentang Mama ada di sini!”Langkah kecilnya menyusuri pinggiran rumah h

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 33. Misteri di Rumah Mewah Anggara?

    Pagi harinya Dhara tampil bak permainsuri. Pakaian indah, perhiasan, aksesoris mahal. Semua ia kenakan. Dan semua ini pemberian dari Keenan, yang sudah tersedia di dalam kamar. Ia hanya perlu memilih yang disukai, lalu suaminya akan membuang semua yang tidak ia sukai.Ruang makan diisi oleh keluarga inti saja. Anggara-sebagai pemimpin rumah sekalian ‘Raja’, lalu sang Omega yaitu Liana, Keenan-si anak tunggal, terakhir-menantu yang entah disayangi atau dibenci. Dhara tidak tahu apapun tentang mertuanya, kecuali Anggara yang jelas membencinya.Pagi ini Liana memasak menu spesial, kedua tangannya sangat sibuk walaupun dua orang pelayan membantu.Maka, situasi ini membuat Dhara kikuk. Ia berbisik pada Keenan yang selalu duduk di sampingnya, “Mungkin saya harus bantu mama kamu.” Tatapannya mengharapkan jawaban relevan.“Duduk aja.” Keenan tersenyum teduh. Bahkan ia mengucurkan teh hangat ke gelas Dhara yang membuat gadis itu semakin kikuk dan hidup tidak tenang.Anggara memperhatikan menan

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 32. Lelaki Dominan!

    Suasana di kamar itu tidak terasa seperti malam pertama yang penuh bunga dan romansa. Sebaliknya, udara terasa berat oleh otoritas yang tak kasat mata.Keenan tidak tampak seperti lelaki yang beberapa hari lalu yang mengusahakan Dhara sekaligus meminta maaf atas dosa ayahnya.Ada aura dingin yang menyelimuti dirinya—aura seorang Wijaya yang kini menyadari sepenuhnya bahwa ia telah mewarisi kekuasaan absolut.​Dhara sedikit berjengit saat kaitan gaunnya tersangkut. Ia menatap pantulan mata Keenan di cermin. Mata itu tidak lagi menunjukkan keraguan.​Keenan berkata, suaranya rendah, serak, namun penuh penekanan. "Berhenti protes. Sekarang kita udah jadi suami istri."​Bibir Dhara gemetaran hingga menghasilkan suara yang sedikit bergetar. "Kamu ... merusak gaunnya. Padahal ini gaun pernikahan yang harusnya dijaga buat kenang-kenangan seumur hidup."​Keenan mendekat satu langkah. Langkah kakinya berat dan berirama, menciptakan tekanan psikologis yang membuat Dhara tertahan di tempatny

  • Di Antara Dua Pilihan   Bab 31. Keenan Sosok Laki-laki Binal?

    Rumah mewah milik keluarga Wijaya adalah atap baru untuk Dhara, dimulai sejak hari pernikahannya dengan Keenan. Ia duduk di ruangan keluarga yang sangat luas, masih dengan gaun pernikahannya. Namun, hal janggal segera menghantuinya. Bagaimana bisa ruangan seluas ini hanya diisi oleh dirinya sendiri? Padahal sejak di resepsi, keluarga Wijaya tidak terhitung jumlahnya. Seorang pelayan wanita membawakan jus anggur tanpa diminta. "Silakan, Nyonya," ucapnya santun seiring membungkuk sedalam yang ia bisa. Dhara tidak terbiasa melihat seseorang membungkuk di hadapannya. Ia segera meminta wanita itu berdiri dengan kata-kata yang kaku. Tetapi pelayan tetap meresponnya dengan sangat sopan. Kini, Dhara berkata lebih lancar walau sedikit gugup, "Di mana yang lain?" Pelayan menjawab dengan wajah menunduk, "Ijin menjawab, Nyonya. Semua pelayan berada di ruang tamu." "Ruang tamu? Kenapa?" Sepasang manik mata indah itu menatap tanpa henti, menanti jawaban. Wanita ini berdiri dengan po

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status