Se connecterAl tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu.
"Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri. Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati. Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keterkejutan. "Eh, seriusan ini? Aldebaran tunangan?" "Iya, ini beritanya baru aja rilis di portal berita bisnis nasional!" "Gila, sama Elena Salsabila, pewaris Pranoto Corp! Berarti gosip perjodohan bisnis itu beneran!" Al langsung merogoh ponsel dari dalam saku celananya. Sebuah notifikasi berita dengan tajuk utama berhuruf tebal langsung muncul di layar. [BREAKING NEWS] Penyatuan Dua Raksasa Bisnis: Aldebaran Kusuma Resmi Bertunangan dengan Elena Salsabila Pranoto, Saham Kedua Perusahaan Diprediksi Melonjak Tajam! Al membeku di tempat. Tangannya mendadak lemas karena berita yang masih terpampang di layar ponsel. Berita itu dirilis lebih cepat dari yang dijanjikan ayahnya. Di saat yang bersamaan, Al mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah belakangnya. Saat ia berbalik, Reva sudah berdiri beberapa meter di depannya. Gadis itu memegang ponsel yang sedang menyala, menampilkan berita yang sama. Wajah Reva tampak pucat pasi, melayangkan tatapan kosong yang sarat akan rasa dikhianati yang teramat dalam kepada Al. *** Suasana koridor kampus yang biasanya bising mendadak mencekam. Bisik-bisik dari mahasiswa di sekitar mereka terdengar seperti dengungan lebah yang menyiksa telinga. Reva bergeming, tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Layar benda pipih itu masih menyala, menampilkan foto Aldebaran dan Elena yang bersanding serasi dengan senyum bahagia mereka. "Jadi ...." Suara Reva terdengar sangat rapuh, hampir tenggelam oleh deru angin. "Ini alasan kamu minta putus? Ini yang kamu maksud kita beda level?" Al melayangkan tatapan dingin. Ia mengunci rahangnya kuat-kuat, memaksa matanya untuk menatap Reva tanpa riak emosi sedikit pun. Di dalam dadanya, jantung Al berdentum begitu keras sampai rasanya menyakitkan. "Kamu sudah lihat sendiri, kan? Nggak perlu aku jelasin lagi," sahut Al datar sambil menggenggam erat ponsel di tangannya. "Kenapa, Al? Kenapa harus pakai cara sekejam ini?" Air mata Reva luruh semakin deras, membasahi pipinya yang pucat. "Kalau kamu dijodohin, kalau kamu nggak bisa nolak orang tua kamu, kenapa kamu nggak ngomong baik-baik sama aku? Kenapa kamu harus buang makanan aku? Kenapa kamu harus hina aku seolah-olah aku ini nggak lebih dari sekadar sampah?!" Al tertawa sinis, sebuah tawa palsu yang hampir membuat tenggorokannya sendiri tercekat. "Ngomong baik-baik? Buat apa? Biar ada adegan tangis-tangisan drama yang bikin waktu aku terbuang sia-sia? Reva, denger, ya. Berita itu rilis karena aku yang menyetujuinya. Aku yang mau menikah dengan Elena." Reva perlahan menggeleng, menatap Al seolah-olah ada orang asing yang merasuki tubuh kekasihnya. "Kamu bohong. Kamu pasti terpaksa, kan, Al? Bilang sama aku kalau kamu diancam!" "Jangan naif!" bentak Al, selangkah maju untuk mengintimidasi Reva, memotong harapan terakhir yang coba dibangun gadis itu. "Aku nggak diancam siapa pun. Aku cuma sadar kalau ambisi dan masa depanku jauh lebih penting daripada cinta monyet kita selama kuliah. Elena punya segalanya yang aku butuhin buat memimpin Kusuma Group. Sedangkan kamu? Kamu cuma bisa bikin aku repot dengan segala kesederhanaan kamu yang memuakkan itu." Kalimat itu menjadi hantaman telak yang meruntuhkan sisa-sisa harga diri Reva. Gadis itu mundur selangkah, menatap Al dengan pandangan yang perlahan berubah, dari rasa sakit yang mendalam menjadi kekosongan yang dingin. "Cinta monyet ...." Reva berbisik getir. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Jadi, tiga tahun ini semuanya cuma main-main buat kamu?" "Ya. Anggaplah masa-masa kita kemarin itu cuma selingan biar kuliahku nggak membosankan," ucap Al kejam. "Sekarang selingannya sudah selesai. Jadi, silakan pergi dari hidupku." Reva terdiam selama beberapa detik. Ia menatap Al untuk terakhir kalinya, bukan lagi dengan pandangan penuh cinta, melainkan dengan rasa jijik dan kecewa yang teramat sangat. Ponsel di tangannya ia turunkan perlahan. "Aku bener-bener nyesel pernah kenal sama kamu, Aldebaran Kusuma," ucap Reva dengan suara yang mendadak dingin. "Uang dan kekuasaan ternyata bener-bener udah bikin hati kamu membusuk." Tanpa menunggu balasan, Reva berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya cepat, setengah berlari membelah kerumunan mahasiswa yang terus menatapnya dengan pandangan iba. Al tetap berdiri di posisinya. Begitu punggung Reva menghilang di balik belokan koridor, pertahanan Al runtuh seketika. Ia terhuyung mundur, bersandar pada dinding semen yang dingin. Napasnya memburu pendek-pendek, tangannya mendadak gemetar hebat. Ia menengadah, mencoba menahan air matanya yang kembali mendesak keluar. 'Maaf, Reva. Maaf. Kalau aku nggak bikin kamu benci sama aku, Elena dan Papa bakal hancurin kamu,' jerit Al dalam hati yang hancur lebur. Namun, di sela rasa bersalahnya, sebuah kilat obsesi muncul di matanya yang memerah. 'Pergi dulu untuk sekarang, Reva. Selamatkan diri kamu dari mereka. Tapi aku janji, setelah aku punya kuasa penuh atas Kusuma Group, aku bakal cari kamu lagi. Kamu punya aku, selamanya.' Sementara itu, Reva berlari tanpa arah di sepanjang jalan. Air matanya tak mau berhenti. Namun, saat hendak menyeberang jalan, sebuah motor mendadak menghadang. Lalu, seorang pria membuka helm dan turun dari motor. "Reva, kamu kenapa?" tanya pria itu yang bernama Narendra, teman sekaligus sahabat Reva sejak awal duduk di bangku kuliah. Pria itu menelisik wajah Reva yang basah oleh air mata. "Kamu habis nangis? Siapa yang udah bikin kamu nangis? Nggak mungkin Al, kan?" Reva menghapus kasar jejak air mata di wajahnya, kemudian memegang lengan kiri pria itu. "Anterin gue pulang sekarang, Ren. Please!" Narendra menghela napas panjang sebelum mengangguk. Lalu, kembali menaiki motor dan mengantarkan Reva ke indekost. Begitu sampai di indekostannya yang terletak di dalam gang sempit, ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Narendra mengedikkan bahu, maklum dengan sikap Reva yang selalu begitu ketika sedang bertengkar dengan Aldebaran. Ia pun langsung memutar arah tanpa tahu jika badai sedang berkecamuk di kampusnya. Reva melempar tas ranselnya ke lantai, lalu ambruk di atas kasur tipisnya. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Ia kesulitan bernapas hingga harus memukul dadanya yang sesak. Rasa sakit karena dikhianati oleh orang yang paling dipercaya ternyata seribu kali lebih menyiksa daripada rasa lapar yang sering ia tahan demi menghemat uang beasiswa. Ponsel Reva di atas kasur terus bergetar tanpa henti. Notifikasi dari grup angkatan kuliah, pesan dari teman-teman kelasnya, semuanya masuk bertubi-tubi. [Riska-Teman Kampus: Reva, lo seriusan putus sama Al? Itu berita di media beneran Al tunangan sama anak Pranoto Corp?] [Dika-Ketua Kelas: Rev, lo nggak apa-apa? Anak-anak lagi heboh di grup. Katanya lo tadi ditampar, ya, sama Al? Eh, maksudnya lo yang nampar Al?] Reva mematikan daya ponselnya. Ia tidak sanggup membaca satu pesan pun. Kamar kosan berukuran tiga kali tiga meter yang biasanya terasa hangat dan menenangkan, kini mendadak terasa seperti ruang interogasi yang menghimpitnya dari segala sisi. Ia tahu, mulai besok, statusnya di kampus akan berubah dari "pacar beruntung si anak konglomerat" menjadi "gadis malang yang dicampakkan demi wanita yang lebih kaya". "Aku nggak bisa di sini," bisik Reva di sela isak tangisnya. "Aku nggak kuat kalau harus ke kampus lagi." Reva bangkit dengan tubuh yang lemas. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, ia menarik tas jinjing dari atas lemari. Gadis itu mulai memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam tas dengan gerakan terburu-buru. Ia tidak peduli lagi dengan skripsinya yang tinggal selangkah lagi selesai. Ia tidak peduli dengan wisuda yang selama ini ia impikan demi mendiang orang tuanya. Saat ini, yang ada di pikiran Reva hanya satu: melarikan diri sejauh mungkin dari Aldebaran Kusuma dan dunianya yang kejam.Dengan gerakan gesit, Arkananta mendribel bola melewati Aletta, melompat tinggi, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sangat mulus. "Curang! Arkan, kan, badannya lebih tinggi!" protes Aletta sambil berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal. Arkananta hanya tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan menghampiri Aletta, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Siapa suruh kau malas minum susu peninggi badan? Tapi tenang saja, meski kau pendek, kau tetap superhero terhebatku." Aletta mendengkus kesal, meski senyuman lebar akhirnya terbit di wajah cantiknya. Sampai detik ini, ikatan batin antara kedua saudara itu tidak pernah putus. Mereka saling melindungi, saling menggoda, dan tumbuh dalam kasih sayang yang setara. Tiba-tiba, sebuah suara cadel yang melengking memecah perdebatan kecil mereka. "Kakak Ale! Kakak Alka! Cini, main cama Aksa!" Dari arah pintu kaca paviliun, seorang balita laki-laki berusia tiga tahun berlari terhuyung-huyung dengan kaki kecilnya yang m
Al turun lebih dulu. Tanpa memedulikan tatapan puluhan stafnya, pria bertubuh atletis itu langsung membungkuk dan menggendong Reva dengan gaya bridal style keluar dari mobil, mengabaikan fakta bahwa Reva sudah bisa berjalan pelan. "Al, turunkan aku! Malu dilihat banyak orang!" protes Reva dengan pipi yang merona merah padam seraya memukul pelan dada bidang suaminya. "Biarkan saja mereka melihat. Aku sedang menggendong istriku sendiri, bukan menggendong patung," jawab Al santai tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sementara itu, para pengasuh dengan sigap membantu Aletta dan Arkananta turun dari mobil. Kedua bocah itu langsung berlarian kecil dengan wajah ceria menuju pintu utama, tak sabar ingin melihat rumah mereka lagi. Begitu Al melangkah masuk membawa Reva ke dalam mansion, napas Reva seketika tercekat. Matanya melebar sempurna melihat perubahan luar biasa yang terjadi di dalam rumah raksasa tersebut. Warna-warna gelap, muram, dan perabotan bergaya gotik berlebihan yang dul
Satu minggu telah berlalu sejak malam panjang yang mempertaruhkan hidup dan mati di ruang operasi Rumah Sakit Medika Pusat. Udara pagi yang menyusup masuk melalui celah ventilasi kamar VVIP Presidential Suite terasa jauh lebih segar dan menenangkan. Ketegangan yang sebelumnya menggantung pekat bagai kabut beracun kini telah menguap tak bersisa, digantikan oleh aroma manis dari buket bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja nakas. Atas perintah mutlak Aldebaran Kusuma, dinding pembatas antara dua kamar suite terbaik di rumah sakit itu telah dibongkar dalam waktu semalam. Pria itu mengubahnya menjadi satu ruangan perawatan raksasa yang mewah agar seluruh keluarganya bisa berkumpul dalam satu pandangan matanya. Di sisi kiri, Revalina berbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang kian memancarkan rona kehidupan, ditemani oleh Aletta yang tengah duduk santai di sofa sembari mewarnai buku gambar. Di sisi kanan, Arkananta terbaring dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari w
"Papa akan menemanimu masuk. Papa tidak akan melepaskan tanganmu," ucap Al, mengusap pipi Aletta dengan ibu jarinya yang bergetar. "Papa jangan sedih lagi," ucap Aletta sambil mengulurkan tangannya yang mungil, membelai rahang ayahnya yang mengeras. "Aletta, kan, superhero. Setelah ini, Arkan pasti bisa lari-lari lagi di taman sama Aletta." Aldebaran memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Ya, Sayang. Kau adalah superhero terhebat yang pernah Papa kenal." Ruang operasi itu terang benderang, dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan bunyi dengungan pelan dari berbagai mesin penyokong kehidupan. Suhunya sengaja dibuat sangat dingin untuk menjaga kesterilan. Namun bagi Aldebaran, dinginnya ruangan itu tak sebanding dengan kebekuan di dalam hatinya. Aletta sudah berbaring telungkup di atas meja operasi yang dilapisi selimut pemanas. Tubuh kecilnya terlihat sangat rapuh di tengah kepungan peralatan medis berbahan logam yang mengilap. Aldebaran duduk di ku
"Aletta, prosedur itu bukan cuma suntik biasa, Sayang. Itu akan sangat menyakitkan. Tulang belakangmu nanti akan disuntik dengan jarum yang ... ah, Papa tidak akan sanggup melihatmu kesakitan, Nak," ucap Reva dengan tangis yang akhirnya pecah. Ia memeluk putrinya erat-erat, menciumi puncak kepalanya dengan penuh keputusasaan. "Ibu juga tidak sanggup. Kami sangat menyayangimu." "Tapi kalau Arkan mati, Papa bakal sedih terus! Ibu juga nangis terus!" bantah Aletta, suaranya melengking karena frustrasi yang kekanak-kanakan. "Aletta nggak mau sendirian, Ibu! Aletta mau main sama Arkan lagi! Aletta mau nahan sakit sebentar, asal kita semua bisa ketawa lagi!" Di tengah momen yang begitu memilukan itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka lebar dengan kasar. Aldebaran melangkah masuk. Pria itu baru saja berlari dari koridor bangsal steril setelah memerintahkan Dimas untuk mencari opsi ke seluruh benua. Niat awalnya adalah untuk memeriksa keadaan Reva, mencari sedikit ketenangan dari sa
Pintu bangsal steril terbuka, dan Dokter Bisma melangkah keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh. Ia melepas masker medisnya, menatap Aldebaran dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus keletihan yang luar biasa. "Tuan Besar Kusuma." Dokter Bisma menjeda kalimatnya, membungkuk sedalam mungkin di hadapan Al. "Maafkan kami. Kami berhasil mengembalikan ritme jantung Tuan Muda untuk sementara waktu. Tapi ini hanya solusi jangka pendek yang sangat rapuh. Perdarahan internalnya belum sepenuhnya berhenti karena faktor pembekuan darahnya sudah tidak berfungsi sama sekali akibat anemia aplastik tingkat akhir ini." "Aku tidak butuh permintaan maafmu, Dokter! Aku butuh solusi!" bentak Al, suaranya menggelegar di koridor yang sepi itu, membuat Dokter Bisma tersentak mundur. "Aku membayar kalian dengan fasilitas terbaik di negeri ini! Cari cara! Datangkan obat apa saja! Sialan, apa gunanya semua gelarmu jika menyelamatkan satu anak kecil saja kau tidak mampu?!" Dokter B







