แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Nawasena
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-10 00:16:26

Al tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu.

"Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri.

Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati.

Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keterkejutan.

"Eh, seriusan ini? Aldebaran tunangan?"

"Iya, ini beritanya baru aja rilis di portal berita bisnis nasional!"

"Gila, sama Elena Salsabila, pewaris Pranoto Corp! Berarti gosip perjodohan bisnis itu beneran!"

Al langsung merogoh ponsel dari dalam saku celananya. Sebuah notifikasi berita dengan tajuk utama berhuruf tebal langsung muncul di layar.

[BREAKING NEWS] Penyatuan Dua Raksasa Bisnis: Aldebaran Kusuma Resmi Bertunangan dengan Elena Salsabila Pranoto, Saham Kedua Perusahaan Diprediksi Melonjak Tajam!

Al membeku di tempat. Tangannya mendadak lemas karena berita yang masih terpampang di layar ponsel. Berita itu dirilis lebih cepat dari yang dijanjikan ayahnya. Di saat yang bersamaan, Al mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah belakangnya.

Saat ia berbalik, Reva sudah berdiri beberapa meter di depannya. Gadis itu memegang ponsel yang sedang menyala, menampilkan berita yang sama. Wajah Reva tampak pucat pasi, melayangkan tatapan kosong yang sarat akan rasa dikhianati yang teramat dalam kepada Al.

***

Suasana koridor kampus yang biasanya bising mendadak mencekam. Bisik-bisik dari mahasiswa di sekitar mereka terdengar seperti dengungan lebah yang menyiksa telinga. Reva bergeming, tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Layar benda pipih itu masih menyala, menampilkan foto Aldebaran dan Elena yang bersanding serasi dengan senyum bahagia mereka.

"Jadi ...." Suara Reva terdengar sangat rapuh, hampir tenggelam oleh deru angin. "Ini alasan kamu minta putus? Ini yang kamu maksud kita beda level?"

Al melayangkan tatapan dingin. Ia mengunci rahangnya kuat-kuat, memaksa matanya untuk menatap Reva tanpa riak emosi sedikit pun. Di dalam dadanya, jantung Al berdentum begitu keras sampai rasanya menyakitkan.

"Kamu sudah lihat sendiri, kan? Nggak perlu aku jelasin lagi," sahut Al datar sambil menggenggam erat ponsel di tangannya.

"Kenapa, Al? Kenapa harus pakai cara sekejam ini?" Air mata Reva luruh semakin deras, membasahi pipinya yang pucat. "Kalau kamu dijodohin, kalau kamu nggak bisa nolak orang tua kamu, kenapa kamu nggak ngomong baik-baik sama aku? Kenapa kamu harus buang makanan aku? Kenapa kamu harus hina aku seolah-olah aku ini nggak lebih dari sekadar sampah?!"

Al tertawa sinis, sebuah tawa palsu yang hampir membuat tenggorokannya sendiri tercekat. "Ngomong baik-baik? Buat apa? Biar ada adegan tangis-tangisan drama yang bikin waktu aku terbuang sia-sia? Reva, denger, ya. Berita itu rilis karena aku yang menyetujuinya. Aku yang mau menikah dengan Elena."

Reva perlahan menggeleng, menatap Al seolah-olah ada orang asing yang merasuki tubuh kekasihnya. "Kamu bohong. Kamu pasti terpaksa, kan, Al? Bilang sama aku kalau kamu diancam!"

"Jangan naif!" bentak Al, selangkah maju untuk mengintimidasi Reva, memotong harapan terakhir yang coba dibangun gadis itu. "Aku nggak diancam siapa pun. Aku cuma sadar kalau ambisi dan masa depanku jauh lebih penting daripada cinta monyet kita selama kuliah. Elena punya segalanya yang aku butuhin buat memimpin Kusuma Group. Sedangkan kamu? Kamu cuma bisa bikin aku repot dengan segala kesederhanaan kamu yang memuakkan itu."

Kalimat itu menjadi hantaman telak yang meruntuhkan sisa-sisa harga diri Reva. Gadis itu mundur selangkah, menatap Al dengan pandangan yang perlahan berubah, dari rasa sakit yang mendalam menjadi kekosongan yang dingin.

"Cinta monyet ...." Reva berbisik getir. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Jadi, tiga tahun ini semuanya cuma main-main buat kamu?"

"Ya. Anggaplah masa-masa kita kemarin itu cuma selingan biar kuliahku nggak membosankan," ucap Al kejam. "Sekarang selingannya sudah selesai. Jadi, silakan pergi dari hidupku."

Reva terdiam selama beberapa detik. Ia menatap Al untuk terakhir kalinya, bukan lagi dengan pandangan penuh cinta, melainkan dengan rasa jijik dan kecewa yang teramat sangat. Ponsel di tangannya ia turunkan perlahan.

"Aku bener-bener nyesel pernah kenal sama kamu, Aldebaran Kusuma," ucap Reva dengan suara yang mendadak dingin. "Uang dan kekuasaan ternyata bener-bener udah bikin hati kamu membusuk."

Tanpa menunggu balasan, Reva berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya cepat, setengah berlari membelah kerumunan mahasiswa yang terus menatapnya dengan pandangan iba.

Al tetap berdiri di posisinya. Begitu punggung Reva menghilang di balik belokan koridor, pertahanan Al runtuh seketika. Ia terhuyung mundur, bersandar pada dinding semen yang dingin. Napasnya memburu pendek-pendek, tangannya mendadak gemetar hebat. Ia menengadah, mencoba menahan air matanya yang kembali mendesak keluar.

'Maaf, Reva. Maaf. Kalau aku nggak bikin kamu benci sama aku, Elena dan Papa bakal hancurin kamu,' jerit Al dalam hati yang hancur lebur.

Namun, di sela rasa bersalahnya, sebuah kilat obsesi muncul di matanya yang memerah. 'Pergi dulu untuk sekarang, Reva. Selamatkan diri kamu dari mereka. Tapi aku janji, setelah aku punya kuasa penuh atas Kusuma Group, aku bakal cari kamu lagi. Kamu punya aku, selamanya.'

Sementara itu, Reva berlari tanpa arah di sepanjang jalan. Air matanya tak mau berhenti. Namun, saat hendak menyeberang jalan, sebuah motor mendadak menghadang. Lalu, seorang pria membuka helm dan turun dari motor.

"Reva, kamu kenapa?" tanya pria itu yang bernama Narendra, teman sekaligus sahabat Reva sejak awal duduk di bangku kuliah. Pria itu menelisik wajah Reva yang basah oleh air mata. "Kamu habis nangis? Siapa yang udah bikin kamu nangis? Nggak mungkin Al, kan?"

Reva menghapus kasar jejak air mata di wajahnya, kemudian memegang lengan kiri pria itu. "Anterin gue pulang sekarang, Ren. Please!"

Narendra menghela napas panjang sebelum mengangguk. Lalu, kembali menaiki motor dan mengantarkan Reva ke indekost. Begitu sampai di indekostannya yang terletak di dalam gang sempit, ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.

Narendra mengedikkan bahu, maklum dengan sikap Reva yang selalu begitu ketika sedang bertengkar dengan Aldebaran. Ia pun langsung memutar arah tanpa tahu jika badai sedang berkecamuk di kampusnya.

Reva melempar tas ranselnya ke lantai, lalu ambruk di atas kasur tipisnya. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Ia kesulitan bernapas hingga harus memukul dadanya yang sesak. Rasa sakit karena dikhianati oleh orang yang paling dipercaya ternyata seribu kali lebih menyiksa daripada rasa lapar yang sering ia tahan demi menghemat uang beasiswa.

Ponsel Reva di atas kasur terus bergetar tanpa henti. Notifikasi dari grup angkatan kuliah, pesan dari teman-teman kelasnya, semuanya masuk bertubi-tubi.

[Riska-Teman Kampus: Reva, lo seriusan putus sama Al? Itu berita di media beneran Al tunangan sama anak Pranoto Corp?]

[Dika-Ketua Kelas: Rev, lo nggak apa-apa? Anak-anak lagi heboh di grup. Katanya lo tadi ditampar, ya, sama Al? Eh, maksudnya lo yang nampar Al?]

Reva mematikan daya ponselnya. Ia tidak sanggup membaca satu pesan pun. Kamar kosan berukuran tiga kali tiga meter yang biasanya terasa hangat dan menenangkan, kini mendadak terasa seperti ruang interogasi yang menghimpitnya dari segala sisi. Ia tahu, mulai besok, statusnya di kampus akan berubah dari "pacar beruntung si anak konglomerat" menjadi "gadis malang yang dicampakkan demi wanita yang lebih kaya".

"Aku nggak bisa di sini," bisik Reva di sela isak tangisnya. "Aku nggak kuat kalau harus ke kampus lagi."

Reva bangkit dengan tubuh yang lemas. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, ia menarik tas jinjing dari atas lemari. Gadis itu mulai memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam tas dengan gerakan terburu-buru.

Ia tidak peduli lagi dengan skripsinya yang tinggal selangkah lagi selesai. Ia tidak peduli dengan wisuda yang selama ini ia impikan demi mendiang orang tuanya. Saat ini, yang ada di pikiran Reva hanya satu: melarikan diri sejauh mungkin dari Aldebaran Kusuma dan dunianya yang kejam.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 8

    Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit grand ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta memancarkan cahaya yang angkuh, memayungi pesta pernikahan yang disebut-sebut sebagai merger terbesar dekade ini. Aliansi strategis antara Kusuma Group dan Pranoto Corp resmi dikunci di atas pelaminan hari itu. Di atas pelaminan yang didekorasi dengan ribuan mawar putih impor kelas premium, Aldebaran Kusuma berdiri tegap. Ia tampak gagah, tetapi tubuhnya kaku bagai patung lilin di dalam setelan tuxedo hitam klasik rancangan desainer Eropa.Di sampingnya, Elena Salsabila Pranoto tersenyum anggun ke arah puluhan kamera wartawan bisnis yang tak henti-hentinya memancarkan lampu kilat. Elena tampil memukau dengan gaun pengantin bertabur kristal Swarovski yang menyapu lantai marmer, memancarkan aura kemenangan seorang putri mahkota konglomerat yang baru saja mengamankan aset terbaiknya. Pernikahan itu, bagi Elena adalah kemenangan mutlak atas egonya dan validasi kekuasaannya di mata dewan di

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 7

    Keesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva."Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu."Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?""Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja.Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencermi

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 6

    Reva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha."Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak."Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama.***Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu.Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamer

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 5

    Al tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu. "Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri. Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati. Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keter

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 4

    Elena meringis pelan saat cengkeraman tangan Al mengencang di lengannya. Namun, senyum sinisnya sama sekali tidak pudar. Ia menatap tangan Al yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap langsung ke mata pemuda itu."Lepaskan tanganmu, Al. Sakit," ucap Elena dingin. Begitu Al mengempaskan tangannya dengan gusar, Elena merapikan lengan gaunnya yang sedikit kusut. "Mauku sederhana. Aku cuma mau memastikan calon suamiku tidak bertingkah bodoh dan merusak acara penting kita minggu depan."Elena menunjuk amplop cokelat di atas kasur dengan ujung kuku telunjuknya yang dicat merah. "Kamu tahu apa isi di dalam ini? Ini adalah salinan kartu hasil studi milik kekasih gembelmu itu. Revalina. IPK tiga koma sembilan puluh delapan. Luar biasa pintar untuk ukuran anak yatim piatu. Sayang banget, ya, kalau riwayat akademis sebersih ini harus ternoda di semester akhir."Darah Al seolah-olah berhenti mengalir. Wajahnya memucat, berganti dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan berani-

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 3

    "Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari pengawasan Papa, Al? Anak perempuan yatim piatu, mahasiswi beasiswa kelas bawah yang hidupnya mengandalkan belas kasihan rektorat kampus untuk makan sehari-hari." Satria tersenyum meremehkan, seakan menyebut nama Reva saja sudah mengotori lidahnya. "Kamu pikir Papa akan diam saja dan membiarkan pewaris tunggal Kusuma Group membawa gembel ke dalam silsilah keluarga kita?""Jaga mulut Papa!" Al maju selangkah, amarahnya benar-benar terpancing hingga ke ubun-ubun. "Reva perempuan baik-baik! Dia punya harga diri dan dia jauh lebih berharga dari semua kolega bisnis Papa yang bermuka dua!""Baik-baik atau tidak, dia tetap hama di mata bisnis kita!" sentak Satria dengan suara menggelegar, memantul di dinding ruang kerja yang kedap suara. "Dengar baik-baik, Aldebaran. Papa sudah menyuruh orang menyelidiki semuanya tentang gadis itu sampai ke akar-akarnya. Kakak perempuannya yang tinggal di luar kota itu, Keisha, saat ini sedang terlilit utang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status