Share

Di Balik Bayang-Bayang Keluarga
Di Balik Bayang-Bayang Keluarga
Author: Soda

Bab 1

Author: Soda
Hal pertama yang dilakukan Erianna setelah terlahir kembali adalah membeli tiket sekali jalan dengan harga fantastis.

"Kesepakatan selesai."

Melihat angka-angka hijau berkedip di layar terenkripsi, Erianna merasakan sentakan yang belum pernah dia rasakan selama bertahun-tahun.

Ini adalah imbalan atas tiga tahun bekerja di pasar ilegal, bekerja keras sebagai seniman anonim, ditambah malam-malam tanpa tidur yang tak terhitung jumlahnya dan cat yang tak pernah bisa dia bersihkan.

Dalam kehidupan terakhirnya, dia meninggal dengan uang yang masih berada di sakunya.

Kali ini, bukan hanya angka, itu adalah kartu pelariannya.

Sebuah pemberitahuan berkedip di sudut layar.

[Tujuan: Pulau Pribadi Santuri

Pemilik: Jonathan Tahir

Konfirmasi tiket sekali jalan?]

Jonathan Tahir.

Nama itu dibisikkan di dunia ilegal Nilano, sebuah kutukan yang diucapkan dengan nada berbisik.

Sang Ketua Mafia yang menguasai jalur pelayaran Pantai Timur, seorang tiran tanpa ampun.

Namun, bagi Erianna pria itu adalah penyelamatnya.

Erianna pernah menyelamatkan nyawa pria itu sekali, sebuah pertemuan tak terduga dan sebagai imbalannya, dia menawarkan perlindungan kepada Erianna. Dia tidak bertanya alasannya, kapapun dibutuhkan, dia siap.

Saat itu, dirinya pikir dia bahagia, tidak pernah perlu memanfaatkan kebaikan orang yang pernah dia temui itu.

Sekarang, dia menarik napas dalam-dalam dan menatap cermin.

Pucat, kurus, dengan kantung matanya yang tak kunjung hilang. Seperti boneka porselen yang hampir hancur.

Tapi, dia tahu.

Di balik cangkang rapuh ini terdapat amarah yang bisa membakar dunia.

Kali ini, dia bukan lagi Erianna Viandra.

Bukan hantu yang membayangi Keluarga Viandra dan bukan Erianna yang dianggap lebih rendah dari seorang pelayan.

Bukan juga kantung darah berjalan yang hanya ada untuk melayani Selena kesayangan mereka.

Hidup sialan ini? Dia sudah muak.

BRAK!

Pintu studio kayu ek yang berat itu terbelah ke dalam dengan kekuatan brutal, kuncinya berderit.

Devan menerobos masuk.

Dia mengenakan setelan mahal yang dijahit khusus. Dasinya miring, berbau wiski ditambah parfum manis yang selalu dipakai Selena, bau yang memuakkan.

Pria itu bahkan tak melirik lukisan Erianna yang sudah selesai.

Dia langsung berkata, "Selena pingsan di pesta. Sekarang, kamu ikut denganku."

Tidak ada sapaan, tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada ucapan "tolong" yang sopan.

Hanya perintah, seolah-olah Erianna adalah ternak miliknya yang siap disembelih.

"Aku nggak mau," katanya sambil hendak menutup laptopnya.

Jari-jarinya melesat di atas keyboard untuk terakhir kalinya, membersihkan riwayat penelusurannya.

Erianna lalu berbalik, ketenangannya menakutkan.

Devan membeku sejenak, seolah-olah dia tidak memahami kata-kata Erianna.

Lalu dia melangkah mendekat, tangannya mencengkeram pergelangan Erianna dengan kuat, cengkeraman yang seolah meremukkan tulangnya.

"Erianna, apa yang kamu lakukan?! Kamu tahu betapa lemahnya Selena. Dokter bilang anemia akut. Dia bisa mati!"

"Dia selalu bisa mati kalau aku nggak memberinya darah." Erianna meludah, rasa mualnya muncul saat dia menatap wajah tampan yang dipenuhi amarah itu.

"Kali ini karena apa? Karena bantu kau di bar atau berpura-pura di depan anak-anak manja itu?"

Kilatan rasa sakit melintas di mata Devan yang dengan cepat ditutupi oleh tekad.

"Ayo. Sekarang!" Dia menarik pergelangan tangan Erianna, mengabaikan protesnya dan menyeretnya keluar dari ruangan.

Pergelangan kakinya membentur kusen pintu dengan bunyi yang mengerikan, tetapi pria itu bahkan tidak menoleh ke belakang.

...

Setengah jam kemudian, di ruang VIP klinik pribadi yang steril dan beraroma alkohol.

Sebelum Erianna sempat menenangkan diri, ibunya yang berdiri di samping tempat tidur, menampar wajahnya dengan keras.

"Dasar gadis kurang ajar! Bukannya aku suruh jaga adikmu? Kakak macam apa kamu ini?"

Ayahnya berdiri di samping ibunya, matanya memancarkan kekecewaan.

"Erianna, kukira kamu anak yang baik. Devan memberitahuku dalam perjalanan ke sini bahwa kamu menolak ke sini padahal tahu adikmu dalam bahaya. Aku nggak punya anak perempuan yang berhati kejam sepertimu!"

Kakaknya, Liam, sibuk memanjakan Selena kesayangannya, tidak melirik Erianna sekalipun.

"Untuk apa buang-buang tenaga dengannya? Ambil saja darahnya! Aku nggak mau terjadi apa-apa pada Selena!"

Begitu kata-kata itu terucap, sebuah jarum tebal menancap tanpa ampun ke pembuluh darah Erianna.

Perawat bahkan harus menusuknya dua kali karena pembuluh darahnya terlalu kecil dan tipis.

Cairan merah pekat mengalir melalui selang bening, perlahan menuju gadis di ranjang sebelah.

Sementara itu, Selena tampak merona, sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja pingsan.

Namun, Devan duduk di sisi tempat tidurnya, menggenggam tangannya erat dan berbisik lembut di telinganya, "Jangan khawatir, darahnya sebentar lagi masuk. Kamu akan baik-baik saja, Malaikatku."

Sorot matanya penuh kelembutan, seolah Selena adalah kristal rapuh yang bisa hancur kapan saja.

Sebaliknya, Erianna bahkan tidak diberi segelas air hangat.

Sebuah ironi yang kelam.

Dia dan Selena lahir hanya berselang beberapa menit.

Karena dia lahir lebih dulu, Erianna jadi harus memikul beban sebagai kakak perempuan.

Lalu, saat berusia dua tahun, Selena didiagnosis mengidap cacat genetik langka.

Penyakit darah turunan ini membuat bahkan luka kecil pun mengharuskannya menerima transfusi dari kerabat sedarah.

Sejak saat itu, Erianna berubah menjadi kantong darah berjalan bagi adiknya.

Ayah, ibu, dan kakaknya bahkan menyalahkannya, menuduhnya telah "merebut" nutrisi Selena di dalam kandungan, hingga membuat adiknya begitu lemah.

Dalam kehidupan sebelumnya, tak seorang pun di keluarganya mencintainya.

Hanya tunangannya, Devan, yang selalu berada di sisinya.

Namun, kemudian dia mengetahui kebenaran bahwa selama ini, Devan dan Selena telah selingkuh diam-diam.

Pria itu mendekatinya demi Selena.

Erianna tertawa getir.

Kali ini, dia tidak akan mengejar cinta yang bukan miliknya.

Jari-jarinya mulai terasa kebas saat darahnya diambil.

Rasa dingin merasuk ke tulangnya.

Pandangannya beralih ke jari manis kirinya.

Sebuah cincin berlian merah muda yang besar, sebuah simbol dari Keluarga Rendra.

Itu adalah janji yang selalu dipegangnya, bahkan saat donor darah.

Sungguh ironis.

Di kehidupan sebelumnya, cincin itu adalah rantai yang mengikatnya selama sepuluh tahun.

Tapi sekarang, dia tidak ingin lagi.

Erianna merasa pusing begitu jarumnya dicabut, tapi dia menahan napas dan mencengkeram ranjang lalu berdiri tegak.

Perlahan, dia melepaskan cincin itu.

Logam dingin itu meluncur di atas buku jarinya.

"Apa yang Anda lakukan?!" teriak perawat itu.

Devan berbalik, mengerutkan kening. Wajahnya diselimuti ketidaksabaran dan frustrasi.

"Erianna, diam! Selena baru saja tertidur. Dia butuh suasana yang sangat tenang."

Erianna mengabaikannya.

Dia langsung berjalan ke tempat sampah limbah medis yang ditandai dengan simbol bahaya biologis berwarna kuning.

Di dalamnya terdapat gumpalan kapas dan kain kasa yang berlumuran darahnya, mengeluarkan bau samar yang manis dan memuakkan.

Dia melepaskannya.

Trak.

Cincin berlian merah muda yang tak ternilai harganya itu melayang di udara, mendarat di tumpukan sampah dan menyatu sempurna.

Dia lalu berbalik dan berjalan menuju pintu, punggungnya tegak lurus.

"Erianna! Pikirmu apa yang sedang kamu lakukan? Ambil cincin itu!" Devan memperingatkan dengan suara rendah di belakangnya. Wajahnya syok.

"Jangan kira aku akan mentolerir ini selamanya. Yang kamu buang adalah posisi yang banyak wanita rela mati demi mendapatkannya!"

Erianna berbalik dan menatap Devan dengan tatapan yang belum pernah pria itu lihat sebelumnya, sangat dingin.

"Biarkan saja di tempat sampah, Devan. Cincin itu memang seharusnya di sana, seperti cintamu."

Dia mendorong pintu hingga terbuka, meninggalkan semuanya di belakang. Lorong itu kosong.

Devan tidak mengikutinya.

Dia terlalu yakin dengan pemikirannya.

Dia pikir wanita itu masih sama, bahwa dengan sedikit usaha atau sedikit kelembutan, wanita itu akan mengibaskan ekornya, memohon maaf darinya.

Tapi, dia tidak tahu.

Ini adalah perpisahan terakhir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 18

    Selena belum mati.Kematian hanya akan menjadi belas kasih untuknya.Di tengah malam tanpa bulan, sebuah pesawat kargo hitam biasa lepas landas dari Nilona.Selena yang dibius dan diperlakukan seperti barang rusak, dilemparkan ke dalam ruang kargo.Dia dikirim ke rumah sakit jiwa di pedalaman Siburia.Sebuah tempat tanpa jendela, tanpa pengunjung, hanya dingin dan kesepian yang tak berujung.Bagi Selena yang pernah hidup dalam kehidupan mewah dan menyesap air mahal, itu adalah neraka yang jauh lebih buruk daripada jurang mana pun.Dia akan menghabiskan sisa hidupnya dalam dingin dan kegilaan yang tak berujung.Tapi itu bukanlah akhir dari perhitungannya.Sehari sebelum pemakaman Devan, Erianna ditemani Jonathan pergi ke Penjara Keamanan Maksimum Negara Bagian Nilona.Itu adalah kunjungan pertamanya dan terakhir ke orang tuanya.Setelah mereka bangkrut, musuh-musuh mereka bergerak untuk menghabisi mereka. Tak lama kemudian, mereka ditangkap atas berbagai tuduhan.Ruang kunjungan memilik

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 17

    Hari-hari tenang tidak pernah bertahan lama.Tepat ketika Erianna dan Jonathan sedang mempersiapkan pernikahan mereka, sebuah panggilan mendesak menghancurkan kedamaian."Bos, kita punya masalah. Selena Viandra melarikan diri dari fasilitas keamanan maksimum."Wajah Jonathan langsung berubah gelap.Tempat itu adalah benteng. Tidak mungkin Selena yang manja dan kekanak-kanakan itu bisa keluar tanpa bantuan dari dalam."Dan ...." Suara bawahannya bergetar di ujung telepon. "Dia menculik Devan Rendra.""Kami perkirakan dia akan segera menghubungi Nyonya."Jonathan mengerutkan kening, menatap mata Erianna.Tak lama kemudian, ponsel Erianna berdering. Itu adalah panggilan video terenkripsi.Video terhubung. Setelah beberapa saat rekaman yang goyah, latar belakang yang redup muncul.Itu adalah gereja yang terbengkalai, dikelilingi oleh puing-puing konstruksi.Devan diikat pada pilar batu dan berlumuran darah.Yang memegang telepon adalah Selena.Dia benar-benar sudah gila.Selena yang duluny

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 16

    Jet pribadi itu mendarat di lapangan terbang pribadi di Tusani, Utali.Ini adalah rumah leluhur Keluarga Tahir.Jika Jonathan adalah ketua mafia yang ditakuti di Nilona maka di sini, dia adalah raja sejati yang tak bermahkota.Iringan mobil itu melintasi kilo-kilo kebun anggur dan kebun zaitun, akhirnya berhenti di depan sebuah kastil abad pertengahan yang megah.Kastil itu berdiri di puncak gunung, menghadap seluruh dataran emas.Ratusan pelayan dan anggota keluarga berbaris untuk menyambut mereka. Skala dan kemegahan upacara itu jauh melampaui apa pun yang pernah disaksikan Erianna di Nilona.Bahkan Erianna yang telah membangun kepercayaan dirinya di Pulau Santuri, merasa pusing sekarang.Dia memandang kastil yang telah melewati badai selama berabad-abad, potret para patriark masa lalu yang tergantung di dinding, rasa rendah diri yang mendalam muncul di dalam dirinya.Dia adalah anak terlantar, dibesarkan untuk menjadi kantung darah.Apa dia benar-benar pantas mendapatkan semua ini?

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 15

    Badai di Pulau Santuri baru saja berlalu, udara dipenuhi aroma garam laut.Erianna duduk di teras kaca di tepi tebing, sedang melukis.Dia mengenakan gaun beludru berwarna merah anggur yang elegan, ujungnya bergelombang lembut tertiup angin laut, seperti mawar merah darah yang mekar di tepi tebing.Tepat saat itu, pintu lift terbuka.Devan keluar.Saat pandangannya tertuju pada Erianna, dia membeku.Dia belum pernah melihat Erianna seperti ini sebelumnya, bukan Erianna yang penurut, tetapi seorang ratu yang memancarkan kekuatan murni.Sebagai perbandingan, Devan tampak sangat berantakan.Dia telah mencari Erianna tanpa henti selama sebulan. Pewaris yang dulunya angkuh dari kalangan sosial Nilona itu kini tidak bercukur, matanya cekung dan merah karena kecemasan."Erianna …."Pria itu menyebut namanya, suaranya serak seolah tenggorokannya dipenuhi kerikil.Dia berjalan dua langkah ke depan tetapi dihentikan dengan oleh seorang pengawal di sampingnya."Tuan, Anda tidak boleh mendekat."N

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 14

    Kejatuhan Keluarga Viandra terus berlanjut.Sejak Devan mengalami krisis emosional malam itu, saham Grup Viandra telah anjlok dua kali dalam tiga hari.Penarikan investasi Keluarga Rendra adalah domino pertama yang memicu reaksi berantai.Bank mulai menarik pinjaman dan para mitra memutuskan hubungan.Pasangan suami istri Viandra tampak menua sepuluh tahun dalam semalam.Mereka mencoba menghubungi Erianna, tapi sia-sia.Dan orang yang paling panik di rumah besar itu adalah Selena.Orang tua dan kakaknya tiba-tiba berbalik melawannya, membuatnya tidak punya pilihan selain lari ke Devan."Kak Devan … kamu nggak menginginkanku lagi?"Selena berdiri tanpa alas kaki di pintu ruang kerja Devan. Dia mengenakan gaun tidur sutra putih, air mata mengalir di wajahnya seperti untaian mutiara yang putus.Dia tampak begitu menyedihkan, seperti yang telah dia lakukan berkali-kali sebelumnya.Tapi kali ini, Devan bahkan tidak mendongak.Dia menatap data intelijen yang padat di layar komputernya. Tanga

  • Di Balik Bayang-Bayang Keluarga   Bab 13

    Pulau Senturi. Pagi-pagi sekali.Erianna berdiri di dekat jendela super besar yang menjulang dari langit-langit, mengamati Jonathan berlatih menembak di landasan pribadi.Pria itu bertelanjang dada. Otot-otot di punggungnya menegang dan mengendur setiap kali menembak, setiap tembakan ditujukan untuk membunuh.Itu adalah kekuatan absolut, sesuatu yang belum pernah dimilikinya.Dia ingat hadiah gila yang diposting Devan di dark web tadi malam.Delapan miliar lebih hanya untuk petunjuk tentang keberadaannya."Apa yang sedang kamu pikirkan?"Jonathan kembali ke ruangan tanpa disadarinya.Dia membawa hawa dingin angin laut pagi dan aroma samar mesiu. Di tangannya, ada dua cangkir kopi panas."Kupikir aku mungkin terlalu mahal."Erianna mengambil kopi, senyum pahit terpatri di wajahnya.Tatapannya bertemu dengan tatapan Jonathan."Delapan miliar. Devan benar-benar berusaha keras untuk mendapatkan aku kembali. Di rumah Keluarga Viandra, aku bahkan tidak bisa mendapatkan delapan juta untuk uan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status