Share

BAB 3 : Harus Bertemu

Penulis: reefisme
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-10 19:38:44

Pintu belakang mobil mewah itu terbuka, dan seorang pria keluar.

Pria itu terlihat seperti seorang asisten—berpakaian rapi dengan jas berpotongan sempurna, wajahnya bersih dan tenang, dengan sikap profesional yang tak terbantahkan. Langkahnya cepat, menunjukkan disiplin tinggi, saat ia menghampiri sisi pintu kemudi taksi.

Di belakangnya, sang sopir, pria berusia pertengahan dengan postur tegap, juga keluar dan berdiri di samping mobil dengan tangan di depan tubuh, sikapnya penuh hormat.

Seorang pria bermata biru membuka pintu taksi dan keluar.

Di bawah cahaya matahari, sosoknya terlihat jelas—tinggi, gagah, dan penuh kharisma. Setelan yang ia kenakan jatuh sempurna di tubuh atletisnya, memberi kesan berwibawa tanpa usaha berlebih.

Sang asisten segera menundukkan kepala sedikit. "Maaf atas keterlambatan kami, Tuan."

Alih-alih marah, pria itu hanya tersenyum kecil, anggukan kepalanya ringan namun sarat makna. Ia melangkah menuju Rolls-Royce dengan langkah santai namun terukur.

Sang sopir, yang berdiri dengan sigap di samping mobil, segera membukakan pintu untuknya.

Pria bermata biru itu berhenti sesaat di depan pintu, satu tangannya terangkat setengah, jari-jarinya menyentuh bagian atas pintu dengan elegan. Gerakannya bukan sekadar refleks, melainkan sebuah kebiasaan seseorang yang terbiasa dengan kemewahan dan kontrol penuh atas sekelilingnya.

Tanpa mengalihkan pandangan dari sang asisten, ia berbicara dengan nada datar namun tegas. "Pastikan taksi itu kembali ke pemiliknya."

"Berikan kompensasi yang cukup untuk sang supir," tambahnya ringan, senyum samar tersungging di bibirnya.

Sang asisten mengangguk patuh, tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan.

Setelahnya, sang pria bermata biru masuk ke dalam Rolls-Royce dengan anggun, dan dalam hitungan detik, mobil mewah itu meluncur perlahan, meninggalkan tempat tersebut.

Beberapa saat kemudian, pintu depan apartemen terbuka.

Catelyn muncul, menyeret koper besarnya, tatapannya lurus ke depan dengan kedua sklera mata yang tampak memerah.

Tampak kalah.

Namun di dalam hatinya, ia berjanji. Ini bukan akhir. Ini adalah awal untuk membuktikan bahwa ia bisa berdiri tanpa siapa pun, termasuk pria seperti Nielson dan keluarganya.

* * *

Catelyn menatap layar di mesin ATM.

[Checking Account: $ 1,105.56]

[Savings Account: $2,878.90]

Bibirnya terlipat ke dalam lalu ia berbalik meninggalkan mesin itu setelah mengambil kembali kartu miliknya.

“Aku tidak bisa terus tinggal di motel. Aku harus mencari apartemen baru,” gumamnya gusar. “Tapi sisa uangku tidak cukup untuk menyewa dan hidup sampai bulan depan.”

Kedua iris hazelnya berkilat. Ia tidak menghentikan langkahnya, dengan satu tujuan yang jelas.

Sekian puluh menit kemudian, Catelyn tiba di satu gedung kantor yang menjulang tinggi di hadapannya.

Matanya tajam, penuh tekad. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang lewat—hari ini, ia harus bertemu dengan Nielson.

Nielson berhutang terlalu banyak padanya. Setidaknya, ia akan meminta pengembalian deposit keamanan apartemen yang ia bayarkan sebelumnya, dibayar oleh Nielson.

“Dengan tambahan seribu lima ratus dolar itu, aku memiliki dana untuk mencari tempat tinggal lain dan bertahan sebulan sebelum menemukan pekerjaan lagi,” gumam Catelyn.

Dari malam sebelumnya, ia telah menghabiskan waktunya di sebuah motel murah dengan kasur yang berderit setiap kali ia bergerak. Bau pengap di dalam kamar membuat tidurnya tidak nyenyak, tetapi ia tidak punya pilihan.

Kini, dengan hanya secangkir kopi instan yang masih terasa di lidahnya, ia berdiri di depan pintu kaca berlapis warna emas kantor itu.

Begitu Catelyn hendak melangkah masuk, dua petugas keamanan segera bergerak. Salah satu dari mereka, pria berbadan besar dengan seragam hitam, mengangkat tangannya di depan pintu.

"Maaf, Nona. Anda tidak bisa masuk."

Catelyn mengernyit. "Aku punya urusan dengan Nielson."

Petugas lain, seorang pria dengan rambut rapi dan wajah tanpa ekspresi, melirik rekannya sebelum menatapnya dingin. “Anda Catelyn Adams?”

Catelyn mengangguk cepat. “Ya, itu aku. Kalian mengenalku. Jadi biarkan aku masuk. Aku―”

"Kami mendapat perintah langsung. Anda dilarang memasuki kantor ini," potong petugas keamanan itu cepat.

Jantung Catelyn berdegup keras.

Dilarang masuk?

Catelyn mengepalkan tangannya. "Kalian tidak bisa mengusirku begitu saja! Aku punya hak untuk bertemu dengannya!"

Petugas pertama tetap berdiri kokoh di tempatnya. "Kami hanya menjalankan perintah, Nona Adams. Mohon pergi sebelum kami terpaksa mengambil tindakan."

Darahnya mendidih. Ia ingin berteriak, ingin menuntut penjelasan. Tapi tatapan dingin para petugas itu memberitahunya bahwa perintah ini sudah final.

Nielson tidak hanya menolaknya—ia mengusirnya sepenuhnya dari hidupnya.

Kedua tangan Catelyn mengepal erat.

Ia menghela napas panjang saat menyadari tidak bisa melalui para petugas keamanan.

Percuma berdebat lebih lama—mereka hanya menjalankan tugas, dan jelas seseorang di dalam sana tidak ingin ia masuk. Dengan perasaan campur aduk, ia berbalik, hendak meninggalkan gedung kantor Aurora Development Group.

Namun, baru beberapa langkah menjauh, telinganya menangkap suara tawa dan gumaman dari sekumpulan pegawai wanita yang berdiri tak jauh darinya. Mereka mengenakan pakaian kantor rapi, membawa berkas dan kopi, tapi jelas sedang menikmati momen santai untuk bergosip.

Catelyn tidak berniat ikut campur, tetapi begitu nama yang mereka sebut meluncur dari bibir salah satu wanita itu, langkahnya tertahan.

“Beruntung sekali pria itu! Baru setahun kerja di ADG, karirnya langsung melesat tajam,” ujar salah satu pegawai dengan nada sedikit sinis.

“Kau maksud Nielson Stokes?” timpal wanita lain dengan suara penasaran.

“Ya, dia. Si tampan beruntung itu.”

Mereka tertawa kecil, lalu seorang pegawai dengan rambut bob dan kacamata bergumam sambil melirik ke sekitar. “Kenaikan itu bukan benar-benar prestasi, kalian tahu? Stokes punya hubungan spesial dengan putri Direktur.”

Seorang wanita dengan blazer biru langsung membelalakkan mata. “Maksudmu dengan anak Tuan Beckett?”

“Jangan bercanda!” ujar yang lain, setengah tidak percaya.

“Aku serius.” Wanita berkacamata itu mendekat, suaranya lebih pelan. “Bahkan aku tak sengaja mendengar kalau Stokes diundang ke jamuan penting yang diadakan Tuan Campbell nanti malam di hotel Le Jardin.”

“Diundang ke jamuan Tuan Campbell? Bukankah itu jamuan untuk menyambut seorang pengusaha penting?”

“Benar,” Wanita berkacamata itu mengangguk. “Stokes diundang bukan karena dirinya, melainkan karena putri Tuan Beckett. Dengar-dengar putri Tuan Beckett merengek pada ayahnya dan ingin memperkenalkan Stokes pada orang-orang penting disana.”

“Oh astaga! Kurasa putri Tuan Beckett benar-benar jatuh hati pada Stokes dan ingin membuka jalan kesuksesan lebar-lebar bagi kekasihnya!”

“Kurasa begitu!”

Mereka tertawa kecil sebelum salah satu dari mereka bercanda, “Apa pak direktur punya anak laki-laki? Aku juga mau naik jabatan dengan cara instan.”

Tawa mereka semakin keras, tapi Catelyn sudah tidak memperhatikan lagi.

Pikirannya dipenuhi oleh satu hal—Nielson Stokes, pria brengsek itu, benar-benar menggunakan cara kotor untuk mendongkrak kehidupannya sendiri.

Ia mengulang nama hotel itu dalam hatinya. Le Jardin.

Tentu saja.

Bagaimanapun juga, ia harus bertemu dengan pria sialan itu malam ini.

* * *

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Balik Kemudi Sang Pemegang Kendali   BAB 206 : Memilih Percaya

    “Vincent!” Suara lain terdengar menyela.Gabriel dan Noah masuk tergesa-gesa, segera menahan bahu Vincent.“Cukup,” kata Gabriel tegas. “Jangan buat keributan. Yang terpenting sekarang, Catelyn sudah aman.”Noah mengangguk, menenangkan. “Kita semua sangat terkejut dengan kabar penculikan ini. Tapi jangan lakukan ini.”Catelyn yang semula membeku akhirnya bangkit. “Vince, Gab, Noah. Aku baik-baik saja,” katanya lirih. Tangannya terulur menyentuh lengan Vincent yang tampak bergetar.Vincent menoleh.Tatapan kerasnya runtuh seketika begitu bertemu mata adik perempuannya.Ia melangkah maju dan memeluk Catelyn erat—seolah takut adik perempuannya itu akan menghilang jika dilepas.Noah dan Gabriel ikut memeluk mereka.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang penuh emosi.Setelah suasana mereda, Catelyn bertanya pelan, “Bagaimana kalian bisa ada d

  • Di Balik Kemudi Sang Pemegang Kendali   BAB 205 : Pukulan Kejutan

    Pagi belum sepenuhnya hadir. Cahaya fajar masih ragu-ragu menyelinap di balik tirai tipis, membiaskan warna pucat di dinding kamar.Catelyn terbaring menatap langit-langit, membiarkan detik-detik berjalan tanpa arah.Ia ingin tidur—sangat ingin—namun setiap kali kelopak matanya terpejam, bayangan malam kembali menghampiri, menyusup seperti bisikan dingin.Ia melirik jam di nakas. 05.57.Hampir enam.Napasnya ditarik dalam, lalu diembuskan perlahan.Rasa gelisah yang semalaman menggigit kini memang sedikit mereda, namun jantungnya masih berdetak terlalu cepat untuk disebut tenang.Catelyn menarik selimut, berbalik miring menghadap balkon. Tirai bergoyang pelan, menyapa pagi yang belum sepenuhnya terjaga.Saat kelopak matanya kembali tertutup, terdengar ketukan lembut di pintu.Tok. Tok.Catelyn tersentak, segera duduk. “Siapa?” tanyanya, dengan suara serak karena terjaga semalaman.Ke

  • Di Balik Kemudi Sang Pemegang Kendali   BAB 204 : Kerabat Wayne

    Dini hari menyelimuti Basalt dengan dingin yang merayap dari pegunungan. Rumah kayu keluarga Adams berdiri sunyi di antara pepohonan pinus, hanya diterangi lampu teras yang berpendar redup. Di dalam, keheningan pecah oleh derit papan lantai.Noah Adams terbangun.Ia mengerjap, mendengar langkah tergesa dari lantai bawah. Ada sesuatu dalam bunyi itu—terlalu cepat, terlalu tegang—yang membuatnya bangkit dari tempat tidur.Dengan langkah hati-hati, Noah membuka pintu kamar dan mengintip ke lorong.Di ruang tamu, Vincent sudah mengenakan jaket tebal.Wajahnya tampak keras, seperti seseorang yang telah membuat keputusan besar tanpa sempat memikirkannya panjang-panjang. Tangannya meraih kunci mobil di atas meja.“Vince?” Noah turun beberapa anak tangga. “Mau ke mana jam segini?”Vincent berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Keluar sebentar.”Nada singkat itu tidak meyakinkan siapa pun.

  • Di Balik Kemudi Sang Pemegang Kendali   BAB 203 : Kau Kakaknya

    Lampu-lampu redup gudang itu menyapu kabut debu dan memperjelas satu pemandangan yang tak akan dilupakan oleh siapapun yang melihatnya malam itu. Dua pria berdiri gagah dengan tubuh lawan mereka terkapar tak berdaya di bawah.Ethan berdiri dengan mantel panjangnya yang masih berlumur debu dan darah musuh. Senyum ramahnya lenyap malam ini, digantikan oleh sorot mata membunuh.Di sampingnya, Arion Ellworth, berdiri dingin bagai patung granit.Kemeja hitamnya tak berkerut sedikit pun, tampan, dengan auranya yang nyaris membekukan.Tatapan iris kelabu menukik ke bawah, pada Derrick, pemimpin kelompok bawah tanah St. Louis, kini setengah sadar, darah mengucur dari pelipisnya.Arion menunduk, wajahnya tetap tenang, namun aura membunuhnya menusuk tulang siapa pun yang ada di sekitar.“Kelompok kecil seperti kalian... Berani-beraninya mengusik keluarga adik sepupuku?” Suaranya dalam, datar, namun mengandung ancaman yang menusuk ulu hati.

  • Di Balik Kemudi Sang Pemegang Kendali   BAB 202 : Mereka Yang Datang

    “Kau… Berani-beraninya―”Dorr! Dorr!!Kata-kata Derrick terhenti. Ekspresi terperanjat menghiasi wajahnya saat kepalanya berputar melihat adegan di depannya saat ini.Suara derap kaki memenuhi ruangan dan suara tembakan menggema bersahutan.Satu persatu anak buah Derrick tumbang dengan tragis oleh sekumpulan orang berseragam hitam-hitam yang memasuki ruangan besar itu.Tangan mereka memegang senjata api dengan daya bidik presisi dan mematikan, gerakan mereka begitu brutal, tanpa ampun, namun tetap terlihat terlatih.Sekejap saja, orang-orang berpakaian hitam itu tak menyisakan satu pun anak buah Derrick bisa tetap berdiri.“K-ka-kamu… Si-siapa—” Suara Derrick tercekat diantara amarah dan rasa dingin yang menyelinap ke jantungnya secara perlahan namun pasti.Ia ingin bangkit berdiri, namun tatapan tajam pria asing yang kini berdiri berhadapan dengannya serasa hendak melumpuhkan sendi-s

  • Di Balik Kemudi Sang Pemegang Kendali   BAB 201 : Harapan Yang Rapuh

    {Dear ReeFellows, mohon maaf memang ada kekhilafan dari author yakni dobel isi dalam Bab 197 dan Bab 199. Karena itu author melakukan perbaikan pada Bab 199 dan juga Bab 200. Jika berkenan, ReeFellows bisa membaca ulang dari Bab 199 tersebut. Silakan lanjut….}Kamar itu luas dan sunyi, dengan tirai tebal berwarna gelap yang menutup jendela-jendela tinggi. Lampu meja menyala temaram, memantulkan cahaya ke dinding berlapis kayu tua. Namun kemewahan ruang itu tak mampu menenangkan keresahan yang merambat di diri Catelyn.Ada satu denyut nyeri terasa di dadanya beberapa detik lalu, membuat Catelyn kian gelisah.Ia berdiri di dekat jendela, memeluk dirinya sendiri. Setiap detik terasa panjang, setiap tarikan napas terasa berat.Di luar, langkah para penjaga terdengar sesekali—ritmis, disiplin—mengingatkannya bahwa ia aman. Namun pikirannya menolak menerima kata itu.Aman, pikirnya getir.‘Bagaimana dengan Et

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status