Share

Di Balik Latihan Tari Malam itu
Di Balik Latihan Tari Malam itu
Richy

Bab 1

Richy
Namaku Yvonne. Aku adalah mahasiswi baru jurusan tari di universitas seni. Tubuhku berkembang sempurna, dengan buah dada dan bokong yang montok, terutama kaki jenjangku. Aku memang terlahir berbakat menari.

Saat berjalan di jalanan, embusan angin yang mengibas rokku sering kali membuat para pria terangsang. Oleh karena itu, aku dipuji sebagai kecantikan langka di universitas ini.

Namun, di balik penampilanku yang glamor, aku tidak bisa melakukan gerakan split yang paling sederhana sekalipun. Bukan karena aku kurang lentur, tetapi karena aku memiliki gangguan adiksi. Begitu aku membuka kakiku, tubuhku akan terangsang tak terkendali dan bagian bawahku juga akan langsung basah.

Setiap kali aku merasakan sensasi basah dan lengket di antara kakiku, aku akan gemetar karena malu dan terangsang. Pada akhirnya, aku akan mengerang dan merusak semuanya.

Selama ujian, mata para juri pria juga selalu tertuju pada area itu. Itu membuatku merasa terangsang dan malu, bahkan menghambat gerakanku. Oleh karena itu, aku juga selalu tidak lulus.

Ujian akhir sudah makin dekat. Jika tidak lulus lagi, aku akan dikeluarkan dari universitas.

Setelah makan malam hari itu, dosen tariku yang bernama Calvin memanggilku ke ruang latihan menari. Dia mengatakan akan membantuku berlatih.

Aku membuka pintu dan berjalan masuk.

Ruang latihan menari yang biasanya ramai kini kosong kecuali Calvin dan aku. Dia berdiri di tengah dan tidak berhenti mengamati tubuhku. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Pa ... Pak Calvin," sapaku dengan malu-malu sambil berdiri di ambang pintu.

"Yvonne, kamu sudah datang, ya." Dia berjalan ke arahku, lalu menutup pintu dan merangkul pinggangku sambil menuntunku ke tengah ruangan.

Tangannya masih tetap bertengger di pinggangku, seolah-olah juga sedang memijatnya dengan lembut. Pinggangku terasa panas dan sensasi menggelitik menyebar ke seluruh tubuhku.

"Kamu tahu kenapa aku panggil kamu kemari?"

"Karena nilaiku terlalu buruk dan gerakanku selalu nggak tepat," jawabku dengan lemah.

Memikirkan masa depanku yang tidak pasti, aku menjadi cemas dan meraih lengan Calvin.

"Pak Calvin, tolong bantu aku! Aku nggak mau dikeluarkan dari kampus. Ayahku akan memukulku sampai mati."

Calvin mengulurkan tangan, lalu mencengkeram daguku dan mengangkat wajahku. "Aku juga nggak bisa bantu seorang murid yang bahkan nggak bisa melakukan split."

Aku menunduk dan menjawab dengan tergagap, "Sebenarnya, aku bukan nggak bisa melakukan split. Hanya saja, aku ... aku ...."

Aku tiba-tiba berhenti karena tidak yakin harus bagaimana melanjutkannya.

Calvin berbisik lembut di telingaku, "Karena apa?"

"Aku ... aku punya gangguan adiksi. Setiap kali aku membuka kaki, bagian bawah itu menjadi sangat basah dan terasa geli .... Aku juga jadi lemas."

Aku mengangkat sedikit kepalaku dan menatap Calvin dengan malu-malu. Aku belum pernah menceritakan ini kepada siapa pun sebelumnya dan selalu memendamnya dalam hati.

Namun, ekspresi Calvin terlihat bersemangat. Dia berkata dengan serius, "Kamu seharusnya ngomong lebih awal."

Dia terkekeh, lalu mengelus pipiku dan melanjutkan, "Kebetulan, aku bisa sembuhkan gangguan adiksi ini."

Mendengar bahwa aku bisa disembuhkan, mataku berbinar terkejut. "Benarkah? Aku akan melakukan apa pun yang kamu katakan, Pak Calvin. Asalkan kamu bisa menyembuhkanku."

"Kamu yakin? Selama prosesnya, aku akan menyentuh tubuhmu, juga menguji area sensitifmu. Kamu mungkin akan menjadi lebih nggak terkendali dari sebelumnya .... Kamu juga nggak boleh keberatan."

Dia memastikan sekali lagi. Namun, aku begitu gembira karena bisa diselamatkan. Jadi, aku tidak benar-benar mendengar apa yang dia katakan dan hanya mengangguk asal.

"Bagus." Calvin tersenyum, lalu menunjuk ke matras yoga merah muda di lantai. "Pertama, mari kita uji sensitivitasmu. Berbaringlah di sana dan rilekskan tubuhmu. Bayangkan dirimu sedang berbaring di rumah."

Aku sepenuhnya mempercayai Calvin dan berbaring telentang di matras yoga tanpa berpikir panjang. Tubuhku sepenuhnya terekspos di hadapannya.

Tatapannya tertuju pada tubuhku, terutama dada dan pinggulku. Matanya terlihat membara, seolah ingin membakar pakaian tipisku dan membuatku telanjang di hadapannya. Tatapan itu terasa seperti orang yang sedang mengagumi makanan lezat sebelum melahapnya.

Aku merasa sangat tidak nyaman di bawah tatapan itu. Aku pun memalingkan kepalaku untuk mencoba menekan rasa tidak nyaman itu, tetapi tubuhku tidak dapat mengendalikan sensasi terbakar itu. Sebelum aku sempat bereaksi, sebuah tangan besar terulur dan meraih buah dadaku melalui pakaianku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 7

    Tiba-tiba, Calvin mempercepat langkahnya dan mencengkeram lenganku. Dia menekanku ke atas matras yoga. "Bersedia atau nggak, kamu harus setuju hari ini!""Lepaskan aku! Calvin, sadar bajingan!" Aku menggigit lengannya dan dia mengumpat kesakitan. Kemudian, dia mengangkat tangannya dan menampar wajahku. Rasa sakit yang membakar menjalar di pipiku, sedangkan kepalaku juga berdengung. Calvin menyeretku di lantai dengan sekuat tenaga. Aku berpegangan pada palang dan menolak untuk melepaskannya. Kuku-kukuku bahkan sudah patah. Dia menjambak rambutku dan hendak menyeretku ke arah pintu sambil mengumpat, "Kamu sendiri yang minta dihukum! Hari ini, aku akan beri tahu seluruh kampus tentang rahasiamu. Aku juga akan buat semua orang tahu gimana kamu bisa lulus ujian kali ini! Dasar wanita murahan!"Teriakan Calvin makin keras. Itu membuatku sangat takut hingga tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa memohon, "Kumohon lepaskan aku. Aku sudah berikan tubuhku padamu. Apa lagi yang kamu ingi

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 6

    Aku juga tidak bisa menolak untuk pergi. Dalam keadaan putus asa, aku pun mengirim pesan kepada Levin. Dia adalah salah seorang pemuda yang selalu mengejarku. Orangnya lumayan baik, juga punya pandangan dan karakter yang baik. Hanya saja, karena didikan keluargaku dan kurangnya keterampilan sosialku, aku tidak pernah menerima pengejarannya.Kali ini, ketika aku mengirim pesan kepadanya, dia sangat senang dan langsung setuju untuk pergi menemui Calvin bersamaku.Aku menyuruh Levin menunggu di luar asrama dosen. Begitu aku memanggilnya, dia harus segera masuk, tetapi jangan sampai mengatakan aku yang menyuruhnya. Levin pun mengangguk berulang kali.Ketika sampai di asrama, sinar matahari terbenam menyinari kamar. Calvin sedang duduk di tempat tidur. Sebuah termos berisi buah goji ada di atas meja. Dia menunjuk ke sudut meja, "Jepit rambutnya ada di sana."Aku berjalan ke sana dan mengambil jepit rambut itu. Itu hanya karet gelang hitam biasa dan jelas bukan milikku. Tepat ketika aku hen

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 5

    Calvin tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya. "Oh, karena hal sepele itu? Pengen lagi, ya?"Aku mengangguk malu-malu.Calvin menyelipkan satu tangannya ke dalam kerah bajuku dan mencengkeram buah dadaku."Begitu besar dan lembut, aku belum puas pegang kemarin." Sentuhan Calvin langsung membuatku terangsang."Pak Calvin, nya ... nyaman banget!" Entah kenapa, aku berteriak seperti wanita nakal.Calvin segera melepas bajuku, lalu dengan lembut mencubit puncak buah dadaku dengan kedua tangannya. Sensasinya sangat intens dan tidak berhenti merangsang sarafku. Cairan hangat sudah mengalir di area bawah tubuhku."Pak Calvin, bisa nggak kamu bantu area bawahku juga?" tanyaku seperti wanita jalang yang haus sentuhan.Calvin menunjuk ke tempat tidurnya. "Berbaringlah di sana, aku akan membantumu." Setelah aku berbaring, Calvin menyelipkan satu tangannya ke dalam celanaku dan tidak berhenti bermain di sana. Mulutnya mengisap puncak buah dadaku dan lidahnya berputar-putar di sekitarnya.Re

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 4

    "Ja ... jangan, Pak Calvin! Nggak boleh begini!" seruku sambil meronta. Bagaimanapun juga, aku dididik dengan sangat ketat. Aku hanya bisa melakukan hal seperti itu di malam pernikahanku. Namun, Calvin menindihku dan aku tidak bisa bergerak sama sekali. Dia merobek kostum tariku hingga buah dadaku yang putih terpampang di hadapannya."Ini langkah terakhir dari perawatan. Aku akan bantu kamu redakan sensasi geli di sana. Setelah sembuh, kamu bisa melakukan split dan nggak akan gagal ujian." Aku tetap tidak bisa melewati batas moral itu dan berjuang untuk menolak. Namun, Calvin sudah memasuki tubuhku. Perasaan dipenuhi itu seketika membuatku melupakan didikanku.Aku pun berteriak penuh gairah. Seolah mendengar perintah, Calvin bergerak maju mundur di atasku. Perasaan itu ... sungguh sangat menyenangkan.Ah ... tubuhku terasa seperti akan meleleh, juga mulai gemetar dan merespons irama Calvin.Setelah aktivitas intens itu berakhir, aku terkulai lemah di atas matras yoga dan merasa selur

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 3 

    Kostum tariku hanya menutupi selangkanganku dan aku mengenakan stoking putih khusus untuk menari. Begitu kakiku dibuka, area intimku terlihat menonjol seperti sebuah gundukan. Area itu juga sudah basah di bawah tatapan Calvin."Ja ... jangan, bagian itu geli banget ...." Sensasi geli seperti arus listrik itu menjalar ke seluruh anggota tubuhku dan membuatku lemas.Namun, Calvin malah menekan kakiku dengan lebih kuat lagi dan memaksa memisahkannya. "Jangan takut, rasakan perubahan di tubuhmu, lalu nikmatilah.""Pak Calvin ... aku merasa nggak nyaman banget," mohonku dengan penuh penderitaan.Akan tetapi, Calvin malah menjadi sangat bersemangat. Area intimnya juga terlihat menonjol."Tahan sebentar, aku lagi bantu kamu mengurangi sensitivitasmu," ujarnya sambil berlutut di atas salah satu kakiku dan menekannya dengan kuat ke lantai. Sebelah tangannya menahan kakiku yang lain dan mencegahku menutupnya.Aku merasakan tatapannya yang membara tertuju pada area di antara kakiku. Seluruh tubuh

  • Di Balik Latihan Tari Malam itu   Bab 2

    Aku pun terkejut. Sebelum aku sempat memproses apa yang terjadi, sensasi menggelitik yang menyenangkan sudah menyelimutiku. Aku tak kuasa menahan erangan pelan. Seluruh tubuhku gemetar dan air mata mengaburkan pandanganku.Ketika menoleh, aku mendapati Calvin berada tepat di depanku. Dia meremas buah dadaku dengan penuh nafsu. Mungkin karena merasakan keraguanku yang naluriah, dia mengerutkan kening."Apa janjimu barusan?"Aku berjanji akan melakukan semua yang dia katakan. Mungkin ini bagian dari perawatannya.Aku dengan canggung merilekskan tubuh dan meluruskan tubuhku yang berada di bawahnya. Tiba-tiba, dia mencubit puncak buah dadaku. Ketika aku tersentak karena merasa seperti tersengat listrik dan hendak bangkit, dia menekan tubuhku kembali ke tempatnya."Bagus sekali."Aku hanya mengenakan kostum tari yang bahannya sangat tipis. Tangannya yang menggesek buah dadaku terasa bagaikan langsung menempel pada kulitku. Merasakan gesekan hangat itu, tubuhku langsung mengeluarkan reaksi a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status