Home / Romansa / Di Balik Pintu Gelap Diplomat / Bagian 1 - Riset Abu Dhabi

Share

Di Balik Pintu Gelap Diplomat
Di Balik Pintu Gelap Diplomat
Author: Daisy

Bagian 1 - Riset Abu Dhabi

Author: Daisy
last update Last Updated: 2025-11-08 00:42:41

Maira sama sekali tidak menyangka bahwa hari ini akan mengubah hidupnya. Ruang dosen itu sepi, hanya ada bunyi AC yang berdengung dan aroma kopi yang baru diseduh. Di meja kerjanya, berkas-berkas menumpuk seperti biasa, tapi ada satu map berlogo universitas yang diletakkan paling atas, seolah sengaja dipamerkan.

Prof. Hamdani, salah satu dosen yang paling beken dan dikagumi banyak maahsiswa menatapnya dengan senyum yang sangat hangat seperti biasa.

“Maira,” panggilnya, nada suaranya rendah tapi membawa kesan penting. “Duduklah.”

Maira duduk, menahan diri agar tidak terlihat terlalu tegang. Jari-jarinya saling meremas secara refleks. Di balik wajah manisnya, pikirannya berputar, kenapa aku dipanggil? Ada yang salah dengan proposal prngajuan risetku?

Prof. Hamdani membuka map itu perlahan, seolah ingin membangun suasana dramatik.

“Seperti yang kamu tahu,” katanya sambil menautkan kedua tangannya, “setiap tahun kita hanya memilih satu mahasiswa untuk riset lapangan di luar negeri. Tempatnya terbatas, aksesnya pun tidak mudah.”

Maira mengangguk, memahami betul akan program bergengsi itu. itu sebabnya, Maira mengikuti prosesnya, bersaing dan sangat berambisi untuk bisa terpilih. Tapi ia tidak berani berharap terlalu jauh.

Prof. Hamdani menatapnya lama, sampai-sampai Maira merasa seperti sedang dilihat tembus ke dalam dirinya.

“Kamu terpilih, Maira.”

Jantungnya terhenti sepersekian detik.

“Ter- terpilih?” suaranya nyaris pecah, meski ia berusaha menahan ekspresinya tetap profesional.

“Ya,” jawab sang profesor sambil tersenyum puas. “Kamu akan berangkat ke Abu Dhabi. Kamu akan melakukan riset langsung di Kedutaan Besar. Tidak semua orang punya kesempatan ini.”

Tubuh Maira menegang, bukan karena takut, melainkan karena kegembiraan yang coba ia kendalikan. Riset di kedutaan adalah batu loncatan besar, lebih besar dari yang ia bayangkan. Bisa mengubah karier akademiknya, bahkan masa depannya.

“Terima kasih banyak, Prof. Saya, saya sangat menghargai kesempatan ini.”

“Kesempatan ini harus kamu manfaatkan sebaik mungkin.” Nada suara Prof. Hamdani berubah tipis, bukan mengancam, tapi mengikat.

Maira mengangguk cepat. “Tentu, Prof. Saya akan bekerja keras.”

Sang profesor kemudian bersandar, matanya menyipit seperti sedang menilai sesuatu.

“Ada hal-hal yang mungkin tidak akan dicatat dalam laporan resmi mereka,” katanya pelan. “Budaya kerja, dinamika internal, bagaimana diplomat berinteraksi. Hal-hal yang tidak bisa kamu dapatkan dari buku.”

Maira mencoba menangkap arah ucapannya. Ada sesuatu yang berbeda.

“Observasi kecil itu, kadang jauh lebih berharga,” ucap Professor dengan menutup map itu dengan lembut namun tegas.

“Kamu paham maksud saya?”

Maira terdiam. Ia paham atau ia pikir ia paham. Bagaimanapun, dosennya tak pernah memberikan instruksi secara gamblang. Dosennya selalu menyelipkan makna, meminta muridnya membaca di antara baris. Dan karena Maira ambisius, terlalu ambisius, mahasiswi itu selalu mencoba memenuhi ekspektasi itu.

“Baik, Prof,” ucapnya akhirnya. “Saya akan mengamati semuanya.”

Profesor Hamdani tersenyum puas, lalu menyodorkan map itu padanya.

“Berangkat minggu depan. Persiapkan diri, dan,” matanya menatap lebih dalam, “jangan ceroboh, Maira. Kedutaan bukan tempat yang bisa kamu perlakukan seperti ruang penelitian biasa.”

Ada sesuatu pada cara ia mengucapkannya yang membuat bulu kuduk Maira berdiri. Namun ia mengabaikannya. Fokusnya hanya satu yaitu peluang yang tidak boleh ia lewatkan. Ambisi itu menutup rapat semua kemungkinan bahaya yang tersembunyi.

“Terima kasih, Prof,” ucapnya sekali lagi, kali ini dengan suara lebih mantap. “Saya tidak akan mengecewakan.”

Saat ia keluar dari ruangan menuju kelasnya, map di tangannya terasa lebih berat dari yang seharusnya. Bukan hanya karena dokumen-dokumen di dalamnya, tapi karena tanggung jawab, ekspektasi, dan sesuatu yang belum ia sadari sepenuhnya.

Suasana ruang kelas sudah sepi. Hanya terdengar bunyi gesekan kursi dan kertas yang dilipat tergesa. Maira masih membereskan buku-bukunya, matanya fokus pada tumpukan catatan yang berantakan. Ia hampir melonjak kaget ketika suara seseorang memecah kesunyian.

“Lo kepilih riset ke kedutaan di Abu Dhabi?!”

Maira menoleh cepat. Mela berdiri beberapa langkah darinya, mata terbelalak seperti habis mendengar gosip paling gila seantero kampus. Maira mengatupkan bibir, sedikit menahan senyum.

“Kok lo tau?”

“Prof Hamdani kan pasti keliatan banget kalau ada yang berhasil ikut program limited begini,” desis Mela sambil mendekat. “Terus dia nyari lo tado. Gue udah curiga.”

Maira mendesah, memasukkan satu map terakhir ke tas. “Iya. Gue kepilih.”

Mela langsung menjatuhkan dirinya ke kursi terdekat. “Gila. Lo. Sumpah.”

Ada kekaguman di suaranya, tapi juga sesuatu yang terdengar seperti kekhawatiran. Maira pura-pura tidak mendengarnya.

“Ini kesempatan bagus, Mel. Sekali seumur hidup.”

“Ya jelas bagus,” balas Mela cepat. “Tapi lo sadar kan, ini bukan kayak riset biasa? Itu kedutaan, Mai. Aksesnya terbatas, protokolnya ribet, dan-”

Maira memotong, “dan justru itu yang bikin ini berharga.”

Mela menatapnya lama, seolah sedang mencoba menerobos lapisan ambisi yang begitu tebal di mata sahabatnya itu.

“Lo sadar gak,” katanya pelan, “kalau Prof Hamdani itu suka banget nitip hal-hal ‘tambahan’? Kayak yang waktu riset di perbatasan itu. Lo yang jungkir balik sendirian, dia tinggal nunggu hasil.”

Maira berhenti mengancingkan tasnya. Ada jeda kecil, tipis, sebelum ia tersenyum tipis.

“Itu bagian dari proses belajar.”

“Serius?” Mela memicingkan mata, “atau lo cuma terlalu percaya sama beliau? Selalu iya-iya aja karena lo pengen perform?”

Pernyataan itu menusuk lebih dalam dari yang Maira harapkan. Ia berdiri, menutup resleting tasnya dengan sedikit terlalu keras. “Gue tau batasan, Mel. Gue tau apa yang gue kerjain.”

“Lo pikir lo tau,” gumam Mela, hampir tidak terdengar.

Tapi Maira mendengarnya. Dan entah kenapa, kata-kata itu membuat dadanya terasa berat, seolah memang ada kemungkinan kecil bahwa Mela bisa saja benar.

Maira menepis perasaan itu. “Gue cuma butuh fokus. Ini kesempatan emas.”

Mela mengembuskan napas panjang, lalu berdiri dan meraih bahu Maira. “Gue bangga sama lo. Beneran. Lo kerja keras banget selama ini. Tapi janji satu hal.”

Maira mengangkat dagu. “Apa?”

“Jangan jadi alat. Bahkan buat orang yang lo hormatin.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Maira tersenyum kecil, tapi matanya tidak sepenuhnya tenang. “Gue tau apa yang gue lakuin.”

Mela tidak membalas. Dia hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sulit, seperti seseorang yang sedang melihat seseorang lain berjalan menuju tempat yang tidak benar-benar ia pahami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 33 - Sisakan Bagian Paling Menyenangkan

    “Lakukan, Maira,” kata wisnutama tenang, tapi nada itu penuh perintah yang tak bisa ditolak.“Kamu yang memulai tadi. Kamu yang bilang ingin melihat saya. Jangan berhenti sekarang. lepaskan pakaian saya dengan tanganmu sendiri."Maira mendekat dengan langkah pelan dan menyentuh kancing tuxedo wisnutama. Satu per satu dengan gerakan yang gemetar Maira membuka kancing itu.Pertama... kedua... hingga jas tuxedo terbuka lebar memperlihatkan kemeja putih di baliknya yang membentuk garis tubuh tegas Wisnutama. Ia tak berani menatap wajah pria itu langsung, matanya fokus pada tangannya sendiri, tapi ia bisa merasakan tatapan panas yang tak lepas darinya.“Kamu belum melakukan apa pun, Maira. Jadi, berhenti gemetar,” ucapan itu membuat Maira semakin gemetar.Napas pria itu terasa begitu berat di kepalanya bersamaan dengan jas itu terbuka dan Maira menjatuhkannya. Kini tinggal kemeja putih dan dasi kupu-kupu hitam yang masih terpasang rapi.Tangan Maira naik lagi, kali ini ke dasi. Jari-jariny

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 32 - Kamar Asrama Maira

    Maira menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdegup kencang saat tangannya masih bertumpu di dada Wisnutama. Kata-kata pria itu barusan membuatnya sadar bahwa taman ini bukan tempat yang tepat untuk melanjutkan apa yang baru saja dimulai.“Iya, Pak,” bisiknya pelan, suara hampir hilang ditelan angin malam.Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan getaran di kakinya yang masih terasa lemas. “Kita... ke kamar saya saja.”Wisnutama mengangguk singkat, matanya tak lepas dari wajah Maira yang memerah. Tangan kanannya meraih tangan Maira, menggenggamnya erat tapi lembut, sambil menuntunnya untuk berjalan.Mereka berjalan menyusuri koridor panjang di lantai atas gedung pesta itu, melewati beberapa pintu kamar tamu yang disediakan panitia untuk peserta yang menginap. Asrama sementara Maira ada di ujung koridor, paling jauh dari keramaian, hunian sementara selama Maira melakukan riset di sini.Sesampainya di depan pintu kamar, Maira mencari-cari kunci kartu di tas kecilnya dengan tangan gem

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 31 - Dress Biru Gelap

    “Untuk saya?” ulangnya, suara rendah seperti bisikan.Wisnutama semakin mendekat, jarak bibir mereka kini tinggal beberapa senti. Napasnya hangat menyapu wajah Maira, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.“Kamu ingin saya melihat lekuk tubuhmu seperti ini, Maira?”Maira mengangguk kecil, tak mampu berbicara. Tubuhnya bereaksi sendiri dengan pinggulnya sedikit bergeser mendekat, mencari lebih banyak sentuhan. Tangan Wisnutama kini memeluk pinggangnya sepenuhnya, menariknya pelan hingga tubuh mereka hampir menempel.“Iya,” desah Maira akhirnya, mata menutup setengah.Wisnutama menghela napas pelan, menahan gejolak gairah yang semakin besar pada tubuh mungil yang sedang dibungkus dress ketat itu.“Kamu tahu saya selalu menginginkan kamu, Maira. Apa jadinya kalau kamu bertingkah seperti ini? Kamu ingin membuat saya lepas kendali sepenuhnya? Hm?”Maira mengerang kecil saat jempol Wisnutama mengusap pinggangnya dalam lingkaran lambat.“Pak, kita di koridor.”“Tidak ada yang akan lewat. Pest

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 30 - Di Antara Lampu dan Bayangan

    Aula utama kedutaan malam itu berkilau seperti panggung yang dipersiapkan dengan sempurna. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke segala arah, beradu dengan kilap jas hitam para pejabat dan gaun-gaun elegan yang bergerak perlahan mengikuti alur percakapan. Musik orkestra lembut mengalun, cukup hadir untuk mengisi ruang tanpa mencuri perhatian dari pembicaraan penting yang berlangsung di setiap sudut.Maira berdiri di sisi Wisnutama.“Apa sebaiknya saya duduk saja, Pak?” bisik Maira yang cukup tidak nyaman dengan pandangan orang.“Tetap di sisi saya,” mutlak dan tidak bisa dibantah.Posisi itu saja sudah cukup membuat beberapa pasang mata melirik dua kali. Wisnutama, dengan sikapnya yang tenang dan dominan, tampak seperti pusat gravitasi ruangan. Dan Maira, dengan dress biru gelap yang membingkai tubuhnya menjadi kontras yang tidak bisa diabaikan.Tangannya memegang gelas kecil, isinya hampir tidak tersentuh. Ia tersenyum saat perlu, mengangguk ketika diperkenalkan, menye

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 29 - Pesta yang Membawa Kegelisahan

    Jam makan siang tiba tanpa terasa.Maira masih duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan fokus yang sengaja ia pertahankan. Sejak keluar dari ruangan Wisnutama pagi tadi, ada perasaan tidak nyaman yang terus menempel di hatinya. Bukan takut, melainkan kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam radius perhatian yang tidak biasa.Ia baru saja hendak menyimpan file ketika bayangan seseorang jatuh di sisi mejanya.“Nona Maira.”Ia mendongak. Rasyid berdiri di sana, rapi seperti biasa, tablet di tangan, ekspresinya netral namun matanya tajam mengamati.“Pak Wisnutama memanggil Anda. Sekarang.”Maira berkedip pelan. “Sekarang, Pak?”“Iya. Untuk makan siang.”Kalimat itu membuat Maira terdiam sepersekian detik.“Makan siang?” ulangnya, refleks.Rasyid mengangguk. “Di ruangan beliau.”Tidak ada pilihan tersirat. Tidak ada pertanyaan. Itu perintah yang dibungkus dengan nada sopan.“Baik, Pak,” jawab Maira akhirnya.Ia berdiri, merapikan bajunya secara refleks, lalu Rasyid pergi begitu saj

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 28 - Di Bawah Permukaan Panas

    Besoknya, Maira berangkat riset seperti tidak terjadi apa pun. Bahkan, gadis itu merahasiakan penemuannya dari Wisnutama.Langkahnya tetap tenang, raut wajahnya profesional, bahkan nyaris terlalu terkendali untuk seseorang yang semalam baru saja membuka pintu ke dokumen yang seharusnya tidak ia sentuh. Tidak ada gelagat gugup, tidak ada gerakan mencurigakan. Dari luar, Maira tetap mahasiswi riset yang sama yaitu diam, fokus, dan sedikit terlalu serius untuk usianya.“Relax, Maura. Semuanya aman selama kamu tenang,” ucapnya pada dirinya sendiri.Ia duduk di mejanya, menyalakan laptop, dan membuka file riset utama. Lembar-lembar analisis yang kemarin terasa buntu kini seperti memiliki jalur baru. Kalimat-kalimat yang dulu ia ragu tuliskan, sekarang mengalir dengan lebih yakin dan lebih tajam.Namun Maira berhati-hati. Ia tidak menyalin apa pun secara mentah. Tidak ada kutipan langsung, karena semua ia olah ulang, ia sembunyikan dalam kerangka analisis yang tampak wajar, seolah kesimpula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status