LOGINPagi itu bandara Soekarno–Hatta terasa lebih bising dari biasanya atau mungkin hanya perasaan Maira saja. Trolley-nya berderit pelan ketika ia mendorongnya menuju area keberangkatan internasional, sementara matanya sibuk mencari tanda penerbangan menuju Abu Dhabi. Perutnya terasa seperti diikat simpul. Antara gugup, bersemangat, dan sedikit takut.
Mela berjalan di sampingnya, sibuk menahan diri untuk tidak tampak sedih. “Lo yakin udah siap?”
Maira mengangguk tanpa ragu. “Ini cuma riset, Mel. Bukan perang dunia.”
“Justru itu yang bikin gue khawatir,” balas Mela cepat. “Lo suka negeremehin hal-hal yang kelihatannya simpel.”
Maira terkekeh pendek, meski hatinya tidak benar-benar ringan. “Gue siap kok.”
Mela menghentikan langkahnya, memegang lengan Maira. “Lo siap secara akademik, ya. Tapi secara... entah, gimana ya... secara insting? Lo kadang terlalu fokus sampai gak liat bahaya.”
Baru mau menjawab, nada pemberitahuan bandara memecah percakapan.
“Passengers on flight EY475 to Abu Dhabi, please proceed to gate.”
Maira menarik napas panjang. “Itu gue sudah dipanggil.”
“Mai,” Mela menatapnya serius, “lo tau gue dukung lo seratus persen. Tapi tolong, jangan terlalu percaya sama orang. Bahkan yang keliatan baik atau yang keliatan jenius. Gue tahu lo nggak bego, lo lebih cerdas dari yang gue yakini.”
Untuk sesaat, keraguan kecil menyelip masuk ke dada Maira. Kata-kata profesor, tatapannya, pesan samar yang seperti meminta lebih dari sekadar riset budaya, semuanya tercium samar-samar sebagai peringatan. Tapi ia mengusirnya pergi.
“Gue bukan anak kecil, Mel,” ucap Maira, suaranya mantap. “Gue tau apa yang gue kejar dan gue nggak akan lupa omongan lo.”
Mela memeluknya erat, seolah mencoba menyampaikan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. “Lo keras kepala banget.”
“Ambisius,” koreksi Maira sambil tersenyum. “Itu beda.”
“Kadang bedanya tipis, Mai.”
Maira hanya membalas dengan senyum yang lebih tipis. Lalu berjalan menuju boarding gate, antrean sudah mulai memanjang. Orang-orang dari berbagai negara bercampur, wisatawan, ekspatriat, pebisnis. Maira menarik koper kecilnya, merasakan degup jantungnya semakin cepat.
Ketika ia menyerahkan boarding pass, petugas bandara tersenyum ramah. “Selamat jalan. Semoga perjalanannya menyenangkan.”
Maira mengangguk, tapi suara itu hanya lewat di telinga. Fokusnya sudah tertuju pada satu hal, Abu Dhabi. Kota pasir dan langit biru. Kedutaan besar dengan protokol ketat. Lingkungan diplomatik yang formal, dingin, dan penuh rahasia.
Maira sudah membayangkan semuanya, tapi tidak satu pun bayangan itu mendekati kenyataan yang menunggunya. Di dalam pesawat, Maira duduk di dekat jendela. Ketika pesawat mulai bergerak di landasan, ia menatap keluar, menelan ludah pelan.
“Ini awal,” bisiknya pada diri sendiri.
Perjalanan menghabiskan kurang lebih 8 jam dan itu sangat melelahkan bagi Maira yang jarang sekali bepergian ke luar negeri. Saat kakinya menapaki tanah Abu Dhabi, semuanya terasa begitu berbeda. Apalagi, saat ada selebaran nama lengkapnya terpampang yang diangkat seorang pria bersetelan rapi.
“MAIRA PERMATA RASTANTI – INDONESIAN EMBASSY”
Pria itu menghampirinya dengan sopan. “Miss Maira? We’ve been informed of your arrival. Please, follow me.”
Bahasa Inggrisnya lancar, formal, dan tanpa senyum. Tipikal staf diplomatik.
Maira mengangguk kaku. “Y-yes.”
Benar-benar wujud dari kemewahan Abu Dhabi. Mulai dari mobil hitam mengilap yang membawanya, pemandangan gedung-gedung tinggi yang seolah memantulkan cahaya matahari gurun, hingga boulevard panjang yang dipenuhi lampu-lampu modern. Maira menatap keluar jendela, nyaris lupa bernapas.
Sepanjang perjalanan ia seperti dipaksa melihat dunia yang tidak pernah ia bayangkan untuk disentuh. Ketika mobil berbelok menuju area kedutaan, sebuah gedung besar menjulang dengan arsitektur kokoh bercampur sentuhan Timur Tengah.
Tidak berlebihan jika dibilang memukau. Dinding kaca memantulkan langit yang biru sempurna, dan bendera merah-putih berkibar anggun di tengah terik matahari. Sebelum Maira sempat menata napas, seseorang sudah berada di sisi pintu mobil, membukanya dengan gerakan rapi dan formal.
“Silakan turun, Anda diharuskan bertemu dengan petinggi Abu Dhabi untuk penyambutan Anda,” ucap pria itu dengan suara rendah, tenang, dan sangat profesional, seolah ia sudah berdiri di sana beberapa menit sebelum mobil itu benar-benar tiba.
Perut Maira seketika mencelos.
‘Petinggi Abu Dhabi? Untuk penyambutan? Aku?’
Itu terdengar jauh melampaui lingkup seorang peneliti yang baru datang untuk riset budaya.
Maira menatap pria itu, bingung. “Maaf, saya? Bertemu petinggi?”
Pria itu menundukkan kepala sedikit, sikapnya sopan tapi tegas. “Benar. Atas instruksi pihak internal kedutaan. Silakan ikut saya.”
Instruksi internal.
Dari siapa?
Untuk apa?
Degup jantung Maira meningkat tanpa izin. Ada sesuatu yang terasa tidak sepenuhnya wajar entah dirinya yang terlalu rendah hati, atau situasi yang memang di luar kebiasaan. High heels hitam itu menapakkan kaki ke anak tangga kedutaan yang dingin dan padat. Bangunan itu berdiri seperti raksasa yang sedang mengawasi siapa pun yang masuk, termasuk dirinya.
Ketika ia masuk ke dalam lobi, hawa AC langsung menyergap kulitnya. Marmer putih mengilap memantulkan langkahnya. Ruangan itu seakan berbisik tentang kekuasaan, protokol, dan rahasia yang tidak pernah tercatat di buku teks mana pun.
“Petinggi tersebut sedang menunggu di ruang pertemuan utama,” ucap pria tadi berjalan di depannya, langkahnya mantap.
Maira menelan ludah. “Boleh saya tahu siapa?”
Pria itu berhenti sejenak, menoleh dengan ekspresi netral namun tajam.
“Tuan Wisnutama Adnan Bin Malik.”
Nama itu bergema di kepala Maira, membawa sensasi dingin yang tidak ia mengerti.
"Pak!" Maira terpekik kecil, matanya membelalak saat menyadari celana dalam sutranya kini telah hancur, jatuh menyusul bra-nya ke lantai kamar yang gelap."Tatap saya," geram Wisnu.Kini, di bawah temaram lampu kota dan sorot lampu taman yang memantul di kaca, keduanya benar-benar tanpa penghalang. Punggung Maira benar-benar tereskpos dengan jendela terbuka pada siapa pun yang melewati di bawah jendela ini."Lihat ke bawah, Little Bird," perintah Wisnu, suaranya parau oleh gairah yang sudah di ujung tanduk. "Lihat mereka yang berjaga. Mereka adalah saksi bahwa malam ini, tidak ada lagi mahasiswi riset. Yang ada hanyalah wanita milik Wisnutama."Tanpa peringatan lebih lanjut, Wisnu mengangkat pinggul Maira dan menghujamkan miliknya masuk dalam satu dorongan yang dalam dan telak."AAHHH!"Maira mendongak, lehernya yang jenjang menegang saat ia merasakan sensasi penuh yang menyesakkan sekaligus meledakkan percikan listrik ke seluruh sarafnya. Kuku-kukunya menancap di kulit pria itu.Di b
UPDATE: UNIVERSITAS TELAH MERILIS PERNYATAAN RESMI. MAIRA PERMATA RASTANTI DINYATAKAN SEBAGAI KORBAN MANIPULASI DATA. SELURUH GELAR DAN STATUS AKADEMIK AKAN DIPULIHKAN SETELAH PROSES KLARIFIKASI FISIK."Proses klarifikasi fisik..." Maira membaca tulisan itu dengan suara terengah-engah saat Wisnu menjauhkan wajahnya sejenak untuk membiarkan gadis itu bernapas. "Artinya saya harus pulang, Pak? Saya harus melapor ke Jakarta?"Wisnu terkekeh sinis, sebuah tawa yang kering dan tanpa belas kasihan. Dengan tegas lengan kekar itu menarik Maira berdiri dan membiarkan miliknya menegang tegak.“Tentu saja, tapi... setelah masa pemulihanmu selesai,” jawab Wisnu yang jemarinya lihai mulai membuka abaya yang dikenakan Maira.“Masa pemulihan? Maksudnya, Pak?” Maira tak peduli saat Abaya itu terlepas dan jatuh ke lantai, fokusnya pada secercah harapan hidupnya.Wisnutama terdiam, pria itu mulai membuka kancing kemeja Maira yang sudah kusut dan tidak beraturan, lalu menjatuhkannya begitu saja, hanya m
Keheningan di kamar itu terasa mendenyut, hanya dipecahkan oleh suara napas Maira yang pendek-pendek dan deru mesin AC yang halus. Tatapan Wisnutama yang gelap seolah menelanjangi setiap rasa takut dan gairah yang berusaha Maira sembunyikan."Kenapa diam, Maira?" bisik Wisnu, suaranya serak, mengirimkan getaran listrik ke seluruh saraf Maira.Wisnu meraih pergelangan tangan Maira yang gemetar. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menuntun telapak tangan halus gadis itu turun dari bahu kokohnya, melewati dadanya yang bidang dan keras, hingga berhenti tepat di atas simpul handuk putih yang melilit pinggangnya.Maira bisa merasakan panas kulit Wisnu di balik kain tipis itu, sebuah kontak fisik yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran."Jika kamu masih penasaran dengan milik saya... buka saja, Maira," perintah Wisnu, nada suaranya tidak lagi sekadar menggoda, melainkan sebuah instruksi yang menuntut kepatuhan mutlak.Maira menelan ludah dengan susah payah. Matanya yang basah men
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa selain tetap berada di bawah pengawasan saya," Wisnu berdiri, tarikan handuk di pinggangnya sedikit bergeser, namun ia tampak abai.Pria itu mencengkeram kedua bahu Maira, memaksa gadis itu untuk duduk tegak dan menatapnya."Dunia luar mungkin menganggapmu hilang, tapi di ruangan ini, kamu adalah kartu as saya. Hamdani mengira dia bisa bermain catur dengan nyawamu, tapi dia lupa bahwa saya adalah pemilik papan caturnya."Wisnu mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Maira bisa mencium aroma cendana yang kini bercampur dengan hawa panas tubuh pria itu."Kamu takut, Maira? Takut pada saya atau pada kenyataan bahwa tidak ada tempat pulang untukmu selain di sini?""Bapak... Bapak mengancam saya juga?" bisik Maira dengan mata berkaca-kaca.Wisnu terkekeh rendah, suara yang lebih mirip geraman puas. "Saya tidak mengancam. Saya sedang memberi tahu faktanya. Kamu adalah bagian dari skandal internasional sekarang. Jika kamu melangkah keluar dari gerbang
"Diam, Maira. Saya tidak punya waktu untuk menunggu langkahmu yang lambat itu," desis Wisnu sambil terus melangkah masuk menuju lift pribadi.Pria itu segera membawa Maira langsung ke lantai teratas, ke dalam sebuah kamar utama yang luasnya bahkan lebih besar dari seluruh luas apartemen Maira di Indonesia. Wisnu meletakkan Maira di atas tempat tidur king size yang dilapisi sprei sutra abu-abu."Walid akan mengirimkan tim medis untuk mengobati kakimu dan memastikan tidak ada luka dalam akibat ledakan tadi," ucap Wisnu sambil mulai membuka kancing kemejanya yang kotor, menampakkan otot dada yang keras dan beberapa memar biru yang mengerikan di tulang rusuknya.Maira segera memalingkan wajah, merasa sangat tidak nyaman berada di ruang pribadi pria ini dalam kondisi seperti ini. Ya, meskipun keduanya juga sudah beberapa kali melakukan hubungan yang lebih intim dan terbuka."Bapak sendiri... luka Bapak perlu diobati,” cicit Maira.Wisnutama berhenti bergerak, menatap punggung Maira dengan
"Profesor... universitas memilih saya," rintih Maira, bingung dengan sikap Wisnu yang tiba-tiba begitu menyeramkan.Wisnu terkekeh gelap, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Maira berdiri."Universitasmu tidak pernah mengirimkan mahasiswi secara resmi pada negara untuk riset di kedutaan. Yang mereka kirimkan hanya mahasiswi kunjungan sehari,” penjelasan Wisnutama membuat Maira tergugu.Wajah Maira kian pucat. "Apa maksud Bapak?”Wisnutama melepaskan cengkeramannya di tengkuk Maira, namun ia tidak menjauh. Jemari besar itu justru merogoh saku blazernya dan melemparkan selembar dokumen digital yang baru saja ia terima dari jaringan intelijen keluarganya ke hadapan Maira."Lihat sendiri," perintah Wisnu dingin.Maira membaca dengan mata yang bergetar. Surat tugas risetnya, dokumen yang selama ini ia peluk erat sebagai tiket masa depannya, tidak memiliki nomor registrasi resmi di pangkalan data kementerian. Di sana hanya tertera namanya sebagai 'pengunjung independen' untuk observasi bud







