Share

Bab 3

Author: Leona Valeska
last update Last Updated: 2026-01-19 20:43:56

Setelah menaruh kopi kedua di ruang kerja Damian, kini Revana harus menyiapkan sarapan untuk ketiga majikannya yang sudah menunggu sarapan tiba.

Dengan kepala tertunduk, dia bergerak dengan langkah seringan mungkin, menata piring-piring porselen di depan Julian dan Raphael.

Julian duduk dengan tegak, tangannya memegang tablet yang menampilkan grafik saham yang bergerak fluktuatif.

Matanya yang tajam dan sedingin es tidak pernah lepas dari Revana saat gadis itu menuangkan jus jeruk ke gelasnya.

Tatapan itu bukan tatapan penuh nafsu, melainkan tatapan analitis yang seolah mencoba menguliti setiap rahasia yang disembunyikan Revana di balik seragam pelayannya.

“Kau menumpahkannya sedikit, Revana,” suara Julian terdengar datar, nyaris tanpa emosi.

Revana tersentak. Benar saja, setetes kecil jus jeruk berada di pinggiran gelas.

“Maafkan aku, Tuan Julian. Aku akan segera membersihkannya.”

“Lupakan saja,” potong Julian. Dia kembali menatap layarnya, namun dia menambahkan dengan suara sangat rendah, “Gemetarmu itu akan membuat Damian menyadari sesuatu yang tidak ingin kau tunjukkan.”

Revana tertegun, namun dia tak sempat bertanya karena Raphael, yang duduk di seberang Julian, tiba-tiba memukul meja dengan pelan untuk menarik perhatiannya.

“Hei, Revana,” panggil Raphael dengan nada riang yang sangat kontras dengan atmosfer ruangan itu. “Kau tahu apa yang lebih buruk dari kopi pahit di pagi hari?”

Revana menoleh ragu, matanya melirik ke arah pintu, takut Damian tiba-tiba muncul. “Aku ... aku tidak tahu, Tuan Raphael.”

Raphael menyeringai lalu memberikan kedipan mata yang nakal padanya. “Melihat wajah Julian yang terus-menerus menekuk seperti koran bekas. Ayolah, senyum sedikit. Kau terlihat seperti sedang menghadiri pemakamanmu sendiri. Padahal pagi ini matahari sangat cerah, bukan?”

Revana merasakan sudut bibirnya berkedut, nyaris ingin membentuk senyum tipis.

Candaan Raphael yang tidak pada tempatnya itu terasa seperti oksigen segar yang disuntikkan paksa ke paru-parunya yang sesak.

Di mansion yang penuh dengan predator ini, Raphael adalah satu-satunya yang memperlakukannya seperti manusia, bukan sekadar objek pembalasan dendam.

“Tuan Raphael bisa saja bercandanya,” bisik Revana pelan.

“Aku serius! Bahkan jika Damian menyuruhmu membersihkan kandang anjing sekalipun, kau harus tetap terlihat cantik agar aku punya alasan untuk menyuap penjaga dan membawamu jalan-jalan keluar.”

Raphael tertawa kecil lalu dengan gerakan cepat yang tak terduga, dia meraih sepotong kecil kue kering dari piringnya dan menyodorkannya ke arah Revana.

“Cepat, ambil ini sebelum si Naga datang.”

Revana membelalakkan mata. “Tuan, aku tidak boleh—”

“Ambil saja, atau aku akan berteriak bahwa kau mencurinya,” ancam Raphael dengan nada bercanda namun penuh tekad.

Tepat saat jemari Revana baru saja menyentuh pinggiran kue itu, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di koridor.

Keheningan instan langsung menyelimuti ruangan. Raphael segera menarik tangannya kembali, pura-pura sibuk dengan ponselnya, sementara Julian tidak bergerak satu inci pun dari posisinya.

Damian Leonardo masuk. Aura kekuasaannya langsung menyapu ruangan itu seperti badai.

Dia tidak memakai jas hari ini, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat di tangannya yang kuat.

Matanya langsung tertuju pada satu titik: Revana yang berdiri di antara kedua adiknya.

Damian berjalan mendekat dan setiap langkahnya menciptakan dentuman yang mendebarkan jantung Revana.

Dia berdiri tepat di belakang Revana lalu meletakkan tangannya di sandaran kursi tempat Revana baru saja berdiri.

“Sepertinya ada percakapan menarik yang terputus karena kedatanganku,” suara Damian rendah, namun penuh ancaman.

“Hanya obrolan pagi, Damian. Aku hanya mengeluh soal kopinya,” dalih Raphael dengan nada santai yang dipaksakan.

Damian menyipitkan mata. Dia melihat remah kue yang terjatuh di depan Revana. Dengan perlahan, dia melangkah memutar hingga berdiri berhadapan dengan Raphael.

“Raphael,” panggil Damian. “Aku sudah memperingatkanmu kemarin. Jangan terlalu dekat dengan pelayan ini.”

“Aku hanya mencoba menjadi tuan rumah yang baik, Damian. Dia terlihat seperti akan pingsan jika kita tidak mengajaknya bicara,” balas Raphael, mulai merasa terganggu dengan sikap protektif kakaknya yang ekstrem itu. 

Damian membungkuk lalu menumpukan kedua tangannya di meja makan dan menatap Raphael dengan intensitas yang mengerikan.

“Dengarkan aku baik-baik. Siapa pun di rumah ini, termasuk kau dan Julian, jangan pernah menatap Revana seolah dia adalah sesuatu yang layak untuk ditatap. Dia bukan tamu. Dia bukan teman. Dia bukan manusia yang pantas mendapatkan simpati kalian.”

Julian mengangkat wajah dari tabletnya. “Kami mengerti, Damian. Kau tidak perlu menegaskannya setiap lima menit sekali.”

Damian menoleh pada Julian, lalu kembali pada Revana yang kini tertunduk dalam, tengah mencoba menyembunyikan getaran tubuhnya.

Damian meraih dagu Revana, memaksanya untuk mendongak di hadapan kedua adiknya. Ia ingin menunjukkan siapa pemegang kendali di sini.

“Dia adalah wanita yang harus membersihkan semua noda di rumah ini. Dia adalah pengingat akan pengkhianatan yang membunuh ayah kita.”

Damian berkata dengan suara keras, namun matanya yang gelap mengunci mata Revana dengan cara yang sangat posesif.

“Jangan biarkan dia merasa dia punya nilai di mata kalian, karena saat dia merasa berharga, dia akan mulai mencoba menusuk kita dari belakang seperti ayahnya.”

Hati Revana rasanya dicabik-cabik mendengar ucapan Damian barusan. Padahal dalam hati Revana, tidak ada sedikit pun niat untuk melakukan apa yang telah dituduhkan Damian pada ayahnya. 

Sebab hingga saat ini, Revana masih belum percaya bahwa ayahnya mengkhianati keluarga Leonardo. Revana memegang apron yang dia kenakan dengan erat seraya menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan ketiga pria di hadapannya itu. 

“Pergi ke kamarku, Revana. Siapkan air mandi untukku dan jangan keluar sampai aku mengusirmu,” perintah Damian dingin.

Revana mengadahkan kepalanya mendengar kalimat terakhir dari mulut Damian itu. Namun, Revana hanya bisa mengangguk patuh. 

Revana teringat ucapan Damian di ruang kerjanya beberapa jam yang lalu. Apakah hal itu akan terjadi di pagi ini? Hati Revana langsung resah, dia tidak siap mendapatkan ‘sentuhan’ dari pria kejam itu dalam waktu dekat ini.

“Baik, Tuan,” suara Revana nyaris tidak terdengar. Dia sangat takut sesuatu terjadi di kamar pribadi lelaki itu saat memintanya untuk jangan dulu keluar sebelum Damian mengusirnya.

Dia segera berbalik dan melangkah pergi secepat mungkin.

“Hei. Apa yang ingin kau lakukan dengan gadis malang itu?” tanya Raphael dengan rasa ingin tahu yang tinggi.

“Bukan urusanmu!” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 125

    “Darah ... Damian, kau penuh darah.” Revana membisikkan kata-kata itu dengan bibir yang biru.Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan mual yang muncul bukan karena luka fisik, melainkan karena kengerian melihat suaminya berubah menjadi mesin pembantai.Damian segera melempar dua pistol Tactical miliknya ke atas sofa hingga menimbulkan dentuman kecil.Dia menjatuhkan diri berlutut, dan mengabaikan serpihan kaca yang mungkin menusuk kakinya. Dia merangkak mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter agar Revana tidak semakin histeris.“Ini bukan darahku, Sayang. Aku tidak terluka. Aku bersumpah,” ucap Damian.“Kenapa kau harus melakukannya seperti itu? Aku mendengar suara mereka ... mereka berteriak, Damian,” isak Revana.“Karena mereka ingin mengambilmu dariku!” Damian membentak tanpa sengaja, suaranya menggelegar sebelum dia segera melembutkannya kembali.“Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghabisi mereka, mereka akan melewati pintu itu dan

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 124

    Lantai VVIP itu kini menjadi lorong maut. Debu sisa ledakan pintu masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tajam mesiu dan aroma amis yang mulai menyengat.Tiga mayat pasukan Regious tergeletak tumpang tindih di ambang pintu kamar 901, namun sisa pasukan mereka di luar masih terus menghujani ruangan dengan peluru.“Mundur! Dia punya senapan mesin di dalam!” teriak salah satu tentara bayaran dari balik meja perawat.“Bodoh! Damian tidak ada di sini! Cepat masuk dan selesaikan wanita itu sebelum bantuan datang!” balas pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan codet di pipi.Mereka tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, di balik deretan plafon gipsum yang tampak tenang, sebuah bayangan sedang bergerak tanpa suara.Damian tidak pernah pergi ke tangga darurat. Dia sudah berada di atas mereka sejak listrik dipadamkan, merayap di celah sempit antara beton dan plafon seperti predator yang menunggu mangsa masuk ke dalam jaring.BRAK!Satu panel plafon pecah tepat di ata

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 123

    Koridor lantai VVIP Rumah Sakit Pusat Leonardo kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana steril yang dingin.Damian berdiri di depan lift, mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia memeriksa jam tangannya, lalu menoleh ke arah Julian yang berdiri di sampingnya.“Semua kamera sudah diatur?” tanya Damian.Julian mengangguk pelan sembari menatap layar tablet di tangannya. “Sesuai rencana. Rekaman CCTV di lobi utama akan memperlihatkan konvoi mobilmu meninggalkan rumah sakit menuju bandara pribadi. Siapa pun yang menyadap ruangan ini akan mengira kau sedang mengejar pengiriman senjata Regious di perbatasan.”“Bagus,” desis Damian. Dia melirik ke arah pintu kamar 901 yang tertutup rapat.“Pastikan umpan ini ditelan mentah-mentah oleh mereka. Aku ingin tikus-tikus itu keluar dari lubangnya malam ini.”“Kau yakin meninggalkan Revana hanya dengan Raphael?” Julian tampak ragu. “Regious mungkin akan

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 122

    Lampu-lampu di langit-langit koridor berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala serentak, membanjiri kamar 901 dengan cahaya putih yang menyilaukan.Suara dengung mesin medis kembali terdengar, menandakan listrik cadangan telah mengambil alih. Ketegangan yang tadinya membeku di udara perlahan mencair.Damian menarik napas panjang, paru-parunya seolah baru saja mendapatkan pasokan oksigen setelah tercekik kegelapan masa lalu.Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menoleh ke arah Revana. Ketakutan di matanya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat tenang, senyum yang hanya ia simpan untuk satu orang.“Aku di sini, Revana. Aku baik-baik saja,” ucap Damian. Suaranya kembali berat dan stabil.“Damian, tadi kau ... kau tampak sangat kesakitan,” bisik Revana, jemarinya masih mencengkeram lengan kemeja Damian.“Hanya mimpi buruk yang tidak tahu tempat,” sahut Damian singkat dan mencoba berdiri, lalu dengan gerakan luwes, ia m

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 121

    Lantai VVIP itu seolah kehilangan detak jantungnya. Hanya ada bunyi teratur dari mesin monitor yang menemani kesunyian di dalam kamar 901.Damian masih di sana, duduk di kursi kulit yang kini terasa seperti singgasana sekaligus penjaranya.Lampu meja yang temaram menyinari wajahnya yang kuyu, namun tatapannya tetap tajam menghadap ke arah pintu, sebelum beralih ke sosok di atas ranjang.Revana menggerakkan jemarinya. Ia menoleh perlahan, menatap Damian dengan mata yang tidak lagi sekosong sebelumnya.“Damian?” bisik Revana dengan suara serak, nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan.Damian segera menegakkan punggungnya. Ia meraih tangan Revana, menggenggamnya dengan kedua tangan seolah sedang menjaga nyawa yang paling berharga.“Aku di sini. Jangan banyak bicara dulu, tenggorokanmu pasti sakit.”“Jangan pergi,” kata Revana, dan kali ini lebih jelas. Cengkeramannya pada tangan Damian menguat secara mengejutkan.“Tolong, jangan tinggalkan aku sedetik pun. Di luar sana ... aku tahu

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 120

    Lampu gantung kristal di langit-langit kasino bawah tanah “The Vault” bergetar halus setiap kali musik jazz bertempo rendah bergema di ruangan yang dipenuhi asap cerutu itu.Di meja bundar paling sudut, Julian Leonardo duduk dengan tenang, menyesap wiski tanpa es.Di hadapannya, tiga pria berjas rapi, utusan dari klan Moretti dan seorang mediator internasional beraksen Rusia menatapnya dengan pandangan yang tidak bersahabat.“Kau datang tanpa pengawal, Julian? Itu keberanian yang bodoh atau sekadar sombong?” tanya Moretti, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya.Julian meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentingan pelan. “Aku datang untuk bicara bisnis, bukan untuk berperang. Lagi pula, pengawalku hanya akan membuat kalian gugup.”“Bisnis?” Mediator Rusia itu, Ivanov, tertawa serak. “Bisnis kalian sedang sekarat. Aliansi Regious-Moretti sudah mengunci semua jalur logistikmu. Damian sedang sibuk bermain perawat di rumah sakit, dan kau di sini mencoba menawar nyawa?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status