LOGINSetelah menaruh kopi kedua di ruang kerja Damian, kini Revana harus menyiapkan sarapan untuk ketiga majikannya yang sudah menunggu sarapan tiba.
Dengan kepala tertunduk, dia bergerak dengan langkah seringan mungkin, menata piring-piring porselen di depan Julian dan Raphael.
Julian duduk dengan tegak, tangannya memegang tablet yang menampilkan grafik saham yang bergerak fluktuatif.
Matanya yang tajam dan sedingin es tidak pernah lepas dari Revana saat gadis itu menuangkan jus jeruk ke gelasnya.
Tatapan itu bukan tatapan penuh nafsu, melainkan tatapan analitis yang seolah mencoba menguliti setiap rahasia yang disembunyikan Revana di balik seragam pelayannya.
“Kau menumpahkannya sedikit, Revana,” suara Julian terdengar datar, nyaris tanpa emosi.
Revana tersentak. Benar saja, setetes kecil jus jeruk berada di pinggiran gelas.
“Maafkan aku, Tuan Julian. Aku akan segera membersihkannya.”
“Lupakan saja,” potong Julian. Dia kembali menatap layarnya, namun dia menambahkan dengan suara sangat rendah, “Gemetarmu itu akan membuat Damian menyadari sesuatu yang tidak ingin kau tunjukkan.”
Revana tertegun, namun dia tak sempat bertanya karena Raphael, yang duduk di seberang Julian, tiba-tiba memukul meja dengan pelan untuk menarik perhatiannya.
“Hei, Revana,” panggil Raphael dengan nada riang yang sangat kontras dengan atmosfer ruangan itu. “Kau tahu apa yang lebih buruk dari kopi pahit di pagi hari?”
Revana menoleh ragu, matanya melirik ke arah pintu, takut Damian tiba-tiba muncul. “Aku ... aku tidak tahu, Tuan Raphael.”
Raphael menyeringai lalu memberikan kedipan mata yang nakal padanya. “Melihat wajah Julian yang terus-menerus menekuk seperti koran bekas. Ayolah, senyum sedikit. Kau terlihat seperti sedang menghadiri pemakamanmu sendiri. Padahal pagi ini matahari sangat cerah, bukan?”
Revana merasakan sudut bibirnya berkedut, nyaris ingin membentuk senyum tipis.
Candaan Raphael yang tidak pada tempatnya itu terasa seperti oksigen segar yang disuntikkan paksa ke paru-parunya yang sesak.
Di mansion yang penuh dengan predator ini, Raphael adalah satu-satunya yang memperlakukannya seperti manusia, bukan sekadar objek pembalasan dendam.
“Tuan Raphael bisa saja bercandanya,” bisik Revana pelan.
“Aku serius! Bahkan jika Damian menyuruhmu membersihkan kandang anjing sekalipun, kau harus tetap terlihat cantik agar aku punya alasan untuk menyuap penjaga dan membawamu jalan-jalan keluar.”
Raphael tertawa kecil lalu dengan gerakan cepat yang tak terduga, dia meraih sepotong kecil kue kering dari piringnya dan menyodorkannya ke arah Revana.
“Cepat, ambil ini sebelum si Naga datang.”
Revana membelalakkan mata. “Tuan, aku tidak boleh—”
“Ambil saja, atau aku akan berteriak bahwa kau mencurinya,” ancam Raphael dengan nada bercanda namun penuh tekad.
Tepat saat jemari Revana baru saja menyentuh pinggiran kue itu, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di koridor.
Keheningan instan langsung menyelimuti ruangan. Raphael segera menarik tangannya kembali, pura-pura sibuk dengan ponselnya, sementara Julian tidak bergerak satu inci pun dari posisinya.
Damian Leonardo masuk. Aura kekuasaannya langsung menyapu ruangan itu seperti badai.
Dia tidak memakai jas hari ini, hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat di tangannya yang kuat.
Matanya langsung tertuju pada satu titik: Revana yang berdiri di antara kedua adiknya.
Damian berjalan mendekat dan setiap langkahnya menciptakan dentuman yang mendebarkan jantung Revana.
Dia berdiri tepat di belakang Revana lalu meletakkan tangannya di sandaran kursi tempat Revana baru saja berdiri.
“Sepertinya ada percakapan menarik yang terputus karena kedatanganku,” suara Damian rendah, namun penuh ancaman.
“Hanya obrolan pagi, Damian. Aku hanya mengeluh soal kopinya,” dalih Raphael dengan nada santai yang dipaksakan.
Damian menyipitkan mata. Dia melihat remah kue yang terjatuh di depan Revana. Dengan perlahan, dia melangkah memutar hingga berdiri berhadapan dengan Raphael.
“Raphael,” panggil Damian. “Aku sudah memperingatkanmu kemarin. Jangan terlalu dekat dengan pelayan ini.”
“Aku hanya mencoba menjadi tuan rumah yang baik, Damian. Dia terlihat seperti akan pingsan jika kita tidak mengajaknya bicara,” balas Raphael, mulai merasa terganggu dengan sikap protektif kakaknya yang ekstrem itu.
Damian membungkuk lalu menumpukan kedua tangannya di meja makan dan menatap Raphael dengan intensitas yang mengerikan.
“Dengarkan aku baik-baik. Siapa pun di rumah ini, termasuk kau dan Julian, jangan pernah menatap Revana seolah dia adalah sesuatu yang layak untuk ditatap. Dia bukan tamu. Dia bukan teman. Dia bukan manusia yang pantas mendapatkan simpati kalian.”
Julian mengangkat wajah dari tabletnya. “Kami mengerti, Damian. Kau tidak perlu menegaskannya setiap lima menit sekali.”
Damian menoleh pada Julian, lalu kembali pada Revana yang kini tertunduk dalam, tengah mencoba menyembunyikan getaran tubuhnya.
Damian meraih dagu Revana, memaksanya untuk mendongak di hadapan kedua adiknya. Ia ingin menunjukkan siapa pemegang kendali di sini.
“Dia adalah wanita yang harus membersihkan semua noda di rumah ini. Dia adalah pengingat akan pengkhianatan yang membunuh ayah kita.”
Damian berkata dengan suara keras, namun matanya yang gelap mengunci mata Revana dengan cara yang sangat posesif.
“Jangan biarkan dia merasa dia punya nilai di mata kalian, karena saat dia merasa berharga, dia akan mulai mencoba menusuk kita dari belakang seperti ayahnya.”
Hati Revana rasanya dicabik-cabik mendengar ucapan Damian barusan. Padahal dalam hati Revana, tidak ada sedikit pun niat untuk melakukan apa yang telah dituduhkan Damian pada ayahnya.
Sebab hingga saat ini, Revana masih belum percaya bahwa ayahnya mengkhianati keluarga Leonardo. Revana memegang apron yang dia kenakan dengan erat seraya menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan ketiga pria di hadapannya itu.
“Pergi ke kamarku, Revana. Siapkan air mandi untukku dan jangan keluar sampai aku mengusirmu,” perintah Damian dingin.
Revana mengadahkan kepalanya mendengar kalimat terakhir dari mulut Damian itu. Namun, Revana hanya bisa mengangguk patuh.
Revana teringat ucapan Damian di ruang kerjanya beberapa jam yang lalu. Apakah hal itu akan terjadi di pagi ini? Hati Revana langsung resah, dia tidak siap mendapatkan ‘sentuhan’ dari pria kejam itu dalam waktu dekat ini.
“Baik, Tuan,” suara Revana nyaris tidak terdengar. Dia sangat takut sesuatu terjadi di kamar pribadi lelaki itu saat memintanya untuk jangan dulu keluar sebelum Damian mengusirnya.
Dia segera berbalik dan melangkah pergi secepat mungkin.
“Hei. Apa yang ingin kau lakukan dengan gadis malang itu?” tanya Raphael dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Bukan urusanmu!”
“Dia sempurna, Damian. Seorang laki-laki yang sangat sehat dan sangat tampan,” ucap Stella sambil membersihkan sang bayi dengan gerakan tangkas.Damian Leonardo, pria yang tak pernah gemetar di depan moncong senapan kaliber tinggi, kini merasakan lututnya benar-benar lemas.Matanya yang tajam dan dingin kini berkaca-kaca, memantulkan kehidupan baru yang baru saja keluar dari rahim istrinya. Ia menatap jemari mungil itu yang bergerak di udara, seolah sedang mencoba meraih takdirnya sendiri.“Dia... dia kecil sekali, Stella,” bisik Damian, suaranya parau dan pecah oleh emosi yang tak terbendung. “Apakah dia benar-benar anakku? Bagaimana sesuatu yang begitu suci bisa berasal dariku?”“Dia memiliki garis rahangmu, Damian. Dan syukurlah, dia sepertinya mewarisi ketenangan ibunya,” goda Stella sambil perlahan membawa bayi itu menuju Revana.Revana terengah-engah, peluh membasahi seluruh wajah dan lehernya. Tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai besar, namun begitu Stella meletakka
Lampu operasi yang terang benderang memantul di ubin putih ruang bersalin, menciptakan atmosfer yang steril namun mencekam bagi seseorang yang biasanya terbiasa dengan bau tanah dan mesiu.Damian berdiri di samping kepala ranjang Revana, mengenakan jubah medis hijau yang tampak kekecilan di bahu lebarnya. Wajahnya yang biasa kaku kini pucat pasi, matanya bergerak gelisah menatap deretan monitor yang menampilkan garis-garis jantung yang berdenyut cepat.“Stella, kenapa monitor itu berbunyi 'pip-pip' begitu cepat? Apakah itu normal? Apakah jantungnya akan meledak?” Damian bertanya dengan suara yang bergetar, jarinya menunjuk ke arah mesin EKG seolah-olah itu adalah bom waktu.Stella tidak mendongak, tangannya tetap fokus pada posisinya. “Itu suara detak jantung putra Anda, Damian. Dan ya, itu normal untuk proses persalinan. Sekarang, diamlah dan bantu istri Anda bernapas.”“Aku sedang membantunya! Revana, ayo, tarik napas! Satu, dua... apakah aku harus memanggil oksigen tambahan? Stella
Malam itu, aspal jalanan Milan seolah terbakar oleh gesekan karet ban dari empat SUV hitam yang melesat dalam formasi V-VIP.Sirine darurat yang tersembunyi di balik panggangan mesin menyalak, memberikan sinyal bagi kendaraan lain untuk menepi jika tidak ingin berakhir di pinggir jalan.Di kursi belakang mobil utama, Damian duduk dengan kaku, membiarkan kepala Revana bersandar di bahunya, sementara tangannya menggenggam jemari istrinya begitu kuat hingga buku jarinya memutih.“Julian! Kenapa mobil ini terasa seperti siput tua? Tambah kecepatannya!” bentak Damian, matanya melotot menatap speedometer yang sebenarnya sudah menyentuh angka seratus empat puluh kilometer per jam.Julian, yang duduk di balik kemudi dengan dahi berkerut, mengumpat pelan sambil memutar setir dengan tajam untuk menyalip sebuah truk logistik.“Ini mobil lapis baja seberat tiga ton, Kak, bukan jet tempur! Jika aku melaju lebih cepat, kita akan terbang melompati katedral! Tenangkan dirimu, demi Tuhan!”“Aku tenang
Keheningan malam di kamar utama Leonardo pecah seketika, bukan oleh ledakan granat atau tembakan peringatan, melainkan oleh kepanikan murni dari seorang pria yang baru saja menyadari bahwa kekuasaannya tidak berarti apa-apa di hadapan hukum alam.Damian Leonardo, sang Iblis Milan yang pernah menghadapi moncong senapan tanpa berkedip, kini berdiri di samping tempat tidur dengan mata yang membelalak lebar dan tangan yang gemetar hebat.“Basah... Kenapa bisa basah? Revana, kau... apakah kau menumpahkan air?” tanya Damian dengan suara yang naik satu oktav. Logikanya yang biasanya setajam silet kini tumpul sepenuhnya.Revana meringis, mencengkeram pinggiran tempat tidur saat kontraksi kedua menghantam rahimnya. “Damian! Ketubanku pecah! Itu bukan air minum, itu anakmu yang ingin keluar! Cepat ambil tas rumah sakit!”“Tas! Ya, tas! Di mana tasnya? Siapa yang mencuri tasnya?!” Damian berputar-putar di tempat seperti gasing yang kehilangan poros. Ia berlari ke arah lemari, menarik laci dengan
Aroma cat ramah lingkungan dan wangi kayu cendana yang baru dipelitur memenuhi sayap kanan mansion Leonardo yang baru saja selesai direnovasi.Kamar itu kini bertransformasi menjadi sebuah tempat perlindungan yang megah dengan tema kerajaan modern; dindingnya dihiasi panel kayu putih gading dengan aksen emas minimalis, sementara karpet sutra tebal berwarna biru navy melapisi lantainya, memberikan kesan hangat sekaligus kokoh.Di tengah ruangan, Damian Leonardo, pria yang biasanya memegang kendali atas ribuan nyawa, kini terlihat sedang berlutut di atas lantai. Alih-alih memegang senjata, tangannya yang kekar kini memegang obeng kecil dan instruksi perakitan.“Damian, kau sudah melakukannya selama dua jam. Biarkan Raphael atau pengawal yang menyelesaikannya,” ucap Revana lembut sambil duduk di kursi goyang beludru di sudut ruangan.Damian menggeleng tanpa menoleh, fokusnya tetap pada baut perak di kerangka boks bayi berbahan kayu jati tersebut.“Tidak. Tanganku sendiri yang harus memas
Pagi di pusat kota Milan biasanya dipenuhi dengan hiruk-pikuk kaum sosialita dan deru mesin mobil mewah, namun hari ini, di depan gerbang boutique perlengkapan bayi paling eksklusif di Italia, suasananya mendadak sunyi.Empat unit SUV hitam antipeluru terparkir rapi di depan pintu masuk, sementara beberapa pria berjas gelap dengan earpiece berjaga di setiap sudut trotoar.“Damian, kau benar-benar berlebihan,” ucap Revana sambil keluar dari mobil, menatap papan tulisan 'Closed for Private Event' yang tergantung di pintu kaca toko tersebut.Damian turun dari sisi lain, merapikan kemeja linennya yang santai namun tetap elegan.“Aku hanya ingin kau tidak perlu berdesakan dengan orang asing saat memilihkan baju untuk putra kita, Revana. Keamanan dan kenyamananmu adalah prioritas di atas segalanya.”“Tapi mengosongkan satu toko hanya untuk membeli beberapa pasang kaus kaki?” Revana tertawa kecil, menggelengkan kepalanya saat manajer toko membungkuk hormat menyambut mereka masuk.“Kaus kaki
Pikirannya sudah tertutup oleh satu gambaran mengerikan: Damian bersimbah darah karena kebodohannya sendiri.Dia memutar arah, berlari melewati lorong dapur yang temaram, lalu menyelinap melalui pintu servis yang biasanya digunakan untuk membuang limbah.Jalur itu tidak dijaga ketat karena semua fo
Sudah tepat tiga hari berlalu sejak komunikasi terakhirnya dengan Robert, dan meja kerjanya kini dipenuhi oleh peta digital yang tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Damian meraih ponsel enkripsinya, jemarinya bergerak cepat menekan tombol panggil ulang untuk yang ke sekian kalinya.Hening. Tid
Dua minggu di Aethelgard terasa seperti keabadian yang menyiksa. Begitu kakinya menginjak lantai mansion, ia mengabaikan sapaan Julian maupun Raphael, dan langsung menuju pintu baja yang mengurung dunianya selama empat belas hari terakhir.Di dalam kamar, Revana sedang duduk di tepi ranjang, menata
Gudang logistik di pinggiran dermaga itu terasa pengap oleh bau oli, kayu palet, dan mesiu. Damian berdiri di tengah ruangan, memegang papan klip sambil mencatat stok peti kemas yang baru saja tiba.Di sekelilingnya, para anak buah klan Leonardo berjaga dengan senjata laras panjang, menciptakan sua







