LOGINSuara pintu kamar Damian yang tertutup dengan dentuman pelan terasa seperti vonis mati bagi Revana.
Kamar itu luas, dingin, dan didominasi warna gelap yang menyesakkan. Revana berdiri mematung di dekat meja rias, jemarinya meremas pinggiran seragam pelayannya yang kasar.
Air hangat di bathtub sudah siap, pakaian sudah tertata, namun aura di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat panas saat Damian melangkah masuk.
Pria itu tidak langsung bicara. Dia berdiri di tengah ruangan, melepaskan jam tangan bajanya yang mengkilap dan meletakkannya di atas meja nakas dengan bunyi klak yang tajam.
Matanya yang sehitam jelaga mengunci sosok Revana, menelanjangi setiap ketakutan yang terpampang di wajah gadis itu.
Tanpa memutuskan kontak mata, Damian mulai membuka satu per satu kancing kemeja hitamnya.
Satu. Jantung Revana berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa perih.
Dua. Napas Revana memburu. Dia merasa tercekik oleh ketegangan yang merayap di udara.
Setiap inci kulit dada Damian yang bidang dan keras itu kini terpampang, namun bukan gairah yang dirasakan Revana, melainkan intimidasi murni.
“Kenapa kau masih berdiri di sana seperti patung?” tanyanya dengan nada suara yang rendah, serak, dan penuh otoritas. “Atau kau memang sengaja ingin melihatku menanggalkan seluruh pakaianku?”
“T-tidak, Tuan. Aku ... aku baru saja selesai menyiapkan semuanya,” jawab Revana dengan suara bergetar.
Dia segera menunduk dan mencoba memalingkan wajahnya. “Kalau begitu, aku permisi.”
Karena rasa gugup yang memuncak, Revana berbalik terlalu cepat. Ujung sikunya menyenggol sebuah kotak kaca kecil yang diletakkan sangat hati-hati di tepi meja rias.
Itu bukan sekadar hiasan. Di dalamnya terdapat sebuah jam saku tua berlapis emas, peninggalan terakhir Carlo Leonardo yang tidak pernah boleh disentuh siapa pun.
PRANG!
Dunia seolah berhenti berputar. Kotak kaca itu hancur berkeping-keping di lantai marmer, dan jam saku di dalamnya terlempar keluar, penutupnya terbuka hingga menampakkan mesin mekanik yang kini diam tak berdetak.
“Maaf ... maafkan aku, Tuan! Aku benar-benar tidak sengaja!” Revana langsung berlutut dengan panik.
Air matanya tumpah seketika. Dengan tangan gemetar, dia mencoba memungut pecahan kaca itu sebelum mengenai jam saku tersebut.
“Jangan sentuh itu dengan tangan kotormu!”
Bentakan Damian menggelegar seperti guntur. Dalam satu gerakan liar, Damian sudah berada di depan Revana. Dia mencengkeram bahu Revana dan menyentaknya hingga gadis itu terduduk di lantai, tepat di samping puing-puing kaca.
“Kau tahu apa yang baru saja kau hancurkan, hah?!” Damian berteriak tepat di depan wajahnya.
Napas pria itu terasa panas dan penuh amarah yang meluap. “Ini adalah jantung ayahku! Dan kau! Berani menyentuhnya?”
“Tuan, aku ... aku hanya ingin membereskannya.” Revana merintih sambil mencoba menjauhkan tangannya dari pecahan kaca yang tajam.
Damian tidak peduli. Dia mencengkeram pergelangan tangan Revana dengan kasar, bermaksud menyeretnya berdiri untuk memberikan hukuman lebih lanjut.
Namun, karena gerakan yang terlalu sentak dan posisi yang tidak stabil, punggung tangan Revana tergores sangat tajam oleh kaca yang berhambur di lantai itu.
“Aw!” Revana menjerit kesakitan.
Garis merah panjang segera muncul di kulit putihnya, mengeluarkan darah segar yang menetes cepat ke lantai marmer, bercampur dengan debu kristal yang hancur.
Damian tertegun sejenak. Dia menatap darah yang mengalir dari tangan Revana, lalu menatap wajah gadis itu yang pucat pasi dengan mata yang membelalak karena rasa sakit dan ketakutan yang murni.
Untuk sepersekian detik, amarah di mata Damian memudar, digantikan oleh kilatan yang sangat aneh, sebuah keraguan yang sangat tipis sebelum akhirnya dia mengeraskan rahangnya kembali.
“Keluar,” desis Damian. Suaranya tidak lagi berteriak, namun dinginnya jauh lebih menyiksa.
“Tuan, tanganku ....”
“KELUAR!” Damian menunjuk pintu dengan jari yang gemetar karena menahan emosi.
“Pergi dari hadapanku sebelum aku benar-benar menghancurkanmu lebih dari jam ini. Jangan berani menampakkan wajahmu sampai besok pagi!”
Revana bangkit dengan sisa tenaga yang dia miliki. Sambil memegangi pergelangan tangannya yang berdarah, dia berlari keluar kamar.
Dia menyusuri lorong mansion yang gelap, isak tangisnya menggema di dinding-dinding batu yang bisu. Dia berlari ke arah dapur, mencari kotak P3K yang biasanya tersimpan di lemari paling bawah.
Di dapur yang sunyi itu, di bawah temaram lampu counter, Revana duduk terisak sendirian.
Dia membersihkan lukanya dengan alkohol yang terasa sangat perih, namun rasa perih di kulitnya tidak sebanding dengan kekacauan di hatinya.
Sambil membalut tangannya dengan kasa, sebuah ingatan yang sangat lama tiba-tiba muncul tanpa diundang.
Sepuluh tahun yang lalu. Perkebunan bunga di pinggiran kota.
Revana ingat seorang Damian yang berbeda. Damian yang belum memiliki otot-otot keras dan tatapan maut. Saat itu, Revana kecil terjatuh saat mencoba memanjat pohon apel. Kakinya terluka dan berdarah.
“Jangan menangis, Revana. Anak perempuan pemberani tidak boleh menangis karena luka kecil,” suara Damian remaja terngiang di kepalanya.
Begitu lembut. Saat itu, Damian berlutut di depannya, meniup lukanya, dan memberikan sapu tangan bordir miliknya untuk membalut kaki Revana. Bahkan saat itu, Damian adalah pelindungnya.
Revana menatap balutan kain kasa di tangannya sekarang. Air matanya jatuh lagi, namun kali ini bukan karena takut. Dia tampak bingung.
‘Pria yang dulu memberiku sapu tangan, kini memberiku luka.’
Apakah dendam atas kematian orang tua benar-benar mampu membunuh sisi manusiawi seseorang hingga ke akarnya?
“Apa yang harus aku lakukan?” bisik Revana pada kesunyian di ruangan itu. “Bagaimana aku bisa bertahan jika setiap langkahku adalah kesalahan di matanya?”
“Darah ... Damian, kau penuh darah.” Revana membisikkan kata-kata itu dengan bibir yang biru.Dia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan mual yang muncul bukan karena luka fisik, melainkan karena kengerian melihat suaminya berubah menjadi mesin pembantai.Damian segera melempar dua pistol Tactical miliknya ke atas sofa hingga menimbulkan dentuman kecil.Dia menjatuhkan diri berlutut, dan mengabaikan serpihan kaca yang mungkin menusuk kakinya. Dia merangkak mendekat, namun tetap menjaga jarak sekitar satu meter agar Revana tidak semakin histeris.“Ini bukan darahku, Sayang. Aku tidak terluka. Aku bersumpah,” ucap Damian.“Kenapa kau harus melakukannya seperti itu? Aku mendengar suara mereka ... mereka berteriak, Damian,” isak Revana.“Karena mereka ingin mengambilmu dariku!” Damian membentak tanpa sengaja, suaranya menggelegar sebelum dia segera melembutkannya kembali.“Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghabisi mereka, mereka akan melewati pintu itu dan
Lantai VVIP itu kini menjadi lorong maut. Debu sisa ledakan pintu masih menggantung di udara, bercampur dengan bau tajam mesiu dan aroma amis yang mulai menyengat.Tiga mayat pasukan Regious tergeletak tumpang tindih di ambang pintu kamar 901, namun sisa pasukan mereka di luar masih terus menghujani ruangan dengan peluru.“Mundur! Dia punya senapan mesin di dalam!” teriak salah satu tentara bayaran dari balik meja perawat.“Bodoh! Damian tidak ada di sini! Cepat masuk dan selesaikan wanita itu sebelum bantuan datang!” balas pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan codet di pipi.Mereka tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, di balik deretan plafon gipsum yang tampak tenang, sebuah bayangan sedang bergerak tanpa suara.Damian tidak pernah pergi ke tangga darurat. Dia sudah berada di atas mereka sejak listrik dipadamkan, merayap di celah sempit antara beton dan plafon seperti predator yang menunggu mangsa masuk ke dalam jaring.BRAK!Satu panel plafon pecah tepat di ata
Koridor lantai VVIP Rumah Sakit Pusat Leonardo kembali tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan. Cahaya lampu neon yang terlalu putih memantul di atas lantai marmer, menciptakan suasana steril yang dingin.Damian berdiri di depan lift, mengenakan jas hitamnya yang kaku. Dia memeriksa jam tangannya, lalu menoleh ke arah Julian yang berdiri di sampingnya.“Semua kamera sudah diatur?” tanya Damian.Julian mengangguk pelan sembari menatap layar tablet di tangannya. “Sesuai rencana. Rekaman CCTV di lobi utama akan memperlihatkan konvoi mobilmu meninggalkan rumah sakit menuju bandara pribadi. Siapa pun yang menyadap ruangan ini akan mengira kau sedang mengejar pengiriman senjata Regious di perbatasan.”“Bagus,” desis Damian. Dia melirik ke arah pintu kamar 901 yang tertutup rapat.“Pastikan umpan ini ditelan mentah-mentah oleh mereka. Aku ingin tikus-tikus itu keluar dari lubangnya malam ini.”“Kau yakin meninggalkan Revana hanya dengan Raphael?” Julian tampak ragu. “Regious mungkin akan
Lampu-lampu di langit-langit koridor berkedip dua kali sebelum akhirnya menyala serentak, membanjiri kamar 901 dengan cahaya putih yang menyilaukan.Suara dengung mesin medis kembali terdengar, menandakan listrik cadangan telah mengambil alih. Ketegangan yang tadinya membeku di udara perlahan mencair.Damian menarik napas panjang, paru-parunya seolah baru saja mendapatkan pasokan oksigen setelah tercekik kegelapan masa lalu.Dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang masih sedikit gemetar, lalu menoleh ke arah Revana. Ketakutan di matanya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh senyuman tipis yang sangat tenang, senyum yang hanya ia simpan untuk satu orang.“Aku di sini, Revana. Aku baik-baik saja,” ucap Damian. Suaranya kembali berat dan stabil.“Damian, tadi kau ... kau tampak sangat kesakitan,” bisik Revana, jemarinya masih mencengkeram lengan kemeja Damian.“Hanya mimpi buruk yang tidak tahu tempat,” sahut Damian singkat dan mencoba berdiri, lalu dengan gerakan luwes, ia m
Lantai VVIP itu seolah kehilangan detak jantungnya. Hanya ada bunyi teratur dari mesin monitor yang menemani kesunyian di dalam kamar 901.Damian masih di sana, duduk di kursi kulit yang kini terasa seperti singgasana sekaligus penjaranya.Lampu meja yang temaram menyinari wajahnya yang kuyu, namun tatapannya tetap tajam menghadap ke arah pintu, sebelum beralih ke sosok di atas ranjang.Revana menggerakkan jemarinya. Ia menoleh perlahan, menatap Damian dengan mata yang tidak lagi sekosong sebelumnya.“Damian?” bisik Revana dengan suara serak, nyaris tenggelam oleh suara pendingin ruangan.Damian segera menegakkan punggungnya. Ia meraih tangan Revana, menggenggamnya dengan kedua tangan seolah sedang menjaga nyawa yang paling berharga.“Aku di sini. Jangan banyak bicara dulu, tenggorokanmu pasti sakit.”“Jangan pergi,” kata Revana, dan kali ini lebih jelas. Cengkeramannya pada tangan Damian menguat secara mengejutkan.“Tolong, jangan tinggalkan aku sedetik pun. Di luar sana ... aku tahu
Lampu gantung kristal di langit-langit kasino bawah tanah “The Vault” bergetar halus setiap kali musik jazz bertempo rendah bergema di ruangan yang dipenuhi asap cerutu itu.Di meja bundar paling sudut, Julian Leonardo duduk dengan tenang, menyesap wiski tanpa es.Di hadapannya, tiga pria berjas rapi, utusan dari klan Moretti dan seorang mediator internasional beraksen Rusia menatapnya dengan pandangan yang tidak bersahabat.“Kau datang tanpa pengawal, Julian? Itu keberanian yang bodoh atau sekadar sombong?” tanya Moretti, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya.Julian meletakkan gelasnya di atas meja marmer dengan dentingan pelan. “Aku datang untuk bicara bisnis, bukan untuk berperang. Lagi pula, pengawalku hanya akan membuat kalian gugup.”“Bisnis?” Mediator Rusia itu, Ivanov, tertawa serak. “Bisnis kalian sedang sekarat. Aliansi Regious-Moretti sudah mengunci semua jalur logistikmu. Damian sedang sibuk bermain perawat di rumah sakit, dan kau di sini mencoba menawar nyawa?”