Share

Bab 2

Penulis: Leona Valeska
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 20:43:15

Pagi kedua di mansion itu. Revana kini tengah berdiri di dapur dengan tangan yang masih gemetar, menuangkan kopi hitam pekat ke dalam cangkir porselen mahal.

Dia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang liar sebelum melangkah menuju ruang kerja sang patriark muda.

“Masuk,” suara berat itu terdengar sesaat setelah Revana mengetuk pintu.

Revana masuk dengan kepala menunduk, matanya hanya terfokus pada baki yang dia bawa. Damian duduk di balik meja mahoni besar, sibuk dengan tumpukan dokumen yang tampaknya sangat krusial.

“Letakkan kopinya tepat di hadapanku, Revana,” perintah Damian tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.

Revana melangkah maju. Dia bisa merasakan aura dominasi yang memancar dari pria itu. Dengan gerakan perlahan dan hati-hati agar tidak meneteskan setetes pun cairan hitam itu ke meja kerja Damian, dia mengulurkan tangannya.

“Ini kopi Anda, Tuan,” bisik Revana.

Namun, saat jari-jari Revana baru saja hendak melepaskan cangkir itu di atas meja, sebuah gerakan kilat terjadi.

Damian tidak mengambil kopinya; dia justru mencengkeram pergelangan tangan Revana dan menariknya dengan sentakan yang sangat kuat.

“Ah!” Revana menjerit spontan.

Baki porselen itu terjatuh ke atas karpet tebal dengan denting tumpul, namun cangkir kopi itu untungnya sudah berada di meja. Namun, sedikit tumpah dan menodai meja kerja itu.

Dalam sekejap mata, keseimbangan Revana hilang. Sebelum dia sempat memproses apa yang terjadi, tubuhnya sudah ditarik paksa melewati sisi meja dan mendarat tepat di atas pangkuan Damian.

“T-Tuan ... apa yang—”

“Diam,” potong Damian.

Tangan Damian yang besar dan kuat melingkar di pinggang Revana, menguncinya agar tidak bisa bergerak.

Revana bisa merasakan otot-otot keras di paha Damian di bawah tubuhnya.

Jarak mereka begitu dekat hingga Revana bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang bercampur dengan bau maskulin yang tajam, sebuah aroma yang seharusnya memikat, namun bagi Revana, itu adalah aroma ancaman.

Damian mendekatkan wajahnya dan membiarkan ujung hidungnya bersentuhan dengan pelipis Revana.

Dia bisa merasakan gadis itu meremang, bulu kuduknya berdiri karena kombinasi rasa takut dan sensasi aneh yang tak bisa dia jelaskan.

“Kau gemetar, Pelayan,” bisik Damian tepat di telinga Revana. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan kepemilikan. “Apa kau takut padaku? Atau kau menikmati posisi ini?”

“Tolong ... lepaskan aku, Tuan Damian,” rintih Revana.

Dia mencoba mendorong dada Damian, namun pria itu terasa seperti dinding batu yang tak tergoyahkan. “Aku harus kembali bekerja. Masih banyak yang harus aku bersihkan.”

Bukannya melepaskan, Damian justru semakin mempererat pelukannya. Tangannya yang bebas bergerak turun, perlahan namun pasti, menyusuri paha mulus Revana yang tersingkap karena rok seragam pelayannya tersingkap ke atas akibat tarikan tadi.

Cengkeraman Damian di paha Revana tidaklah lembut. Itu adalah cengkeraman yang menegaskan dominasi.

Revana memejamkan mata erat-erat, tubuhnya meremang hebat saat ibu jari Damian mengusap kulit sensitif di sana.

“Ingat satu hal, Revana,” Damian berbisik lagi dan kali ini bibirnya hampir menyentuh daun telinga Revana.

“Kau ada di rumah ini, bernapas di udara yang sama denganku, hanya karena aku menginginkannya. Kau adalah propertiku. Setiap inci kulitmu, setiap helai rambutmu, dan setiap desah napasmu adalah milikku sebagai bayaran atas pengkhianatan ayahmu.”

Revana mengangguk dengan gerakan kecil dan patah-patah. “Paham ... aku paham, Tuan. Tolong biarkan aku pergi.”

Damian menjauhkan wajahnya sedikit lalu menatap mata Revana yang berkaca-kaca dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kemarahan, dendam, namun ada juga kilatan obsesi yang gelap di sana.

“Ada satu hal lagi yang harus kau tanamkan di otak kecilmu itu,” Damian menekan jemarinya lebih dalam ke paha Revana hingga membuat gadis itu mendesis tertahan.

“Sebagai pelayan di mansion ini, kau tidak hanya melayaniku. Jika Julian atau Raphael membutuhkan sesuatu darimu, apa pun itu, kau harus memenuhinya. Kau melayani seluruh keluarga Leonardo. Kecuali mereka menginginkan tubuhmu. Hanya aku yang boleh menyentuhnya!” 

Hati Revana mencelos. Bayangan menjadi pelampiasan bagi ketiga pria itu membuatnya merasa mual karena ngeri. Ditambah Damian menekankan kalimat ‘tubuhnya’ akan menjadi milik Damian juga.

Namun, sebelum dia sempat memprotes, Damian melanjutkan dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sedingin es.

“Tapi,” Damian menarik dagu Revana agar menatap langsung ke matanya yang tajam.

“Jangan pernah kau berani menggoda mereka. Jangan pernah gunakan wajah memelasmu atau tubuhmu untuk menarik simpati adik-adikku.

“Jika aku melihatmu mencoba merayu mereka untuk mendapatkan perlindungan, aku sendiri yang akan mematahkan lehermu sebelum kau sempat meminta maaf.”

Revana menelan ludah dengan susah payah. Kontradiksi dalam perintah Damian membuatnya terjepit.

Di satu sisi dia harus melayani, di sisi lain dia adalah target kemarahan jika dia dianggap ‘terlalu dekat’.

“A-aku tidak akan melakukannya. Aku juga tahu diri, Tuan,” jawab Revana dengan suara bergetar. “Ta-tapi, mengenai aku harus menyerahkan tubuhku padamu–”

“Tidak ada negoisasi untuk hal itu. Kau berutang nyawa padaku, Revana!” potong Damian dengan nada otoritasnya. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 12

    Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat tipis, seolah oksigen tersedot habis oleh kehadiran Julian Leonardo.Revana merasakan bulu kuduknya meremang saat mata tajam di balik kacamata itu terus menguliti setiap gerak-geriknya.Matanya perlahan menyisir dari sepatu pantofel hitam yang mengkilap, naik ke setelan jas abu-abu yang terpotong sempurna, hingga akhirnya dia menatap sepasang mata tajam yang sedang memperhatikannya dengan tatapan analitis yang tak terbaca.‘Itu bukan suara Damian!’ pikir Revana dengan jantung yang hampir melompat keluar dari rongga dadanya.Pria itu berdiri tegak, memancarkan aura wibawa yang berbeda dari Damian yang meledak-ledak.Julian lebih seperti pedang yang tersembunyi di dalam sarung sutra; indah dilihat, namun mematikan saat menyentuh kulit.Tangan kirinya memegang sebuah map hitam tipis, sementara tangan kanannya merapikan letak kacamatanya dengan gerakan yang sangat elegan namun terasa mengancam.“Kenapa kau terlihat seperti melihat hantu?”

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 11

    Langkah kaki Revana terasa seberat timah saat ia menyusuri lorong panjang menuju sayap utama mansion. Setiap jengkal karpet merah yang ia pijak seolah menariknya lebih dalam menuju jurang kehancuran.Tangannya yang gemetar meremas ujung gaun sutra hitam yang kini sudah kusut dan ternoda bercak darah kering milik pria yang dihajar Damian tadi.“Hanya Arkan ... aku hanya punya Arkan,” bisik Revana pada kesunyian, suaranya pecah oleh sisa isak tangis.Bayangan wajah adik laki-lakinya yang masih mengenakan seragam SMA melintas di benaknya.Arkan adalah satu-satunya alasan jantung Revana masih berdetak di tengah neraka ini.Ayah mereka telah tiada, dieksekusi tanpa ampun oleh pria yang memintanya menunggunya di kamar itu. Jika Revana menyerah sekarang, siapa yang akan melindungi Arkan dari taring keluarga Leonardo?Dia tiba di depan pintu kayu ek raksasa milik Damian. Dengan napas yang tertahan, ia mendorong pintu itu pelan.Pemandangan di dalamnya membuat Revana terkesiap. Kamar itu beran

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 10

    Gudang anggur itu terasa semakin sempit saat Damian menekan seluruh bobot tubuhnya pada Revana.Aroma wine yang tua dan debu kayu ek seolah tersedot habis oleh hawa panas yang menguar dari tubuh Damian.Tanpa aba-aba, Damian membungkam bibir Revana dengan ciuman yang jauh dari kata lembut. Itu adalah serangan, sebuah klaim teritorial yang kasar dan menuntut.Revana terkesiap, matanya membelalak kaget. Dia mencoba memalingkan wajah, namun tangan Damian yang masih berlumuran darah kering itu mencengkeram rahangnya, mengunci posisinya.Isakan tertahan keluar dari tenggorokan Revana saat lidah Damian memaksa masuk, merampas napasnya dan menghancurkan pertahanannya.“Lepas ... mmmph ... Tuan, tolong!” rintih Revana di sela-sela pergulatan mereka.Kedua tangan Revana memukul-mukul dada bidang Damian, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.Damian justru semakin membabi buta. Tangannya yang bebas mulai bergerak liar, merayap dari pinggang Revana menuju punggungnya yang terbuka, lalu turu

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 9

    Malam itu, Mansion Leonardo berubah menjadi sarang predator yang berselimut kemewahan.Lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan pada gelas-gelas kristal berisi wiski mahal, sementara musik klasik mengalun rendah, mencoba menyamarkan aroma darah dan kekuasaan yang selalu mengintai di balik bisnis keluarga ini.Di sudut ruangan, Revana berdiri dengan tubuh yang kaku. Malam ini, Damian benar-benar ingin menghancurkan sisa harga dirinya.Alih-alih seragam pelayan abu-abu kusam, Revana dipaksa mengenakan gaun sutra hitam yang sangat provokatif.Potongan di punggungnya turun hingga ke pinggang, sementara belahan di bagian dadanya begitu rendah, memperlihatkan kulit putihnya yang kontras dengan warna gelap gaun itu.Roknya pun hanya mencapai tengah paha, membuat setiap langkah yang ia ambil terasa seperti undangan yang tidak diinginkan bagi para mata lapar di ruangan itu.Tugasnya sederhana namun menyiksa: membawa baki perak berisi minuman dan berkeliling di antara para pria berjas

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 8

    Di ruang kerja pribadi yang luas, Julian Leonardo, si anak kedua yang dikenal sebagai dokter jenius dengan tatapan sedingin es, sedang berdiri di depan meja kakaknya.Dia tidak memegang senjata seperti Raphael, namun yang dia pegang adalah map medis berwarna krem.“Kau memintaku memeriksa latar belakang kesehatan Revana,” ujar Julian datar sembari meletakkan map tersebut di depan Damian yang tengah menyesap kopinya.“Untuk apa? Untuk memastikan tubuhnya bersih sebelum kau sentuh?” sindirnya kemudian.Damian tidak mendongak. “Hanya untuk memastikan dia tidak membawa penyakit ke rumah ini.”“Dia bersih dari virus, Damian,” Julian menjeda, namun matanya yang tajam itu menatap kakaknya dengan penuh selidik.“Tapi ada sesuatu yang menarik. Di laporan rontgen lama dan pemeriksaan fisiknya, dia memiliki bekas luka jahitan di bahu kiri dan tulang rusuk. Polanya sangat spesifik.”Damian berhenti menyesap kopinya. Matanya yang gelap perlahan terangkat menatap Julian.Julian melanjutkan, “Luka i

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 7

    Dengan satu sentakan panik, dia mendorong dada bidang Damian. Tangannya yang terbalut kasa tipis mendarat tepat di atas otot dada yang keras dan basah. Kulit mereka bertemu yang beitu terasa panas, licin karena sisa air, dan berdenyut kuat.“Lepaskan!” desis Revana, suaranya pecah antara kemarahan dan rasa malu yang membakar.Damian terhuyung selangkah ke belakang, bukan karena tenaga Revana yang besar, melainkan karena ia membiarkannya. Senyum miring masih tersisa di wajah sang monster saat dia melirik ke arah adiknya di ambang pintu.Raphael mematung. Matanya bergerak cepat dari pemandangan kakaknya yang hampir telanjang, ke arah Revana yang berdiri gemetar dengan wajah merah padam dan rambut sedikit berantakan.“Apa yang kau lakukan, Damian?!” tanya Raphael yang masih terkejut. “Kau ingin bercinta dengan pelayan kita di pagi hari seperti ini?” ucapnya tak percaya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.Damian tidak langsung menjawab. Dia justru sengaja mengusap setetes air yang men

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status