Share

Bab 62

Penulis: Leona Valeska
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 23:10:12

Damian menggelengkan kepalanya, tak menyangka Revana akan mencecarnya begitu keras hanya karena sebuah paket yang sebenarnya membuat Damian penasaran juga.

“Aku akan mencaritahu semuanya,” ucapnya sembari membalikkan tubuhnya hendak keluar.

“Berhenti, Damian! Jangan melangkah keluar sebelum kau menjawabku!” teriak Revana dengan suara serak sembari menahan tangan Damian yang hendak pergi itu.

Damian berbalik perlahan. Matanya yang kelam menatap Revana dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sed
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 132

    “...dosa ini akan kita tanggung bersama, demi masa depan yang kita bangun...”Rahang Damian mengeras. Dia mengenali gaya tulisan itu. Itu bukan tulisan tangan ayahnya. Itu adalah gaya tulisan tangan yang selama ini dia kaitkan dengan orang yang paling dia benci di dunia ini.Damian menatap sobekan kertas itu, lalu perlahan menoleh ke arah Revana. Matanya kini tidak lagi memancarkan kelembutan. Ada kilat kemarahan dan kecurigaan yang begitu gelap hingga membuat Revana merasa ingin lari saat itu juga.“Ini tulisan tangan Thomas Jovanka,” suara Damian terdengar seperti suara guntur yang tertahan. Dia lalu melemparkan sobekan kertas itu ke atas meja, tepat di depan wajah Revana.“Kenapa ada sobekan surat dari ayahmu di bawah meja kerja ayahku, Revana? Dan kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau telah menemukan sesuatu?”Sobekan kertas di atas meja itu seolah menjadi sumbu yang siap meledakkan emosi pria itu. Matanya tidak lagi menunjukkan keraguan; yang ada hanyalah tuntutan mutlak atas

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 131

    Pagi di puncak Alpen selalu membawa kabut tebal yang menyelimuti dinding kaca villa, namun bagi Damian, kabut yang paling menyesakkan justru berada di dalam rumahnya sendiri. Sudah tiga hari Revana berubah.Dia bukan lagi wanita yang membalas tatapannya dengan keberanian yang sama.Dia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja lama Carlo, duduk terdiam di kursi kulit besar milik ayahnya, menatap dinding kosong seolah sedang berkomunikasi dengan hantu masa lalu.Damian berdiri di ambang pintu ruang kerja, memperhatikan Revana dari belakang. Revana sedang duduk melamun, jemarinya mengusap tepian meja kayu jati itu dengan gerakan mekanis.“Kau menghabiskan lebih banyak waktu dengan bayangan ayahku daripada denganku belakangan ini, Revana,” suara Damian memecah kesunyian, rendah dan berwibawa.Revana tersentak bahkan bahu tegapnya menegang sesaat sebelum dia menoleh perlahan. “Aku hanya menyukai aroma ruangan ini. Bau buku tua dan kayu ini ... membuatku tenang.”Damian melangkah masu

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 130

    Lampu meja di sudut kamar tidur villa itu hanya menyisakan pendar redup. Revana duduk bersila di atas lantai kayu yang dilapisi karpet bulu tebal, tepat di balik bayangan tempat tidur besar di mana Damian tampak terlelap.Dia menahan napas setiap kali mendengar gesekan selimut dari atas sana. Kotak hitam itu terbuka di depannya, menyingkap tumpukan kertas yang beraroma debu dan rahasia yang menyesakkan.Jemarinya gemetar saat menarik sebuah amplop cokelat dengan stempel lilin yang sudah hancur. Di dalamnya terdapat lembaran surat dengan tulisan tangan yang sangat dia kenali. Itu adalah tulisan tangan ayahnya, Thomas Jovanka.“Carlo, intelijenku di perbatasan mengonfirmasi pergerakan Moretti. Mereka tidak hanya mengincar pelabuhanmu; mereka mengincar kepalamu. Moretti telah menyuap tiga kaptenmu. Jangan percaya pada siapa pun di dewan malam ini.”Revana menutup mulutnya dengan tangan, berusaha mencegah suara isakan keluar. Surat itu bertanggal dua hari sebelum Carlo Leonardo terbunuh.

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 129

    “Dosa ini akan kita tanggung bersama, demi masa depan yang kita bangun di atas darah.”Kalimat itu seperti hantaman godam di dada Revana. Belum sempat dia mencerna arti kata-kata itu, suara langkah kaki yang berat dan teratur bergema dari koridor luar.Langkah itu tegas, bergema di atas lantai kayu oak, langkah kaki Damian.“Sial,” bisik Revana. Jantungnya langsung berdegup begitu kencang hingga dia bisa merasakannya di ujung jari.Dia tidak punya waktu untuk mengembalikan papan lantai itu ke posisi semula dengan sempurna.Dengan gerakan panik, dia menyambar kotak hitam itu dan menyelipkannya ke balik lipatan gaun wolnya yang lebar, menjepitnya di antara perut dan pahanya saat dia mencoba berdiri dengan anggun.Duk. Duk. Duk.Langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Gagang pintu berbahan kuningan itu berputar perlahan.“Revana? Kau di dalam?” suara Damian terdengar, berat dan penuh selidik.Revana menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar. Dia berdiri membel

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 128

    Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah-celah tirai villa, menciptakan garis-garis cahaya di atas lantai kayu yang dingin.Revana berdiri di depan pintu kayu jati yang berat, pintu menuju ruang kerja lama Carlo Leonardo. Dia tahu Damian sedang berada di sayap lain villa, terlibat dalam rapat daring dengan para pimpinan klan yang tersisa.Suara bariton Damian yang memberikan perintah terdengar samar dari kejauhan, memberinya kesempatan singkat untuk memuaskan rasa ingin tahu yang menyiksa.Dia mendorong pintu itu perlahan. Engselnya tidak bersuara, namun aroma yang keluar dari dalam sana terasa begitu menyesakkan.Bau tembakau cerutu, kertas tua, dan sedikit aroma kulit yang memudar. Ini bukan sekadar ruangan; ini adalah museum kekuasaan seorang pria yang pernah mengguncang dunia bawah.Revana melangkah masuk, jemarinya menyentuh permukaan meja kerja yang besar.Meja itu tampak terlalu angkuh untuk ruangan ini. Di dinding, foto-foto hitam putih Carlo Leonardo menatapnya dengan pa

  • Di Bawah Kuasa Tiga Majikan Tampan   Bab 127

    Helikopter Black Hawk itu mendarat mulus di landasan beton yang tersembunyi di balik tebing curam puncak Alpen.Suara baling-baling yang tadinya memekakkan telinga perlahan meredup, menyisakan deru angin gunung yang dingin dan menusuk tulang.Damian adalah orang pertama yang melompat turun sebelum pintu kabin sepenuhnya terbuka. Dia tidak menunggu petugas bandara; dia menjulurkan tangan, menanti Revana untuk meraihnya.“Hati-hati. Tanahnya licin,” ujar Damian dengan tatapan matanya menyapu setiap sudut lereng yang bersalju dengan kewaspadaan yang luar biasa.Revana turun dengan langkah goyah. Udara tipis di ketinggian ini membuatnya sedikit pening. Dia merapatkan jubah wol tebalnya, menatap villa megah yang berdiri angkuh di atas bukit batu.Villa itu terbuat dari kayu ek tua dan kaca anti-peluru setebal lima sentimeter. Mewah, namun terasa seperti sangkar emas yang dikelilingi jurang.“Ini tempat persembunyianmu?” tanya Revana, suaranya hilang ditelan desau angin.“Ini tempat paling

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status